you're reading...
daily's blings

pulang

Ketika ramai orang mengatakan soal home sweet home atau no place like home, saya malah terlalu asyik dengan dunia saya dan lupa pulang ke rumah. Saya tak lagi merasakan warna warni rumah, kehangatan sebuah keluarga, dan keinginan untuk pulang, sejak Mami memilih untuk berada di sisi Allah daripada tetap bersama saya, Mbak Pit, dan Bro.

Enam tahun sudah saya merasakan rumah tak lagi nyaman. Menganggap rumah hanyalah persinggahan sementara sebelum saya memulai kegiatan saya yang berlebihan — les bahasa Jepang dan jalan-jalan ke Mal, just to kill time  atau hang out dengan para sahabat🙂 Tak ada yang menghalangi saya untuk melakukannya, tak ada pula yang membuat saya ingin berhenti melakukannya.

Rumah tak lagi indah.

Rumah hanya satu tempat yang mungkin merasakan kehadiran saya 8 jam sehari. Sisanya? Rumah yang dulunya tempat terindah saya itu, harus rela diam dalam hening menanti tumbuhnya cinta saya lagi padanya.

Lalu kemudian, dia pernah bilang pada saya, bahwa rumah itu tidak akan hangat jika saya tidak melakukan apa-apa untuk mencintainya. Rumah akan tetap menjadi bangunan tak bernyawa, jika saya berlari-lari menghindarinya. Rumah hanyalah tempat untuk lelap sebentar. Rumah bukanlah rumah tanpa penghuni yang mencintainya.

Dan dia bilang begini, sambil memberikan penekanan di kalimatnya:

katanya kamu mencintai rumah ini… mana buktinya?

katanya kamu menganggap rumah ini adalah satu-satunya yang bisa mengingatkan kamu pada Mami… mana buktinya?

katanya kamu tak rela kalau ada apa-apa terjadi dengan rumah ini… apa yang sudah kamu lakukan buat dia?

Seperti ingin marah, seperti merasa tertampar, tapi juga malu.. lalu diam-diam mengakui.

Apa yang sudah saya lakukan untuk menunjukkan cinta saya buat rumah ini? Buat sebuah rumah yang di setiap dindingnya menyimpan kenangan masa kecil saya, yang jika dindingnya bisa bercerita, dia akan mengingatkan saya tentang kenakalan-kenakalan saya sewaktu remaja dulu, tentang Mami yang dulu rajin minta pijit setiap kami menonton TV di ruang keluarga, tentang acara diskusi bersama di meja makan tiap malam… tentang Mami, tentang saya, tentang keluarga kami yang seperti terampas ketika Mami pergi…

Air mata saya menitik.

Apa yang sudah saya lakukan untuk rumah yang sudah banyak memberi arti ini? Apa balasan terimakasih saya ketika rumah ini berdiri sedemikian kokohnya untuk mengingatkan bahwa keluarga yang hangat itu sebenarnya tak pernah pergi, tapi selalu ada di sini, jika saya berhenti berlari.

Saya tak pernah melakukan apa-apa.

Saya hanya sibuk berlari-lari mencari rumah hangat yang lain, merasakan keteduhan rumah lain, dan melupakan bahwa sebuah rumah mungkin sedang merindukan kehadiran saya…

Setelah berjuang untuk mengatasi ketakutan saya akan rasa sepi, ketakutan saya untuk menghadapi sendiri rumah yang hampa tapi penuh dengan kenangan tentang Mami, ketakutan saya pada rasa rindu akan kehangatan keluarga yang tak terlampiaskan….

Akhirnya…

Saya putuskan…

Untuk pulang.

 

(ternyata, kamar yang dulu sering saya tinggalkan, masih sehangat saat Mami masih ada… :) )

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

8 thoughts on “pulang

  1. hmm… menarik,, saya jadi terharu,, memang, apapun yang mengubah kita, kita selalu berawal dan berakhir dari sebuah keluarga..
    Saya yang malu ni, udah umur 24 masi tinggal sm ortu… hiks..

    hhmmm… you’re right, Noets.
    And btw, don’t feel that way…… many of us, malah ga punya keluarga atau rumah yang bisa ditinggalin lho..🙂

    Posted by niaalive | April 14, 2008, 11:40 am
  2. masalahnya adalaaah.. saya yakin ortu saya juga udah gak tahan liat anaknya keliaran trus dirumah,bikin repot, kapaan ni anak pindah dari rumah ya?? begetu pasti di dalam hasrat mereka… huahahaha..

    Posted by niaalive | April 14, 2008, 1:03 pm
  3. welcome home dear, you’re always welcome here, coz your home is your heart.

    Posted by Rere | April 14, 2008, 2:48 pm
  4. Emang punya rumah berapa sih?
    *confused mode on* ndak mudeng

    Posted by avy | April 15, 2008, 1:37 am
  5. *aku pergi bukan lari dr kenyataan, tp mencari jati diri*

    >> jadi kangen sama rumah dan kehangatan serta pengapnya kamarku😦

    Posted by masmoemet | April 15, 2008, 11:00 am
  6. Aku bener2 ga bisa ngomong apa2 lagi,la. tulisanmu mengingatkan dimana dulu aku pernah rasakan itu. Pernah rasakan gimana hampanya rumah tanpa kasih sayang.😦
    Aku pernah pergi dari rumah karena kondisi rumah tanpa cinta kasih. Aku pernah benci dengan keadaanku. Aku pernah iri dengan teman2ku yang bisa hidup bahagia dengan keluarganya.😦

    La, kamu harus bisa lawan rasa hampa itu. Mami ga akan tenang liat anak gadisnya sedih seperti ini.
    Aku ambil ini dari The Secret :
    Lakukan apa yang Anda sukai. Jika Anda tidak mengetahui apa yang membuat Anda gembira, tanyakan,”Apakah kegembiraan saya?” Ketika Anda berkomitmen pada kegembiraan Anda, Anda akan menarik serangkaian hal yang menggembirakan karena Anda memancarkan kegembiraan.

    Yang aku tau Lala adalah gadis kuat (uuu sok tau ya aku🙂 )

    Posted by Reti | April 15, 2008, 8:21 pm
  7. Ndang pulang Jeung…
    Sempet2in.. sebelum kenikmatan mudik itu hilang😛

    Posted by Menik | April 17, 2008, 10:46 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: a picture perfect of a place that I called home « the blings of my life - September 24, 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: