you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (15) : reality bites

Di luar dugaan, Laura, my bestfriend, my so called sister, main ke Surabaya, bareng sama pacar gantengnya Aldo. Gue baru ngeh kalau ternyata Aldo yang sering diceritain Laura lewat telepon dan sms itu ternyata orang Surabaya yang kerja di Bandung.

<Where the hell was I? Jadi benar kata Robbie kalau gue terlalu sibuk sendiri sampai lupa kalau gue masih punya seseorang yang butuh perhatian?>

Singkat cerita, dua hari ini Aldo cuti dan mengajak Laura pulang ke Surabaya untuk dikenalin ke orang tua Aldo. Sebagai seorang bride-wannabe seperti Laura, kesempatan ini tentu nggak akan lewat sia-sia. Sejak Aldo mengatakan rencana itu, Laura sibuk mempersiapkan baju, oleh-oleh, dan juga… iya, mental.

Dia memang super cantik dan baik, pintar masak, pintar menjahit, pintar untuk segala hal yang berbau-bau kewanitaan. Pokoknya, she’s got nothing to worry about. Gue malah bilang, dia itu the most wanted daughter in law. Cuman sayangnya, dia sering nggak punya kesempatan untuk menunjukkan kualitasnya itu… Since… you all know, dia nggak pernah ketemu dengan seseorang yang memaksa dia untuk ketemu orang tua mereka…
Sampai akhirnya mereka putus.

Tetapi syukurnya, dengan Aldo, it’s a different kind of story. Meskipun belum genap setahun jadian, tapi Aldo sudah membawa Laura ke Surabaya dan bertemu dengan keluarga besar Aldo.
Gue yakin, ini bukan cuman soal the first experience.
Ini karena gue tahu banget, she’s so happy with him…

Akhirnya, bagian yang menyenangkan, sekarang dia ada di sini. Di depan gue. Sedang bercerita tentang kebahagiaan hatinya.

<Nope. I’m not jealous. I’m glad that someone’s having a happy end. I mean… at least, love really DOES exist>

“Gimana calon mertua, Lor? Kayaknya, sih, mereka bukan yang kayak sinetron-sinetron kejar tayang itu, ya? Yang hobi nyiksa menantu…” kata gue sambil tertawa.
“Lho, kok tahu, sih, Sas?”
“Ya, tahu lah… Muka lo bahagia gitu…”
Setelah itu, Laura tersenyum dan gue melihat sapuan kemerahan di kedua pipinya. She’s blushing!
“Mmm… masa, Sas, sampai kelihatan banget? Tapi lo emang bener, sih, gua emang bahagiaaaaaa banget. Lo tahu, dong, ini kan pengalaman pertama gua ketemu orang tua pacar? Selama ini yang ada bolak-balik pacaran selalu mentok putus duluan sebelum main ke rumah orangtuanya…”

Gue ingat ada beberapa nama yang sempat datang dan pergi dalam hidup Laura. High school sweetheartnya, Ditya, adalah cowok yang paling ‘lama’ betah di samping Laura. Setahun lebih mereka pacaran tapi akhirnya musti pisahan setelah lulus sekolah.
Ditya sudah janji untuk selalu keep in touch meskipun dia ada di Boston, tapi… setelah enam bulan, Ditya seperti lenyap, menghilang, dan parahnya, e-mail addressnya sudah nggak aktif lagi.
Padahal, Laura, yang gue tahu banget nggak jauh beda sama gue dalam urusan laki-laki (baca = sering gonta-ganti cowok tanpa merasa bersalah), sudah berusaha untuk setia. Dia selalu berasumsi, saat itu, Ditya adalah The One
Nah, ini bedanya gue sama Laura.
Gue nggak pernah ‘menuduh’ seseorang itu The One gue. Bagi gue, The One itu pada akhirnya akan muncul sendiri dan bahkan dari seseorang yang tadinya not the one.
Sama Robbie pun, sampai sekarang, gue nggak pernah bilang dia itu The One sehingga bikin gue bertahan bertahun-tahun sama dia. Gue cuman merasa nyaman sama dia. Dari awal, gue nggak mencari The One. Gue cuman mencari someone who’s fun to be with. That’s all what’s matter.

Makanya, pas menjelang gue merayakan setahunan sama Robbie, malah Laura yang ribut-ribut sendiri.

“Mungkin Robbie jodoh lo, Sas…”
Jodoh? Dia itu pacar gue, Lor, bukan jodoh gue…”
“Ya, iya, lah, gua ngerti. Tadi kan gua nggak bilang pasti tapi mungkin. Cuman… lo nyadar nggak, sih, Sas, kalau ini baru pertama kali lo jalan dan SETIA sama satu cowok aja? Setahun lagi! WOW!”

Gue tahu, bisa banget gue merasa tersinggung karena Laura bilang baru kali gue bisa setia. Tapi mengingat reputasi gue selama ini yang habis manis sepah disimpan (barangkali kalau disimpan, bisa manis lagi.. hehehe), lama-lama gue jadi ragu juga.

Jangan-jangan Robbie memang jodoh gue…

<Tapi harap diingat, itu khayalan gue dua tahun yang lalu, sebelum gue akhirnya putus sama Robbie. Sounds silly, kan? Makanya… jangan ge-er duluan…>

Balik ke cerita gue, dua tahun yang lalu.
“Mm… don’t know for sure, Lor. Gue sendiri merasa biasa-biasa aja, kok, sama Robbie. Nggak pakai kalkulasi dan hitung-hitungan matematika, tapi prinsip seperti air, Lor. Ngalir aja.”
“Apa mungkin karena lo nothing to lose, ya, Sas, jadi malah nggak berasa ada beban?”
“Mungkin juga, sih. Tapi, Lor, gue nggak ada teori soal hati. Gue rasa, setia tuh bentuk lain dari perasaan nggak ingin ditinggalkan sama pasangan, jadi kita berbuat sebaik mungkin buat dia…”
“Jadi dengan kata lain, lo nggak pingin ditinggalin sama Robbie, nih? Jadi lo cinta beneran sama dia?”

Saat itu, gue nggak tahu harus bilang apa.
Sekarang, gue punya jawaban untuk pertanyaan itu.
“Ya, Lor, gue cinta sama Robbie, sampai-sampai gue masih nggak bisa menghilangkan rasa kangen gue padahal jelas-jelas Robbie sudah nyakitin gue…”

Gue memang belum menyadari berapa besar perasaan gue buat Robbie sampai akhirnya gue putus, hampir sebulan yang lalu. Atau seberapa berartinya seorang Robbie Hendrawan buat gue. Atau… seberapa kehilangannya gue sama Mama Anne, sebutan sayang gue buat Ibunya Robbie, yang sesibuk apapun gue dengan kegiatan di kampus, gue selalu menyempatkan diri ke sana untuk ngobrol-ngobrol dan membantu masak…

<Sudah berapa tahun, ya? Kayaknya terakhir ketemu hampir setahun yang lalu, deh, pas lebaran, gitu…>

“Eh, ngomong-ngomong soal calon mertua, gua jadi inget, Sas,” kata Laura tiba-tiba. Dia benar-benar sukses membuyarkan lamunan gue.
“Inget apa?”
“Pas gua mau beli bahan di Pasar Baru, gua ketemu sama  Tante Anne…”
Hati gue berdesir.
“Dia nggak nyapa lo, Lor?”
“Tepatnya, gua yang lihat duluan dan, tentu saja, gua nyapa dia, Sas…”
“Terus? Dia nggak nanya-nanya apa gitu?”
“Kalau maksud lo dia nanyain elo… IYA. Dia nanya.”
“Nanya apa?”
Laura mengaduk-aduk cangkir mint tea dengan sendok, seperti seseorang yang sengaja memperlambat cerita atau mencari-cari cara supaya cerita ini lewat.
Gue makin penasaran.
“Apa, Lor? Mama Anne tanya apa soal gue?” Gue memandang Laura dan melihat perubahan yang aneh di wajah Laura. Setelah sekian tahun dia jadi teman terbaik gue, rasanya akan sangat mustahil kalau gue nggak hafal dengan kebiasaan dia. “Please, Lor… Jangan bikin gue penasaran begini, dong… C’mon…”
Gue memegang bahu Laura.
Perlahan, Laura menjauhi gelasnya lalu bersandar di punggung sofa.
“Tapi, janji, malam ini lo tetap nyanyi bagus, ya?”

Bad… bad sign.

“Iya, iya. Janji.”
Laura menghela nafas, lalu cerita.
“Gua kasih intro dulu, tapi.”
“Iya, iya, terserah. Lo mau kasih intro apa brigde sekalian… terserah. Asal lo cerita, Lor…”
Entah kenapa Laura seperti ‘berjuang’ saat mulai bercerita. Kenapa dia jadi Drama Queen kayak Daanish, ya?
“Mmm… tadinya, gua nggak ada rencana untuk cerita soal ini, Sas… gua nggak sampai hati… Tapi… Erick cerita…”
“Erick? Lo ngapain sama Erick, Lor?”
“Bukan itu intinya, Sas. Dan asal lo tahu aja, gua sama Erick sudah jadi temen, kok… Gua berharap, even Robbie really is an asshole, suatu saat nanti lo bisa sama kayak gua and Erick…
Okay. Kita nggak ngebahas soal Erick, ya? Kita bahas soal lo aja. Gini, Sas. Erick cerita sama gua kalau lo masih sering nangis gara-gara Robbie… Bener, ya, Sas? Lo masih…”
“Ya, masih, lah, Lor. Hati gue kan bukan dari besi…”
“Meskipun sudah jelas-jelas Robbie selingkuh?”
Sikap gue yang berubah jadi diam sudah menjawab pertanyaan Laura.
“Sas, itulah kenapa gua akhirnya memutuskan untuk cerita soal gua ketemuan sama Tante Anne di Pasar Baru…”
“…”
“Pas gua lagi pergi sama nyokap cari bahan, gua lihat Mama Anne lagi nyari bahan juga, Sas…”
“…”
“Gua sapa aja. Basa basi dikit, lah. Nanyain kabarnya gimana, bisnis brownies kukusnya gimana… Pokoknya basa basi yang standar banget, deh. Gua sendiri memang nggak ada niat untuk nanyain soal Robbie atau lo, Sas. Gua pikir, itu bukan urusan gua…”
“…”
“Terus… akhirnya Tante Anne yang nanyain keadaan lo. Dia bilang, dia kangen banget sama lo, Sas…”
“Kangen gue, Lor?” Gue nggak tahan untuk bertanya. Tiba-tiba gue jadi kangen juga sama Mama Anne.
“Iya, kangen. Katanya terakhir ketemu pas lebaran kemaren, ya?”
Gue mengangguk.
“Iya… Terus, terus, Mama Anne bilang apa lagi?”
“Mm… Sas, lo yakin mau denger?”
Please, Lor. Tell me.”
Laura memegang jari gue.
“Dia tahu kalau lo udah putus sama Robbie, Sas…”
“Oooh…”
“… delapan bulan yang lalu.”

APPPAAAA????!!!!
Delapan bulan yang lalu??!!!!!

“Tante Anne sedih, Sas. Dia sayang banget sama lo, katanya…”
“…”
“Sas… Sasya…”
“… delapan bulan, Lor? Delapan bulan?? Perasaan baru…”
“Iya, Sas, iya. Emang baru sebulan yang lalu, kok, Sas… bukan delapan bulan…”
“Lor… Laura… Delapan bulan, katanya, Lor?”
Laura mengangguk.
“Terus? Apa maksudnya, Lor? Berarti sejak delapan bulan yang lalu dia sudah sama…”
“Jovanka. Iya, Sas, Jovanka. Dan Robbie sudah ngenalin dia ke Tante Anne…”
“…”
“… dan, Sas. The worst part is
Tante Anne ke Pasar Baru untuk beli…
Bahan buat acara lamaran Robbie.”

GUE PINGIN MATIIII!!!!!
 

to be continued

behind the door (16) : his lost, not mine <yeah, right!>

 

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

3 thoughts on “behind the door (15) : reality bites

  1. *singing mode : on*
    pertamax untukku dan tak kulupa….
    :mrgreen:

    Posted by presty larasati | June 4, 2008, 10:35 am
  2. panjang postingannya, jeung… 😦
    *yang penting pertamax*
    :mrgreen:

    Posted by presty larasati | June 4, 2008, 11:11 am
  3. yakin… pasti pengen mati doang yang akan dirasa kalo udah demikian… godamn robbie…. dan saat itu yang ada adalah sejuta sumpah serapah dalam kebencian yang menggila! haha

    Posted by natazya | June 4, 2008, 2:31 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: