you're reading...
Thoughts to Share

cemburu

peringatan: posting berikut ini ditulis ketika saya sedang merasa sangat secure dengan diri saya sendiri… Sengaja diposting untuk kembali menguatkan hati… 🙂

Beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi blog seorang penulis perempuan, yang novel adaptasinya berjejer-jejer di rak toko buku, dan kebetulan dia adalah salah satu novelis dan tokoh perempuan muda yang saya idolakan, Okke ‘sepatumerah’.

Saya minta maaf kalau mengutip sedikit kalimat di blog seseorang adalah ilegal, tapi berhubung saya gatal untuk mengutipnya (walau sedikit) untuk saya bagi di blog ini, untuk saya bagi dengan kalian.

Di situ, dia cerita soal betapa kekasihnya selalu mempertanyakan kenapa dia tidak pernah bisa cemburu. Tidak cintakah dia? — dengan alasan klise, bahwa cemburu adalah salah satu cara mengekpresikan cinta. Padahal, sesungguhnya, perempuan pintar ini punya alasan lain, karena dia berpendapat (yang intinya) begini:

“Cemburu itu bukan cinta; karena cemburu itu menyakitkan”

“Dan alasan lain kenapa saya jarang cemburu adalah, karena cemburu sesungguhnya merupakan bentuk insecure seseorang, sementara saya ini termasuk orang-orang yang sangat merasa secure dengan diri mereka sendiri.”

Saat membaca, saya merasa seperti menatap cermin, di mana saya melihat refleksi saya sendiri di dalam tulisan Okke. Ya. Saya juga termasuk kumpulan manusia “aneh” yang tidak mudah cemburu. Salah satu mantan kekasih , malah pernah dengan semena-mena bilang bahwa saya nggak mencintai dia (hell no, saat kami putus, saya sempat nangis2 darah kok, kenapa dibilang nggak cinta?).

Berulangkali saya membela diri, “Saya cinta kamu, kok, cuman saya nggak bisa cemburu.”
Dan berulangkali mantan orang terdekat saya itu bilang, “Kalau cinta, kenapa kamu biasa-biasa kalau ada teman perempuan saya yang numpang di mobil, teman perempuan ngajak makan atau keluar bareng, teman perempuan nyuruh saya nemenin ke kawinan temennya… ” dll dsb.
Lalu saya jawab, “Tapi mereka teman kamu kan? Mereka hanya sekedar numpang, minta tolong, atau pengen hang out n crita-crita aja kan? BUkan grepe-grepe atau ‘membina masa depan’ kan?”
Dia jawab, “Ya, pasti lah.”
Dengan perlahan saya tanya, “Lantas, kenapa saya musti cemburu?”
Dengan kebingungan (campur bete, pastinya) dia bilang begini, “Tapi mereka perempuan, Sayang!”
“Lalu?”
“Kenapa kamu nggak cemburu?”
“Karena nggak ada yang perlu saya cemburui.”
“Berarti kamu nggak cinta sama saya.”
LHAH!

Dan akhirnya, penjelasan yang bertele-tele itu harus saya ulangi lagi; dengan intonasi jauh lebih kesal dan pandangan INI-ORANG-KOK-GA-NGERTI-NGERTI-SIH.

Nah. Ok. Sekarang kita kembali ke pokok pembicaraan.

Kemudian saya jadi bertanya-tanya sendiri, sebetulnya, memang adakah hubungan antara cemburu dan kadar cinta seseorang? Bahwa orang-orang yang pencemburu berat adalah orang-orang yang kadar pencinta-nya jauh lebih dahsyat ketimbang orang-orang macam saya dan Okke, misalnya? Kalau memang saya tidak mencintai pacar saya (karena faktor saya tidak gampang cemburu tadi), kenapa saya merasa sangat kehilangan dan sempat menangis darah seperti film India ketika saya berpisah dengan mereka?

Tapi…

Betulkah cemburu hanya diperuntukkan oleh orang-orang yang insecure? Orang-orang yang merasa kurang percaya diri dengan kemampuan dirinya sendiri?

Saya memang orang yang (cukup) percaya diri. Untuk dibilang sangat secure, well, I’m off the list, Babe. Tapi, apakah memang karena itu saya jarang sekali merasa cemburu?

Membaca blog seseorang, dengan topik yang menarik dan (apalagi) mengena ke pengalaman pribadi, membuat saya berpikir, bahkan setelah saya menghentikan koneksi internet dan melakukan aktivitas sehari-hari. Pikiran yang paling mendominasi dalam benak saya adalah ini: “Lantas, apa yang membuat saya tidak mudah cemburu?”

Berhari-hari saya coba menganalisa (sambil main-main games di kantor — bisa dibayangkan betapa “penganggurannya” saya di kantor.. hehe), apa sih yang membuat saya menjadi perempuan frigid yang seakan-akan tidak punya hati ini. Dan setelah hari ini, saya intip blognya sekali lagi, saya mulai menemukan jawabannya.

Mungkin..
Mungkin saja…

Saya tidak mudah cemburu karena…

CEMBURU itu MENYAKITKAN.

Saya sih tidak pernah berniat menyakiti diri saya sendiri, jadi kenapa saya musti melakukan tindakan destruktif semacam cemburu? Toh ujung-ujungnya saya sakit hati dan kata-kata yang keluar dari mulut atau sikap-sikap dan kelakuan saya malah menyakiti kekasih saya, jadi buat apa saya repot-repot merasa cemburu? Sesederhana itu, ternyata.

Hhhmm.

Cemburu = Cinta.
Masih perlukah kita menganggapnya sebagai simbolisasi perasaan cinta absolut kita pada sang Kekasih?

Kalau saya sih, tidak ^_~

Nah, sekarang kalian tahu kan, kenapa saya begitu ngotot ingin memajang hasil tulisan tentang cemburu ini?

….karena sekarang, saya sedang benar-benar merasa insecure…:(

Allah, kuatkan saya, ya..

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

6 thoughts on “cemburu

  1. Mungkin bisa jadi teorimu benar. Bahwa cemburu bentuk bahwa kita tidak cukup yakin dia cinta kepada kita. Tidak peduli apa karena benar ada orang ketiga atau hanya godaan biasa. Tapi emang benar sih, itu adalah bentuk kita merasa tidak cukup dicintai oleh dia.

    -i’m thinking of him,,, am i good enough to be loved by him…(sigh)-

    Posted by 'B' aka Rere | May 17, 2008, 12:55 pm
  2. Bahkan di wikipedia pun bilang bahwa jealousy adalah perasaan yang timbul karena ketakutan kita kehilangan seseorang… karena kita merasa posisi kita tidak aman di dalam hatinya…. 🙂
    …. yang terakhir… Can’t say anything. Same question appeared lately: am I deserved him? … tapi yaa… GR aja dulu, deh… bikin ati seneng kan pahala *sok tahu* 😀

    Posted by jeunglala | May 17, 2008, 2:39 pm
  3. Baru tahu aku….. kalo, nyari definisi jelousy di wikipedia, biasanya itu buat referensi tentang komputer, hehehehehehe 😀
    Yup….. Lebih baik GR, at least kita punya harapan dan selalu berpositif hati 🙂

    Posted by 'B' aka Rere | May 18, 2008, 5:11 am
  4. aQ sangat pencemburu… yeah.. tell me about it..
    Bukan masalah secure or insecure,, hanya masalah aq yang emang gak suka ada competitor, apapun bentuknya, mungkin karena terlalu sering melihat semua sebagai saingan, jadi kebawa juga ke asmara….
    Tapi so far pacar ku dan pacar-pacar terdahulu, they’d really get arousedon me everytime I get jealous… huahahahhahaha

    Posted by niaalive | May 22, 2008, 8:27 am
  5. waaa. sempet merasa diriku anehhh ga bs cemburuan. ternyata ada tmnnya juga yaa. 🙂
    aku setujuu. mnrtku org cemburu tu yaa krn merasa insecure sm relationship nya. hehe.

    Posted by archya | August 17, 2009, 9:35 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: A Jealous Guy | The Blings Of My Life - May 8, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: