you're reading...
daily's blings

senangnyaaa…

 Dari dulu, sebelum nekat beli laptop (hasil utang sana sini, termasuk tetangga depan belakang kiri kanan.. hehe), saya pernah punya cita-cita yang boleh dibilang cukup sombong, yaitu: buka laptop di public places (baca: cafe, bukan pasar, warung kopi, atau warung bebek Mercon jl Kayun yang katanya pedesnya bikin lidah kebakar tapi nagih), sambil pura-pura sibuk di depan laptop (padahal yang diuprek-uprek juga cuman The Sims), dan ditambah dengan satu kenikmatan yang tiada tara, alias minum kupi blended extra whipped cream (sekarang jadi tahu kan dari mana asalnya lipatan-lipatan nggak jelas di perut saya itu? Nahh… bagi yang kepingin langsing, kebiasaan ini jangan ditiru! hehe).

Mimpi untuk “sombong” itu terus menghantui saya, apalagi setelah jaringan internet makin canggih. Dulu, koneksi internet hanya bisa dilakukan lewat kabel telepon yang sering putus karena ada nada sela, tapi sekarang? Teknologi bluetooth memungkinkan kita bisa berkoneksi internet nirkabel! WOW…. Belum selesai sampai situ, teknologi semakin mencanggih dengan hadirnya WiFi. Udah deh. Sampai di sini, saya speechless.

Dengan mencanggihnya teknologi, makin bertebaran lah orang-orang dengan laptop-laptop mereka di tempat-tempat umum, semacam cafe, food court, bahkan taman kota yang dulu remang-remang kini malah jadi hotspot tempat akses internet gratis, saya makin ngiri…ri…ri…ri. Pokoknya, saya merasa mimpi saya ini harus segera diwujudkan, karena kalo nggak, saya takut, jadi penyakit ginjal batu dan butuh operasi (bukankah kata orang, iri hati itu penyakit? daripada sakit, kan mending saya nggak iri, tho? Nah, caranya nggak iri itu….. dengan beli laptop… wekekeke).

Berbekal rasa iri hati yang super sangar, saya memutuskan untuk beli laptop (cerita tentang saya dan Ms Notey alias laptop saya ini bisa dibaca di artikel Ms Notey)…. dan…. eng…. ing… eng…. mulailah ‘kesombongan’ saya 🙂

Pertama kali saya ‘openhouse’, TKP (tempat kejadian perkara) di Woof Woof, PTC. Menenteng tas berisi laptop yang berat tapi senyum di sumringah-sumringahin. Sampai di sana… internet-an sampai puwassss….

Setelah itu, saya benar-benar nggak pernah ‘sombong’ lagi di depan umum karena faktor kecapekan (dan tua! Ya, ya, I’m that old!) dan nggak ada yang nganterin saya buat hotspot-an… hehehe… sebenernya sih, sombongnya tetep jalan terus, tapi apa daya… 🙂

Sampai suatu kali, saya pernah melihat betapa serunya seseorang perempuan cantik yang muda belia (seperti saya ini…uhuk uhuk) sedang asyik mengutak-atik laptopnya di hotspot area. Yiiiiiiikkkkssss… Pingin…… Apalagi di tambah satu cup coffee dingin yang super nikmat di tangannya… Duh…. ngiri….

Keinginan itu tertunda terus karena Bro nggak pernah punya waktu untuk nemenin saya ngupi. Dia kan bukan penggila kupi seperti saya, jadi niatan itu tertunda terus. Musti nunggu dia punya cukup alasan untuk beli satu cup coffee dengan harga yang mungkin tidak realistis untuk dia sehingga saya bisa ‘cangkrukan’ di coffee house mahal, semacam Starbucks.

Menunggu dan menunggu, akhirnya suatu sore yang cerah, kakak saya tercinta itu tiba-tiba mengabari saya kalau hari ini nggak langsung pulang, ada omong-omong bisnis dulu dengan calon bos-nya. Nasib penumpang tentunya berpasrah pada supir kan? Karena saya cuman numpang di mobilnya, nggak mungkin juga saya nekat menolak. Yang ada, kalau nekat menolak, saya bisa diturunkan di pinggir jalan dengan senang hatinya oleh Bro. That simple! 🙂

Tadinya saya pikir, mal lagi mal lagi. Meskipun ada seorang teman yang bilang saya ini Ms Mall, tapi tetep saja, kalau sedang ingin utak atik laptop di rumah (okay, okay, main games…. harus ya terus-terusan sirik?), mal jadi tempat yang menjemukan. Mungkin alasan yang lebih konkret adalah…. faktor bokek-kek-kek yang bikin saya bete hanya window shopping doang! ^_^

Membayangkan betapa membosankannya saya harus ‘belanja jendela’ (artinya kok jadi aneh begini ya?), saya jadi agak-agak jengah. Tapi dengan gagah beraninya, Bro bilang, “Udah, bawa aja laptopnya (tadinya mau saya tinggal di bagasi mobil — berat bow).” Saya dengan gagah beraninya juga bilang, “Berat kaleee….” Bro ngingetin lagi, “Reputasi parkir di TP ini kan ga bagus… Daripada ilang, mendingan capek sebentar… Apalagi nanti laptopnya bisa dititipin kalau aku ngobrol ma Bos di Starbucks…”

Haaaahhh??? He just said…. STARBUCKS??? Really???

“Ketemunya di Starbucks, Bro?” saya nanya.

“Iya…. Kamu tunggu aja di sana sambil internetan… Nanti kalau emang mau jalan-jalan, ya titipin aja laptopnya sama aku….”

Sampai di sana, saya pesan minuman enak ini. Java chip… something (lali aku… hehe… pokoknya enak). Sambil buka laptop, connect ke internet, buka wordpress, dan took several pictures for documentation (alias bukti-bukti betapa narsisnya saya) lalu minum kupi favorit… saya merasa…. mission accomplished.

Being a real Carrie Bradshaw in life.

Being a full time writer (paling ga, I can picture myself doing that).

Dan segala kecanggihan teknologi yang sekarang sudah bukan angan-angan lagi…. saya merasa, hidup saya sudah half full.

Duuuhhh cenangnya hidup ini…. yippeeeeee…. 🙂

Sekarang, saya punya mimpi bisa nerbitin novel hasil karya pribadi. Kalau beli laptop dan gaya-gayaan sambil ngupi sudah terwujud meskipun harus bermimpi bertahun-tahun lamanya, kira-kira, impian jadi novelis dengan buku best seller…. kapan terwujudnya yaaaa???

Udah deh… first thing first…. Sekarang… mari ngupi ngupi…. slurrrrrppppp…. uenake….

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

7 thoughts on “senangnyaaa…

  1. impian jadi novelis dengan buku best seller

    berarti kamu harus ngikutin selera pasar? kenapa enggak bikin novel yang jadi ciri kamu, yang bisa kin inspirasi banyak orang? yang ada ciri tulisan seorang Lala? yah, tapi terserah aja, cuma masukan 🙂

    Posted by Rere | March 19, 2008, 9:03 am
  2. Buku bestseller ga melulu ngikutin selera pasar, dong, Re. Bukunya Andrea Hirata, buat yang suka chicklit/teenlit, pasti menurut mereka ga asyik, tapi toh buktinya bestseller juga, kan?
    Satu hal.
    Being idealistic is clever, but frankly, being too idealistic means suicide. Yaa.. kecuali memang ada penerbit yang mau publish novel saya atau saya punya banyak uang untuk going independent ^_^* … then it won’t be a problem, not at all.

    Posted by jeunglala | March 19, 2008, 10:01 am
  3. ya ya ya… bisa ngikutin selera pasar ato nyiptain selera pasar… intinya big pain big gain!!! 🙂

    ayo ditunggu nopelnya terbit, jeng!!!

    Posted by deteksi | March 19, 2008, 11:53 pm
  4. Pucha… maksudku ya getho… bikin ajah yang cari khas kamu….
    podo” konslet iki rasa e….

    Posted by Rere | March 20, 2008, 6:56 am
  5. Huheueheue lucu juga kamu ya La 😀
    Experiencing being a Carrie Bradshaw for a day hehehe

    Posted by Sheilla | March 21, 2008, 10:35 am
  6. Berarti entar kopdar ada laptop dunk.
    ah saya nunggu nopelnya aunty ah.

    Posted by Avy | March 22, 2008, 4:54 am
  7. Dari sini rupanya asal mulanya ya….
    Baru tahu aku…
    Hi hi hi…

    Posted by heryazwan | July 5, 2008, 10:56 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: