you're reading...
those were the days

those were the days (part 2 — Lala, Si Pembangkang)

Contoh #1

Suatu hari, hampir dua puluh tahun yang lalu, saya pernah terlibat percakapan tidak penting *menurut Mami, tapi penting buat saya* dengan Mami, di atas mobil kijang warna hijau milik Papi yang sedang melintasi jalan menuju rumah.

“Mi… Kenapa sih, kok aku dikasih nama Aulia?”

“Lha? Terus? Maunya?”

“Mmm.. kenapa bukan Michele… Barbara… pokoknya kayak orang bule gitu.”

“Kamu kan orang Jawa, Nduk.”

“Kok aku dipanggil ‘Nduk’, sih? Bukannya Nduk itu Genduk-Genduk alias Pembantu??” Saya protes.

“Nduk itu, bukan pembantu… Tapi panggilan kesayangan seorang Ibu buat anaknya…” Mami tersenyum sambil menerangkannya pada anak bungsunya yang montog😀

“Terus… terus… kenapa namaku Aulia??? Kok bukan Michele??? Michele kan bagus Mi…”

“Kan Mami sudah bilang, karena kita ini orang Jawa. Masa orang yang kulitnya sawo matang tapi namanya Michele? Michele itu buat orang-orang Barat sana, Nduk… Yang kulitnya putih-putih… Idungnya mbangir-mbangir… Lah kamu, pesek gitu…” Mami mencubit gemas hidungku yang.. mmm… memang pesek itu🙂 “Lagipula, nama Aulia itu juga bukan sembarangan lho. Ada artinya…”

Lalu Mami menjelaskan tentang arti nama saya, dari yang pertama sampai yang keempat. Secara keseluruhan, nama saya berarti Bidadari Surga yang cantik, suci, dan penolong. Wow! I just knew that!

“Bagus, kan?” kata Mami.

“Mmmm….” Dalam hati, sih, sudah mengakui kalau arti nama saya sangat bagus, tapi tetap saja saat itu saya masih bete karena sebenarnya ingin punya nama yang agak keren sedikit, nggak perlu ada maknanya asal keren😀

“Kenapa??”

“….. kalau Michele, Mi… apa ya artinya…. mungkin lebih bagus, deh…”

Dan Mami hanya geleng-geleng kepala sambil tertawa.

***

Contoh #2

Kata Mami, saya lahir di rumah sakit yang berbeda dibandingkan ketiga kakak saya (oh ya, kakak saya yang persis di atas saya sudah meninggal ketika dia masih berumur 3 bulan. He was a beautiful baby boy yang meninggal karena jantung lemahnya terlalu kaget oleh bunyi letusan mercon anak-anak tetangga😦 ).

Kalau ketiga kakak saya lahir di rumah sakit yang sama, saya lahir di rumah sakit Kepolisian, yang letaknya memang dekat rumah. Entah kenapa dulu-dulu, saat melahirkan ketiga kakak saya, mereka memilih rumah sakit yang agak jauh sedikit. Dan ketika saya dilahirkan di rumah sakit yang berbeda, saya jadi bertanya-tanya, why oh why….

Papi bilang, karena ketuban Mami sudah terlanjur pecah di becak🙂 dan harus segera buru-buru ke rumah sakit. Mungkin Mami tidak menyangka kalau saya ingin segera lahir. Pilihan satu-satunya adalah melahirkan di Rumah Sakit Kepolisian, tepat jam 4 pagi, hari Rabu Pon.

Entah ini karena pengaruh ASI eksklusif *yang diberikan terlalu eksklusif oleh Mami — 2 tahun, bow!* atau karena saya lahir di rumah sakit yang isinya Polisi semua🙂, akhirnya saya tumbuh menjadi perempuan yang berbadan bongsor. Tinggi, montog, dan hitam kelam🙂 Kedua kakak saya bertubuh ‘normal’ bahkan kakak perempuan saya malah cenderung super cantik. Kalau sedang meratapi nasib begini *hehe*, mereka, para keluarga tercinta itu, dengan ‘teganya’ bilang kalau saya ini sebenarnya anaknya Pak Polisi! Sebagai ‘bukti’, idung saya memang yang paling pesek di antara kedua kakak saya… and not to mention, kedua orang tua saya berhidung mancung semuanya! Bayangkan betapanya sedihnya saya….

Dan memang, saya termasuk anak yang ‘mokong’ *istilah orang Jawa untuk orang yang ndableg — istilah orang Jawa juga.. hehe untuk orang yang nggak bisa diatur. Saya memang anak yang susah dibilangin, mau menang sendiri, dan egois luar biasa.

Waktu masih TK saja, raport saya sudah dicemari dengan kata-kata begini:

Anaknya pintar, tapi cenderung membangkang.

Itu waktu TK Nol Kecil.

Ketika menginjak TK Nol Besar, noda yang sama ikut mencemari raport saya:

Ada banyak kemajuan, cerdas, tapi cenderung membangkang.

Saat itu saya tidak tahu apa artinya, tapi saya ingat kalau Mami pernah bilang begini, “Kalau dibilangin sama Bu Guru, nggak boleh dibantah, ya, Nduk…”

Oh…. jadi kalau saya menolak saat disuruh mengerjakan tugas di rumah oleh Ibu Guru saat itu adalah termasuk membangkang yaa?🙂

Kesimpulan:

Saat kelas 1 SMP, ada IQ test yang digelar secara serentak di sekolah, dan hasilnya: cenderung membangkang.

Saat kelas 1 dan 3 SMU, lagi-lagi digelar IQ test secara serentak, dan hasilnya tidak berubah: cenderung membangkang.

Waktu iseng-iseng mengerjakan soal-soal IQ test online, eh, saya dibilang cenderung membangkang juga.

Nah…

Atau jangan-jangan, saya ini memang orang yang pembangkang, ya? Masa, sih? Yakin, nggak salah? Kan saya hanya berusaha memegang prinsip?? Kan saya hanya…

Hus hus.

Diem aja ah.

Ntar malah jadi contoh #3…😀

 

cerita lain: cinta monyet ; I can write ; nostalgia sma kitaaaaa.. ; true bestfriends ; my sister, my idol ; somethings are better left unsaid

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

3 thoughts on “those were the days (part 2 — Lala, Si Pembangkang)

  1. Pantesan kamu galak banget, mirip pulisi😛
    Bukan pembangkang, tapi selalu ingin tau….
    Dan itu adalah hal yang bagus kan….
    Paling pesekmu gara-gara pipimu yang chubby😀

    Posted by Rere | April 25, 2008, 6:49 am
  2. gud..

    nama resmi yang ada di akte saya adalah ladyfitonia, diambil dari nama bunga daerah tropis brazil sana
    entah ibu saya terinspirasi oleh apa… yang jelas anaknya memang seperti bunga, cantik, tapi banyak durinya, alias jutek berat, kelakuan berantakan dan hidup hanya berandalkan keberuntungan, raport saya semasa sekolah, pastinya merah merona setiap saat, yang seperti saya bilang bisa buat menerangi rumah kalu keadaan mati lampu, tapi sekali lagi, alhamdulilah berhasil menduduki posisi baik di perusahan multinasional yang masi percaya dukun (huahahaha) berkat doa dan sejuta keberuntungan dari Allah pastinya..

    Posted by niaalive | April 25, 2008, 9:39 am
  3. Huahahaha, pembangkang dari Surabaya

    Posted by avy | May 5, 2008, 11:02 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: