you're reading...
those were the days

those were the days (part.1 — Awal)

Saya ingin bernostalgia, nih. Setelah bosan dengan cerita-cerita soal hari ini yang monoton dengan rasa sedih yang bikin saya suka menangis sendiri saat bercerita, saya memutuskan untuk mengenang kembali masa-masa dulu ketika masih kanak-kanak, masih menganggap dunia adalah taman bermain yang luas dan tidak berbahaya.

Hm, mungkin juga karena tadi pagi, saat saya sedang duduk manis *agak urakan sedikit, sebenarnya, tapi jaim sedikit, boleh kan?🙂 * di samping pak kusir Bro yang sedang mengemudi mobilnya untuk mengantarkan saya ke kantor di ujung kota Surabaya, saya melihat beberapa anak kecil (seumuran SD kelas 3-4 gitu deh) sedang bergerombol di trotoar besar di sekeliling Tugu Pahlawan. Mereka sedang pelajaran Olah Raga, ini saya tebak dari ‘kostum’ yang mereka pakai saat itu. Kaus berwarna oranye kemerahan dan celana pendek di atas lutut.

Saya melihat mereka tampak asyik bergurau sambil sesekali berlari-lari kecil. Ada yang asyik mengobrol sendiri, ada yang menggoda seorang teman laki-lakinya yang ternyata ‘sedang sial’ karena dia berlari sendirian di tengah sekumpulan teman-teman perempuan yang bawel dan genit *ingat diri sendiri.. hehe* Saya perhatikan mereka yang sedang tertawa lepas, seolah tidak membawa beban apa-apa, dan akhirnya, saya malah menyeletuk begini:

“Bro, enak ya, jadi anak SD begitu?”

“Enak? Apanya?” tanya Bro, dia masih berkonsentrasi menyetir.

“Mmm.. kayak anak-anak itu lho, Bro, yang dipinggir itu…” Saya mengarahkan telunjuk saya ke arah anak-anak itu. “Itu… Anak-anak sekolahan itu lho… Kayaknya mereka kok seru sekali yaa…”

“Yah, namanya juga anak-anak…”

“Jadi mikir. Kok kayaknya enakan pas masih anak-anak dulu, ya, Bro? Nggak terlalu pusing mikirin anu-itu, yang ada cuman bermain… bermain… ”

“Eh, jangan lupa, kita kan musti sekolah,” sahut kakak saya. “Tiap hari lho…”

“Ah, iya… iya.. tapi waktu masih SD dulu, sekolah bukan beban. Malah seru, bisa ketemuan sama temen-temen.. Main-main sama mereka… Nggak mikir nilai, belajar… Pokoknya datang ke sekolah cuman buat senang-senang…”

Bro tersenyum. “Tapi pas kecil dulu, mana bisa beli J-Co? Mana bisa belanja-belanja baju yang kita sukai? Nggak bisa kemana-mana tanpa pengawasan orang tua… Sekarang kan enak. Bisa kemana-mana sendiri, bisa beli-beli barang yang kita mau asal ada uang, kalau pingin makan donat mahal juga ayo aja… Kita sudah kerja, bisa menghasilkan uang sendiri.. Lha kalau masih anak-anak? Jelas nggak mungkin, tho…”

“Iya juga ya…”

“Pada dasarnya sih, setiap masa di dalam hidup kita, asal dilewatin dan dinikmatin sebagaimana mestinya, pasti akan bahagia kok. Kalau pas masih anak-anak, ya waktunya bermain-main. Makanya kalau ada yang sudah harus mencari nafkah padahal saat itu adalah fase mereka untuk bermain-main, kebahagiaan mereka seolah direnggut… Dan ketika mereka seharusnya sudah harus menghasilkan uang sendiri tapi masih pengangguran, mereka juga merasa tidak bahagia…”

Saya diam, manggut-manggut.

“Makanya… enjoy your life… Kalau kamu bisa menikmati hidup ini dengan baik, menghargai setiap permasalahan dan mensyukuri hidup, aku rasa di kategori umur berapapun, kita semua akan bahagia, kok…”

Bukan hanya Bro yang mengatakan untuk menikmati hidup. Ada teman saya, si pembaca setia blog saya, yang bilang untuk live your life to the fullest. Ini membuat saya terlecut untuk segera mengusir kabut kesedihan saya dan kembali menjadi seorang Lala yang gila, norak, urakan, tapi cantik *teteuuppp, nggak ketinggalan.. hehe*

Sekarang, saya sedang mencoba menikmati hidup ini; mensyukuri apa yang sudah saya lakukan dan apa yang sudah saya raih sampai detik ini. Akibatnya, saya malah jadi bernostalgila.. eh nostalgia dengan beberapa rekan kerja dan berbagi cerita soal jaman-jaman masih anak-anak dulu, ketika hidup hanya untuk bermain-main saja… ketika hidup nggak terlalu pusing dengan urusan membayar tagihan…🙂

Saya akan membagi cerita-cerita saya menjadi beberapa bagian dengan posting ini sebagai Awal. Bagian yang lain (dan sedang saya kerjakan, nih! tolong bantuan doanya supaya segera kelar.. dan doakan saja, semoga internet kantor mau berbaik hati sama saya dengan tidak nge-down melulu.. hehe) adalah:

1. Those Were The Days (Part 2 — Lala, Si Pembangkang)

2. Those Were The Days (Part 3 — Cinta Monyet)

3. Those Were The Days (Part 4 — I Can Write!)

4. Those Were The Days (Part 5 — Nostalgia SMA Kitaaaaa….)

5. Those Were The Days (Part 6 — The True Bestfriends)

6. Those Were The Days (Part 7 — My Sister, My Idol)

7. Those Were The Days (Part 8 — Somethings Are Better Left Unsaid)

Nah…

sabarlah kalian menanti yaaa….. Saya janji, akan mengetik super cepat supaya kalian bisa segera baca yaa… Sekaligus ini ajang narsis: mirip buku biografi artis siapaaaaa gitu kan? Eh, siapa tahu, suatu saat nanti saya bisa menjadi Novelis terkenal dan kalian butuh informasi soal background masa lalu saya… hehehe…

Saya nulis dulu yaahhh…

Cup cup muah muah😀

 

 

 

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

2 thoughts on “those were the days (part.1 — Awal)

  1. ditunggu.. ditunggu ..

    Posted by niaalive | April 24, 2008, 12:49 pm
  2. Mulai bisa berpijak dan merasakan kehangatan bumi kan, aunty…🙂

    Posted by Rere | April 25, 2008, 6:44 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: