you're reading...
Thoughts to Share

why did i get married?

Beberapa pekan yang lalu, saya menonton acara talkshow favorit saya, Oprah. Di situ sedang membahas mengenai sebuah film keluaran terbaru (well, karena nontonnya di Metro TV jadinya harus rela menonton episode-episode yang bukan terbaru) yang diproduseri Tyler Pherry dengan Janet Jackson sebagai salah satu co-star-nya. Judulnya “Why Did I Get Married”.

In an instance, saya langsung jatuh hati dengan filmnya. Cerita tentang empat pasang suami-istri dengan lika liku permasalahan rumah tangga yang mereka hadapi, yang terlihat perfect tapi ternyata keropos, yang terlihat sering berantem dan tak berdaya tapi memiliki cinta yang luar biasa, dan yang tak bisa mengkomunikasikan apa yang mereka inginkan padahal mereka saling mencintai dan membutuhkan.

Cerita dari keempat pasangan itu sangat menyentuh karena terasa sangat nyata. Issue-issue itu sebenarnya sudah jamak terjadi di luar kamera, sehingga dengan sentuhan kalimat-kalimat cantik dan pendalaman karakter yang sempurna, saya langsung termehe-mehe lalu mencari film-nya kemana-mana.

Setelah mencari kemana-mana, akhirnya saya menemukan film ini di sebuah rental DVD langganan dekat rumah. Untung masih tersisa satu keping DVD dari empat keping yang mereka koleksi. Buru-buru saya pinjam saja sebelum terambil oleh orang lain.

Sampai di rumah, saya mandi dan sholat lalu mulai memutar film yang sudah sukses bikin saya jatuh cinta itu.

Dan benar… I love it, even more…😀

Film ini mengajarkan kita tentang cinta, tentang kesetiaan kita terhadap pasangan ketika badai menggunjang, tentang penyesalan ketika kita salah menilai pasangan kita, tentang give and take, tentang understanding and forgiving….

Empat pasangan itu mencerminkan karakter-karakter yang ada di masyarakat kita.

Angie – Marcus:

Angie yang memiliki usaha kecantikan, berduit tebal, cerewet, meledak-ledak — selalu bertengkar dengan sang suami, Marcus, yang bekerja di usaha kecantikan milik Angie. Sumber pertengkaran mereka selalu sama: kebiasaan drinking Angie yang lumayan (sampai menyebabkan dia ngomong nyerocos tanpa kendali) dan sering mengata-ngatai Marcus yang tidak becus bekerja dan cuman bisa ikut istrinya sementara Marcus merasa Angie terlalu dominan, terlalu kasar, dan tidak tahu tempat kalau sedang mengomel.

Dianne – Terry:

Dianne adalah seorang pengacara yang super sibuk. Telepon tak pernah berhenti berdering untuknya. Ini semakin menjadi-jadi ketika ia mulai diangkat sebagai Partner di sebuah top law firm di kotanya. Sementara itu, Terry, seorang dokter, sering mengeluhkan kesibukan istrinya yang tak kenal waktu. Telepon-telepon dari kantor Dianne sungguh memusingkan dirinya, sampai-sampai dia tak pernah bisa meluangkan waktu bersama-sama dengan sang Istri… they don’t even have sex for months!

Ada satu kalimat Terry yang menarik perhatian saya: “What kind of a man has to make an appointment to sleep with his wife?”😀

Sheila – Mike:

Sheila adalah ibu rumah tangga yang sempurna. Sebagai layaknya seorang ibu rumah tangga, she knows how to cook, how to clean the house, how to respect her husband…. Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk sang Suami, meskipun akhirnya, dia menyadari, ada satu kekurangannya yang membuat Mike taklagi melihat kelebihan-kelebihan Sheila.

Sheila memiliki tubuh super tambun. Meski wajahnya cantik, tapi berat badannya yang obesitas membuat Mike tak mau lagi berdekatan dengan Sheila karena merasa jijik. Sheila menyalahkan diri sendiri kenapa dia tak bisa menguruskan berat badannya dan oleh karenanya dia tidak bisa mempertahankan pernikahannya –> Mike berselingkuh dengan teman baik Sheila yang super seksi tapi hanya bisa merias diri dan belanja.

Patricia – Gavin:

They look so perfect. Patricia adalah dosen, psikolog terkenal sekaligus penulis buku best seller “Why Did I Get Married” yang berhasil membuatnya mendapatkan award sebagai penulis buku psikolog terbaik di Washington D.C. Sementara Gavin adalah pengusaha yang sukses. Mereka terlihat sempurna, tak pernah bertengkar, memiliki rumah tangga yang adem ayem saja, sehingga ketiga pasangan yang lain mengidolakan mereka berdua. Mereka bahkan yakin, Patricia-Gavin akan menikah sampai berpuluh-puluh tahun, tidak seperti mereka yang berkali-kali bertengkar dan membuat pernikahan mereka rawan.

Tapi benarkah mereka sempurna?

Ternyata tidak. Mereka memiliki satu masalah pelik yang tak mereka bagi dengan yang lain. The perfect Patricia ingin semua orang look up to her, padahal karena kecerobohannya, Patricia membuat bayi mereka meninggal dunia karena kecelakaan. Tidak ada yang tahu soal kecerobohan itu kecuali Gavin. Yang disesali oleh Gavin, Patricia seolah tidak bersedih, tidak merasa kesakitan, tapi malah merasa biasa-biasa saja. Patricia berusaha tangguh, tapi akhirnya segala pertahanan itu jebol juga.

Keempat pasangan itu memiliki kebiasaan untuk berlibur bersama. Setahun sekali, mereka harus berlibur ke suatu tempat, di manapun, selama tujuh hari, untuk mengkoreksi hubungan masing-masing sekaligus refreshing. Kebetulan, mereka adalah teman kuliah dan sudah akrab satu sama lain, sehingga libur bersama-sama ini sudah seperti reuni keluarga.

Liburan yang kali ini, ternyata menciptakan bencana karena rahasia mereka berdelapan terkuak di acara makan malam terakhir.

Marcus: alat kelaminnya bermasalah karena dia bercinta dengan Keisha, mantan istrinya

Angie: mengaku bahwa Marcus mendapatkan masalah bukan dari Keisha, melainkan dari Walter — apparently, she slept with him! Dia pun sudah mengalami masalah, tapi berkat bantuan dokter, penyakitnya pun sembuh

Terry: diam-diam menguji DNA anak perempuannya karena dia meragukan apa benar dia adalah ayahnya –> alasan: karena Dianne terlalu sibuk dan itu adalah one time making love

Dianne: dia hampir selalu menolak keinginan Terry untuk bercinta dan memiliki anak laki-laki dengan alasan terlalu sibuk, padahal alasan yang sebenarnya adalah dia sudah disteril … diam-diam

Mike: dia jijik dengan tubuh istrinya yang terlalu gemuk dan bercinta dengan teman istrinya sendiri

Sheila: dia merasa tidak dihargai oleh suami dan menyalahkan diri sendiri bahwa dia memang pantas ditinggalkan –> oh ya, dia sempat memukul botol wine ke belakang kepala Mike!

Gavin: diam-diam menangis di rumah Mike, mengatakan bahwa istrinya sungguh bodoh telah menyebabkan bayi laki-laki mereka harus meninggal

Patricia: dia menutupi segala gundah dan rasa bersalahnya dengan pura-pura tegar, padahal dia butuh sekali dukungan serta bantuan, tapi sayangnya dia terlalu angkuh untuk melakukannya

Mereka pulang dengan amarah, bahkan Mike memutuskan untuk menceraikan Sheila dan memilih untuk menikahi Trina, si seksi itu. Badai semakin menjadi-jadi di dalam rumah tangga pasangan yang lain, kecuali Patricia dan Gavin yang mengakui bahwa mereka saling membutuhkan dukungan masing-masing untuk menghilangkan rasa kehilangan mereka.

Dan akhirnya, memang kekuatan cinta yang mendamaikan badai. Hanya cinta yang tulus yang bisa membuat mereka kembali kepada jalur yang semestinya.

Saya jadi ingat dengan novel Test Pack-nya Ninit Yunita. Ketika kita bertengkar dengan pasangan, ingatlah bahwa dulu kita pernah jatuh hati dengan pasangan kita…

Kehidupan rumah tangga memang tidak selamanya mulus-mulus saja. Akan selalu ada kerikil di sepanjang jalannya, akan selalu ada rintangan untuk mencapai kedamaian pernikahan yang abadi. Tugas kita adalah mengingat terus bahwa kita menikahi pasangan, karena kita mencintainya. Karena kita membutuhkannya. Karena pasangan, meskipun banyak memiliki kekurangan, telah kita pilih dengan hati yang berbunga-bunga saat itu.

Ingatlah bahwa kita pernah saling cinta.

Ingatlah selalu bahwa cinta itu tak pernah hilang. Dia hanya terlupakan. Kita perlu sekali mengingat pada keberadaannya.

Salah satu pesan moral dalam film bagus ini adalah mengenai teori 80:20. Apakah itu?

Ketika kita memiliki pasangan, kita selalu merasa kekurangan meskipun dia telah melengkapi 80% dari seluruh keinginan kita. Akibatnya, kita mencari dan terus mencari sisa 20% tersebut di orang lain. Ketika kita mendapatkan si pelengkap alias si 20% tadi, seringkali kita meninggalkan pasangan kita. Padahal sesungguhnya, kita lupa dan tidak menyadari, bahwa kita justru kehilangan 80% dan mendapatkan hanya 20% saja.

Pernah terjadi dalam hidup kalian? Semoga jangan sampai terjadi, ya? Itulah kenapa saya bagi cerita ini, untuk pasangan suami istri yang tengah berjuang dalam perangnya masing-masing, untuk saya/sahabat2 saya/teman-teman lajang yang ketakutan untuk menikah… percayalah, when it comes to love, memang tidak selamanya indah-indah saja. Bahkan menyakitkan.

Tapi kenapa orang tidak kapok jatuh cinta, meskipun tahu akan menyakitkan dan membuat luka?

Because when it’ll last forever… it feels so damn good…. 😀

 

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

5 thoughts on “why did i get married?

  1. oh kukira loe mo maried deh aunty….ternyata?

    ….ternyata belum, Mas…😀 Kalaupun sudah, pasti bakal bikin pengumuman di koran, tabloid, sampai televisi… Maklum, artiiizzzz… hehe

    Posted by avy | May 13, 2008, 12:03 pm
  2. Wew… Gagal Lagi Mas Bro Avy… Sabar ya… Hihihi…

    lhah.. apa ya maksudnyaaa????

    Posted by JoEy D`JuVe | May 13, 2008, 1:46 pm
  3. teori 80:20 sejatinya adalah teori bisnis, tapi bisa diimplementasi disini. cukup menarik sepertinya film ini. mungkin nanti jika tidak dalam keadaan mellow, saya akan cari dvd nya.

    Oow… jadi itu teori bisnis thooo…. tapi seru juga ya kalau bisa diimplementasikan di bidang lain….
    Filmnya bagus, wajib tonton. Durasinya cepat, tidak banyak bunga-bunga, tapi pesan moralnya dapet banget. Ayo, jangan mellow…. Cari gih, DVDnya… tar saya tunggu komentar kamu…

    Posted by noone | May 13, 2008, 3:39 pm
  4. hai sist’

    wah, q jg jd pengen nonton neh ^_^
    tapi kalo ketakutan untuk merit ya seberapa coz aku selalu tanamkan pada diriku untuk siap menghadapi segala resiko yang ada di depan nanti bagaimana pun caranya *wah..ngomong apa aku ini*

    jd pengen cepet merit neh😉

    Posted by olvy | May 14, 2008, 12:28 pm
  5. Gua udah nonton, Laa.. tapii.. gua udah lupaa ceritanya, ahahaha😀

    *tampaknya musti nyari nih tuh dvd gua taruh di mana yaa?*

    Posted by Indah | March 9, 2010, 11:30 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: