you're reading...
Blings of My Novels, Novelet Bersambung: Mei & June

mei and june (9)

“Kenapa, June?” tanya Mei tiba-tiba setelah sadar kalau June memperhatikannya dari balik pintu kulkas. “Kamu halusinasi, sampai-sampai ngeliat semangka kayak aku?”
June tertawa.

“Haha… elo ini, bisanya ngoceh kalau sama gua aja. Kalau sama yang lain, langsung silent mode deh…” sindir June pada Mei yang hanya bisa cerewet dengan orang-orang terdekatnya, termasuk dirinya sendiri. “Udah, ah. Gua mau ke kantor dulu. Ntar lo minta tolong sekuriti buat cariin taksi aja, ya? Gua tunggu di Hachi Hachi Bistro, Tunjungan Plaza, jam makan siang nanti, okay?”

“Ke Tunjungan Plaza, June? Sendirian?

“Lha iya, lah. Lo mau ngajak sekuriti juga?”
Mei tersenyum.

“Tapi, June… Sendirian??”

“Ah, bawel lo, ah. Lo ada duit rupiah, kan?”

“Nnnggg… Nggak bisa bayar pakai dolar, ya, June?”

“Ya ampun, Meeeiii… Emang lo kata ini San Francisco gang berapa, siiihhhh…” June berjalan ke dalam kamar lalu keluar lagi dengan beberapa lembar seratus ribuan. “Nih, buat pegangan lo dulu.”

“Ada kok, June… Kemaren aku sempet tukerin uang dulu di bandara…”

“Yakin?”

“Iyaa.. yakin banget. Jadi tenang aja, deh…” 

“Hu-uh. Gimana gua bisa tenang, Mei… Lo sih pake nanya bisa bayar pakai dolar apa nggak…”

“Hehehe… tadi kan cuman becanda, June… Aku nggak segitu-gitu begonya kok…”

“Hu-uh. Bikin gua panas dalam aja lo, Mei! Udah ah, gua telat nih. Jangan lupa, jam sebelas nanti lo telepon sekuriti buat nyariin taksi, ya? Nomornya ada di deket telepon, kok, okay?”

“Siiipppp!!”

“Mmm… Mei, ntar lo musti cepet-cepet beli sim card ya?”

“Penting ya?” tanya Mei sambil garuk-garuk kepala.

“Penting banget, lah.. Hari gene nggak pegang hp, lo bisa kayak anak ilang!” June menyambar tasnya di atas meja ruang tamu lalu menuju ke pintu. “Udah, yaaa… Gua berangkat dulu! Sampai ketemu ntar, yaaa…!!”

Setelah June pergi, Mei kembali asyik dengan layar televisinya. Kali ini, dia terlihat serius melihat saluran televisi lokal yang sedang menayangkan infotainment atau berita gosip tentang artis-artis Indonesia.
Dia tersenyum.

Kapan terakhir kali dia melihat berita-berita panas soal artis dalam negeri yaa? Tiga tahun meninggalkan Surabaya ternyata memang membuatnya kangen…

**

June menyalakan cd playernya lalu menekan-nekan beberapa tombol sampai akhirnya terdengar alunan suara Frank Sinatra memenuhi seluruh atmosfir Honda Jazz. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di kursi dengan kedua tangan memegang kemudi. Pikirannya melayang-layang, tidak bertumpu. Seperti udara yang bebas lepas dan terkadang meracuni dirinya sendiri. Pikiran tentang James. Rencana pameran seni di Paris dan belahan benua Eropa lainnya yang belum tahu kapan bisa kembali ke Indonesia. Juga tentang si kecil ini. Yang belum lagi genap satu bulan, tapi sungguh disayanginya.

Akhirnya mobil itu menyusuri jalan di depannya dengan kecepatan sedang. June memang sengaja menyetir pelan-pelan karena tadi dia sudah ijin datang terlambat dengan Mr Huang. Sebenarnya Mr Huang memberikan ijin untuk cuti dua hari, tapi karena June belum melimpahkan tugasnya ke Dessy, asistennya yang akan menggantikan dia selama pulang ke Jogja, maka dia memutuskan untuk masuk saja.

“Mbak June bakal balik ke Surabaya, kan?” Tanya Dessy beberapa hari yang lalu, saat mereka makan siang di Penang Village, usai meeting dengan klien di tempat yang sama.

“Emang kenapa, Des? Gua pasti balik lah… Nggak bakal, deh, gua bisa tenang-tenang tinggal lama di Jogja. Ntar yang ngurusin RumahKue siapa kalau bukan gua? Kalo di kantor mah ada elo kan Des…”

“Jadi acaranya hari Sabtu atau Minggu dong, Mbak…”

“Maksud lo, Des? Acara apaan, nih?”

“Lho? Bukannya Mr James mau lamaran ke Jogja?”

“Lamaran? James? Hei, elo dapet informasi dari mana, Des?”

“Dari orang-orang kantor…”

“Pasti dari Mbak Ajeng, kan?”

“Hehehe, kok tau, sih, Mbak?”

“Siapa lagi kalau bukan Ratu Gosip a.k.a Mbak Ajeng itu? Ampun, Des… Mulutnya Mbak Ajeng kok lo percaya, sih… Lo kan tau reputasi dia. Suka ngebumbuin cerita biar seru.”

“Mmm… iya juga sih, Mbak. Cuman karena ini ceritanya masuk akal, aku jadi agak mikir-mikir juga, Mbak…”

“Ceritanya masuk akal?”

“Iya, Mbak. Kan Mr James sama Mbak June sudah lama pacaran… Sudah dua tahun kan, Mbak? Wajar banget kalau emang sudah mau merit…”

to be continued

mei and june (10)

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: mei and june (8) « the blings of my life - April 21, 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: