you're reading...
Blings of My Novels, Novelet Bersambung: Mei & June

mei and june (7)

Dalam kebimbangannya, tiba-tiba seorang perempuan muda berteriak lantang dengan nada sangat riang. Perempuan itu memanggil namanya lalu berlari mendekati June.
Itu Mei!
Sahabatnya yang sudah bertahun-tahun tak bersua.

Senyum June mengembang, kemudian mereka berpelukan erat seperti layaknya teman yang lama tak bertemu. Mereka berceloteh ramai soal penampilan, gaya rambut, dan rasa kangen mereka.
Di hati mereka terletup cerita, tapi mereka biarkan saja hari ini rasa kangen yang membuncah.
Di bawah langit Surabaya yang sebentar lagi akan tumpah airnya membasahi daratan di bawahnya, June mengajak Mei masuk ke dalam mobil dan membawanya ke RumahKue, café mungil miliknya.

*

“Jadi ini nih, RumahKue yang terkenal di Surabaya…?” komentar Mei sesaat setelah masuk ke dalam café mungil yang cozy itu. Disambut suara Michael Buble yang menyanyikan lagu-lagu jazz yang lembut, Mei duduk di sebuah sofa yang kosong. “Very nice, June!”

“Makasih, Mei,” katanya sambil ikut duduk di sebelah Mei. Dia melongokkan kepalanya, mencari-cari waitress yang bisa membantunya. Setelah melihat Gita sedang berjalan dari teras menuju ke dalam, dia memanggilnya.

“Git…Gita… tolong bawain aku milkshake coklat sama cheese cake dong… Mmm… Mei,” kata June lalu menoleh ke sahabatnya, “Kamu mau apa?”

“Apa yang spesial di sini?” tanya Mei sambil membalik-balikkan buku menu.

“Mbak lebih suka yang mana? Hangat atau dingin? Kalau yang dingin, bisa pilih Strawberry slush, Orange Milkshake, Shirley temple on ice… Kalau yang hangat-hangat seperti susu coklat panas dengan taburan kayu manis, favorit di sini, Mbak…” Gita menjelaskan dengan profesional membuat June mengangguk-anggukkan kepalanya tanda puas.

“Kayaknya Strawberry slush-nya seru tuh, June… Mau dong?” Mei seperti anak kecil yang kegirangan. “Eh, eh, June. Di sini ada tiramisu kan?” Mei bertanya sambil membolak-balik buku menunya sekali lagi.

“Ada, Mbak,” tukas Gita. “Mau dalam potongan kecil atau besar?”

“Kecil sama besar.. Hm… Memangnya, seberapa banyak bedanya?”

“Yang kecil, mungkin hanya dalam beberapa suapan saja, kalau besar, sih, bisa dimakan untuk berdua…”
Mei melirik June dengan genit. “Mmm… yang besar aja, deh, Mbak… Gratis ini…” katanya centil.

“Baik, Mbak. Silahkan tunggu pesanannya, kalau butuh bantuan sesuatu, bisa menghubungi saya, Gita.” Gita berlalu dengan senyum manis.

“Elo ini, dari jaman gajah masih pesek sampe belalainya panjang, teteeeepppp aja suka yang namanya gratisan… Ga modal lo, ah!” June mencandainya setelah Gita berlalu dari pandangan.

“Siapa yang nggak suka gratisan sih, June. Mau gajah belalainya makin panjang kek, aku nggak pernah menolak sama yang namanya gratisan. Emangnya kamu nolak, apa?”

“Yaaa, dibahas deh…” kata June sambil menyandarkan punggungnya.

“Emmm.. kamu bolos ya June, hari ini?”

“Demi elo, kali…”

“Hehehe…” Mei cengar-cengir. “Abis udah lama banget aku nggak pulang ke Surabaya, June…”

“Dan emang kamu nggak ada rencana pulang, kan, Mei?”

Mei menganggukkan kepalanya.
“San Francisco sudah seperti rumah kedua buat aku, June. Aku familiar banget dengan udaranya, dengan bau lautnya, dengan jalannya yang naik turun… And of course, the Golden Gate Bridge! Napa Valley…”

“… Matt…” celetuk June lalu melirik sahabatnya.

Mei memandangnya setelah menghela nafas dengan berat, “Iya, June. Matt. Aku sudah terbiasa dengan Matt ada dalam hidupku.” Si cantik bermata kucing itu menerawang, seperti membayangkan Matt di dalam bola matanya. “Aku kangen dia, June,” katanya lirih.

June menyentuh lembut tangan sahabatnya. “Tapi elo udah pisah baik-baik, kan? Dia udah tau kalo elo nggak bakal balik ke Amerika, kan?”

Mei hanya mengangguk.

“Lantas, apa katanya?”

“Dia bilang, dia cinta sama aku, June…” katanya lirih.

“Whattt??? Dia bilang cinta sama elo, Mei? When, how…” June terlihat bersemangat. Bola matanya yang bulat cantik semakin membulat karena terlalu excited.

“Sebelum aku pulang kesini, he said he loves me… and then we kissed…” Mei menghela nafasnya dan membuat June kehilangan rasa bahagianya.

“Tapi…? I heard ‘but’ sounds…”

Senyum kecut menghiasi wajah Mei. “Tapi aku nggak mau dia meninggalkan istrinya demi aku, June.”

“Terus, maksud elo apa, Mei? Harusnya kan elo bahagia karena Matt cinta ama elo…?”

“Justru itu, June… aku merasa dilematis beraaattt…”

“Kenapa, Mei?”

“Karena…”

“…”

“Karena Sybill adalah perempuan yang sangat sempurna…”

Sesaat kemudian, Gita datang membawa pesanan mereka, sementara Mei dan June bermain dengan angan masing-masing.

to be continued

mei and june (8)

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: