you're reading...
Penting Ga Penting...

playboy insyaf

Ini bukan cerita tentang tokoh rekaan super populer Boim-nya Hilman atau Ucup bin Sanusi-nya Bajaj Bajuri, tapi ini adalah cerita tentang seorang teman kantor, sebuat saja namanya Her, yang karakternya, mirip seperti Boim atau Ucup alias Playboy.

Tapi jangan memvisualisasikan rekan ini sebagai orang dengan tampang pas-pasan yang tidak tahu diri *plis, deh.. jelek kok playboy.. hehehe* karena dia memenuhi semua kriteria untuk menjadi playboy.

Bicara soal tampang… dia termasuk lelaki dengan wajah manis, maskulin, tapi kedua matanya bisa memancar dengan hangat (dan bikin hati perempuan meleleh, pastinya).

Bicara soal fisik… well, tubuhnya atletis. Tidak gemuk, tidak kurus. Dan oh ya.. selalu wangi. Dari radius beberapa meter saja, harum tubuhnya yang khas sudah tercium dan bikin hidung megap-megap horny.. hehe..

Mari bicara tongkrongannya.

Dia memiliki berbagai koleksi mobil yang lumayan canggih dan bisa berganti-ganti sesering dia inginkan. Mulai sedan sampai mobil sebesar gajah, dia punya. Belum lagi motor besar yang biasa dia kendarai untuk ke kantor. Dengan jaket kulit, kaca mata hitam… dia seperti seorang model berjalan πŸ™‚

Itulah kenapa saya bilang, dia memiliki segalanya untuk menjadi seorang Playboy. Apalagi dia menyadari betul segala potensi yang dia miliki itu tadi, sehingga membebaskan dia untuk tebar pesona kemana-mana diikuti dengan rayuan manis cenderung gombal yang jarang bisa dibuktikan ketulusannya.

Saya sendiri pernah terperangkap dan dekat dengannya selama tiga bulan. Siapa yang tidak? Dia begitu rapi menyimpan ‘skandal’nya dan memilih kata-kata yang tepat untuk membuat saya hanya berkonsentrasi pada dirinya, bukan pada cerita-cerita miring teman-teman yang tahu tabiat buruknya. Banyak yang menyayangkan kebegoan saya, tapi karena Her begitu pandainya membuat saya percaya, akhirnya termakan juga umpan yang dia lemparkan. Duh, bodohnya saya…

Ketika saya memutuskan untuk tidak bego lagi, saya mulai sadar bahwa dia memang bermulut manis. Beberapa telepon nyasar ke meja saya mencari Her. Semuanya perempuan. Dan semuanya mengaku pacarnya! Well, untung saya sudah putus *waktu itu, sempet jadian nggak sih? hehe*, kalau belum.. mungkin sudah saya maki-maki itu perempuan dan bilang kalau saya ini juga pacarnya πŸ™‚

Meskipun Her dan saya sudah tidak berhubungan lagi, tapi kami tetaplah teman dekat. Bagaimanapun, bukan berarti seorang Playboy adalah laki-laki yang tidak baik, karena sesungguhnya, Her adalah salah satu lelaki yang super perhatian, bisa diandalkan ketika saya minta pendapat, dan melindungi saya — mungkin inilah nilai lebihnya sehingga dia menjadi playboy yaa..

Saya tetap berteman baik. Masih cerita. Masih berdiskusi. Dan ya. Dia masih playboy πŸ™‚

Suatu pagi, saya dikejutkan oleh berita ini:

HER MENIKAH

Respon pertama saya cukup tragis (atau sadis?) : EMANG BISA?????

Dan ternyata memang bisa. Akhirnya dia menikah dengan salah satu kekasihnya, orang yang biasa-biasa saja, cantik tapi sederhana, dan kini mereka sudah dikaruniai bayi perempuan yang lucu.

Beberapa hari yang lalu, saya ‘menginterogasi’ dia di ruangan saya. Sejak dia menikah, saya tahu, saya harus bisa menjaga jarak, meskipun kami berdua hanya sebatas teman cerita.

Saya todong dia dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan pernikahannya, tentang istrinya, tentang si kecil yang mulai bisa mengoceh dan memanggilnya ‘Papa’… Saat itu saya melihat, dia sangat bahagia. Kedua matanya berbinar bangga ketika bercerita soal anaknya yang paling doyan tiduran di perutnya lalu terkekeh-kekeh ketika Her menggodanya lewat telepon.

Dia bilang, dia sangat mencintai istrinya. Ketika saya tanya, apa dia nggak terpikir untuk mencari perempuan lain (seperti masa lalunya), dia malah dengan diplomatisnya bilang begini: “Buat apa? Aku sudah mendapatkan segalanya… Aku sudah punya istri. Sudah punya anak yang sempurna. Kenapa harus repot-repot melakukan sesuatu lalu mengorbankan semua yang sudah aku miliki?”

“Memang terkadang muncul kebosanan…” kata dia, “terkadang juga, muncul perasaan dia lagi dia lagi πŸ™‚ . Tapi toh… aku sudah puas. Umurku sudah hampir 35. Mau sampai kapan aku main-main?”

“Duh, kenapa kamu sadarnya baru sekarang, Mas? Kenapa nggak waktu dulu, pas kita masih dekat dan ada kesempatan?”

Lalu dia bilang, “Hehe.. namanya juga jodoh, Non. Bukan karena kamu tidak sebaik Fitri (istrinya), tapi karena Fitri bisa mengisi apa yang tidak aku punya, demikian pula sebaliknya. Kamu bukan my perfect fit. Ada orang lain yang akan menjadi your perfect fit.”

“Haha.. kenapa kamu sekarang jadi sedewasa ini, sih… Bikin aku pengen jadi selingkuhanmu aja… ” canda saya.

Lalu dia bilang, “Ooh… kalau kamu yang ngajakin selingkuh sih, ayuk aja… Kamu mau?” Dia mengerling genit pada saya.

Sambil tertawa, saya melempari dia dengan kertas yang sudah saya gulung-gulung menyerupai snow ball. Dia ikut tertawa. Dia terlihat sangat tampan dan bercahaya.

Saat itu, setelah dia kembali ke ruang kerjanya di lantai 1 (saya di lantai 3), saya memperhatikan sosoknya menghilang dari pandangan sambil berbisik dalam hati:

ternyata playboy insyaf bukan cuman istilah, ya? πŸ™‚

Β 

buat her: eh, bayar royalti lho Mas! ^_^

Β 

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

4 thoughts on “playboy insyaf

  1. Hehehe …
    Ini baru awal …
    Kita lihat nanti satu tahun setelah menikah …

    Tahan kah …???
    Jika ya … berarti memang benar dia sudah insyaf …

    Hai La’ …

    hahaha.. betul juga yaa… tahun depan akan saya posting lagi hasil observasi saya ya Om..
    Hai, hai, Om… πŸ™‚

    Posted by nh18 | April 21, 2008, 12:13 pm
  2. setiap orang pasti suatu saat akan menemukan bandara terakhirnya, buat apa terbang kesana kemari tapi dalam kehampaan? bukankah kamu juga sudah insyaf mempermainkan mereka?kamu juga sudah lelah kan terbang tidak jelas, ditambah dengan berat tubuhku, semakin tambah beban.

    Posted by Rere | April 22, 2008, 5:15 am
  3. Wah, aku nggak paham dunia per play boy-an,
    Maaf, La. Nggak bisa komen.
    Hi hi…

    Kirain, karena sebagai seorang Playboy yang belom juga insyaf, makanya belum bisa kasih komentar sampe sekarang.. hahahaha..
    pis Bang.. pis…

    Posted by heryazwan | August 25, 2008, 10:15 am
  4. hmmm playboy ya???

    kali kalo kawinnya sama aku bakal insyaf dia.
    kenapa?

    “Yahhhh gue ketemu batunya kawin sama playgirl”
    huehuehueheu

    eh canda loh, jangan dimasukin hati…..

    Posted by Ikkyu_san | August 25, 2008, 1:47 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: