you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (13) : mellow yellow

an actor, is a regular human
hiding behind mask
and good scenarios
And keep saying that “the show must go on”
even when he feels so much in pain

Sounds familiar?
Gue memang bukan aktor, tapi sebagai entertainer, gue harus bisa menyembunyikan semua perasaan gue, mengesampingkan apa yang sebenarnya gue rasakan, dan pura-pura bahagia demi orang lain.
Makanya sepanjang show, gue makin stres.
How could I be focus if my mind was someplace else?
Gimana bisa berkonsentrasi penuh kalau suara Jo masih memenuhi pikiran gue dan hang in there like forever?

“Jangan begini lagi, ya, Sas? Kamu nggak fokus malam ini. Apapun yang ada di dalam pikiran kamu, lupakan saja, okay?” Oom Hasan memegang bahu gue sebelum berlalu menuju pintu keluar. Setelah itu, Erick, Mas Ben, Miko, lalu Daanish bergantian melewati gue dan memandangi gue dengan mata hope-everything-will-be-alright yang membuat gue makin merasa bersalah.

Yes. I admit, tadi gue sempat lupa beberapa bagian lirik lagu, sempat bengong sebentar padahal sebetulnya gue sudah harus masuk ke lagunya, atau tiba-tiba blank apa judul lagu berikutnya.
Gue memang nggak bisa berkonsentrasi.
Sama sekali.

But, hey! What do you expect from a girl with her broken heart?

Gue sudah menguatkan hati, meletakkan harga diri gue ke level paling rendah, dan hampir saja bilang kalau gue kangen sama Robbie… tapi, apa?
The other woman… picked up that cellphone!
And the worst part is…
It was the woman who’s behind our separation
!!

Setelah menutup telepon itu, gue seperti nggak bisa merasakan kaki gue sendiri. Sepertinya gue melayang-layang dan meninggalkan alam sadar gue. Rasanya sulit sekali untuk percaya kalau perempuan sialan itu yang mengangkat telepon gue. Di pagi buta, pula.
What the hell was she doing, there?
I believe, she was there to do something else.
Since I don’t believe, she wasn’t just there to pick up every incoming call…

Nggak terasa air mata gue turun lagi.
Shit.
Air mata ini seperti sama sekali nggak mau kompromi kalau gue masih harus ngamen satu jam lagi sebelum bisa menghapus mascara gue. Untung saja tadi gue selalu pakai yang waterproof, jadi gue nggak perlu repot-repot untuk membersihkan mascara yang belepotan karena gue merasa mellow yellow.

… It was a slap in the face
How quickly I was replaced
And are you thinking of me when you fuck her…

That song keeps running on my head.

<Kenapa tadi gue nggak minta temen-temen untuk bawain lagu itu, ya? Paling nggak, untuk lagu yang satu itu pasti gue akan sangat, sangat, berkonsentrasi!>
 
Pernah nggak, sih, even once, Robbie memikirkan gue? Atau paling nggak, saat gue sama dia baru declare kalau kita mau putus — now I assume that it wasn’t just a temporary one, but the end of everything — dia masih memikirkan gue atau dia merasa bersalah karena sudah menyakiti perasaan gue.
God knew how many tears that I shed that day and how many days afterwards I could not sleep just to think of our fights and regreted everythings…

The ‘What If’ questions were living inside my brain.
‘Gimana kalau gue mau berubah?’
‘Gimana kalau ternyata semua ini memang karena kesalahan gue?’
‘Gimana kalau ternyata dia menunggu gue?’
‘Tapi gimana kalau setelah gue minta maaf sama dia, ternyata dia nggak punya perasaan yang sama?’

What if I had never let you go?
Would you be the man I used to know?

Dan…
‘Gimana kalau saat itu gue nggak membiarkan Robbie pergi begitu saja dan bilang sama dia kalau…
Gue cinta sama dia?
Dan kehilangan dia adalah sama saja dengan kehilangan separuh napas gue?’

I am — yes, totally not WAS — in love with him.
Makanya begitu mendengar suara Jo di telepon tadi pagi benar-benar membuat gue panik. Siapa yang menyangka kalau perempuan itu yang bakal mengangkat telepon?

<Atau barangkali, secara nggak sadar, gue masih belum bisa menerima kenyataan kalau Robbie memang pacaran sama Jo?>

It was really a slap in the face…

Wake up, Sas!”
Tiba-tiba Daanish sudah berdiri di depan gue dan bikin gue kelagepan seperti orang tenggelam di sungai tapi lupa kalau dia bisa berenang.
Melihat gue kelagepan begitu, bukannya menolong, Daanish malah tertawa. I’m glad that she’s not a nurse, doctor, or a girlscout

Tiger… Sit!” kata Daanish setelah melihat kegarangan gue. Anak satu ini memang biangnya reseh. Sudah tahu gue lagi ada masalah, sudah tahu tadi pagi gue nangis-nangis sama dia dan cerita panjang lebar soal Jo, dan yang terpenting, dia sudah tahu kalau jantung gue bukan buatan pabrik yang bisa beli di supermarket, tapi masih tetap nekat bilang ‘Tiger, Sit’?

“Pengertian sedikit, kenapa, sih, Niisshh…”

Daanish melirik gue lalu malah tersenyum.
“Lo tahu, nggak, Sas? Justru karena gue ngertiin lo, makanya gue begini…” Daanish duduk di sebelah gue dan meneguk whisky colanya.

“Ini namanya pengertian?” Gue tersenyum kecut. “Kalau nggak salah, orang yang makin bikin temennya sedih itu bukan pengertian namanya, but put more salt in the pain…

Daanish malah tersenyum dan membuat gue semakin mengukuhkan cewek itu sebagai the living Drama Queen.
“Sasya, asal lo tahu aja, ya. Mendingan gue naburin garam, daripada ngeliat lo menghukum diri lo sendiri…”

<Am I punishing myself?>

“Sejak kapan merasa sedih karena putus adalah ‘menghukum diri sendiri’? Menurut gue, wajar banget, kan, Nish, kalau gue butuh waktu untuk sembuh?” Gue membela diri.

<Bahkan waktu upacara dulu, kita juga selalu mengheningkan cipta sejenak untuk mengenang arwah Pahlawan-pahlawan yang gugur, kan? Apa salahnya gue ’mengheningkan cipta sejenak’ untuk mengenang cinta gue yang sudah mati? Don’t you think?>

Okay, okay. Kalau memang gitu, gue mau nanya sama elo, Sas. Apa yang sudah lo lakuin untuk sembuh? Have fun go mad? Cari gebetan baru?” Daanish memandang gue lalu bilang, “Nggak, kan, Sas? Lo nggak ngelakuin apa-apa. Lo malah memanjakan perasaan sakit lo, cuman nangis, curhat ke gue, dan berharap ada bintang jatuh supaya keinginan lo bisa terwujud… Ya, kan?”

I’m sad, I’m in pain.
Maybe it’s my way to get through this, Nish…

“Gue tahu, Sas, perasaan lo buat Robbie emang masih kuat banget. Lo masih sayang banget sama dia… Masih denial sama perasaan lo sendiri… Bahkan, gue yakin banget, sekarang lo masih berharap kalau bukan Kuntilanak itu yang angkat telepon lo pagi tadi…”

“…”

He’s not worth it, Sas. Harus berapa kali, sih, gue bilang sama lo kalau cowok seperti Robbie itu bukan cowok yang pantes lo tangisi, atau pantes lo harapkan, karena dia sudah kurang ajar sama lo.
Perempuan yang namanya Jo itu memang ‘ada’, Sas, bukan sekedar ‘perempuan numpang lewat’ yang datang karena Robbie butuh lo tapi lo nggak pernah ada buat dia.
Dia benar-benar ada, Sas.
Hidup, bernapas, dan… unfortunately, dia sudah ‘resmi’ jadi pacarnya Robbie.
Gue tahu, Sas, ini memang sakit banget, tapi…
Kalau memang Robbie masih sayang lo… masih menganggap lo pacarnya… dan minta break adalah kesalahan terbesar yang pernah dia lakuin…
Bukan Jo yang angkat telepon itu, Sas.
Dan, bukan lo…
yang nelepon pagi-pagi buta untuk minta maaf sama dia…”
 

to be continued

behind the door (14) : who’s cheating on who?

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

One thought on “behind the door (13) : mellow yellow

  1. wah mellow lagi…

    Posted by hanggadamai | June 2, 2008, 12:15 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: