you're reading...
Novelet Bersambung: Behind The Door

behind the door (3) : he doesn’t even realize

Sampai di rumah kontrakan.
Daanish sudah menunggu gue di depan rumah dan langsung membuka lebar kedua tangannya. Dia memang sok romantis gitu sama setiap orang. Sok didramatisir segala, padahal baru kemarin kami ketemu, pas latihan di garasi rumah Erick.

“How’s the flight, Sas?”
“Maksud lo, how’s the fight, kan?” Gue melirik Daanish dan menangkap wajah cantiknya langsung berubah. She’s a living drama queen for me. Dia selalu menunjukkan perasaannya. With words, with attitudes. Gue bahkan selalu menganggapnya sangat transparan, karena semua orang di sekelilingnya, pasti tahu, dia lagi bahagia atau nggak.
Seperti gue sekarang yang bisa langsung menebak apa yang sebenarnya ingin dia ketahui. Apalagi kalau bukan soal pertengkaran gue beberapa waktu lalu sama Robbie dan akhirnya bikin gue break sementara?

Temporary break up…
C’mon. No such thing called temporary break up if you really love someone, right?

Dalam hati, gue selalu tahu kalau memang Robbie masih sayang banget sama gue, nggak akan pernah dia minta break sama gue. Introspeksi bisa dilakukan sambil jalan, kan? Sambil tetap meluangkan waktu sama-sama, mencoba mengkoreksi diri sama-sama… bukannya sepakat untuk nggak ketemu dalam waktu yang… I don’t know… maybe… until uncertain time?
And what if the time won’t come?
Atau gimana kalau ternyata memang waktu itu sudah datang tapi Robbie malah bilang, “Gue rasa, kita lebih baik sendiri-sendiri kayak gini, Sas… You’re better when I’m not with you…and in fact…
Me too.”

Kembali ke Daanish lagi.
“Ya, ya. Okay, okay, the fight. Gimana lo sama Robbie? Ada perkembangan?”
“Perkembangan? Lo kira gue lagi bikin adonan donat, apa?”
“Jayus dan tidak relevan,” sahut Daanish.
Melihat Daanish begitu serius, gue langsung jadi nggak enak hati. Dia sudah sangat perhatian sama gue. Bahkan, dia orang pertama yang tahu kalau gue lagi istirahat jadi pacarnya Robbie. Bahu Daanish yang jadi tempat gue nangis-nangis darah kapan hari. Dan tangan Daanish yang mengelus-elus rambut gue sambil mulut bawelnya berkata dengan sangat bijak, “Let time does the work, Sas… Sambil menunggu, lo sabar aja, ya?”

“Dia nganterin ke bandara, Sas?”
Gue menggeleng.

<Dia bahkan nggak tahu kalau gue jadi berangkat ke Surabaya, Nish… He doesn’t even know I’m exist…>

“Tapi dia tahu dong kalau lo…”
Sebelum Daanish menyelesaikan kalimatnya, gue sudah memotongnya dengan gelengan kepala.
“… what???!!! Dia nggak… Why? Lo nggak cerita sama dia? Atau…”
“Gue nggak tahu apa dia perlu tahu soal ini, Nish,” potong gue sebelum Daanish mulai kehilangan kata-katanya karena heran. Dan memang, dia kini masih terdiam dan cuman memandangi gue. “Nish, lo tahu sendiri, kan, gimana hubungan gue sama Robbie sekarang? Gue sendiri juga nggak habis pikir kenapa dia jadi completely a stranger to me.”
“Jadi lo nggak ngabarin dia dan dia juga nggak ngasih kabar apa-apa ke elo, Sas? Setelah 3 tahun lo pacaran sama dia dan dia lupain elo gitu aja? C’mon… you’ve got to be kidding me… Iya, kan, Sas?” Daanish masih nggak percaya.

Gue sendiri juga nggak tahu kenapa sejak saat itu, gue sama Robbie seperti dua orang asing yang nggak saling mengenal. Gue tahu, yang namanya break, di mana-mana, tuh, memang nggak ketemu dalam waktu tertentu. Tapi bukan berarti kalau kita accidentally  ketemu di mal atau di sepanjang jalan menuju kost yang searah dengan rumahnya, dia langsung berubah menjadi perfect stranger, kan?

“Apa alasan lo nggak ngabarin dia?” tanya Daanish dengan wajah penuh selidik seperti detektif.
Gue mengendikkan bahu gue. “Ngg… mungkin karena gue nggak mau kege-eran aja, Nish…”
“Maksud lo?”
“Gue takut sedih aja kalau akhirnya dia malah nanya, kenapa juga gue musti ngabarin dia gue mo kemana, di mana, mo ngapain aja… It’s the break-up rules, Nish.”
“Break-up rules?”
“Iya… Kita cuman punya dua pilihan. Reunited atau berpisah, selamanya. Dan sampai saat itu datang, nggak ada acara kita saling ngabarin apa yang sedang kita lakuin, sama siapa kita sekarang, ada di mana…Hal-hal sederhana yang dulu jadi kewajiban gue sama Robbie, Nish.”
“Dan lo baik-baik aja, Sas? Lo nggak sedih apa marah, gitu?”
“Terus, kalau gue sedih atau marah, akan bikin dia balik sama gue?” Gue menggelengkan kepala. “I don’t think so, Nish…”
Daanish memegang jari-jari gue dan memandang gue dengan pandangan sorry-I-didn’t-mean-to.
“The worst part is…the other day, I saw him with his friends. Dia lagi asyik nongkrong di Kemang sama temen-temen klub vespanya. Waktu itu gue sama Erick baru pulang dari rumah Oom Hasan dan entah kenapa si Erick bastard itu milih lewat situ.
Dan yang bikin gue ngerasa jantung gue hampir nggak berdenyut sama sekali itu… Karena  gue lihat Robbie, Nish… dan… lo tahu? Gue hampir nggak bernapas!”
 “Kenapa? Lo lihat si Jo ada di situ, ya?”
Gue menggeleng.
“Apa lo lihat dia sama cewek lain, Sas?”
Gue menggeleng lagi.
“Dia lihat lo lewat situ dan sok cuek sama lo, Sas?”
“It’s worst than that, Nish… Much worst…”
“Terus kenapa? Apa yang bikin lo nggak bisa napas, Sas?” Daanish memandang gue dengan heran.
Gue menghela napas sebentar.
“Mmm… karena gue lihat dia…

baik-baik aja.”
 

to be continued

behind the door (4) : does he know I’m hurt?

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: