you're reading...
precious persons, those were the days

those were the days (part. 7 — My Sister, My Idol)

Saya adalah bungsu dari tiga bersaudara, yang semuanya berhidung bangir alias mancung, kecuali saya😦 Artinya, saya punya dua kakak yang wajahnya cantik dan ganteng. Si Sulung, kakak perempuan saya, namanya Pit. Si Tengah, jagoan keluarga, namanya Mir tapi biasa saya panggil Bro.

Kedua kakak saya ini memiliki keterampilan yang bertolak belakang. Urusan science, biarkan Bro yang jago. Kalau urusan art, Mbak Pit memang yang paling juara. Lala? Urusan makan, dandan, gosip, dan menulis🙂

Dari jaman baheula ketika gajah masih pesek sampai hidungnya sudah bangir seperti sekarang ini, saya memang mengidolakan kedua kakak saya itu. Bagaimana tidak? Ini memang tak bisa ditolak lagi. Kedua-duanya pintar, kedua-duanya populer di sekolah, kedua-duanya berprestasi… Ganteng dan cantik, pula. Jadi kalau saya mengidolakan mereka, itu sudah tak bisa ditawar-tawar lagi.

Karena Bro sudah sedikit saya singgung di postingan semingguan yang lalu, sekarang giliran saya cerita soal sang Kakak Perempuan tercinta, Mbak Pit, si cantik *karena mirip saya.. huehehe* yang punya dua buah hati yang bikin saya selalu semangat hidup meskipun sedang bete-betenya.

Mbak Pit adalah kakak perempuan saya tercinta, yang usianya berbeda lima tahun di atas saya *ya pasti lah di atas, masa di bawah?? plis deh…* Dulu, masa gadisnya, sebelum akhirnya Mas Ar, suaminya, melakukan ‘invasi’ besar-besaran dan menghasilkan dua anak gendut-gendut, Mbak Pit memiliki tubuh super langsing. Putih bersih. Rambut panjang. Dan oh ya, pastinya cantik. Saya seringkali sakit hati karena selalu dibilang, “bohong ah, kamu. Masa kamu adiknya dia, sih?” yaa… ini karena saya bertubuh bongsor nggak jelas dengan kulit gelap. Sedih? Perih? Merana? Itu sudah makanan sehari-hari.

Tapi saya selalu dekat dengan Mbak Pit, lepas dari segala kebetean saya terhadap kecantikannya. Ini mengakibatkan dia harus dengan sekuat tenaga mengusir saya dari ruang tamu ketika para pejantan-pejantan tangguh mulai mencoba menakhlukkan hatinya. Saya, yang super gendut dan rambut acak-acakan itu, tidak membuat suasana jadi romantis malah makin miris karena saya hanya mringas mringis di pojok ruang tamu🙂 Entah, apa pejantan-pejantan itu berhenti main ke rumah karena saya atau sudah ditendang duluan oleh Mbak Pit😀

Karena Mbak Pit mulai mengenal cinta, saya makin terinspirasi untuk punya pacar sendiri. Makanya, boleh dibilang, blame it on her kalau saya sudah mulai ‘kegatelan’ sebelum cukup usia.. hehe..

Ketika Mbak Pit mulai kuliah dan mengenal bedak, foundation, lipstik, dan ‘perlengkapan perang’ lainnya, saya masih duduk di bangku SMP kelas 2. Seharusnya, untuk usia 14 tahun, yang saya kenal hanya bedak bayi dan minyak telon🙂 , tapi karena saya punya seorang kakak yang cantik, jadinya saya mulai terinspirasi untuk dandan.

Saya ingat betul. Saya sudah mulai kenal berdandan centil ke sekolah sejak kelas 2 SMP. Biasanya, saya dandan di kamar Mami dengan meminjam peralatan make-upnya. Saat itu, saya berlari dari kamar mandi, dengan lilitan handuk, dan masuk ke kamar Mami, lalu menutup pintu kamar rapat-rapat, sementara Mami kebingungan karena terkunci dari luar. Lha wong yang punya kamar siapa, kok yang asal main kunci siapa.. hehehe…

Di dalam kamar, saya sibuk bereksperimen dengan alat-alat tukang.. eh.. dandan Mami. Pertama-tama, ambil foundation. Diratakan ke seluruh kulit wajah. Lalu ambil bedak. Disapukan, rata sampai ke lubang hidung segala🙂 Oh ya, pensil alisnya jangan lupa. Karena belum ahli, bentuk alisnya mbleber kesana kemari dan bentuknya mirip uler bulu lagi kegelian *kalau susah membayangkan, nggak usah repot-repot deh.. malu! hehe*

Lipstick??? Hmm.. ini tantangan. Yang namanya lipstick kan pasti keliatan merah dan merekah gitu, jadi saya selalu mikir-mikir sampai beribu kail sebelum akhirnya memutuskan untuk mengulas lipstick di bibir.

— meskipun akhirnya tetap pakai lipstick juggaaaa… wekekekeke

Biasanya, kelar berdandan, saya langsung melesat balik ke kamar. Pakai baju seragam, mengambil tas, lalu pamit Mami sambil menunduk-nunduk, takut ketauan. Sampai di sekolah, memang banyak yang melirik-lirik. Dulu sih, saya pikir karena saya memang terlihat cantik. Tapi setelah sekarang saya pikir lagi, apa karena saya keliatan kayak ondel-ondel yaaahhh??? Duh, sayang sekali saat itu saya belum senarsis sekarang jadi susah dicari bukti-bukti otentiknya😀

Itu baru soal dandan.

Soal cita-cita ingin menjadi fashion designer??? Ya karena Mbak Pit juga. Karena jago menggambar, Mbak Pit memang bercita-cita untuk menjadi fashion designer atau arsitek. Nggak jauh-jauh dari urusan menggambar deh. Saking kepinginnya menjadi seperti Mbak Pit, saya juga ikut-ikutan mencoret-coret kertas dengan gambar-gambar nggak jelas. Kalau Mbak Pit menggambar orang-orang dengan pakaian layak pakai, saya malah menggambar orang-orang mirip gembel🙂 Intinya… ini adalah penjiplakan ide dalam batas akut!😀

Itu baru urusan cita-cita.

Urusan mencari pacar? Saya kepingin punya pacar seperti Mas Ar. Badan tinggi, pintar olahraga, ganteng, pintar, dll dsb. Sempat melihat banyak kesamaan Mas Ar di salah satu gebetan, saya sudah mulai merasa makin mirip dengan Mbak Pit. Sama-sama tinggi, pintar basket *Mas Ar ahli Voli, sih.. ga pa2 lah… mirip*, ganteng (ala Arab gitu deh.. hehe), dan pintar pastinya. Wis, pokoknya saya seneng banget karena semakin mirip dengan Mbak Pit…

Saya memang mengidolakan Mbak Pit. Dari cara menata rambutnya, dari pilihan baju-bajunya *yang bikin hati sedih karena hanya sekedar di angan… nggak cukup boowwww… secara badan saya bongsor begini*, dari caranya berbicara, dari caranya menanggapi suatu masalah, dari caranya bersosialisasi dengan sahabat-sahabatnya…. Saya sangat mengidolakan, mengagumi, dan menirunya tanpa kompromi.

Sampai akhirnya saya mulai menemukan diri saya sendiri. Itu dimulai saat saya sudah kuliah semester awal, menemukan teman-teman ajaib yang membuat saya seolah menemukan siapa diri saya sesungguhnya, seorang Lala yang sebenarnya lebih bercita-cita menjadi penulis terkenal, lebih suka berdandan manis-manis daripada ala gothic seperti Mbak Pit, paling suka warna pink dan bukannya hitam putih, dan tidak terobsesi dengan cowok bertubuh tinggi tapi lebih mencintai ‘isinya’ bukan penampilannya…

Kini saya menjadi diri saya sendiri, lepas dari bayang-bayang seorang kakak perempuan yang dulu sempat membuat saya minder dan iri setengah mampus.

Oh tidak.

Saya bukannya tidak berhenti mengidolakan dirinya, karena bagaimanapun, dia tetaplah seorang kakak perempuan terhebat yang pernah dan selalu saya miliki, sekarang atau nanti. Saya kagum karena dia begitu sabar menghadapi anak-anaknya tingkah polahnya bikin tangan tak berhenti mengelus dada, saya kagum dengan kecintaannya terhadap keluarga, bagaimana dia mencintai sang Suami bagaimanapun kondisinya, bagaimana dia berjuang untuk menjadi seorang istri dan ibu yang bisa dibanggakan… Itulah yang membuat saya tak bisa berhenti mengidolakan Mbak Pit.

She’s still my idol… She’ll always be.

Luv you, Mbak. You’re the very best deh, pokoknyaaaa…😀

 

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

5 thoughts on “those were the days (part. 7 — My Sister, My Idol)

  1. nice… siblings ha… always make you smile eventhough part of you want to kill them =)

    hahahaha… jiwa2 pembunuh…🙂

    Posted by niaalive | May 6, 2008, 3:10 pm
  2. hahahahaha, arek gendeng! salam buat mb pipit dari rere yang super-duper cute😀

    salamnya sih disampaikan… tapi ga pake super-duper cute… wekekeke

    Posted by Rere | May 6, 2008, 5:23 pm
  3. hmmmm, melu ikutan kasih salam.
    How are you aunty, lama ndak ketemu nih.

    Posted by avy | May 7, 2008, 4:37 pm
  4. ah.. gak pesek kok..
    seperti kata ayahku dulu tentang ibuku..
    “ibu kamu itu gak pesek.. mancung..
    cuma pondasinya kurang tinggi”

    Posted by nindityo | May 9, 2008, 5:29 pm
  5. Avy: iya nih, lama nggak ketemu… Anaknya udah berapa Mas? Hehehe…
    Nidityo: model basement kali yaa, jadi pondasinya dalem bener.. wekeke

    Posted by jeunglala | May 12, 2008, 11:35 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2008
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: