archives

surat cinta

This tag is associated with 7 posts

He’ll Never be You…

Namanya Andre.

Mari kuceritakan sedikit tentangnya.

Tubuhnya tinggi, menjulang seperti pemain basket. Mungkin lebih seratus delapan puluh senti, karena aku tak lebih tinggi dari pundaknya. Tidak sepertimu, yang lebih tinggi lima belas senti saja dari pucuk kepalaku.

Lengannya kokoh. Dia pernah memeluk tubuhku dari belakang sambil menonton konser, beberapa waktu yang lalu. Berusaha melindungiku, membuatku merasa aman. Aku merasakan debar jantungnya, persis di telingaku. Entah, apa dia juga mendengarkan debar jantungku saat itu, yang bergetar lebih cepat karena tidak menduga dia bakal melakukan itu.

Kulitnya putih bersih. Di dalam tubuhnya memang mengalir darah Belanda dari kakeknya, sehingga dia nampak putih kebulean.

Wajahnya tampan. Perpaduan Ryan Renolds dan Oka Antara. Okay, it’s hard to imagine, tapi seperti itulah aku memandangnya. Tampan yang tidak membosankan. Maskulin yang masih manis. Continue reading

Do You Remember?

Ruang kerjaku, suatu pagi. Masih pukul tujuh saat itu dan aku datang terlampau awal karena banyak pekerjaan yang sudah menunggu. Menyambar sepotong roti tawar bersemir selai srikaya di meja, memasukkan dua potong lagi di kotak makanku, lalu memacu kendaraan menuju kantor di saat orang lain mungkin masih sibuk bercakap-cakap di depan televisi sambil memegang koran paginya.

Ada deadline yang bakal menciptakan perang dunia ketiga, skala kecil-kecilan saja di kantor yang berpenghuni tak lebih dari dua puluh orang ini, kalau tak segera kupenuhi. Pagi itu, aku musti datang pagi-pagi.

Kupikir pagi itu bakal jadi pagi yang biasa saja. Pagi sibuk, seperti biasa menjelang deadline, seperti bulan-bulan sebelumnya. Tapi, pagi itu berbeda. Saat masuk ke ruang kerja, mengaduk laci, mencari sebungkus latte instan untuk peneman sarapan pagi, aku tak menyangka kalau aku masuk ke dalam time capsule yang sontak bergerak mengajakku kembali ke masa lalu. Continue reading

Someday, We’ll Know

“90 miles outside Chicago
Can’t stop driving
 I don’t know why
So many questions
 I need an answer
 Two years later
You’re still on my mind…”

 

Pernahkah kamu menyempatkan untuk bertanya kenapa kita harus bertemu? Kebaikan atau kesalahan di masa lalu yang mana yang menakdirkan kita akhirnya harus saling bertemu? Kenapa aku harus duduk di depan bar itu, memesan kopi yang ketiga, sampai kemudian kamu datang dan menyapa? Kenapa aku harus berkunjung ke kantormu lalu kita berbagi oksigen di dalam tabung lift yang sama, sampai berkali-kali? Continue reading

Kamu Memang Benar-Benar Lelaki

Aku tidak pernah meragukan kelelakianmu.

Rasa bibirmu yang tertinggal saat kita usai berciuman, lenganmu yang memeluk tubuhku hangat dan erat, suaramu yang berat dan menenangkan ketika aku sedang gelisah, adalah sekian dari begitu banyak bukti bahwa kamu memanglah seorang lelaki yang kuinginkan.

Ya, aku semakin tidak meragukan kelelakianmu saat kamu menarik diri dari janji yang pernah kau ucap tergesa di perjamuan makan malam kita, beberapa saat sebelumnya. Waktu itu, di tengah temaramnya lilin yang menyala, kamu memegang tanganku dan mengucap kata-kata itu, “Why wouldn’t we get engaged?” Pertanyaan itu terlontar, seperti bom yang muntah dari bibir meriam yang kupikir sumbunya tak menyala. Kita memang menjalani hari-hari yang penuh cinta, tapi untuk segera menyudahi petualangan gila ini, um.. sanggupkah kita? Continue reading

Jeda

Tadinya, aku tak tahu kalau cinta adalah serupa permen karet, yang semula manis, lalu terasa hambar pada akhirnya. Kamu yang kemudian membuatku menyadari itu semua; termasuk mengajariku untuk terlalu cepat mengunyahnya. Dalam waktu sebentar saja, cinta itu tak terasa manisnya. Hambar saja, lalu kau buang secepatnya.

Seringkali, ketika sedang duduk sendiri menikmati roti tawar bersemir srikaya di sebuah pagi, aku mengingat betapa manisnya cinta yang pernah berkuasa di hati kita. Aku mengingat betapa cinta telah mengubah segalanya menjadi merah muda. Kehadiranmu serupa energi yang membakar seluruh gerak tubuhku, sehingga ketika kamu menarik dirimu menjauh, tubuhku terasa lunglai dan melumpuh. Continue reading

Masa Lalu

Ada hujan yang tumpah di balik jendela. Seolah memancing rasa yang telah lama mencoba kelam tenggelam di dasar hati. Apakah hujan terbuat dari partikel rindu, yang sontak saja bisa membuat hatiku ngilu karena mengingatmu? Sendu, mengingat masa lalu denganmu? Continue reading

#DearPapa Project

Sekadar berbagi info saja. Kalau sejak satu bulan belakangan ini, aku sibuk menjadi koordinator sebuah proyek menulis yang seluruh hasil royalti penjualannya bakal disumbangkan langsung ke Panti Jompo, di wilayah Surabaya. Cool, eh? Sangat menyenangkan, memang. Melakukan sesuatu yang aku sukai – nulis gituh - dan ujung-ujungnya semua disumbangkan untuk amal. Oh, wow. Writing couldn’t be more excited than this..

Sayangnya, karena aku ini terbiasa menulis sendiri, akhirnya suka terkaget-kaget saat harus mengedit beberapa tulisan teman-teman. Aku yang matanya sudah agak jereng ini, makin jereng aja melihat tulisan yang kadang agak berantakan. Hurufnya, susunan katanya, sekalipun inti ceritanya memang selalu menarik untuk terus dibaca. Ow well, that’s OK. Melatih menjadi editor aja, deh, kalau gitu.. Siapa tahu, someday somehow, aku bisa jadi editor in chief sebuah majalah terkenal? Siapa tahu, kan? Continue reading

Catatan Harian

August 2014
M T W T F S S
« Mar    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 107 other followers