you're reading...
daily's blings, Thoughts to Share

running away…..

Dering telepon yang cukup bising membuat saya, meski bergerak malas-malasan, mengangkat gagangnya sebelum bunyinya semakin menyiksa dan menipiskan gendang telinga.

Oh, ternyata dari sahabat saya. Beberapa hari sebelumnya saya sempat menginap di rumahnya lalu bercerita panjang lebar soal ke-mellow-an saya. Saat itu dia mendengarkan sambil memberikan nasihat tentang sabar dan ikhlas (jadi ingat Kang Abik di novelnya yang sekarang sudah jadi film yang fenomenal… Ayat Ayat Cinta). Jadi ketika saya menerima teleponnya, saya pikir, dia hanya menanyakan bagaimana kabar saya setelah proses ‘brainwashing’ di Starbucks sampai larut malam dengan kedua sahabat yang lain.

Tapi…. bukan itu yang terlontar keluar dari bibir tipisnya (yang bujubune bikin saya ingin bertindak anarkis karena tiba-tiba berniat untuk mengikat bibir sok seksinya itu ala rambut diekor kuda 🙂 — but still, I love you.. hehe). Dia malah bertanya ini:

“La…. seandainya Ly pulang dan gue yang berangkat ke sana, gantiin dia… gimana?”

Okay.

Sebelum semakin tersesat, saya ceritakan dulu siapa Ly, apa maksud dari ‘pulang’ dan ‘berangkat menggantikan dia’.

Ly adalah salah satu sahabat saya yang kini terdampar di negeri orang. Dia mulai mengais rejeki di sana sejak bulan Desember 2006, bekerja di agency TKI dengan pekerjaan utama membantu pengurusan penyaluran TKI, mulai dari yang remeh sampai yang berhubungan dengan pihak berwajib *so far, gua ada yang salah ga Ly? hehe*

Dengan tawaran gaji yang lumayan dan kehebatannya menabung, Ly akhirnya memutuskan untuk berangkat ke sana, dengan pertimbangan, kelak, dia bisa hidup ongkang-ongkang kaki 🙂  Tapi.. itu yang dia bilang pada kami sebelum dia berangkat, karena ternyata, setelah beberapa bulan ‘tersiksa’ di sana, dia baru mengaku kalau sesungguhnya.. dia sedang berlari, persis seperti yang sudah kami duga sebelumnya.

Suatu malam di Chubo Chubo, saya dan Yun seperti hakim yang sedang mengadili seorang terdakwa dan mengaku tidak bersalah. Dia hanya bilang, dia ingin mencari uang sebanyak-banyaknya, lepas dari segala yang sentimentil-sentimentil itu. Tapi saya dan Yun tahu, dia sedang kesakitan karena cinta yang tak dia sangka bisa muncul di hatinya. Dia sedang kesakitan, karena cinta itu tak bisa dimilikinya.

Lalu dia lari… Bersembunyi dengan topeng bernama Pengalaman Baru… Pura-pura bahagia… meskipun akhirnya, di dalam blognya, dia mengaku… dia memang telah berlari.

Percakapan saya dan dia lewat Yahoo!Messenger beberapa bulan setelah dia terdampar di sana, membuat saya sedih dan ingin merangkulnya seketika. Dia hanya mengaku, kalau dia memang sedang berlari, tapi ternyata, cinta itu masih ada dan menyakitkannya 😦

Sebentar lagi dia akan pulang. Usai sudah perjanjian kontrak kerjanya dan dia sedang bingung mencari penggantinya.

Saat itulah, Lin, sahabat saya tadi, menelepon saya, untuk bertanya, bagaimana kalau dia yang menggantikan Ly.

Saya : boleh tahu, alasannya apa?

Dia : karena aku tertarik dengan gajinya….

Saya: hanya itu?

Dia : mm… karena aku ingin melihat dunia

Saya : sudah? Tidak ada alasan yang lain?

Jeda sebentar. Dia seperti mengatur nafasnya. Saya meraba ketakutannya… dan seketika juga, saya merasakan ketakutan yang sama.

Dia : aku…

Saya : (menanti dengan sabar, meski cemas)

Dia : …. aku ingin melupakan dia.

Lalu terbayanglah sosok laki-laki yang disebut sebagai ‘dia’ tadi. Setahun belakangan ini, ‘dia’ sudah mengacaukan hari-hari Lin, meskipun datang sebagai lelaki sempurna, yang telah perlahan-perlahan menumbuhkan kepercayaannya bahwa cinta itu ada dan bukan sekedar kata-kata dalam novel, yang kemudian mengajaknya masuk ke dalam dunia warna warni bernama romansa, yang membawanya terbang sampai ke langit ketujuh seraya menawarkan janji-janji surga, tapi kemudian, si Sempurna itu… melepas sayapnya dalam satu hela nafas dan membiarkan sahabat saya jatuh mengaduh kesakitan, menangisi kisahnya… sampai sekarang.

Dia: aku nggak tahu bagaimana caranya untuk melupakan dia, La…

Saya : dan menurut kamu, dengan pergi menjauh dari sini, dari dia, lantas semuanya akan baik-baik saja?

Dia : entahlah.. mungkin..?

Saya : don’t run away, Lin. Jangan seperti Ly. Dia sudah repot-repot menyiksa dirinya sendiri, dengan menempatkan jarak di antara dia dan orang-orang yang mencintainya di sini, tapi yang ada, perasaan itu nggak pernah pergi… bahkan sampai hari ini.

…. because no matter how far is the distance you put between you and that guy… you can’t run away from him… coz he’s there… in your heart… you take him with you…

Saya : Berlari tidak membuatmu lupa, Lin. Itu sama saja seperti menyembunyikan sesuatu di tumpukan pakaian di dalam lemari. Suatu saat, entah kapan, kamu akan melihatnya lagi. Dan aku takut, kamu akan lebih tersiksa nantinya…

Dia : (diam. hanya hela nafasnya yang terdengar)

Saya : Atau jangan-jangan, kamu juga ingin membuktikan apakah dia akan kehilangan kamu, nanti?

Dia : La… (agak tertahan)

Saya : Iya?

Dia : Memang ada sedikit keinginan untuk tahu bagaimana reaksinya. Sakitkah? Kangenkah? Apa dia akan melarang aku pergi? Lalu menyuruhku tetap di sini…

Saya : Kalau tidak?

Dia : … mmm…

Saya : Kalau yang terjadi adalah sebaliknya, bukankah bertahun-tahun berikutnya di negeri orang, jauh dari kami yang mencintaimu, kamu akan tersiksa sendiri? Atau menyesali… Atau meratapi nasibmu… And I don’t want that to happen, Lin. You’re my bestfriend! I don’t wanna see you hurting yourself like that…

Dia : Jadi…. kamu nggak setuju, kalau aku pergi?

Saya : (menghela nafas sebentar) Kalau karena kamu running away, aku nggak ingin kamu akan menyiksa dirimu sendiri. Tapi kalau karena ekonomi… karena kamu ingin melihat dunia… well… hey, terserah kamu. Ini adalah hidupmu. Kamu yang merasakan segala efek samping dan resiko-resiko dari setiap pilihanmu. But don’t worry, aku tetap akan ada buat kamu, meskipun kamu salah pilih… meskipun kamu malah sakit hati…

Dia : I don’t know what to say…

Saya : then don’t say anything.

Dia : aku takut, aku bikin kesalahan…

Saya : seperti kata-kata di film PS I love you, kalau kamu takut salah, jangan jadi manusia… tapi jadilah bebek. Gimana?

Dia : (tertawa) kamu bisa aja…. aku kan bukan bebek… tapi babi imut…  

Saya : ya, ya, ya.. bisa tersinggung bebek-nya kalau disama-samain sama kamu…

Dia : (tertawa kecil) thanks ya La…

Saya : why?

Dia : karena paling nggak, aku punya bahan untuk berdiskusi dengan hatiku sendiri….

Setelah mengucap salam perpisahan, saya meletakkan gagang telepon yang sudah mulai panas itu ke tempat semula. Saya memang menatap kembali layar monitor di depan saya, tapi pikiran saya seolah tidak mau berkompromi untuk fokus terhadap laporan yang sedang deadline, dan malah terdistraksi oleh satu pertanyaan dari hati kecil saya ini:

La…. kamu yakin, kamu tidak running away juga?

….dari ketakutanmu akan kesendirian

…..dari ketakutanmu akan tak bisa dicintai…

sehingga kamu merintih sakit, ketika dia butuh waktu sendiri?

 

*sigh*

Okay. Okay. Iya.

Saya janji akan telepon Lin.

Segera setelah rasa malu saya hilang, lalu minta maaf padanya atas nasehat-nasehat sok dewasa saya soal running away… karena sebenarnya, saya malah sudah melarikan diri, jauh sebelum dia berencana melakukannya…

 

ini untuk kamu, Lin 🙂

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

4 thoughts on “running away…..

  1. jangan lari, karena semakin kamu lari, semakin terus dia mengejarmu.. hadapi aja,, pelan tapi pasti, dia akan pergi dengan sendirinya…

    Posted by niaalive | April 9, 2008, 3:45 pm
  2. menghapinya memang tak mudah, tapi tak mustahil dilakukan. dengan kehadiran sahabat dan orang yang sayang kita di sekeliling kita, akan selalu menguatkan kita untuk selalu berjuang menghadapi segala ragu yang ada. karena Tuhan tak kan pernah meninggalkan kita dalam kesendirian dan keraguan, dia akan mengirim ridhoNYA kepada orang-orang di sekitar kita.

    Posted by Rere | April 11, 2008, 5:31 am
  3. tapi ‘lari’ juga enak. kalo enggak bagini….kapan lagi melihat dunia.
    sama seperti ‘sabrina’ lari gak selamanya jelek kok. bisa nambah ilmu dan pengalaman. balik2 eh malah dapat kakaknya yang lebih kaya dan sayang.hehehehe
    itu mah kalo bisa jadi kenyataan

    🙂 Lilyana

    Posted by lily | April 14, 2008, 2:36 pm
  4. kira-kira yang baca bakalan tau gak yah, siapa-siapa aja yang tersebut diatas 🙂
    “lari” bisa diartikan dengan berjuta rasa, tergantung siapa yang lari, dan apa tujuannya buat lari!
    lari bisa jadi enak, buat yang ikut program diet, kalori yg terbakar lumayan banyak lho! tapi lari juga bisa bikin gak enak kalo yang lari itu waria-waria yang mau kena rasia hansip! dan mungkin aja lari adalah salah satu cara buat “lin” untuk bisa melupakan “dia”!
    mungkin dengan lari “lin” bisa sejenak melupakan “dia”, walaupun nanti ketika kita berhenti berlari, nafas kita justru makin tersengal-sengal, karena keletihan! tapi keletihan itu bisa membuat kita sedikit melupakan rasa sakit, dan membantu kita tertidur lelap dalam keletihan! karena hanya dalam tidur-lah, “lin” bisa berhenti sejenak, beristirahat sebentar untuk memikirkan “dia”!
    anyway, i love you, la! i miss you, ly! sekarang gue cuman bisa bilang, coba ada kalian disini, disamping gue! meluk gue erat-erat, seperti waktu gue kehilangan mama dan papa!

    Posted by linda | April 16, 2008, 6:15 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: