you're reading...
Blings of My Novels, Novelet Bersambung: Mei & June

mei and june (8)

“Bunda? Ini Mei, Bunda…”
“Oalah Nduk… sudah datang tho kamu…”
“Iya, Bunda. Mei masih di rumah June. InsyaAllah besok lusa Mei pulang ke Jogja sama June. Dia baru bisa ninggal kerjaannya hari Jumat nanti, Bunda.”
“Wis, ora opo-opo. Kamu sehat tho, Nduk?”
“Alhamdulillah, sehat, Bunda. Tapi agak capek. Pantatnya sakit, kebanyakan duduk.”
“Yang penting selamet, ya, Nduk… Biarpun capek, yang penting sampai di tempat… Mm… kamu nyari kerjanya di Jogja aja, Nduk… Bunda kan kangen sama kamu…”
“Bunda, kalau di Jogja, karirnya gitu-gitu aja. Surabaya kan kota besar, Bunda. Mudah-mudahan Mei bisa lebih sukses di sini…”
“Yo wis, lah. Yang penting ndak jauh-jauh di Amerika sana, Bunda tenang kok.”
“Beres, Bunda. Ya sudah, ya? Mei nggak enak sama June kalau teleponnya kelamaan…”
“Iya, Nduk. Salam Bunda buat June, ya?”
“Iya, Bunda… Sampai ketemu yaaa…”

Usai menutup telepon, Mei berjalan ke ruang tamu dan mendapati sahabatnya sedang asyik duduk di atas sofa ber-cushion tebal dan empuk sambil melihat teve kabel.

“Gimana kabar Bunda, Mei?” tanya June. “Eh, lo masih suka pisang goreng, kan? Tadi Bibik bikin spesial buat elo…” June menawari Mei setelah gadis itu duduk di sebelahnya. Mei langsung mengambil satu potong pisang goreng dan menggigitnya dengan lahap.

“Najis lo, ah! Rakus amat…” komentar June sambil pura-pura ngeri. Mei hanya tertawa lalu mengambil satu potong lagi.

“Tiga tahun, booowww… aku nggak pernah makan pisang goreng. Jadi wajar-wajar aja dong, kalau aku beringas begini…”

June tertawa. “Yeah, yeah… whatever… Eh, tadi gua nanya kabar Bunda, nih? Lo ga disuruh pulang hari ini, kan?”

“Nggak lah, aku sudah bilang kalau bakal nungguin kamu, kok, June. Bunda sih yang penting aku sudah di pulau Jawa, jadi hatinya tenang… Nggak banyak mikir seperti dulu…” kata Mei sambil ikut duduk dengan melipat kedua kakinya di atas sofa.

“Emang Bunda mikirin apa, sih, Mei? Kok elo sampai musti balik kampung segala…”

Mei meliriknya, judes. “Jadi kamu nggak suka kalau aku pulang ke Indonesia, nih? Katanya cinta, katanya sayang… Mana? Mana… Malah ditanyain kenapa aku musti pulang segala…” Mei pura-pura merengut.

June malah tertawa. “Elo ini, sensi amat sih. Mens ya?”

Disindir begitu, Mei malah tersenyum. “Hihihi.. emang lagi mens,” katanya asal. “Eh, June, speaking about it, deket-deket sini ada yang jual pembalut nggak?

“Kenapa lo? Flo is coming to town?”

“He-eh. Just this morning. Untung ada cadangan satu biji di tas, kalau nggak, aku bisa teriak-teriak di kamar mandi tadi…”

June diam tidak berkomentar.

“Ntar jangan lupa anterin aku ya, June? Daripada aku ngabisin stok kamu, lho…”

Lalu June menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil air dingin. Saat berjalan itulah hatinya berkecamuk.

Nggak, Mei. Tenang aja. Gua nggak butuh, kok. Paling nggak, sampai gua memutuskan untuk meneruskannya… atau nggak.

Saat dia mengambil botol air dingin dari dalam kulkas, June melirik sebentar ke arah Mei yang sedang asyik duduk bersilang kaki di atas sofa sambil melihat teve. Sesekali perempuan itu tertawa. Wajahnya ceria. Seperti tidak ada beban sama sekali. Kemarin malam mereka berdua begadang sampai pukul tiga pagi. Kalau June tidak ingat harus pergi ke kantor, mungkin dia akan terus ngobrol-ngobrol dengan Mei.

Mei cerita banyak. Soal San Francisco, soal pekerjaannya di sana, soal Mr Smith, British guy yang menjadi orang tua asuhnya di sana sebelum akhirnya hidup mandiri di apartemen mungil, beberapa blok dari apartemen Matt, lelaki tercinta yang tak bisa terengkuh olehnya itu.

Mata Mei begitu bercahaya ketika bercerita soal Matt, meskipun meredup saat akhirnya June bertanya, kapan sesungguhnya Matt akan datang menemuinya dan meninggalkan Sybill.

“Dia perempuan baik-baik, June… Aku nggak tega…”

“Lantas, lo maunya apa, Mei?”

Jujur… aku nggak tahu… Aku cuman pingin cintaku terbalas, June, tapi… aku juga nggak ingin merebut dia dari Sybill… Dan setiap aku bahagia karena akhirnya Matt mencintaiku, aku merasa berdosa…

to be continued

mei and june (9)

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

One thought on “mei and june (8)

  1. bagus cerpennya🙂

    Posted by achoey sang khilaf | April 21, 2008, 10:36 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: