you're reading...
daily's blings, Penting Ga Penting...

sempurna

Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan selalu memujamu

Kan saya sudah bilang? Kamu sempurna. Tak perlu kamu jelaskan bahwa kamu masih manusia yang tak sempurna, yang punya banyak kekurangan seperti layaknya seorang manusia yang lain, yang masih tertatih-tatih mencari kenyamanan, yang berjuang sampai berkeringat demi membahagiakan diri kamu, keluarga, atau saya…

Kamu tuh sempurna. Paling tidak di mata seorang saya, seseorang yang menganggap lebihmu itu anugerah, serta kurangmu adalah berkah. Karena manusia adalah satu paket yang tak bisa diambil bagus-bagusnya saja, tapi semuanya. Utuh. Saya tak bisa memutilasi kamu menjadi seorang kamu yang indah, tapi saya menerima kondisi kamu yang begini ini. Tanpa kecuali. Bukankah itu esensi dari cinta? Bisa menerima apa adanya?

Jangan keberatan kalau saya menganggapmu sempurna, ya? Ya, ya, mungkin itu beban buat kamu — kamu yang tak merasa dirimu sempurna. Tapi, terserah, terserah kamu. Satu hal yang pasti, kamu tak bisa menghalangi saya untuk menganggapmu sempurna.

Paling tidak, kamu sudah sempurna untuk menghadapi kebawelan saya, kenaifan saya, keceriwisan saya, kebegoan saya… Buktinya, selama ini kamu selalu bisa membuat saya tertawa lagi, tersenyum lagi, bahagia lagi… Karena di mata saya, kamu sudah sangat sempurna.

You’re perfect enough for me.

Di setiap langkahku ku kan
selalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayangkan
Hidupku tanpa cintamu

Itulah kenapa saya tak bisa berhenti mengimajinasikan sosokmu di dalam benak saya. Melukis detil garis wajahmu di mata saya. Bermimpi bahwa saya bisa punya kekuatan untuk terbang menujumu dalam satu kedipan mata agar saya bisa bersamamu, melewati malam gelap yang dingin atau siang yang terik karena matahari.

Saya telah terbiasa memilikimu…. dimilikimu.

Tak terbayang bagaimana rasanya musti kehilangan sepasang tangan yang biasa membimbing saya setiap kehilangan arah, atau kehilangan sejuknya nasehat yang keluar dari bibirmu setiap saya kehilangan asa, atau kehilangan telinga yang tak pernah lelah untuk mendengarkan celoteh-celoteh tak penting saya…

Kehilangan senyuman manis itu…

Kehilangan tawa yang terbahak-bahak itu…

Kehilangan usilmu yang sempat membuat saya marah, tapi saya tahu kamu hanya ingin membuat saya tertawa…

I can’t imagine what life would be.

I don’t want to imagine, if that’s ok.

Janganlah kau tinggalkan diriku
tak kan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Jadi, tetaplah di sini. Hanya dengan membayangkan jauh darimu sudah bisa menerbitkan rasa gelisah yang amat sangat, bagaimana jika pada akhirnya kita harus berpisah? Saya tahu, itu adalah rahasia sang Pencipta, sang Pembuat Skenario terindah kita. Tapi sebisa mungkin, tetaplah di sini, sampai seluruh kekuatan kita tersedot habis dan perpisahan adalah hal yang tak terelakkan…

Saya nggak mampu untuk berpisah.

Tidak saat ini.

Mungkin tidak pernah bisa… karena…

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidup ku lengkapi diriku oh sayang engkau begitu sempurna .. sempurna

Maafkan saya kalau apresiasi saya terhadap kehadiranmu di hati ini membuatmu malah rikuh dan serba salah.

Maafkan saya kalau mata ini terlalu berlebihan dalam memandangmu (yang kamu bilang) tak sempurna.

Maafkan saya kalau ketidaksempurnaan itulah yang membuat saya jatuh hati terhadapmu.

Jangan halangi saya untuk bilang kamu sempurna yaa?

Karena sungguh, kamu sangat, sangat, sangat sempurna…

Ya,

di mata saya.

 

I’m sorry…

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

Comments are closed.

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: