you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (14) : who’s cheating on who?

You took me higher than I’ve ever been
Now that we’re strangers, I’ve come down again
Back to the real world, back to the real world
Back to the ground
Not high above it, up where the love is
Now I’m earthbound

Gue jadi suka banget sama lagu ini. Lagu yang bercerita soal gimana seorang pasangan yang cintanya selalu bisa membawa kita membumbung tinggi ke atas, mengajak kita menari-nari di atas awan yang bernama Cinta, tapi kemudian setelah perasaan itu hilang, dengan mudahnya dia melemparkan kita begitu saja. Kembali ke dunia nyata. Di mana yang indah-indah itu nggak akan selamanya ada.

Yup.
Since Robbie left me, I’m earthbinded.
Karena bagi gue, Robbie bukan cuman sekedar a fling thing, tapi dia adalah my everything
 
Awal kenal Robbie, lebih 3 tahun yang lalu, pas gue masih kuliah di Bandung. Hari itu, gue lagi nunggu giliran main band di pentas seni kampus.
Di mata gue saat itu, Robbie terlihat sangat menarik, dan paling nggak, dia terlihat jauh berbeda dibandingkan temen-temen cowok gue.
Mungkin memang karena faktor umur yang di atas gue hampir dua tahun, jadi memang wajar banget kalau dia kelihatan lebih dewasa…

<You know why I got crush on him instantly? The way he looked at me… and then… just left. No further actions like smiling, approaching, or other things like normal men do. Jujur, itu bikin gue makin penasaran sama dia>

Gue rasa, cerita ini gampang ditebak.
Seperti umumnya cerita cinta yang lain, setelah beberapa kali ketemu secara nggak sengaja di depan kampus (FYI, rumah Robbie nggak jauh dari kampus gue), gue sama Robbie akhirnya pacaran, itupun setelah melewati masa-masa pendekatan yang seru karena Robbie bukan tipe-tipe pengumbar cerita sementara gue adalah cewek yang bocor abis.
Tapi, seperti pasangan lainnya, justru karena beda inilah makanya gue sama Robbie bisa awet sampai bertahun-tahun.

Our first year was… amazing.
Second year… yes, we had fights, but we still loved each other and held our hands tights.
Third year… almost third, year… we had bigger fights
. Malah kita sering yel at each other, saling pointing fingers setiap ada masalah… Selalu bilang, “Ini salah kamu”, bukannya “Maafin aku, ya… Tadi aku terlalu emosi…”

Semuanya seperti berjalan di luar kendali gue.
Gue semakin jarang meluangkan waktu sama dia, dia semakin jarang mengeluh karena gue selalu punya kesibukan lain selain dia… sampai akhirnya, kami berdua menyadari, sepertinya kami sudah kehilangan sesuatu yang dulunya sangat penting.
Our togetherness.

Sampai sekarang, gue masih punya banyak pertanyaan yang menghantui perasaan gue.
Ya. Ya. Gue tahu, Jo memang bukan cewek pengalih perhatian yang datang saat gue terlalu sibuk dengan kehidupan gue. Gue juga tahu persis, kalau akhirnya Robbie lebih memilih perempuan lain untuk membagi bahagia dan sedihnya. Gue sangat, sangat, tahu, kalau Robbie sudah melupakan gue dan nggak peduli gue ada di mana sekarang…
Tapi…
Gue masih penasaran.
Apa sekarang keadaannya akan beda kalau seandainya dulu gue nggak menerima saran Laura untuk pergi ke Jakarta, transfer kuliah, dan menerima tawaran band lokal di sana?
Apa keadaan akan jauh beda kalau saat itu gue tetap kuliah di Bandung?
Apa memang lebih baik kalau gue nggak kuliah di kampus yang sama seperti Robbie dan memilih cowok Bandung itu mengapeli gue setiap dua minggu sekali karena dia harus kuliah di Jakarta?

I moved to Jakarta dengan alasan yang simple. Satu, karena gue ingin mewujudkan cita-cita gue, ngamen di kafe-kafe terkenal. Kedua, secara nggak langsung, gue bisa mencari uang sendiri tanpa merepotkan beban orang tua karena sebentar lagi Bokap sudah pensiun. Dan alasan terakhir, yang mungkin seharusnya menjadi top list of my reasons to move, gue nggak ingin berjauhan dari Robbie. Dua minggu sekali seperti terlalu berbahaya karena gue terlalu jauh dari dia.

<Yang benar-benar nggak pernah terbayang sebelumnya adalah kenyataan kalau semakin kita berdekatan dengan pasangan, justru mempermudah kita untuk saling menyakiti…>

Tapi setelah semua ini terjadi… gue malah penasaran. Siapa sebetulnya selingkuhan Robbie.
Jo?
Atau gue?

to be continued

behind the door (15) : reality bites

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

5 thoughts on “behind the door (14) : who’s cheating on who?

  1. siapa ya selingkuhannya??

    eng ing eng…. masih misteri, sodara-sodara..😀

    Posted by hanggadamai | June 3, 2008, 12:03 pm
  2. belajar mbak untuk setia. insya Allah nanti dapat pasangan yang setia juga.

    kesetiaan itu suatu ekspresi dari aktualisasi diri paling tinggi.

    iyaaa…. sesuai dengan hukum tabur tuai ya, Mas?

    Posted by Zulmasri | June 3, 2008, 12:41 pm
  3. setia..setia..setia..itu aja yang sekarang saya pegang..hubungan 2 manusia itu emang rumit..

    ameen… yang setia aja deehhh….

    Posted by stey | June 3, 2008, 3:18 pm
  4. gw juga suka EARTHBOUND nya CONNOR REEEVES inih!

    “and if u really have to go… u’ll take the high i’ll take the low”

    saya jadi curiga nih…
    jangan-jangan, kamu kembaran saya yang hilang….:mrgreen:

    Posted by natazya | June 3, 2008, 5:37 pm
  5. well, remind me tentang bandung…wew…

    Posted by herlinatiens | June 4, 2008, 12:30 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: