you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (4) : does he know I’m hurt?

You seem very well,
Things look peaceful
I’m not quite as well,
I thought you should know

Namanya Laura. Salah satu temen baik gue di Bandung. Selain kuliah, dia juga sudah mulai cari kerjaan sampingan. Bukan ngamen kayak gue, tapi dia jadi penyiar radio khusus perempuan. Yang topik pembahasan tiap hari kalau bukan pms, menstruation, “cowokku brengsek, cowokku reseh”, tips-tips mengakali baju supaya terlihat lebih langsing, ya hal-hal lain yang mengandung unsur-unsur kewanita-wanitaan lainnya.
Singkat kata, gue main ke Bandung bareng Erick, cowok gokil yang sering jadi temen having fun gue. Saat itu, sebagai temen baik, pasti dong gue kenalin Laura ke Erick. Gombal kanan kiri, akhirnya Laura jatuh hati.
Gue bilang sama Laura, “Hati-hati, Lor… Erick itu tipe cowok-cowok gombal… Lo jangan terperangkap sama kata-katanya. Percaya sama gue, deh!”

But you know when people fall in love, don’t you?
They put the logical aside, think only with their half brain and the rest is heart.

“Tapi dia manis banget ke gue, Sas…”
“Dia manis sama siapa aja, Lor.”
“Sasya, please, deh… Siapa tahu kalau sama gue beda…”

And, I know Erick like I know myself.
Once he’s a playboy, he remains a playboy.

Setelah empat bulan yang intens (you know what I mean, right?), akhirnya Laura menangis bawang bombay di pangkuan gue. Dia sengaja datang ke Jakarta, ke tempat kost-an gue, lalu curhat soal Erick yang tiba-tiba mutusin dia.

“Katanya, dia nggak bisa pacaran jarak jauh, Sas… Dia nggak tahan…”

Bandung-Jakarta = pacaran jarak jauh?
Yeah, right!

“… trus katanya, dia selalu khawatir gua kenapa-kenapa di sana tapi dia nggak bisa langsung ketemu sama gua…”

<You know cellphone, Rick? The small thing inside your pocket which constantly saying ‘beep, beep’ when someone’s calling?>

“… dia nggak bisa terus sama gua kalau dia kepikiran gua terus, Sas…dan…
…akhirnya, kita putus.”

Afterwards, Laura jadi sering nangis di telepon dan bilang kalau dia belum bisa melupakan Erick. Katanya, he’s the man of her life, katanya Erick adalah satu-satunya cowok yang paling dia sayangin… Dan dia juga bilang, dia nggak bisa membayangkan gimana Erick sekarang karena mantannya itu pasti sangat sedih.

Karena kata Laura, mereka berpisah, saat mereka saling mencintai…

Itu membuat gue jadi merasa serba salah.
First of all, Laura itu sudah seperti adik gue sendiri. Bahkan dia yang mendukung saat gue ingin transfer kuliah ke Jakarta supaya gue bisa mengembangkan kemampuan nyanyi gue. Kalau bukan karena dukungan Laura, mungkin gue akan tetap main band lokal di Bandung dan nggak akan jalan-jalan kemana-mana seperti sekarang ini.
Second of all, Erick itu juga bagian yang penting buat gue. Meskipun suka sok berwibawa, suka sok pintar dan tahu segalanya, tapi cowok ini juga selalu jadi penghibur sejati setiap gue lagi suntuk. Mau kemana aja, ayuk. Abis ngamen tapi males pulang, dia langsung menyebutkan beberapa tempat sebagai referensi.
Hm.
Mungkin itulah yang disebut buah simalakama.

Gue tanya Erick.
“Lo apain si Laura?”
“Ya, gue putusin, lah.”
“Kenapa?”
“Gue nggak mau maksa, ah, kalau emang nggak cocok.”
“Katanya lo nggak bisa pacaran jarak jauh?”
“Emangnya alasan apa lagi yang bisa diterima sama dia?”

Intinya adalah, di saat Laura sedang menangisi perpisahannya, Erick malah sudah mulai bergerilya ke kampus-kampus untuk mencari sasaran baru (yang akhirnya menemukan Karina, cewek paling cantik dan kalem di fakultas Psikologi, sedang makan siang sendirian di kantin).
Di saat Laura masih bertahan dengan “I know that we belong each other…” dan menganggap kalau Erick akan kembali ke dia, mantannya malah sudah melancarkan jurus-jurus maut buat cewek lain.
Di saat perempuan masih terluka,
para lelaki malah sudah melupakan.
Bahkan ironisnya, mereka tidak pernah merasa apa-apa…

Dan kenyataan itu yang bikin gue ingin menangis di mobil saat melihat Robbie sedang asyik mengobrol dengan teman-teman se-klub vespanya, duduk di pinggir trotoar sambil merokok, tertawa-tawa, bercanda-canda… as if… like nothing ever happened.
Sementara gue?
Hati gue masih sakit. Masih pedih. Air mata gue masih sering menetes nggak tertahan setiap gue kangen sama dia. Bahkan setiap mengingat namanya, hati gue berdesir dan membuat gue merasa nggak bisa melakukan apa-apa selain melamun.
Gue tahu, umumnya para lelaki memang tidak semelankolis perempuan. Tuhan memang menciptakan air mata dalam jumlah yang lebih besar untuk perempuan daripada laki-laki (I’ve read it somewhere in the internet), jadi gue nggak pernah berharap Robbie akan menangis dan melamun terus setiap hari. Yeah, I know that for sure, tapi paling nggak, masih wajar, kan, kalau gue berharap dia terlihat lebih…sedih?
Dan setelah melihat Robbie yang ‘baik-baik aja’ seperti itu, all of the sudden, I’m losing all my words but these:
“Does he even have heart to know that I’m hurt?”

to be continued

behind the door (5) : after the love has gone

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: