you're reading...
Thoughts to Share

antara kopi dan jus jambu biji

Sebagai pecinta kopi, meskipun tingkat pecandu-nya belum separah salah satu dosen saya saat masih jadi anak kuliahan, back to 1998-2003, di mana tingkat aditifnya sudah mencapai akut (karena dia pecinta kopi yang kopi saja, tanpa gula, dan sedikit air!), saya merasa menjadi salah satu manusia plin plan karena dihadapkan pada satu kenyataan: Coffee… isn’t healthy afterall. *damn*

Ya, ya. I heard it from lotta people, bahwa kopi adalah salah satu jenis minuman yang terkesan sehat (maksudnya sih, dia kan tidak tergolong minuman keras alias yang beralkohol, gitu) tapi kandungan kafeinnya cukup mematikan jika dikonsumsi dalam jumlah yang di luar ambang kewajaran.

Dosen saya, Bu Mingga, yang tadi saya bilang sebagai #1 Coffee Addict yang pernah saya kenal, pernah bilang pada saya (ya, ya.. the whole class, maksudnya) bahwa cara bunuh diri yang aman adalah dengan cara minum kopi tanpa gula dan sedikit air a.k.a black coffee pekat, dalam cangkir yang kecil (50ml) sebanyak 40kali, bisa memberikan efek mematikan buat pengkonsumsinya! — dan tolong, ini jangan dibuktikan ya? karena kalau benar terbukti, kalian nggak akan bisa bilang, “eh La, bener lho kata kamu…” karena sumpah, saya pasti akan pingsan duluan!

Kembali ke kopi tadi, jelas sudah bahwa kopi adalah tidak sehat — minum teh adalah salah satu pilihan minuman sehat, apalagi yang hijau dan tanpa gula.
… tapiii… karena saya sangat mencintai kopi dan rupanya teh bukan merupakan power booster saat saya butuh melek, akhirnya saya kurang ambil peduli dengan kopi dan embel-embel negatifnya. Ya, paling tidak, selama belum membuat kepala saya ‘cekot-cekot’ (halah, apa coba bahasanya), yukk maree.

Kebiasaan minum kopi atau sering saya sebut “ngupi” terus berlanjut sampai saya bekerja di kantor saya yang sekarang. Ritual tiap pagi adalah menyeduh kopi dan meminumnya selagi masih panas *apalagi black coffee yang terkadang ampasnya ikut tertelan…uenak!* Ditambah dengan aktifitas membuka internet, browsing, check email lalu harum kopi itu melesak masuk ke dalam hidung… what a wonderful life!

Nah, kebiasaan ini mulai memunculkan perasaan dilematis (plus rasa bersalah juga) ketika Ibu Beatrix a.k.a Bunda *co-worker seusia alm. Mami saya, penggila hal-hal yang berbau kesehatan, dan melakukan segala cara untuk tetap sehat, termasuk mengkonsumsi hal-hal yang bikin saya sedikit ngeri* mulai khawatir dengan kebiasaan ngupi saya tadi.

Hal ini dimulai ketika mendadak saya sakit flu yang lama sembuhnya. Okay, okay, saya memang jarang sekali ke dokter untuk mengobati penyakit yang menurut saya tinggal beli obat langsung beres, tapi memang, harus diakui, saat itu saya sudah sakit flu selama 2 minggu dan masih batuk-batuk.

Dengan keibuannya, Bunda menyuruh saya untuk berhenti minum kopi dan memberikan alternatif lain. Percakapannya adalah sebagai berikut (edit sana-sini karena sumpah, ga inget detilnya… hehe. Yang penting, intinya tho?):
B: Dek, kopi itu nggak bagus buat kesehatan, lho
L: I know Bunda… tapi Bunda kan tahu aku suka banget minum kopi… *apalagi gratis*
B: Kan mendingan jus buah-buahan aja… Atau jus sayur *yaiks*
L: Ogah ah Bun… enakan kopi
B: Tapi lihat, kamu nggak sembuh-sembuh, kan, Dek?
L: *manggut-manggut pasrah*
B: Gini aja deh. Selama masih belum sembuh, kopinya tinggalin dulu, ya? Nanti aku bikinin jus jambu biji+madu, efeknya bisa nyembuhin flu dan menambah daya tahan tubuh
L: Enak nggak Bunda?
B: Enak kok… Besok ya?

Dan memang benar. Esok harinya, Bunda datang ke kantor dengan segelas tupperware berisi jambu merah biji yang diambil ekstraknya, tambah perasan jeruk nipis, dan madu. Ini adalah campuran jus paling enak karena biasanya, jus untuk sakit flu/pilek adalah wortel-seledri-bayam *double yaiks*, jadi formula ini adalah cukup edible alias layak konsumsi.

Tapi… melihat tekstur jus-nya yang kental, saya jadi agak merinding juga. Soal rasa, boleh lah. Tapi soal tekstur cairannya yang pekat, agak membuat eneg saat berusaha ‘melintasi’ tenggorokan saya. Demi kesehatan dan kembalinya hak meminum kopi (karena saya sembuh), akhirnya saya minum juga. Gleg. Gleg. Gleg. Tandas.

Kebiasaan minum jus jambu biji terus saya lakukan sampai akhirnya saya memang benar-benar sembuh! Ya, ternyata memang semenjak minum jus itu, saya jadi makin fit, cenderung bisa mengerem diet juga, jadi ini adalah perwujudan sempurna dari peribahasa “sambil menyelam minum air” (atau… sekali merengkuh dayung, dua pulau terlampaui, ya? hehe… sok tapi gebleg) Dan karena Bunda adalah salah satu aktivis kesehatan bahkan pelopor gaya hidup sehat ala Rumah Gizi *salah satu pusat kesehatan secara alami di Jl Tenggilis, Surabaya*, maka beliau tidak berhenti men’cekok’ saya dengan jus yang terbukti bikin sehat itu.

Berhubung saya pecinta kopi dan kangen sekali sama kopi, seringkali saya mencuri-curi kesempatan untuk bikin kopi sebelum beliau datang karena kebetulan saya datang 1,5 jam lebih awal *cerita tentang kebiasaan saya datang terlalu pagi, nanti-nanti saja ya ceritanya*.

Hal ini saya lakukan hampir setiap hari. Pagi sampai kantor, ngupi sambil checking emails, setelah habis, lalu segera membawa cangkir kosong itu kembali ke pantry dan mencucinya seketika, lalu kemudian Bunda datang dan dengan senyum di wajah, menyodorkan jus jambu.
Hampir setiap hari (kecuali hari sabtu dan minggu, pastinya… dan oh ya, pas beliau ijin juga) saya melakukan “penipuan” dan membuat saya merasa super dilema. Di satu sisi, coffee is evil in disguishe, tapi di sisi lain… coffee itu power booster yang cukup dahsyat buat saya.

Melihat Bunda yang repot-repot bikin jus sebelum berangkat dan membayangkan bahwa saya akan meminumnya dengan senang hati, malah jadi mimpi buruk buat saya setiap saya menikmati tetes demi tetes kopi pahit favorit saya. Oh My… bisa dibayangkan betapa rasa bersalah itu bikin saya nggak enak hati sama Bunda…

Eniwei, bukan karena rasa bersalah itu sampai akhirnya saya mengaku, tapi karena suatu ketika, saya ‘tertangkap basah’ sedang menyeruput kopi panas di depan komputer. Ya, Bunda datang lebih awal dari biasanya. Ampun deh, betapa belingsatannya saya.

Karena Bunda sudah kenal betul siapa saya dan bagaimana karakter saya, akhirnya Bunda menyerah dan memaklumi bahwa saya tidak akan pernah bisa meninggalkan kopi, meskipun beliau selalu mengingatkan bahwa kopi itu tidak baik untuk kesehatan.

Sedikit lega… pastinya.
Tapi akhirnya, sampai detik ini, saya semakin merasa aneh dan konyol. Karena satu hal: saya meracuni tubuh sekaligus membuat sehat tubuh. Lah, apa coba hasilnya?
Ibaratnya matematika: minus 1 plus 1 hasilnya 0.
Nah… yang jadi pertanyaan: apa efeknya buat saya ya, selain hanya bikin eneg dan kenyang?
Pusssyiiinnnggg….
^_^

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

3 thoughts on “antara kopi dan jus jambu biji

  1. Mending bunuh dari pake racun suntik ae, lansung….. langusng ke neraka juga, hahahahaha 😀

    kalu aku, mesti dan harus ngupi, disaranin, meski maag kadan protes 😛 tapi, tetep harus 🙂

    Posted by Rere | March 7, 2008, 6:52 am
  2. re, kata dosen saya, paling nggak cara bunuh dirinya enak, sambil nyeruput kopi favoritnya ^_^ tapi bagi saya, enakan hidup aja deh, bisa minum kopi again… again… and again… hehehe

    Posted by jeunglala | March 8, 2008, 8:02 am
  3. kopi…….bagus ngeteh lageee
    juz jg okeeee

    🙂 Lilyana

    Posted by lily | March 8, 2008, 6:41 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2008
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: