you're reading...
Blings of My Novels, Novelet Bersambung: KAWIN YUK!

(Abet) Bidadari Kantin

Gua keluar dari lift dengan pandangan mata yang cukup takjub ketika melihat pemandangan di depan mata gua yang begitu ‘indah’. Gua bilang begitu, karena saat ini kantin karyawan lebih mirip tempat pelelangan ikan di daerah pesisir Jawa Tengah sana ketimbang tempat makan. Benar-benar jauh dari sentuhan rasa kemanusiaan sama sekali.

Bagaimana gua nggak bilang ini jauh dari rasa kemanusiaan, kalau para manusia-manusia di dalamnya saling sikut-menyikut, dorong-mendorong, teriak-teriak, jambak-jambakan (yang terakhir ini hanya untuk mendramatisir suasana aja, kok, jadi tolong berhenti membayangkan sampai bagian teriak-teriak aja ya). Cukup brutal dan membuat gua agak merinding untuk masuk ke dalam sana.


Ya, beginilah suasana kantin karyawan lantai tujuh yang memang paling ramai di jam-jam begini, alias jam makan siang, alias jam 12 sampai jam 1 (siang, pastinya). Apalagi kantin ini menjadi satu-satunya alternatif saat hujan mengguyur deras dan membuat genangan air di mana-mana, di mana rasio antara karyawan yang memiliki kendaraan pribadi dan yang hobi nebeng ke kantor adalah 1 dibanding sekian puluh orang, maka cukuplah sangat beralasan mengapa gua bilang kantin ini akan menjadi sangat ramai dan bikin emosi jiwa buat orang-orang yang nggak punya alternatif lain untuk menyumpal mulut para cacing-cacing yang berteriak kelaparan nun jauh di dalam sana.
Dan itu termasuk gua.

Biasanya, kalau sudah seramai ini, kaum-kaum “menderita” seperti gua ini harus segera mengatur strategi dengan dua alasan yang sungguh bisa dipertanggungjawabkan. Pertama, supaya bisa dapat tempat duduk di sana. Dan kedua, tentunya harus mendapat jaminan bahwa setelah dapat tempat duduk, masih ada makanan yang tersisa buat gua. Karena amatlah sangat konyol kalau gua hanya duduk-duduk di sana dan bengong melihat mereka-mereka yang lain makan dengan lahapnya. Gua masih punya perasaan yang cukup sensitif untuk menangis cukup tersedu-sedu di sana dan membuat orang mengira gua cowok ganteng yang disia-siakan, lalu mereka berbondong-bondong untuk menenangkan gua 🙂

Eniwei, karena itulah, penyusunan strategi ini harus melibatkan, paling tidak, tiga orang. Orang pertama bertugas untuk memanjangkan leher serta mempertajam pandangan mata dan mencari-cari kursi yang kosong. Orang kedua bertugas untuk mengantri makanan. Lalu, apakah tugas orang ketiga? Hm, orang ketiga ini bertugas sangat penting dalam keberhasilan misi ini, karena dia adalah orang yang akan mondar-mandir dan sangat dibutuhkan kalau tiba-tiba dompet orang kedua ketinggalan dan butuh sokongan dana dari orang pertama, syukur-syukur kalau orang ketiga termasuk golongan orang berada dan berdompet tebal (tapi tiap hari nebeng). Juga penting karena bertugas membawa makanan mereka bertiga.

Jadi seperti kata gua tadi, paling tidak harus ada tiga orang untuk menjamin keberhasilan mendapatkan makanan di tengah hujan badai yang ogah berhenti-berhenti sejak beberapa hari yang lalu ini.
Hari ini gua mengemban tugas menjadi orang ketiga, karena dompet Dodo ketinggalan (dia orang pertama) dan Dido adalah orang yang cukup pelit untuk ngebayarin tagihan lebih dulu, jadi bukan karena unsur gua lebih kaya dari mereka, karena sumpah, gua cukup kere dan dompet gua sering bernasib Senin-Kamis kalau sudah tanggal-tanggal akhir bulan begini.

Okay, kita kembali ke topik pembicaraan awal karena kalau terus-menerus membahas nasib hidup gua, gua khawatir kalian akan sedih dan iba.

Karena menjadi orang ketiga, gua mengemban tugas yang cukup merepotkan karena menjadi mediator Dodo dan Dido. For the record, mereka bukan saudara — apalagi saudara kembar, secara Dodo adalah cowok tinggi besar dengan kulit gelap dan Dido bertubuh kecil mungil mirip upil. Di antara kami bertiga, memang gua yang terbilang paling ganteng dan paling rupawan, meskipun boleh dibilang ini tidak terlalu membanggakan karena kedua rival gua adalah cowok-cowok ajaib macam Dodo dan Dido. Okay. Mari kita skip lagi.

Oh ya, tugas yang cukup merepotkan tadi adalah, gua harus me-monitor apakah Dido sudah berhasil mendapatkan tempat duduk, di mana lokasinya, dan mungkinkah gua bisa tebar-tebar pesona di sana (para jombloers pasti tahulah kenapa).
“Did… di mana lo?” Gua menelepon Dido.
“71 lintang selatan, 141 bujur timur…” Dido mulai ngaco.
“Anjrit. Serius. Di mana lo?” Pulsa jalan terus, itu aja sih.
“Bagian Timur kantin, Pak. Kira-kira, empat meter dari arah selatannya,” kata Dido, masih bangga dengan keahlian membaca peta-nya.
“Eh, Did, lo nggak usah ngaco yaa. DI MANA??”
“Deket wastafel…” kata Dido lirih tanpa perasaan bersalah.
Gua, dengan perasaan mangkel dan super bete juga hampir memaki-maki, langsung menutup telepon dan mengabari Dodo kalau misi kami sudah setengah berhasil.
“Tempatnyehhh… dimanehhhh?” tanya Dodo, hampir kehabisan nafas.
“Dehhh..khhet wastahhh..fheelll katanyahhh,” jawab gua sambil membantu memberikan perlindungan buat Dodo yang terdorong-dorong dengan kasarnya oleh para Mbak-Mbak yang ternyata cukup agresif kalau sedang kelaparan.
“Was…tah…fhel? Jauu…uuuhhh dariiiihhh pemandangan doooong,” kata Dodo masih dengan napasnya yang tersengal-sengal karena menahan dorongan dari belakang.
“Iyaaaahhh…” kata gua dalam sekali tarikan nafas.
“Ga papaaahh… daripadaahhh ga adaahhh theemphaattt..” kata Dodo dengan penekanan cukup mantap di kata terakhirnya sampai-sampai beberapa “pendorong” itu mundur beberapa langkah untuk memandanginya dengan pandangan eh-ada-raksasa-ngamuk.

Berhubung sudah terbiasa mendapat pandangan-pandangan kurang mengenakkan seperti begitu, Dodo malah dengan santainya melotot balik dan men-sangarkan wajahnya yang memang sudah sangar. Yang ada para “pemandang” itu langsung keder dan nggak berani mendorong-dorong lagi. Itulah enaknya kalau Dodo menggeram; gua jadi nggak bersusah payah buat bantuin dia menghadang serangan dari belakang.

Akhirnya perjuangan kami berhasil juga setelah lima belas menit berikutnya. Kami berdiri di depan Ibu Kantin (yang sampai sekarang gua nggak tahu namanya — juga nggak mau tahu namanya karena faktor judes dan suami yang wajahnya jauh lebih sangar daripada Dodo) lalu mulai memilih makanan.
“Nasi campur 3, Bu,” kata Dodo pada Ibu Kantin.
“Nggak ada, habis,” kata si Ibu kantin dengan judes.
“Nasi rawon, Dod,” bisik gua.
Dodo memandang si Ibu Kantin dengan pandangan ngeri. “Kalau gitu, nasi rawonnya aja 3, Bu.”
“Nggak ada, habis,” kata si Ibu, masih dengan judesnya.
“Kalau… nggg… gado-gado?” Dodo mulai takut. Body dan tampang boleh mirip preman, tapi kalau soal hati dan sensitivitas, boleh dibilang dia 11-12 dengan lagu-lagunya Rinto Harahap atau Pantje Pondaag.
“Gado-gadonya juga habis,” kali ini si Ibu menambah kesangarannya dengan pandangan ala Deddy Corbuzier yang super misterius.
“Mmmm… Adanyaa… apaahhh…?”
“Semuanya habis, tinggal teh botol doang. MAU NGGAK?”

Gua cuman bisa berpandangan-pandangan dangdut dengan Dodo. Betapa ironisnya perjuangan kami tadi, yang sudah menyusun strategi sedemikian rupa, eh malah kehabisan makanan. Kalau teh botol sih, bisa beli di warung bawah dekat parkiran… Nggak pakai antri, paling kena cipratan hujan sedikit. Gilaaaa…

Karena gua dan Dodo paling menghargai usaha dan kerja keras, akhirnya kami memutuskan untuk membeli teh botol masing-masing tiga.
“Ente bisa bawanya, kan?” tanya Dodo saat kami berjalan ke tempat Dido.
“Tenang aja, Man. Gua sering makan di warung Nasi Padang, kok.”
“Ooh, jadi ente pernah minta diajarin Abang-Abangnya buat bawa banyak barang sekaligus?” tanya Dodo dengan pandangan takjub.
“Iya,” jawab gua santai.
“Oh…  Syukur deh, berarti ane nggak perlu takut ente bakal ngejatuhin botol-botolnya kan…” Dodo merasa sangat lega.
“Mmm… nggak juga, sih.”
“Lhah terus?” Nadanya mulai panik.
“Soalnya waktu itu… gua diajarin nggak bisa-bisa…”

Dan benar. Tepat di belokan terakhir gua sampai di meja tempat Dido menunggu dengan bete-nya karena ternyata yang datang cuman teh botol doang, seseorang menabrak gua dan membuat botol-botol yang ada di tangan gua meluncur dengan dramatis ke kaki gua dan hancur berkeping-keping di sana.
Teriakan Dido membuat suasana makin melankolis.

“Tiiidaaaaaakkkkk…”

Suara yang tidak bisa dikategorikan sebagai tenor atau bass ataupun somewhere in between itu membuat kantin hening sejenak dan seluruh pasang mata memandang meja kami yang ada di dekat wastafel.

Pandangan yang beranekaragam; antara ingin tahu, iba, dan ih-jijik-banget.
Gua masih bengong. Jujur, gua nggak tahu siapa yang menabrak siapa, karena tadi gua asyik ngobrol dengan Dodo. Tapi suara merdu seorang perempuan membuat gua sadar kembali.

“Aduh.. maafin saya, ya, Mas…”

Arahnya dari bawah kaki gua! Buru-buru gua ikutan jongkok dan membantu dia memberesi beling-beling yang berserakan di bawah.

“Saya tadi nggak melihat Mas, jadinya… mmm… saya main tabrak…” katanya, masih dengan suara lembutnya.
“Nggak pa-pa… Nggak pa-pa…” tanya gua sambil berharap-harap cemas, semoga wajahnya secakep suaranya.
“Saya ganti deh, Mas…”

Diganti kencan dengan kamu, maksudnya?

“Udah, nggak usah, deh.. Cuman teh botol ini…”

Asal kamu secakep suara kamu, mau teh botol satu krat juga boleh kamu pecahin, Say…

“Mmm… saya jadi nggak enak nih, Mas…” Si cewek bersuara merdu ini masih menunduk, bikin gua makin nafsu untuk melihat wajahnya.

“Udah, santei saja…”
“Bener, nggak pa-pa?” tanyanya merdu sambil memandang gua. Kedua matanya berkerjap-kerjap dengan cantiknya. SEMPURNA!

OH…MY…GOD!!!

to be continued… 🙂

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

9 thoughts on “(Abet) Bidadari Kantin

  1. aq ditulis donk di novel mu, jadi siapa kek, penjaga toko kaset juga boleh, or waitress di starbucks also cool =),
    kan kamu udah janji waktu itu lala mau tulis aq di novel kamu,, =(

    beres Bos! tunggu aja ya…

    Posted by niaalive | March 28, 2008, 11:18 am
  2. mampir la…dah mo jum’atan..
    bacanya entar aja hehehe

    sekarang uda baca belum? *nagih* 🙂

    Posted by cak avy | March 28, 2008, 11:57 am
  3. Duduk manis menunggu kelanjutannya …

    (jreng)

    sampai sekarang, masih manis ga duduknya? 🙂 sabar ya…

    Posted by nh18 | March 28, 2008, 2:33 pm
  4. duduk ngelesot dilantai, nunggu lanjutannya

    :mrgreen:

    btw, udah di link balik, thanks

    nah… yang ini duduknya malah ngelesot… 🙂 semoga nunggunya ga kelamaan, ntar jadinya ngesot.. wekeke
    soal link balik.. thanks a lot!

    Posted by lainsiji | March 29, 2008, 5:52 pm
  5. kira2 dibagi menjadi berapa bagian ya cerita ini
    kok postingan terbaruny ga lanjut

    dibagi2 jadi buanyaaaakkkk buanget… jadi sabar yaa.. 🙂

    Posted by achoey sang khilaf | March 30, 2008, 8:24 am
  6. Begitu berat perjuangan melayani cacing dalam perut yg mematuk-matuk minta jatah makan!

    Mbontooottttt!!!

    hehehehe… anak kos semua… ga bisa bontot 🙂

    Posted by deteksi | March 30, 2008, 7:39 pm
  7. bingung pertama baca… nih setting dimana yahhhh???? baru ngeh setelah beberapa paragraf….
    cukup unik, cewek mendalami karakter cowok…. 🙂

    ditunggu episode ke-2

    makasih……. sabar ya? 🙂

    Posted by Rere | March 30, 2008, 8:52 pm
  8. penasaran nunggu lanjutanna..
    btw rencananya yg dulu tuh jadi ga jeng???

    boleh.. boleh… ayuk kapan2 ngumpul lagi ya

    Posted by olvy | March 31, 2008, 3:17 pm
  9. kok ganti judul ya?? why?? but this is better =)

    emang ganti judul.. biar lebih spesifik dan ketahuan siapa yang lagi ‘ngobrol’…
    thanks ya, Noets

    Posted by niaalive | April 1, 2008, 5:54 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: