you're reading...
Thoughts to Share, Uncategorized

belajar di jalan

Memang benar. Proses pembelajaran tidak hanya bisa dilakukan di ruang kelas, berAC maupun tidak, dengan guru berlisensi, dengan ijasah untuk mengukuhkan bahwa kita berhasil menempuh pembelajaran dengan baik, tapi juga bisa dilakukan di mana-mana.

Bahkan di jalan, sekalipun.

Saya pernah belajar untuk menghargai pekerjaan yang saya miliki ketika saya menumpang di atas becak seorang penarik becak yang usianya tak jauh berbeda dengan Papi. Wajah senjanya terlihat sangat lelah, tapi kayuhan kakinya untuk mengantarkan saya sampai ke rumah terbukti tetap bersemangat demi ongkos beberapa ribu rupiah yang nanti akan masuk kantongnya. Saya melihat betapa susahnya mencari ribuan rupiah yang nilainya mungkin tidak sebanding dengan gaji bulanan saya, tapi toh Bapak Penarik Becak itu masih bersemangat di usia yang jauh dari muda. Tapi apa yang sempat saya keluhkan ketika saya hampir jadi ‘pengangguran tersamar’ di kantor? Mengeluh karena merasa tidak berarti, kurang tantangan, dan gaji yang segitu-gitu aja…. Lalu setelah melihat wajah Bapak tua itu begitu senangnya ketika menerima uang dari saya, walaupun hanya beberapa ribu rupiah saja, saya mulai malu sendiri.

Masih untung saya tidak perlu kerja terlalu keras untuk mendapatkan gaji yang lebih dari cukup…

Saya lebih menghargai persahabatan ketika seseorang menyeletuk begini: “Enak ya kalian, masih sering ketemuan… Kalau aku? Dari lulus sampai sekarang aja nggak pernah kontak… Semuanya sibuk… Masih enak kalian bisa kumpul-kumpul… Apa? Minim satu bulan sekali? Wow… fantastis…”

Padahal, pernah, beberapa kali, saya malah sibuk menolak ajakan sahabat untuk kumpul-kumpul, hanya karena cuaca sedang panas-panasnya…😀

Saya belajar soal pepatah banyak anak banyak rejeki, dari seorang kawan lama yang bertemu setelah tiga tahun tidak bersua. Saat kami makan di sebuah resto di mal, dia bercerita tentang konsep rejeki. Katanya, tak perlu merasa khawatir akan kekurangan rejeki jika kelak kita memiliki anak. Dia bilang, “Analogi mudahnya begini. Kita saja, yang manusia biasa, kalau menitipkan sepeda motor atau mobil ke tempat parkir, kita harus membayar beberapa rupiah kan? Nah, aku percaya, kalau Tuhan menitipkan seorang manusia untuk kita besarkan, didik, dan rawat, bukankah Dia akan memberikan ‘ongkos’ untuk jasanya, kan?”

Hmmm…

Pembelajaran tentang besar kecilnya rejeki, kaya miskinnya seseorang, saya dapatkan ketika saya berada di dalam sebuah angkot, menuju tempat les Bahasa Jepang. Di situ, ada seseorang wanita 50-an yang mengajarkan saya bahwa kaya dan miskin itu adalah masalah Tuhan menitipkan amanah. “Tuhan menitipkan banyak rejeki buat orang-orang kaya dan Tuhan menitipkan sedikit rejeki buat orang-orang yang tidak kaya. Menitipkan rejeki itu sama saja dengan menitipkan amanah, agar digunakan dengan sebaik-baiknya, agar tidak disalahgunakan.  Yang dikasih banyak malah musti jauh lebih hati-hati, jadi jangan terus semerta-merta kita menganggap orang kaya itu jauh lebih beruntung….”

Saya belajar untuk tidak menghakimi seseorang lewat penampilan fisiknya, ketika saya melihat seseorang dengan gaya pakaian trendy masa kini, dengan potongan rambut yang super modern, tapi dengan suara syahdu melantunkan kalimat-kalimat pujian-pujian buat Allah saat memimpin sholat Maghrib berjamaah di sebuah mushola.

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari kehidupan. Saya selalu percaya, bahwa setiap detik dalam kehidupan kita, setiap masalah, badai, pertikaian yang hadir dalam hidup kita, tak akan pernah hadir untuk sia-sia, melainkan hadir untuk memberi makna dan hikmah.

Agar kita menjadi lebih pandai.

Agar kita menjadi lebih sabar, juga ikhlas.

Mari buka mata lebar-lebar untuk menyaksikan keindahan-keindahan pelajaran yang sedang Tuhan ajarkan buat kita. Mudah-mudahan, kita semua menjadi umatNya yang cerdas🙂

 

 

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

4 thoughts on “belajar di jalan

  1. HHmmm …

    tulisan khas Lala …
    Aku meng iya kan …

    “Mari buka mata lebar-lebar untuk menyaksikan keindahan-keindahan pelajaran yang sedang Tuhan ajarkan buat kita. Mudah-mudahan, kita semua menjadi umatNya yang cerdas”

    I like this quotes …!!!

    makaciiihhhhh…😀

    Posted by nh18 | May 13, 2008, 12:31 pm
  2. this time, your writing is catchy. smart writing. you go, lady..

    tenkiu……. cuman menulis apa yang bisa dan ingin ditulis….. Definetely I’ll go! hehehe….

    Posted by noone | May 13, 2008, 3:48 pm
  3. yoook belajar….maap baca belakangan aunty, dah mo berangkat nih.

    Posted by avy | May 14, 2008, 9:55 am
  4. i like this! Aku suka dengan kata-kata kaya atau miskin hanyalah titipan🙂 hihi like iT!

    Posted by sihijau | April 19, 2011, 5:27 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: