you're reading...
Blings of My Novels, Novelet Bersambung: Mei & June

Mei and June (4)

Di dalam mobil berpendingin yang membawanya pulang dari apartemen June, lelaki bule dengan perawakan tinggi besar dan kulit berbintik-bintik coklat itu memandang kosong langit Surabaya yang sebentar lagi ditinggalkannya.

Dia merasa hampa. Ada perasaan sakit yang membuatnya gelisah menjelang keberangkatannya ke Paris, hampir empat belas hari lagi.
Semuanya sudah siap. Ijin tinggal, passport, surat referensi, bahkan apartemen mewah yang akan menampungnya selama bekerja di Paris sudah disiapkan untuknya. Erica, rekan bisnisnya yang mengatur semua detil pamerannya di Paris, sudah menyiapkan segalanya. James hanya tinggal duduk manis di pesawat lalu sampai ke Paris, tempat mimpinya menjadi kenyataan.

Tapi…

Dia tak bisa meninggalkan June.
Perempuan sumber segala inspirasinya selama bertahun-tahun tinggal di Indonesia. Perempuan yang mencuri nafasnya saat sedang kehilangan ide dan berjalan-jalan di lereng-lereng Ubud yang basah dan segar. Perempuan modern tapi sekaligus klasik yang menjadi segala-galanya selama dua tahun belakangan ini. Yang menghilangkan kebuntuan idenya lalu mencerahkan seluruh pikirannya.

Sampai terwujud pameran bergengsi di Paris, Perancis yang menjadi impiannya selama ini dan sekaligus mengakhiri keindahan romansanya dengan June.
June tak mau pergi ke Paris.
Hatinya tertambat di sini.
Karirnya, hidupnya, keluarganya… semuanya.
June tak mungkin bisa meninggalkan Surabaya dan ikut menyemarakkan mimpi-mimpinya.
Dan sementara… perempuan itu tampaknya tak keberatan.
Si Cantik itu… tak menghalang-halanginya pergi. June membiarkan James meraih mimpi-mimpinya… as simple as that, di saat James sesungguhnya ingin merengkuh June dan membawanya pergi ke dunia yang dicintainya.

Home, Sir?” Santo, si Supir yang sebentar lagi akan berhenti menjadi driver andalannya, bertanya sambil melirik dari kaca spion dalam.

James melorot di kursi belakang setelah menganggukkan kepalanya perlahan. Dia membuka kaca jendelanya, membiarkan angin pagi Surabaya memainkan anak-anak rambutnya. Hatinya bergetar. Dia hanya mendesah dengan gelisah.

Oh June… tell me how am I supposed to live without you…

Dan seketika itu juga, suara Michael Bolton seperti mengudara dalam setiap denyut nafasnya.

tell me, how am I supposed to live without you
darling I’ve been loving you so long
how am I supposed to live without you
and how am I supposed to carry on
when all that I’ve been living for is gone…

to be continued

Mei and June (5)

 

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

3 thoughts on “Mei and June (4)

  1. hmmm..
    saya belum baca 1,2,dan 3 nih..
    😦
    baru nyasar sekarang soalnya..
    keep on writin..!!
    salam blogesphere..

    selamat datang…. sekarang uda nggak nyasar, kan? monggo kalau mau main-main ke sini… salam kenal juga.. saya meluncur ke tempat kamu yaa.. 🙂

    Posted by tehaha | April 7, 2008, 12:18 pm
  2. aq blum sempet baca, kantor lagi sibuk pindahan, wiken sibuk event, saya baca nanti ya kalu bos saya udah tidur

    Posted by niaalive | April 7, 2008, 3:07 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Mei and June (3) « the blings of my life - April 7, 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: