you're reading...
Thoughts to Share

Bahagia

Dulu, saat masih aktif di dunia milis, saya pernah bertanya pada teman-teman milis soal apa arti bahagia menurut mereka. Jawabannya pun beragam dan saya berusaha merangkumnya menjadi satu.

Buat Chic, B, atau Nia, ini pernah saya posting bulan Sept tahun kemarin di milis Cita Cinta… Kalian baca-baca lagi nggak apa-apa yaa…

Berikut adalah email yang saya kirim ke milis:

Dua minggu yang lalu saya sempat posting e-mail dengan subject: Arti Bahagia dan alhamdulillah ada beberapa yang merespon dengan jawaban-jawaban yang sangat beragam.

Ninoets (niaalive) bilang, “Saya bahagia ketika bangun pagi-pagi dan menyadari bahwa Tuhan memberikan saya kesempatan satu hari lagi untuk menikmati hidup yang indah”
—-
Nice comments, Noets. Terkadang banyak yang melupakan bahwa bangun di pagi hari adalah anugerah yang luar biasa, dan seharusnya kita mengucap syukur karenanya. Tidak sedikit yang melewatkan pagi hari dengan mengomel karena harus bangun pagi, beraktivitas, ngantor lagi, dll dsb. Padahal mereka
seharusnya tahu, kesempatan ini nilainya sangat berharga buat orang-orang yang sedang menanti ajal karena kanker ganas.
Jadi Noets, this one is really great. Saya dan teman2 jadi tahu betapa bahagianya orang2 seperti kami2 ini, yang bisa bangun pagi dan memperoleh kesempatan satu hari lagi untuk tetap bisa menikmati hidup.

Lady bilang, “buat aku…saat seseorang bisa tertawa lepas, tanpa ada hal yg disembunyikan, saat kita bisa meraih apa yg kita impi2kan…saat dimana kita bisa bersama-sama dengan orang yang mencintai dan menyayangi kita dengan tulus….wow bahagianya hidup….”

Lady, saat saya bisa tertawa lepas dan teman2 di sekitar saya ikut tertawa bersama saya, saya juga sangat merasa bahagia, Jeng. Senang sekali kalau melihat wajah-wajah orang terkasih saya gembira dan merayakan kegembiraan itu bersama saya… Life’s really complete!

Jeng Rachma Viena bilang, “Bahagia : masih bisa bersyukur karena masih bisa merasakan,menyentuh, mendengar, melihat, mencium.. Bahagia : bebas dari rasa terintimidasi,tertekan atau terkungkung. Bahagia : bisa melihat orang lain bahagia”
—-
Jeng, bersyukur adalah hal yang sulit dilakukan saat kita merasa sedih.
Jadi bisa bersyukur “ternyata” membahagiakan juga ya? 🙂 Saya sangat setuju betapa bahagianya kita karena masih bisa memiliki panca indera yang lengkap. Kita2 ini seharusnya lebihmenikmati karunia ini, daripada harus mengeluh terus menerus soal fisik yang kurang sempurna (bentuk tubuh dan deposit2 lemak salah tempat, misalnya, yang selalu menjadimasalah klasik kaum perempuan). Mereka yang panca
inderanya tidak lengkap saja, saya yakin, mereka masih bersyukur karena masih bisa melakukan hal2 berguna dengan panca indera seadanya. Mungkin salah satu yang mereka syukuri adalah bahwa mereka memiliki kita2 ini yang menghargai mereka apa adanya?
Kita nggak pernah tahu kan…

Zalva bilang, “Menurut gw arti bahagia itu so simple, ketika di dalam hidup kita merasa cukup. dengan apa yang kita punya dan yang kita miliki”
—-
Jeng, virus untuk merasa bahagia ala kamu ini harus segera ditularkan nih.
Bahagia memang sederhana. Lantas kenapa kita musti pusing2 dengan mempersoalkan hal2 yang tidak kita miliki?

swe3ty_blue (jeng, nama kamu siapa sih? hehe) bilang, “Buat gw, bahagia adalah saat gw nggak merasa kekurangan dalam hidup ini. mulai dari hal yang simple aja, misalnya : punya badan yang sehat (walau nggak sempurna), punya keluarga and temen2 yang sayang banget sama gw, and saat gw bisa melewati setiap hari gw tanpa kejadian buruk yang bikin gw jadi BT or sedih… Intinya, kalo buat gw…bisa memanfaatkan apa yang kita punya dan mencari apa yang belum kita dapat, lalu berusaha dengan semaksimal mungkin, itu juga bisa bikin gw bahagia… tapi, yang paling penting lagi…bisa membuat orang-orang yang gw sayangi
bahagia, itu juga salah satu hal yang bikin gw makin bahagia….”

—-
Jeng Sweety (pasti kamu orangnya manis ya…^_~), kalau kita bisa membuatorang yang kita sayangi bahagia, sebelumnya, kita harus punya modal ‘bahagia’ dulu kan?
Untuk membuat kita semakin bahagia, kita buat orang lain bahagia, jadi kita harus bahagia.
Intinya: kita harus bahagia. Caranya? Ya bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki… Begitu ga Jeng?

Komentar2 yang datang dari teman2 milis, serupa tapi tak sama. Semuanya memiliki inti yang sama, yaitu bersyukur. Dengan bersyukur, berarti kita ikhlas menerima hidup termasuk dengan segala macam intrik dan permasalahannya. Saat kita berhasil merasa ikhlas, disitulah kita bisa tersenyum dan bahagia.

Tapi…
Komentar dari seorang teman ini yang kemudian membuat pikiran saya sedikit berubah. Komentar dari AUREL, yang menyuguhkan konsep sama sekali lain, yang shockingly, it changed my life!

Try to read this:
Bahagia itu bkn sekedar keadaan hati dan pikiran tapi merupakan sebuah KEPUTUSAN.
Pas mslh dtg, kita punya pilihan untuk tetap jd bahagia ato membiarkan diri kita larut kedlm mslh itu. So, it’s just a matter of decision.

Saya sampai speechless. Saya kagum sekali dengan pendapat Aurel, bukannya saya tidak menyetujui atau mengagumi yang lain, tapi pendapat Aurel sungguh menyentuh hati saya.

Ya, ya.
Bahagia itu memang pilihan. Bahagia itu adalah “permainan otak” semata.
Kita bahagia, kalau kita menginginkan bahagia. Kita tidak bahagia, kalau kita menyuruh kita sendiri untuk tidak bahagia.
Misalnya, saya sendiri.

Saya berumur 27 hampir 28. Bekerja sebagai sekretaris.
Terkadang, saya ingin bekerja di tempat lain yang lebih menantang, misalnya jadi marketing/PR di perhotelan, di saat saya sedang bored di kantor dengan pekerjaan yang monoton. Ketika itu, saya merasa TIDAK BAHAGIA dengan kondisi seperti ini.
I’m almost 28 but I’m stucked with the job that I dont like. Sepertinya bekerja jadi tidak bergairah.
Tapi kemudian, setelah saya teringat dengan konsep bahagia itu bersyukur dan (bahwa) bahagia itu adalah soal pilihan semata, saya jadi malu sendiri.
Tidak sekali dua kali saya mendengar beberapa sahabat iri dengan pekerjaan saya  yang tidak terlalu berat tapi gaji yang lumayan. Tidak sedikit pula sahabat saya bercerita soal harus lembur sampai jam 9 malam sementara dia punya baby yang butuh ASI. Kakak perempuan saya, yang bekerja di Hotel, bilang, “Capek, Dek, kerja di hotel. Kadang, Sabtu-Minggu masih haruskerja. Jam kerjanya juga ngga teratur. Enakan kamu, kerja di belakang meja, sabtu-minggu libur..”

Di situlah saya mulai berpikir lagi, bahwa kebahagiaan itu berbeda untuk setiap orang. Sahabat saya, bahagia kalau bisa pulang on-time dan menyusui anaknya. Kakak perempuan saya (yang memiliki pekerjaan yang saya iri itu!), bahagia kalau dia bisa bekerja di belakang meja, seperti saya. Saya bahagia, kalau saya bisa memiliki karier di dunia perhotelan.

Dengan kecenderungan demikian, bahwa ada orang2 tertentu yang menginginkan “kebahagiaan” seperti orang lain padahal orang2 tertentu itu malah menginginkan “kebahagiaan” yang kita miliki, tidakkah seharusnya kita berpikir bahwa kita sepatutnya bersyukur saja?

Kita memiliki yang tidak dimiliki dan cenderung membuat orang lain iri, bukannya sudah sepantasnya kita bersyukur?
Dan kalaupun kita tidak tahu bahwa ada orang yang iri dengan kita, bukankah sejujurnya kita tidak pernah tahu bagaimana orang lain memandang kita?

Kini,
saya bersyukur, bahwa saya masih diberi kesempatan untuk bangun pagi ini dan harus kembali bekerja di pekerjaan yang membosankan tapi memberi saya gaji tiap bulannya. Banyak variabel yang bisa membuat saya bersyukur: 1. Gaji  (pastinya.. hehe) dan 2. Saya bisa main weddingdash, dinerdash, jane’s hotel, burger island semau saya — kecuali kalo ada Bos (hehe)– atau menulis novel ke-4 saya.

Jadi,
kalau bahagia itu adalah pilihan…
Saya memilih, saat ini, di usia menjelang 28 ini, saya BAHAGIA.

Thks Girlz, untuk pendapat2nya yang membuat saya makin meyakini untuk terus menerus merasa bahagia….
Salam,
LALA

Ps. Saya pernah tanya teman saya, bahagia buat dia itu seperti apa. Tebak pa yang dia bilang.
“Lala, bahagia itu… kalau saya bisa menikmati teh panas di pagi2 dingin.”
Sederhana ya? ^_~

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

9 thoughts on “Bahagia

  1. Hehehe …
    Bahagia ada didalam diri kita …
    Betul kata teman mu itu …
    Itu adalah pilihan … !!!

    Bahagia Bagi saya ???
    Melihat anak saya ketawa …

    Posted by nh18 | May 26, 2008, 5:29 pm
  2. Bahagia???
    what kind of feeling is that?
    dunno what happy is…
    still on searching progress…
    in my hope, happy if i can see you smile, can hear yor laugh, but just silent just heard lately….
    maybe still on progress…

    Posted by 'B' aka Rere | May 26, 2008, 6:50 pm
  3. Wah mantap-mantap tuh ungkapannya tentang bahagia. Satu hal yang pasti bahwa kebahagiaan itu sangatlah relatif dan subjektif. Makanya sangat sulit ngukurnya.

    Posted by Rafki RS | May 26, 2008, 11:53 pm
  4. Bahagia..B A H A G I A
    nikmat yang diberikan tuhan buat saya, apapun bentuknya.

    Salam kenal jeng, numpang sarapan pagi 🙂

    http://www.keluarga-andriza.blogspot.com
    sorry linkblognya ga diput diatas, bakalan error 😦

    Posted by liza | May 27, 2008, 7:02 am
  5. jangan lupa bersyukur ya mbak 🙂

    Posted by hanggadamai | May 27, 2008, 7:22 am
  6. Bersyukur dan bersyukur ya…

    Posted by Wempi | May 27, 2008, 9:11 am
  7. Om NH:
    Kalau saya yang ketawa, Om? Bahagia juga? Apa ngeri? :mrgreen:

    B:
    Sudah selesai belum progressnya? 😉

    Rafki:
    Berhubung sifatnya subyektif dan relatif; bukannya lebih enak kalau bersyukur saja, kan, Pak?

    Liza:
    Iya, apapun bentuknya ya Mbak… Mau yang bikin sedih, bikin ketawa… Semua itu dikasih, karena memang sejatinya kita butuh… Untuk apa? Hikmahnya nanti, baru kita ketahui belakangan…

    Hanggadamai:
    Syukkuuurrriin llluuuuuuhhh… *bersyukur yang model begini ya, Ngga? hehe*
    ngga kok.. saya bersyukur banget bisa jadi seorang lala yang sekarang ini… uuaahh.. cenangnyaaaa…

    Wempi:
    he-eh. Itu kunci supaya bisa bahagia… Mari bersyukur! Jangan lupa bersyukur! Hidup bersyukur! 🙂

    Posted by jeunglala | May 27, 2008, 10:43 am
  8. ah bu… aku sedang mengingatkan diri buat terus dan terus menerus bersyukur, karena masalah konsep sudah tau, tapi penerapannya yang rada susah…

    kadang kalau bentrok sama pendapat orang lain tentang kebahagian kita *such as parent* rada susah juga… misalnya orang tua yang ga percaya bahwa kita akan bahagia kalau pada akhirnya end up sama seorang yang katanya “ga selevel” or sumthing sama kita…

    jadi bingung dan berpikir, kalau memang itu pilihan yang diyakini dan emang mau dijalani sepenuh hati, masa iya sih ga akan jadi bahagia?

    tapi dengan berpikir penuh keraguan begitu, kadar bahagianya lama kelamaan makin turun dan turun…

    ah… belajar… latihan hehehe

    bersyukur! 😀

    Posted by natazya | May 27, 2008, 4:49 pm
  9. Aahh.. Bahagiaa..

    Rasanya ini adalah impian semua orang dhe aww..

    Segala sesuatu yang kita inginkan sebenarnya ujung2nya yaa kebahagiaan itu sendiri 😀

    Tapi seringkali kita mencarinya di luaran sana sementara kebahagiaan itu sendiri harusnya ada di dalam diri kita 😉

    Kasarnya : biar dunia di sekitar kita runtuh, yaa bukan berarti kebahagiaan kita harus ikut terkubur bersamanya khan?

    Tapii..

    Susah untuk mencapai taraf kebahagiaan yang seperti itu, huehehehe :p

    Posted by Indah | December 24, 2008, 11:56 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: