you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (5) :

“Cowok tuh emang binatang, Sas.”
Itu komentar Erick setelah melihat gue menitikkan air mata. Dia segera memacu mobilnya menjauhi Kemang dan mengantarkan gue pulang ke kost.
Gue melirik dia. “Binatang? Lo ngatain cowok binatang, tapi lo sendiri?”
“Sasya, cowok itu binatang… Bajingan… Tukang bohong… playboy… Suka mainin perasaan perempuan… Setiap ada yang baru, yang lama dibuang… Syukur-syukur kalau masih bisa diafkir…” kata Erick tanpa menghiraukan gue.
“Terus?”
“Makanya… gue lebih suka sama cewek, Sas!”
Erick tertawa.
“Reseh lo!” Gue tertawa juga akhirnya.
“Abis tampang lo jadi makin jelek aja kalau lagi nangis, Sas. Bener-bener nggak enak dilihat, deh! Serius! Sumpah! Beneran!”
“Iya, iya…”
“Makanya, senyum dikit, dong. Jangan pelit-pelit gitu. Kalau lo banyak senyum, ntar jadi lebih cantik. Dan begitu lo lebih cantik, pasti banyak cowok lain yang mau mendekat. Begitu banyak cowok mendekat, lo bisa punya banyak pilihan selain Robbie gebleg itu. Gimana? Setuju sama teori gue, nggak?”
Gue cuman bisa diam.

<Yang jadi masalah tuh, Rick… gue masih terlalu cinta sama Robbie dan masih ingin kita pacaran lagi…>

“Sometimes, I wonder how weird you are, Rick,” kata gue tiba-tiba.
“Lho? Kok malah gue yang dikatain aneh, sih?”
“Ya aneh. Weird.”
“Meaning…?”
“Mmm… kalau lo bisa ngatain Robbie ‘gebleg’, kenapa dulu lo bisa jahat sama Laura, ya? Bukannya itu sama aja, Rick?”
Erick malah tersenyum.
“Kita masih manusia, kan, Sas? Manusia paling pandai menasehati manusia yang lain, selain dirinya sendiri. Kita benci seseorang yang sudah jadi penjahat cinta, tapi kita sendiri pernah, kan, jadi penjahat buat pacar kita?
You see my point, Sas?”
“Ya. Itu namanya pembelaan diri.”
“Hehe, bukan, bukan pembelaan diri, dong.”
“Lalu apa namanya? Maling teriak maling?”
Erick tertawa.
“Sasya, maksud gue tuh, gue bukan orang suci. Gue masih manusia yang berusaha melakukan hal yang terbaik. Gue putusin Laura waktu itu, bukan karena sok playboy, sok jadi hunter, atau apa lah. Gue putusin Laura… karena gue nggak cocok aja, Sas. Gue nggak mau bertahan dengan azas: saling menyesuaikan perbedaan, karena menurut gue, kalau dari awalnya sudah nggak cocok, buat apa kita bertahan, kan? Wasting time banget, dong, Sas…”
“Tapi kenapa lo harus jadian sama Laura?” Gue masih tetap nggak mengerti kemana Erick akan ‘membawa’ gue. I really don’t have any clue. Totally lost. “Kalau memang lo bukan hunter atau playboy…”
“Kenapa gue jadian sama Laura, Sas? Mau tahu apa alasannya?”

Well, hellooowww! Bukannya tadi gue sudah nanya? Are you out of your mind or what?!

“… kenapa gue jadian sama Laura…
karena…
I fell in love with her.”

I wasn’t prepared to hear the ‘love’ things.

<Cinta, kata lo, Rick? Yakin bukan cuman nafsu sesaat yang sering lo umbar ke cewek-cewek ganjen yang sering ‘menawarkan diri’ untuk jadi escort lo setiap abis ngamen di kafe?
No, Honey, I’m sorry, I really don’t buy that>

Gue mendengus, kesal. Dan Erick mendengarnya.
“Kenapa? Nggak percaya?”
“Talk to the hand, Rick…”
“Jadi lo nggak percaya?”
Gue balik memandang Erick dengan pandangan ‘plis-deh-Rick’.
“Lo? Jatuh cinta? Sama Laura?” tanya gue dan Erick mengangguk. “Terus kenapa lo putusin dia?”
“Kan gue sudah bilang tadi, Sas, karena kita…”
“… nggak cocok. Ya. Ya. Ya. Klasik. Klise. Can’t find better words?” tukas gue ketus. Mana ada coba manusia yang terlahir sama persis? Bahkan orang yang dilahirkan kembar, dari telur yang sama, dari zygot pejantan yang sama, tetap aja manusia yang lahir tidak akan sama persis. Minimal, ada tambahan tahi lalat di salah satunya, kan?
Jadi… alasan ‘nggak cocok’ bukan alasan yang masuk akal buat gue.

“Sas, cowok emang binatang, bajingan, paling pinter bikin perempuan nangis dan sakit hati… tapi pernah nggak, sih, lo mikir kalau cowok itu punya hati juga?
Kalau saat itu gue memang jatuh cinta sama Laura, lalu apa salahnya, Sas? Dia cantik, baik, sayang sama gue… perhatian.. apa lagi? Dia…”
“Aaah…cut the crap, Rick! Kalau emang Laura itu cewek yang cantik, baik, dan sayang ama lo… kenapa juga lo putusin dia? Dengan kualitas cewek seperti Laura, lo masih tega-teganya mutusin dia? Please, Rick… Jangan bikin gue sakit perut sama kata-kata lo tadi…”

<Dan jangan bikin gue makin jengkel sama cowok yang nggak pernah merasa ‘beruntung’ sudah mendapatkan cewek seperti Laura — atau gue? — tapi malah mencari-cari alasan untuk memutuskan hubungan!>

“Apa, sih, yang kurang dari Laura, Rick? Dia punya segalanya yang bisa bikin cowok buaya darat macam lo bisa jatuh hati, kan? Kenapa juga lo tega-teganya mutusin dia demi cewek lain?”
“Sas… denger dulu….”
“Apa yang musti gue denger, Rick? Egoisme cowok lo tertantang kan, karena bisa ditundukkan sama satu cewek aja di jaman cowok punya bini banyak itu artinya lebih macho?”

I wish I can say the same thing to Robbie…
Tanya, kenapa dia ninggalin gue.
Kenapa dia selingkuh sama Jo.
Kenapa setelah itu dia menganggap gue seperti angin yang lewat begitu saja…

“Sas, bukan itu alasannya. Not even close. Mungkin orang lain boleh merasa gitu, tapi gue? Nggak, Sas, egoisme gue sama sekali nggak terusik meskipun cewek gue cuman satu, cuman Laura… that time.”
“So, why?
“Ini soal hati, Sas. Soal perasaan.”
“…”
“Sasya, asal lo tahu aja. Terkadang, kita nggak pernah tahu kenapa kita bisa jatuh hati sama seseorang…
Dan, Sas…
Kita juga nggak pernah tahu, kenapa perasaan itu hilang…”

Saat Erick menyelesaikan kalimatnya, gue seperti tersengat listrik ribuan voltase.

So, that means…
Robbie lost his loving feeling for me?
 

to be continued

behind the door (6) : a feeling called emptiness

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: