you're reading...
Blings of My Novels, Novelet Bersambung: KAWIN YUK!

(Imel) Cowok Sinting Part. 1

Ting!

Bunyi pertanda lift sudah dengan selamat membawaku ke lantai 1 membuat aku segera keluar dari tabung mesin canggih itu. Sudah pukul tujuh lebih sedikit. Seharusnya aku sudah pulang dua jam lebihcepat, kalau saja Bosku ‘tercinta’ tidak ber’baik hati’ mengadakan acara dari hari ke hati antara aku dan dia, yang artinya sama saja: obrolan nggak penting.

But, that’s not the only highlights of today dan membuatku mendadak dangdut, eh, sinting lalu ingin segera pulang ke rumah, mengeloni Ami, boneka sapi kesayanganku, lalu tidur sampai pagi.

Bagaimana nggak?
Okay. Dengar baik-baik.

Hari ‘indah’ ini dimulai dengan setting kota Surabaya yang dingin karena hujan turun rata di seluruh area. Dan di hari yang indah tadi itu, aku harus masuk kerja menjadi seorang sekretaris Bos yang katanya mata keranjang.
Kenapa aku nekat? Hmm… karena… Bos yang aku bilang mata keranjang tadi itu adalah teman baik Mas Arman, alias kakak iparku, dan si Basket Eye (apa ya, bahasa Inggrisnya?) itu menawarkan gaji yang luar biasa dahsyatnya untuk fresh graduate(yang sebetulnya tidak fresh-fresh amat karena sudah lulus sejak satu tahun setengah yang lalu tapi masih pengangguran) seperti aku.

Well…
Mau mata keranjang, kek. Mau nafasnya bau, kek. Bukan masalah buat aku, karena tawaran pekerjaan seperti ini adalah satu-satunya kesempatan buat aku untuk membuat Mamah bangga… mmm… lebih tepatnya, membuat Mamah lega karena akhirnya aku bisa lepas juga dari kasur, bantal, dan guling. Rupanya, diam-diam Mamah berdoa pagi, siang, sore, dan malam supaya aku bisa segera berhenti menjadi omongan para tetangga. Mereka sering bilang, “Sekarang, percuma sekolah tinggi-tinggi, kalau akhirnya cuman ngelonin bantal guling di rumah…”

Sebagai seorang anak yang berbakti dan mencintai Mamah-nya, pasti bisa merasakan bagaimana perihnya hati seorang Ibu kalau anaknya dihinadina begitu (eh, sebelum lupa, kenapa ‘dina’ harus selalu dihina ya?). Makanya, setelah ikut berdoa siang-malam, akhirnya datang juga tawaran dari Mas Arman.

Dari pengakuannya sih, sebetulnya Mas Arman agak nggak tega juga menawariku menjadi sekretaris Pak Donny, sahabatnya waktu kuliah dulu. Alasannya, karena dia tahu betul karakter Pak Donny dan sebenarnya aku menggantikan posisi Manda, sekretaris sebelumnya, yang tidak betah dengan “perlakuan” Pak Donny. Dan FYI, Manda baru bekerja selama dua bulan – satu bulan kedua adalah masa-masa one month notice, yang artinya, dia sudah mengajukan surat pengunduran diri pada bulan pertama. Hm. Penasaran jadinya. Memang, sedahsyat apa sih?

Saat pertama kali masuk ke dalam ruang kerja, mata Pak Donny sudah mulai usil. Padahal asal tahu saja, karena sudah diwanti-wanti mas Arman untuk tidak berpakaian seksi, aku sengaja memakai pakaian super sopan, yaitu celana pipa panjang dan kemeja lengan panjang dengan kancing tertutup rapat sampai yang paling atas.

Dengan kacamata yang terbingkai di wajah, walhasil, pagi ini, aku sudah dibilang mirip America Ferara, dalam karakternya di film Ugly Betty, alias freak.

Tapi itupun tidak membuat Pak Donny ilsrat alias ilang hasrat. Tetap saja Bos baruku itu dengan teganya memandangiku dari ujung rambut sampai jempol kakiku yang mengintip di balik open toe shoes warna coklat gelap.

“Imeldaa…” Pak Donny sengaja menggantung kalimatnya. “…Lesmana,” katanya setelah beberapa detik kemudian. “Jadi ini adiknya Susan yang cantik itu, ya?”
“Iya, Pak…”
“Ha, ha, ha…” Pak Donny tertawa dengan tidak pentingnya. “Telinga saya langsung gatal-gatal mendengar kamu bilang begitu, Mel… Membuat saya keliatan tua saja… Bukannya kamu memanggil si Arman itu… Mas?”

Umur Pak Donny memang seperti Mas Arman, tapi untuk lancang memanggil dia Mas… duh, sepertinya aku bisa dijadikan bulan-bulanan di kantor. Lagipula, tentu saja aku memanggil Mas Arman dengan sebutan Mas, bukan Bapak. Lha dia itu kawinnya sama Mbak Susan, kok, bukan sama Mamah *amit-amit jabang bayi…*

“Mmm.. tapi tidak apalah,” katanya masih dengan mata yang seolah-olah memiliki kekuatan ala Superman, yang bisa membuat segalanya tembus pandang. “Yang penting, kamu jangan sungkan-sungkan sama saya, ya, Mel. Karena Arman itu adalah teman baik saya, jadi anggap saja saya ini kakakmu juga…”

Kalau Pak Donny saya anggap kakak sendiri, boleh nggak saya minta tolong untuk berhenti memandangi saya kayak anjing minta kawin? — dannn… tentunya kata-kata ini hanya mengusili pikiranku yang sebal dengan sikap lancangnya.

Aku hanya bisa mengangguk.

“Oh ya, Mel. Soal jobdesc kamu sebagai sekretaris saya… sederhana saja. Kebetulan saya ini bukan orang yang well-organized, jadi saya butuh kamu untuk membantu saya merapikan files, membuat meeting minutes, menjawab semua telepon yang masuk buat saya, arranging all my appointments, dan… oh ya, menemani saya ketemu klien penting kalau memang saya butuhkan.”

Okay.
Sampai di situ tadi aku sangat well-aware dengan posisiku sebagai sekretaris, meskipun sebenarnya latar belakang pendidikanku adalah Sarjana Teknik, tapi paling tidak, tentang dunia kesekretarisan sudah sering aku lihat di film, sinetron, atau membacanya di novel-novel.

Hanya saja, sayangnya, Pak Donny malah menambahkan beberapa poin tambahan yang membuat aku seperti ingin berteriak.
Ini adalah beberapa yang berhasil aku ingat:

1. Datang satu jam lebih awal, menyalakan AC ruangan, menyemprot pengharum ruangan, mengelap meja, dan mengganti bunga di vas setiap dua hari sekali… dengan bunga yang berbeda.

2. Mengaktifkan komputer, memeriksa e-mail yang masuk, mengkategorikan e-mails tersebut dalam beberapa kategori (Must Read, Read If You Had Time, For God Sake Please Don’t Read, dan satu lagi Please Read It When You’re Alone — tahu dong apa maksudnya?), print-out email-email penting lalu ditaruh di dalam file case, discuss when needed.

3. Menjelang pukul delapan pagi, memasak air panas untuk minum teh, mempersiapkan perangkat untuk ritual minum teh, dan menghidangkannya saat Pak Donny sedang membaca e-mail.

4. Kalau Pak Donny sedang not in the mood for outside lunch, sekretaris yang baik budiman sudah harus pergi membelikan makanan di kantin saat jam makan siang.

5. …. mmm… apa lagi ya? Lupa… lupa… Seharusnya aku catat tadi. S**t!!

Nah. Karena Pak Donny baru memberitahukan segala detil laknat itu tadi pagi, maka ritual-ritual sebelumnya, alias poin 1 sampai 3 baru akan dilakukan mulai besok pagi. Jadi, hari ini, dimulai dengan poin ke-4, yaitu menyiapkan makan siang.

Pukul setengah dua belas siang, di saat telinga saya mulai berdenging karena terlalu bisingnya suara telepon yang masuk dan suara serak-serak becek karena kebanyakan greeting, telepon warna putih di samping kanan komputerku itu berbunyi. Canggih juga, karena aku tidak perlu mengangkat telepon, tapi cukup menjawab dengan suara agak keras melalui loudspeaker.

“Imel?”
“Saya, Pak.”
“Siang ini saya malas keluar… Hujan deras, semua client memundurkan janjinya sampai besok siang. Takut kena macet, katanya.”
“Iya, Pak.”
“Bisa minta tolong belikan makan siang di kantin?”
“Kantin, Pak?”
“Iya. Baik, Pak.”
“Tahu di mana?”
“Nggak, Pak.” Begoo… begooo… nanya dong, Mel! Tapi sudahlah, jangan menyesal. Mengutip kata-kata Mbak Dessy Ratnasari jaman dahulu kala, memang menyesal itu tidak pernah di awal. Jadi buat apa menyesal, toh sudah kejadian ini, kan?

Pak Donny malah tertawa. Ganteng juga sebenarnya. Perpaduan George Clooney dan Mamiek Prakoso — memang perlu daya imajinatif yang luar biasa untuk membayangkan seperti apa wajahnya, tapi percayalah, dia memang cukup layak menjadi Don Juan, mengingat faktor tampang dan dompet tebal yang dia miliki itu tadi.

Anyway…
Saat itu Pak Donny mendeskripsikan kantin karyawan itu kira-kira seperti ini:

Letaknya di lantai 7. Tidak terlalu besar, malah nyempil di pojokan. Soal ramai? Jangan ditanya. Ramai banget karena memonopoli, apalagi musim hujan begini, di mana orang-orang malas berbecek-becek ria di warung-warung belakang gedung. Dan satu hal lagi,

“Sebaiknya kamu pergi sekarang, karena musim hujan begini, kantin lebih ramai dari biasanya.”

Akhirnya, setelah mengantongi selembar uang lima puluh ribu dari Bos, aku celingak-celinguk mencari kantin di lantai 7. Sampai di kantin, ternyata masih belum nampak tanda-tanda ‘kehidupan’. Yang terlihat hanya beberapa pegawai kantin, Ibu kantin yang berusia empat puluhan tapi bahenol, dan seorang laki-laki yang kemungkinan besar adalah suaminya dan langsung mengingatkan aku pada Mas Adamnya mbak Inul — tentunya dari berewok tebelnya yang sadis tapi romantis🙂 (lebih susah membayangkan ini daripada tampang Pak Donny kan? hehe)

Setelah memilih makanan, menunggu dibungkus, dan menerima uang kembalian, aku segera naik ke lantai 8. Karena tidak sabar menunggu lift, aku memutuskan untuk lewat tangga saja. Toh cuman satu lantai ini. Efeknya tidak akan se-signifikan kalau aku menggenjot becaknya Pak Brewok (tukang becak andalan di kompleks) sehari semalam, jadi ya sud lah, naik tangga saja.

Pertama kali nongol di depan kantor, Saskia, resepsionis cantik tapi warna lipstick-nya benar-benar nggak banget itu (okay, gothic memang lagi trend, tapi kalau ke kantor? Siang hari pula? C’mon…) menyapa, “Mbak Imel…… abis dari kantin ya?”

“Iyaaaa…”
“Beli apa?”
“Nasi capcay… tambah ayam goreng… sama jus alpukat.”
Wajah Saskia langsung berubah.
“Duuuhh… enak banget ya, Mbak? Tadi sepi, ya?”
“Iya.”
“Tahu gitu, Saski nitip Mbak Imel…”
“Emang kamu ada banyak kerjaan ya, Sas?”
“Ngg… nggak juga sih, Mbak…”
“Terus? Kan bukannya enakan beli sendiri, pilih-pilih sendiri mau makan apa… Makan di kantin juga lebih nyaman kan, daripada makan di dalam kantor?”

Saskia tersenyum.
“Mbak belum tahu aja, sih… Mm, Mbak Imel nanti bareng Saski aja makan di kantin, supaya tahu ‘seru’nya kayak apa. Mau?”
“Tapi aku bawa bontot dari rumah, Sas…”
“Bontotnya dimakan di kantin aja… Karyawan, baru disebut karyawan sejati, kalau sudah makan di kantin legendaris itu,” kata Saskia sambil tersenyum-senyum manja menggoda, mirip Trio Macan.

Aku mengerutkan dahi. Maksudnya?

“Udah deh, Mbak. Cepet dikasih ke Pak Donny, terus kita kabur ke kantin…” Saskia seperti bisa membaca pikiranku. “Ayuk, ayuk… cepetan… Udah hampir jam 12, kalah set ntar kita…” Saskia mendorongku supaya cepat bergerak (at some point, aku merasa seperti mobil mogok yang didorong paksa supaya mau bergerak).

Dan ternyata…
Kantin yang melegenda itu… memang sangat, sangat, fantastis di jam makan siang. Untung saja aku, Saskia, dan Mbak Mega (staff purchasing yang doyan ngemil kacang goreng — dan terbukti, kemana-mana bawa kacang goreng) sudah datang sebelum kantin mulai ramai. Mungkin, kantornya Pak Donny adalah satu-satunya kantor yang membiarkan karyawan-karyawannya ‘lepas kandang’ sebelum pukul 12, jadi kami sudah bisa duduk tenang di meja sebelum kantin ramai diserbu teman-teman dari lantai yang lain.

Melihat ‘pertumpahan darah’ seperti itu, aku sangat bersyukur karena sudah mendapatkan tempat duduk yang nyaman dekat wastafel, dekat pintu masuk. Aku bilang nyaman, karena dengan begitu, aku bisa cepat-cepat mengakses wastafel dan kamar mandi kalau sewaktu-waktu ada panggilan alam🙂

Saat ngobrol ke kanan dan ke kiri, menggosipkan artis sampai Juwita, mantan sekretaris Pak Donny yang katanya keluar dari kantor karena hamil dan nggak jelas siapa Bapaknya (like I care.. hehe), dan menghabiskan dua tahu isi, tiba-tiba Pak Donny menelepon.

“Imel sudah selesai makan?”
“Sudah, Pak….” … makannya, gosipnya yang belum.
“Kalau gitu, bisa langsung ke atas? Saya perlu bantuan kamu.”
“Baik, Pak.”
“Segera, ya, Mel. Sudah mepet waktunya.”

Aku segera membereskan tempat bekalku dan menyeruput jus jeruk yang sampai tandas. Saskia dan Mbak Mega malah berpandang-pandangan.

“Dipanggil Bos?”
“He-eh.”
“Minta ditemenin tidur siang, kali, Mbak…” Saskia mulai cekikikan, diikuti dengan kompaknya oleh Mbak Mega yang tidak bisa berhenti mengunyah kacang goreng. Aku merengut.

“Udah ah. Aku balik dulu, ya?”

Dan…

Saat aku terburu-buru itulah, tragedi siang hari itu terjadi…

to be continued….

cowok sinting part 2

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

3 thoughts on “(Imel) Cowok Sinting Part. 1

  1. Panjjjjaaangggggg

    malez baca… kpn2 ajah ya….
    dah pusing mata ini

    Posted by Rere | April 1, 2008, 5:33 pm
  2. iyaa panjaaang, aq akan baca di wiken yaaa, aq mana bagiannya??
    cup cup

    ada tuh… coba lebih teliti lagi bacanya🙂 tar lama2 juga ketauan…

    Posted by niaalive | April 1, 2008, 6:41 pm
  3. eits tunggu dulu…tunggu dulu…
    kok ngga bilang sih pake NAMA GUE.?
    perlu diabadikan nih…

    ntar baca lagi yang seksama😉

    Posted by Ikkyu_san | June 1, 2009, 11:59 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: