you're reading...
Thoughts to Share

Mencintai? Dicintai?

Almarhumah Mami pernah bilang pada saya begini:

Nduk, kalau kelak nanti kamu dewasa dan menikah… Menikahlah dengan lelaki yang mencintai kamu, ya? Jangan yang kamu cintai. Karena… kalau kamu dicintai, lelaki itu akan melakukan apapun caranya untuk terus bersama kamu, tak pernah meninggalkanmu…

Seperti biasa, saya ngeyel. Berarti itu sama saja artinya dengan menikahi laki-laki yang tidak saya cintai, dong?

Saat itu, Mami sedang menghadapi kemelut dalam rumah tangganya, sehingga dia melakukan segala upaya dan cara agar anak-anak perempuannya ini bisa jauh lebih bahagia daripada hidupnya sendiri.

Kamu mungkin merasa tidak nyaman, Nduk. Tapi, percayalah, ini demi kebahagiaan kamu sendiri, kelak…

Lalu saya menggelengkan kepala dan berkata, dengan penuh unsur pembelaan diri yang lumayan akut, “Ah, daripada musti menikah sama cowok yang nggak aku cintai, mendingan sama orang yang kita cintai Mi. Ya, ya. Meskipun sakit hati, tapi paling nggak, aku kan tahu gimana rasanya jatuh cinta…”

Naif sekali kamu, Laaa….😀

Sampai akhir hidupnya, Mami selalu mengingatkan hal itu. Apalagi ketika itu, saya sedang terlibat dalam cinta pertama saya…. maksudnya, pacar pertama saya. Dan Mami merasa, bahwa saya sungguh-sungguh jatuh cinta dengan pacar saya itu. She was all worried… She was too afraid that I might having a terrible breakup and cried… and broken hearted.

Dan itu hampir enam tahun yang lalu. Dan saya masih keukeuh untuk terus setia pada prinsip: I’d rather be with someone I love and expect him to love me back…. and hope… that he will always stay beside me, through my best and worst of times….

Mami sayang….

Maafin anakmu yang terlalu bebal ini, ya? You were always right about all those sayings. Memang lebih mudah untuk dicintai, lebih aman untuk bersama dengan seseorang yang berusaha bagaimanapun caranya agar tak kehilangan kita… Dengan begitu, kita tak perlu khawatir bahwa suatu saat kita akan ditinggalkan oleh pasangan kita…

Tapi Mi,

Aku tetap memilih untuk mencintai calon suamiku, kelak. Memang, aku sering jatuh, terluka, oleh sikap-sikapnya… Memang, aku sering ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah kuanggap segalanya.. Memang, aku sering merasa hidupku hancur berantakan karena lelaki-lelaki itu seperti tak punya hati saat mereka mengucapkan kalimat-kalimat perpisahan yang menyakitkan…

Karena…

Ketika aku mencintai seseorang… Disitulah aku mempertaruhkan kebahagiaanku sendiri. Mencintai seseorang sama saja dengan melangkahkan sebuah kaki di sebuah ruangan gelap, mencari cahaya. Aku tak pernah tahu, ada kerikil kah di sana? Atau adakah lubang yang menganga, yang bisa membuatku terperosok di dalamnya? Dan pertaruhanku dimulai ketika aku membuka pintu itu, Mi…

Biarlah aku belajar mencintai dengan ikhlas, ya, Mi.

Maafkan anakmu ini, yang selalu ngeyel, tidak menuruti pesanmu tentang mencintai … dicintai…

Izinkan aku memilih calon suami yang kucintai, ya?

Dan semoga saja, Mami selalu sudi memelukku setiap aku mengadu tentang luka hati yang mungkin kelak akan membuatku tak berhenti menangis, ya…

Life is about choices. There’s only one true destination; it’s our right to choose whatever path that we want to take. Don’t regret: that’s your choice, remember????😀

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

5 thoughts on “Mencintai? Dicintai?

  1. Sama seperti ibu juga menyarankan demikian. Mungkin memang semua Bunda di dunia tidka ingin putrinya terluka dan termehek-mehek karena cinta, sist. Selama 25 tahun terakhir, saya memilih dicintai dan dilimpahi begitu banyak kasih sayang dan cinta. Sampai akhirnya saya bertemu dia. Tanpa disadari, tiba-tiba dia sudah menempati ruang hati saya, sedikit demi sedikit, ruang itu semakin membesar. Dan pertama kalinya dalam hidup saya, saya memilih mencintai dan dicintai, jika tidak mungkin paling tidak saya akan berjuang demi cinta dan asa bersamanya ^^

    -gile, gue jadi picisan gini, hehehehehe😀 –

    Posted by 'B' aka Rere | May 17, 2008, 1:00 pm
  2. My luvely lil’ sis, B…
    Harus selalu diingat, cinta yang benar-benar sejati adalah bisa merasa bahagia dengan tulus dan ikhlas, meskipun orang yang kita cintai bersama dengan orang yang lebih dicintainya… bukan kita.
    Saya sedang belajar, B.
    Mau belajar bareng, Dek?🙂

    Posted by jeunglala | May 17, 2008, 2:29 pm
  3. Sip…. Tapi selama masih ada waktu dan cinta di hati, yuk mari kita perjuangkan cinta ini bareng-bareng yah…🙂

    Posted by 'B' aka Rere | May 18, 2008, 5:00 am
  4. Yang ini aku tidak bisa kasih komentar La …

    Kalo aku … ngalir saja … ikuti suara hati …
    jika betul … Alhamdulillah …
    jika salah … ya kita belajar dari kesalahan itu …

    (yes … memang tidak sesimple itu … but at least kita tidak stuck diam ditempat …)

    Posted by nh18 | May 19, 2008, 12:34 pm
  5. hmm.. sebenarnya idealnya dalah saling mencintai satu sama lain, tapiiii yang kebanyakan adalah mencintai atau dicintai… saya pernah ada di kedua fase itu, dan jujur, saya lebih memilih untuk dicintai.. kenapa ? karenaaa.. sudah terlalu banyak masalah saya diluar sanaa, gak perlu ditambah dengan derita hati karena kemungkinan cinta bertepuk sebelah tangaaan.. saya sedang sangat membutuhkan hati yang kuat untuk bisa survived di dunia ini..

    Temen saya pernah bilang ” hidup cuma sekali, kapan lagi bisa idealis ”
    saya jawab ” Get Real !! “

    Posted by niaalive | May 22, 2008, 8:36 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: