you're reading...
Blings of My Novels, Novelet Bersambung: Mei & June

mei and june (14)

“Hai haiii… Ngelamun aja, sih, Neenggg…”

Tiba-tiba Mei sudah berdiri di sampingnya dengan senyum cengengesannya seperti biasa. Di sebelah Mei ada kekasihnya, yang kemudian berjalan mendekatinya, mencium keningnya dan menggenggam jemarinya.

Have you reserved the table?” tanya James sambil terus menggenggam dan mengusap-usap jemari June dengan ujung jempol tangannya.

They said we have to wait for another thirty minutes…”

“Hmm… okay. Kamu nggak ingin jalan-jalan dulu? I’ll wait for our table.”
June menoleh pada sahabatnya. Mei yang mendengar kalimat James lalu mengangguk-angguk setuju sekaligus agak terheran-heran juga melihat kefasihan James dalam berbicara bahasa mereka. “Aku maaahhh ngikut aja deh, June…” katanya dengan nada senang.

June tertawa.

Okay, Babe. Aku jalan-jalan dulu, ya? I’ll be right back.”

June melepaskan jemarinya dari genggaman James lalu menggamit lengan Mei yang kini wajahnya seperti bocah yang permintaannya dipenuhi oleh orang tuanya. Wajah polos Mei yang membuat June perlahan-lahan melupakan gundahnya.

“Kamu kenapa, June? Something’s wrong?” tanya Mei ketika tahu kalau sahabatnya itu hanya diam memandangnya. Kini mereka sedang berjalan menuju SOGO.

June tersenyum sedikit.

“Jangan sok jadi detektif deh, Mei…”

“Dan kamu jangan sok jadi aktris Broadway, June,” kata Mei dengan senyum dikulum. “Kamu itu seperti buku terbuka, June, we don’t need scientist to know that there’s something happened.”

Usai berkata, Mei menggenggam jemari sahabatnya yang bergetar. “June, aku ini Mei, sahabatmu. Kamu lupa, ya?”

Di genggaman tangan sahabatnya itulah, June seperti menemukan kekuatannya.

“Mei, gua pasti akan cerita ke elo, tapi nggak sekarang ya? Gua janji, gua akan cerita ke elo…”

*

Hi, it’s Mei.
Keep my numbers will’ya?
And…
I miss you.

Sender: Mei
<send>

Bunyi suara ponsel yang menandakan bahwa SMS telah terkirim, membuat June mengintip dari balik pintu kamar Mei yang masih separuh terbuka. “Belum tidur? Boleh masuk?” tanya June.

Mei menganggukkan kepalanya lalu menyelipkan ponselnya di bawah tumpukan bantal yang empuk. “Masuk aja, June. Aku masih wide awake, kok.”

“Mau susu hangat, nggak?” June masih berdiri di balik pintu. “Gua cuman bawa segelas, sih. Mau gua bikinin? ”

“Nggak usah, deh, June, thanks. Aku nggak biasa minum susu malem-malem, nih. Takut ndut. Masuk aja, June.”

“Bukan bikin ndut, Mei. Minum susu sebelum tidur justru bikin tidur kita lebih nyenyak… Beneran…” kata June. Dia sudah duduk di pinggir tempat tidur sambil menghisap sedikit demi sedikit susu hangatnya lewat pinggir gelasnya.

“Ahhh.. kamu sih emang dari jaman batu sampai sekarang nggak pernah ngerasain gendut, June. Heran juga, orang kok bisa langsing banget… Padahal kalau makan gila-gilaan begitu…” Mei ingat bagaimana lahapnya June tadi saat makan siang di Hachi Hachi Bistro. Segala macam sushi, mulai dari belut, kakap, udang, sampai yang sayur-sayuran, semuanya masuk ke dalam perutnya.

“Haha… lo kan tau gua cinta banget sama sushi, Mei. Sushi, makanan Jepang lho yaa… Bukan Susi Susanty!“

Mei tergelak. Matanya menyipit. “Ya, iyalah, June. Bisa di-smash sama Alan ntar kalau elo naksir bininya…”

“Lagipula gua masih doyan laki-laki, kok, June.”

“Pasti, pasti itu. James bukan tandingannya Susi Susanty, deh,” ujar Mei sambil tersenyum sendiri membayangkan betapa lembutnya kekasih sahabatnya itu memperlakukan June seolah gadis cantik itu adalah sebuah porselen China antik yang tidak ada duanya.

Siang tadi, ketika makan di Hachi Hachi Bistro, Mei mengamati mereka berdua, diam-diam tentu. Bagaimana James memperlakukan June. Bagaimana kedua mata James memandang sahabatnya yang seolah-olah memancarkan cinta yang amat sangat. Dan oh ya, belum lagi setiap sentuhan di punggung tangan June ketika mereka sedang mengobrol.
Mei iri. Sangat iri. Matt tidak pernah memperlakukannya sebagai ratu. Tidak, tidak pernah ada sentuhan-sentuhan penuh cinta dari Matt selama bertahun-tahun Mei menghabiskan hidupnya di San Francisco.  Yang ada hanya obrolan-obrolan tentang seni, tentang musik, tentang musim, tentang pelukis anu itu, tentang teknologi dan berita politik, tapi tidak pernah soal cinta.

Kecuali… ya. Kecuali hari terakhir Mei di sana.
Oh tidak, bukan hari terakhir. Tapi beberapa jam terakhir Mei bisa menghirup udara San Francisco yang jernih dan melegakan paru-parunya. Karena saat itulah, untuk pertamakalinya dalam bertahun-tahun Mei menyimpan perasaan yang demikian menyakitkannya karena tak terlampiaskan, Matt akhirnya mengungkapkan segala rasa, sekaligus memberikan ciuman yang setiap detiknya masih bisa terulang sempurna di dalam imajinasi otaknya.

“Hey, hey… ngelamunin siapa, Mei?” June membuat Mei berhenti membayangkan Matt, kekasih yang dirindukannya.

Mei tergagap. “Ngg… nggak kok, June. Cuman…”

“Ngebayangin Mr Robinson? Si Matthew itu ya?” tanya June, masih sambil menyesapi susu hangatnya yang kini sudah tinggal setengah gelas. “Liat photonya lagi dong, Mei… Gua lupa-lupa inget sama tampangnya…” kata June lalu meletakkan gelasnya di meja kecil, samping tempat tidur.

Mei mengambil ponselnya, menunjukkan beberapa gambar terbaru Matt dan dirinya sesaat sebelum dia terbang dari langit Amerika menuju Surabaya.
“Ini waktu masih di Pier 39, June,” kata Mei sambil menunjukkan salah satu foto konyolnya dengan Matt. Mereka memang jarang berpose ‘manis-manis’. Buat mereka, foto dengan pose manis sudah terlalu umum dan pasaran. Kalau foto sambil menjulurkan lidah, menjulingkan mata, pura-pura bego, atau pose marah, misalnya, lebih unik dan memorable. Itulah kenapa June lalu merengut dan meminta Mei untuk menunjukkan foto dengan pose yang ‘normal’.

“Supaya gua bisa bandingin, cakep mana pejantan lu sama punya gua, Mei…” kata June yang disambut dengan senyum di wajah Mei. Pejantan. Memangnya para lelaki itu unggas, sampai dibilang pejantan segala? “Sini, sini, gua cari sendiri di hp lu…” June mengambil paksa dan mulai mencari-cari.

“Nggak ada, June… You’re not gonna find it there…” Mei meraih kembali ponselnya. “Aku punya satu foto Matt, pas piknik di taman kota… Sebentar, sebentar… ada di dompet, kayaknya…” Mei mencari-cari lembaran foto Matt di dalam dompetnya dan tersenyum ketika menemukannya. Dia menunjukkan foto itu ke June dan sahabatnya menghela nafas.

This one real handsome, Mei… Gila… No wonder…” desis June.

Matt memang terlihat sangat tampan di sana. Wajahnya yang tampan, dengan dagu persegi yang ditumbuhi jenggot yang tercukur rapi, bibir yang sedikit tebal namun seksi, kedua mata yang teduh dengan bola mata berwarna hazel yang dibingkai dengan kaca mata berlensa kecoklatan, tertimpa sebagian dengan sinar matahari sore. Matt tersenyum. Tampak bahagia sekali. June melihat kedua tangan Matt sedang memegang satu buku tebal yang terbuka persis di tengah, duduk di hamparan kain petak-petak berwarna merah putih, di sebelah seorang laki-laki muda, anak buah Matt dan rekan sekerja Mei.

“Itu piknik terakhir George di San Francisco,” jelas Mei, “Dia pindah ke New York. Ada tawaran jadi jurnalis di New York Star. Cuman obituary memang, tapi lumayan lah untuk awal. Dia kan punya cita-cita tinggi jadi penulis kolom terkenal, June, tapi terperangkap di kantor graphic design…” Mei lancar bercerita.

He’s single?” tanya June.

Yep,” sahut Mei.

“Hmm… Dia lumayan okay, lho, Mei. Kenapa elu nggak jatuh cinta sama dia, sih? He’s about our age, kan?” tanya June dan disambut dengan anggukan kepala sahabatnya. “So, what the hell happened sampai elu nggak jatuh hati sama George aja?”

Mei tersenyum, tipis. Dia memasukkan kembali foto Matt ke dalam dompet. “Karena dia bukan Matt,” sahut Mei pendek. “Karena dia bukan laki-laki yang entah kenapa membuat aku bergetar setiap dekat dengannya.” Mei mengutarakannya sambil kedua matanya menerawang; membayangkan Matt yang mungkin tak setampan dan seseksi George Clooney, tapi sungguh bisa membuat hatinya bergetar tak teratur.

“Tapi akan lebih mudah kalau…”

“… ya, ya, June, aku tahu,” Mei menyahut. “Akan lebih mudah kalau aku pacaran dengan George yang masih single, kan? Nggak usah korban perasaan, nggak perlu merasa kasihan dengan perempuan lain yang suaminya kurebut, kan?” Mei merasa matanya mulai panas. “You just don’t know how hard I tried…” rintih Mei lalu meraih bantal dan membenamkan wajahnya di sana. Isak tangisnya mulai terdengar.

June merasa bersalah. Segera dia meminta maaf sambil mengelus-elus belakang kepala Mei.
“Mei… maaf… gua…. gua nggak bermaksud…” June berhenti ketika mulai menyadari bahwa permintaan maaf apapun tidak akan bisa  mengembalikan waktu sebelum dia mulai lancang mengusik hati Mei yang sedang sensitif. What kind of bestfriend you are, June! Gadis itu memaki hatinya sendiri.

“Mei…?”

Mei mengangkat wajahnya dari bantal lalu memandang wajah sahabatnya dalam-dalam.

“Aku nggak pernah berencana untuk jatuh cinta sama Matt, June. Aku sadar bahwa segala harapan yang sudah kutanam ini tidak akan bisa berkembang kecuali Matt meninggalkan Sybill. Tapi June… this feeling’s too damn strong. Aku sudah mencoba untuk berhenti mengadiksi, mencandu dia, tapi… entahlah June,” Mei menghela nafasnya. Dia sibuk menghapus air matanya dengan ujung jemari. “Ketika aku ingin berhenti, Matt malah mendekat. Aku pikir, kepulanganku ke Surabaya adalah the closure, our closure. Aku nggak mau tetap di sana, meracuni diriku sendiri, menyakiti perasaanku sendiri, tapi…. ternyata… kamu tahu sendiri kan, June? He said, he loves me. Dia menyuruh aku untuk menunggu dia. Katanya dia akan ke Surabaya, menjemput aku… For a stupid girl who’s deeply in love with him, what do you expect, June?” Mei  menunduk. Mencari kekuatan. June menggenggam jemarinya.

“I know, Sweetheart.. I know…”

“Nggak, June, nggak. Kamu nggak tahu,” ujar Mei perlahan.

Mei menggenggam tangan June erat-erat.”You have no idea to be me, to be a girl who’s stupidly in love with someone, who knows that someone’s wife.. living.. and breathing… Tahu bahwa hubungan ini tidak akan pernah berakhir kecuali akan ada yang terluka di ujung cerita, tapi tak mau berhenti memuja sang Pujaan…”

“Mei…”

“June,” potong Mei, matanya membasah lagi, “I love him, June. I really, really love him. Kenapa hubunganku nggak bisa semudah hubungan kamu dan James? Kenapa kalian bisa begitu mencintai tanpa ada masalah, sedangkan kami harus berjuang untuk bisa bersama nantinya?”

Mereka berdua saling berpeluk. June mengusap punggung Mei dengan lembut sambil merasakan pundaknya hangat karena air mata sahabatnya.

Well, Mei… then you have no idea to be me…

to be continued

mei and june (15)

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: mei and june (13) « the blings of my life - May 13, 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: