you're reading...
precious persons, those were the days

those were the days (part 4 — I Can Write)

Kakak saya, Bro, adalah penulis yang… yaah… bisa dibilang, cukup handal. Ini dibuktikan dengan prestasinya saat SMU, ketika dia menjuarai sebuah grandprix penulisan cerpen seJawaTimur. Dia sendiri tidak tahu menahu cerpen mana yang berhasil meraih Cerpen Terbaik saat itu, karena dia mengirimkan 2 cerita. Satu, cerpen yang super mellow. Dan satunya, cerpen super lucu, gaya cerita yang nyleneh dan asal-asalan. Mirip Hilman.

Bro memang suka menulis. Dia pernah menulis cerpen yang mengisahkan teman-teman dekatnya di SMU. Karakter-karakter itu tertuang dalam serial bersambung yang tentunya diimbuhi dengan drama yang luar biasa dan sering bikin saya menahan pipis saking lucunya. Bro memang paling jago membuat cerita lucu. Saya masih ingat ketika dia menulis serial Umar *ini nama temannya*, cerita tentang Umar dan teman-temannya yang bego, sok kegantengan, tapi patriotis🙂 Ini sukses bikin saya memaksa dia untuk terus menulis, mencetak, dan saya baca-baca menjelang tidur.

Lalu, suatu saat, ketika saya lulus SD dan jadi pengangguran selama satu bulanan lebih, Bro menyarankan saya untuk mulai menulis. Katanya, daripada bengong. Toh, menulis di komputer akan lebih bermakna dan bermanfaat daripada menangisi Darmansyah *hehehe, saking bombastis-nya, sampai seluruh isi rumah bisa ikut prihatin terhadap masalah saya*. Lagipula, ada komputer. Tinggal asal ketik aja kan beres, katanya.

Dia mengajari saya membuat cerpen melalui satu sistem di komputer – yang sumpah saya lupa namanya. Tinggal ketik, cara edit begini, save begini, dll dsb.

Awalnya, saya sempat menolak saran Bro untuk menulis. Ini karena saya punya cita-cita mulia untuk menjadi fashion designer, jadi saya rasa, mengetik tidak akan memuluskan perjalanan menuju pencapaian cita-cita tersebut *halah, bahasanya.. hehe* Tapi karena Bro selalu memaksa *dan memang dia ini super pemaksa..🙂 *, akhirnya saya mencoba untuk mengetik.

Cerpen pertama saya terinspirasi dari Darmansyah. Well, kata orang, penggunaan pengalaman pribadi adalah sangat baik untuk keperluan penggalian ide pembuatan karya tulis. Ya sudah. Saya tulis tentang perselingkuhan dan sakit hati saya karena Darmansyah dan Maya saja, apalagi ini sedang hangat-hangatnya terjadi. Tinggal digali sedikit saja, sudah ambrol.. hehe…

Walhasil, karena belum terbiasa menulis, saya hampir sepuluh cerpen pertama saya bercerita tentang Darmansyah dan bagaimana dia melukai saya. Dengan jalan cerita yang hampir sama. Tapi… oh, oh, jangan khawatir, pembacanya berbeda-beda. Saya pintar, kan?😀

Ketika mulai ‘canggih’ dan bisa mendapatkan ilham lewat orang lain, lewat kejadian-kejadian di sekitar saya, akhirnya saya mulai kreatif dalam menulis. Apalagi saya mulai naksir cowok lain🙂 jadinya inspirasinya sudah beragam. Saat itu, saya aktif di majalah sekolah, di kolom cerpen. Wah, ini sih benar-benar aji mumpung. Ketika kekurangan materi untuk kolom itu, saya yang memanfaatkannya untuk membuat cerpen-cerpen saya go public. Yah. Akhirnya, cerpen-cerpen saya banyak menghiasi majalah sekolah, lengkap dengan pesan-pesan cinta di bawahnya: Ini buat kamu, Popa… Hehehe… Gilaaa…

Novel pertama saya, Sakura Di Pelukanku, hasil rembukan saya dan Mbak Pit, saya selesaikan ketika lulus SMP *tapi sayangnya, novelnya raib… printed versionnya… juga file-nya.. oh my…* Ketika SMU, saya mulai meniru Bro untuk menulis serial konyol, lalu lahirlah Serial Donna dkk yang berhenti sampai edisi 8 dan sudah beredar sampai kelas-kelas tetangga🙂

Saat kuliah, saya menulis lagi serial yang berjudul Aurel. Ini bukan tokoh fiktif, tapi non fiksi yang penuh dramatisasi. Kisah tentang saya dan ‘orang-orang gila’ (=baca: sahabat-sahabat saya di kampus.. hehe) berikut dengan kekonyolan-kekonyolan mereka. Serial ini sukses sampai seri 10-an. Dan sayangnya, semua cerita yang sudah saya tulis itu lenyap entah kemana karena harddisk yang crash…😦

Kalau sekarang menengok lagi ke masa-masa lalu, mungkin saya tidak pernah akan menyangka kalau kelak alias hari ini, saya akan jatuh cinta sekali dengan dunia tulis menulis. Malah teradiksi dengan menulis seperti adiksi saya terhadap kopi. Seperti merasakan ada yang hilang ketika tak menulis. Dan siapa yang bisa menyangka kalau seorang anak kecil yang selalu mengatakan bahwa kelak dia akan menjadi Perancang Baju terkenal seperti Poppy Darsono, kini tak bisa melewatkan satu haripun tanpa menulis?

Ya. Kini cita-cita saya berubah. Saya ingin suatu saat nanti, saya berhasil menjadi Novelis yang terkenal, yang bisa membanggakan Papi, dan menuliskan kata-kata sayang saya buat beliau di halaman terimakasih, bahwa untuk Papi-lah semua ini saya persembahkan, saya lakukan…

Hm, kalau saja tadi pagi saya tidak tergelitik untuk mengenang kembali masa lalu saya, mungkin sampai sekarang saya lupa berterimakasih pada seseorang yang membuat saya bisa dan mau menulis, dan membantu saya menemukan apa yang benar-benar saya inginkan.

Ya.

Ini buat kamu, Bro.

You’re right. Ini memang jauh lebih bermanfaat ketimbang mikirin cinta-cintaan…🙂

Love you…

 

cerita lain: lala, si pembangkang ; cinta monyet ; nostalgia sma kitaaaaa.. ; true bestfriends ; my sister, my idol ; somethings are better left unsaid

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

3 thoughts on “those were the days (part 4 — I Can Write)

  1. Kayaknya emang ada bakat…
    Kamu tuh sebenarnya punya ‘something’, salah satunya adalah nulis
    cuma ya itu, ketika kamu ada masalah,
    fokusnya ke situ mulu
    semua hal yang kamu lakukan juga fokus ke masalah mu itu
    jadi akhirnya duniamu hanya masalah itu, jadi susah keluar🙂

    tapi, kayaknya dah mulai bisa mencari celah, kan….
    aunty kan pinter…
    *wes tak puji, traktiran yo… hehehehehe😀 *

    Posted by Rere | April 25, 2008, 7:28 am
  2. Wooww.. Ternyata dari kecil mang udah senang nulis ma bikin cerpen yaa, Laa😀

    Kalau gua dulu pas kecil surat2an mulu, hehehehe :p

    Posted by Indah | December 24, 2008, 11:08 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: those were the days (part 6. True Bestfriends) « the blings of my life - May 6, 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: