archives

Perpisahan

This tag is associated with 9 posts

Someday, We’ll Know

“90 miles outside Chicago
Can’t stop driving
 I don’t know why
So many questions
 I need an answer
 Two years later
You’re still on my mind…”

 

Pernahkah kamu menyempatkan untuk bertanya kenapa kita harus bertemu? Kebaikan atau kesalahan di masa lalu yang mana yang menakdirkan kita akhirnya harus saling bertemu? Kenapa aku harus duduk di depan bar itu, memesan kopi yang ketiga, sampai kemudian kamu datang dan menyapa? Kenapa aku harus berkunjung ke kantormu lalu kita berbagi oksigen di dalam tabung lift yang sama, sampai berkali-kali? Continue reading

Dimanakah Kamu?

“Rinduku, untukmu.
Seperti titik-titik hujan, yang jatuh menetes di depan jendela kamarku, tanpa mengenal musim, juga waktu.
Tiap kehadirannya, bangkitkan gigil tubuhku. Lalu, yang kubutuhkan hanya satu. Pelukan yang hangat, untuk hilangkan gigilku.
Ya.
Pelukan itu kamu.”

** Continue reading

Bintang Timur

Ada sebuah bintang.

Dia selalu berada di langit sebelah timur. Berkedip genit, memberi terang paling terang di sisi langit. Betah bersinar berlama-lama di sana, lebih lama dari jutaan bintang yang berpendaran di penjuru langit.

Dia adalah bintang paling mandiri.
Paling terang.
Bintang utama sebuah panggung yang kehadirannya ditunggu oleh semua pengelana yang tersesat di dalam pencariannya.

Karena Bintang itu, bintang bernama Kejora, yang dimana ia berada, di situlah para pengelana itu tahu akan arah, meski kompas tak menunjukkan fungsinya. Continue reading

Dia, Sahabatku.

Dia sahabatku.

Kukenal dia ketika usia kami sudah beranjak dewasa atau mungkin remaja tanggung. Ada yang menarik pada dirinya. Sosoknya seperti memiliki sulur-sulur tak kentara yang menarikku untuk terus mendekat. Mungkin senyumnya, mungkin caranya tertawa, mungkin tingkah polahnya yang mengundang tawa banyak orang, mungkin juga karena dia selalu ramah menyapa siapa saja.

Banyak sekali alasan untuk jatuh hati pada perempuan berambut tak panjang ini. Hatinya yang sensitif dan mudah tersentuh untuk hal-hal sepele, pribadinya yang tangguh dan tahu bagaimana caranya menenangkan perasaanku untuk terus menapak hari ketika paruhan hatiku sedang terluka. Juga caranya berkata-kata, caranya menyentuh hati, caranya mengambil seluruh perhatian siapapun yang ada di dalam ruangan.

Dia seperti cahaya ketika hari gelap.
Bahkan ketika hatinya sedang redup, tapi ia tak mau terlihat rapuh dan gelap, karena baginya, dunia lebih membutuhkan cahaya daripada rengekan hatinya. Dunia sudah terlalu sedih, ia tak perlu membagi aura kesedihan di setiap sudut ruangan.

Pernah kubilang padanya, “Jangan berpura-pura kalau hatimu sedih, Sahabat.”

Lalu ia memandang wajahku. Pelan, sambil tersenyum, ia menjawab, “Kalau aku sedih, itu artinya aku membuatmu sedih, kan?”

Kuanggukkan kepalaku. “Tentu, karena aku sahabatmu…”

“Dan aku tidak mau membuatmu bersedih…”

Senyumannya meneduhkanku. Genggaman tangannya menguatkanku. Sampai-sampai aku heran, bukankah sekarang bukan aku yang bersedih, tapi kenapa justru aku yang merasa dikuatkan oleh senyum dan ketegarannya?

“You’re such a great actress…” komentarku pada akhirnya.

“Bukankah aku memang mirip Drew Barrymore?”

Lelucon itu membuatku mengakui, kalau tidak ada yang sanggup mengalahkan kepandaiannya dalam menyembunyikan sakit hatinya.

Ia perempuan yang sangat hebat.
Dia adalah sahabatku.

**

Ya,
Dia adalah sahabatku.

Seorang pecinta sejati.

Seorang yang kuat memegang satu cinta sampai ia dipaksa untuk mengendurkan genggamannya. Kesetiaannya, rasa percayanya pada cinta, membuatku iri setiap ia bercerita tentang Kekasihnya.

“Kau bertanya kenapa aku setia?” tanyanya.

“Iya.”

“Karena aku percaya pada Karma; kesetiaan dibalas dengan kesetiaan. Ketidaksetiaan akan dibalas dengan ketidaksetiaan pula.”

“Bagaimana kalau ternyata ia tidak setia?”

“Mudah.”

“Bagaimana?”

“Aku percaya Karma. Kalau ia tidak setia, artinya dia akan menuai ketidaksetiaan itu pada suatu masa kelak.”

“Itu yang membuatmu begitu sederhana menyikapi jarak dan waktu?”

“Itu caraku agar aku tidak mudah terluka…”

**

Tapi, kemudian ia terluka.

Sahabatku, seorang aktris hebat itu, akhirnya terluka.

Aku datang padanya ketika kedua biji matanya sembab dan ia begitu ragu mengangkat wajahnya untuk membalas pandanganku.

“Don’t look at me, now. I’m terrible…” katanya sambil berusaha terus menunduk.

“Kamu berhak menangis, Sahabat.”

“Tidak, tidak,” katanya. “Aku tidak boleh menangis.”

“Hey, you’re an actress. Not a robot.”

Dia tersenyum. “Aku tidak dilahirkan untuk menjadi seseorang yang berkubang dalam rasa sedih. Ayahku mengajariku untuk menjadi perempuan yang tangguh…”

“But sometimes, crying is good…”

“No… no way…”

Dia terus mengaduk teh manis panasnya. Kalau pada akhirnya teh itu berasa sedikit asin, aku tahu, darimana rasa itu berasal.

Dari air matanya yang terus berjatuhan dalam setiap adukan…

**

Dia sahabatku.

Ingin kupeluk dia malam ini, ingin kuelus lembut rambutnya malam ini, ingin kusentuh punggung tangannya dan mengalirkan kekuatan di setiap ruas-ruas jarinya.

Tapi dia menolakku.

Tapi dia berkata, “Sudahlah. If I could handle then, I can handle now.”

Dia sahabatku.

Sudah tak terhitung berapa kali ia jatuh cinta, lalu patah hati, lalu jatuh lagi, dan terluka lagi. Entah berapa lelaki yang sudah kuancam agar tidak menyakitinya dan mundur saja kalau mereka memang berniat untuk melukainya. Sungguh, melihatnya terluka adalah satu hal yang tak ingin kulakukan.

Dia sahabatku.

Separuh jiwaku.

Nafasku.

Aku tak bisa bernafas jika sekali lagi aku melihat luka di wajahnya, di kedua biji matanya, di debar jantungnya. Aku tak rela!

“Kamu tahu, kamu perempuan yang hebat.”

“Makasih…”

“You’re such a great friend, good listener, wonderful comedian, faithful girlfriend… Suatu saat kelak, hanya lelaki yang paling beruntunglah yang bakal menjadi Ayah untuk Gabriel dan Talisha…”

“Kamu masih ingat nama anak-anak impianku itu, ya?”

“I remember your dreams, termasuk mimpi-mimpimu dengan lelaki itu…”

“Mimpi yang musti usai…”

“Then start dreaming something new…”

**

Di suatu malam, ketika hening membuat jengkerik terdengar begitu berisik di lapangan rumput sebelah rumah, sebuah dering telepon membangunkanku.

“Kenapa? Malam sekali?”

“Aku nggak bisa tidur. Aku nggak berani tidur.”

“Lho? Kenapa?”

“Kamu pernah bilang kalau aku mustinya start dreaming something new, kan?”

“Iya. Kenapa memangnya?”

“I don’t wanna dream something new… Nope. Not yet…”

Lalu akhirnya ia terisak.
Sama seperti aku, di ujung telepon satunya.

**

Dia adalah sahabatku.

Perempuan manis, berambut pendek, dengan senyum serupa cahaya itu memang sahabatku. Matanya berbinar-binar, wajahnya tetap cerah ceria seperti mentari pagi hari, sekalipun semalaman aku hanya mendengar suara tangisnya di ujung telepon.

“Kamu baik-baik aja?”

Dia tersenyum sambil terus mengaduk teh manis panasnya.

“You sounded so terrible, last night.”

Dia masih tetap tersenyum.

“Don’t hide something, Darling…”

Tak berhenti ia tersenyum sambil terus menyiapkan minuman hangatnya untuk kami habiskan berdua di teras depan.

“Hei… kamu…”

Tiba-tiba dia menoleh.

“Kamu ingin gula berapa sendok? Satu, kan?”

Aku terheran-heran menatap wajahnya.

“You look….”

“… gorgeous. Thank you,” potongnya sambil memasukkan sesendok gula pasir ke dalam cangkirku. “Yuk, bantu aku bawa pisang gorengnya keluar. Kita ngobrol di teras aja, yuk… Eh, by the way, besok jadi nggak, sih, kita janjian ke Bengawan Solo? Aku rindu minum kopi.. Been a very long time…”

Dan dia memang tetaplah sahabatku.

Segala luka hati tidak membuatnya berhenti menjadi perempuan hebat dan tangguh yang pernah kukenal.

Aku tahu dia tengah berjuang menutupi wajahnya sendiri dengan topeng dan aku membiarkannya melakukannya…

“If a mask can make it everything easier to deal with, then put a mask on, Dear Best Friend,” bisikku dalam hati sambil membantunya membawa sepiring pisang goreng itu ke teras.

Dari kursi teras, aku sempat menengoknya sebentar.
Dia mengaduk teh manis panasnya, dengan beruraian air mata…
Argh!

***
Kamar, Minggu, 4 Juli 2010, 00.08

Perpisahan

Ada suatu malam, ketika lengan merapat dan desah nafas mereka saling bersahutan, seorang Perempuan bertanya kepada Lelaki yang tengah merangkulnya erat, seolah melindungi tubuh Kekasihnya dari tiupan angin dingin dan menjaganya tetap hangat.

“Kamu takut berpisah denganku?” tanyanya dengan nada melankolis. Perempuan yang satu itu memang sangat sensitif, serta butiran kata-kata yang meluncur dari bibirnya selalu romantis.

“Kamu mau kemana?” si Lelaki balik bertanya sambil terus merangkul hangat.

“Misalnya saja, kita harus berpisah,” si Perempuan melanjutkan kalimatnya. “Kamu takut kita berpisah?”

“Sayang,” kata si Lelaki. “Memangnya kamu mau kemana?”

Perempuan itu menghela nafas. “Aku tidak bicara soal jarak dan waktu.”

“Lantas?”

“Aku bicara soal kamu. Aku bicara soal aku. Aku bicara soal kita selesai. Kamu, aku, selesai.”

“Putus?”

“Berpisah.”

“Aku tidak takut,” ujar Lelaki itu dengan tegas, sambil terus merangkul gadisnya dalam satu rangkulan hangat.

Perempuan menoleh, memandang wajah Kekasihnya. “Karena kita nggak mungkin berpisah?”

Si Lelaki menggeleng.

“Lantas?”

Si Lelaki memandangnya. “Karena aku tahu, ketika jarak masih bisa ditempuh dan waktu masih mau bergulir untuk kita berdua, Tuhan akan mencari cara untuk kita berdua agar bisa saling menemukan lagi, di suatu kepingan masa yang akan datang…”

“Yakin, Tuhan akan mencari cara untuk kita?”

“Tuhan tahu aku mencintaimu. Tuhan tahu, separuh jiwa ini sudah bukan lagi milikku, tapi milikmu. Tuhan tahu, cintaku buat kamu adalah kreasi terindahNya untukku, sehingga Dia akan mengajariku cara-cara untuk menemukanmu lagi, di belantara kehidupan yang entah kapan itu…”

“Jadi kalau kita berpisah, kamu bakal tenang dan tak sedih?”

Si Lelaki makin erat merangkul Perempuannya sambil menghadiahi kecupan sayang di ubun-ubun Kekasihnya. “Selagi bukan kematian yang memisahkan aku denganmu, Sayang, aku tidak akan sedih.”

“Kenapa?”

“Karena hanya kematianlah yang kuanggap sebagai perpisahan yang abadi. Ketika jeda dan jarak tak lagi mampu dijembatani dengan apapun, sudah tak mampu ditempuh dengan apapun, sekuat apapun kita menghabiskan energi untuk saling bertemu kembali…”

“…”

“Saat itu, aku berjanji akan sangat bersedih karena berpisah denganmu.”

Dan malam itu semakin melarut, sementara pelukan itu semakin merapat. Desah nafas mereka masih bersahutan. Dan untuk pertamakalinya, si Perempuan menikmati hembusan nafas yang keluar dari hidung Kekasihnya, suara nafas yang samar terdengar di telinganya, serta gerakan naik turun dadanya.

Karena itu artinya, mereka belum lagi berpisah…

**
Kamar, 30 Juni 2010, 11.34 Malam
Kepada ‘dia’
Terinspirasi dari kisah cinta Habibie-Ainun

Perpisahan

Ada suatu malam, ketika lengan merapat dan desah nafas mereka saling bersahutan, seorang Perempuan bertanya kepada Lelaki yang tengah merangkulnya erat, seolah melindungi tubuh Kekasihnya dari tiupan angin dingin dan menjaganya tetap hangat.

“Kamu takut berpisah denganku?” tanyanya dengan nada melankolis. Perempuan yang satu itu memang sangat sensitif, serta butiran kata-kata yang meluncur dari bibirnya selalu romantis.

“Kamu mau kemana?” si Lelaki balik bertanya sambil terus merangkul hangat.

“Misalnya saja, kita harus berpisah,” si Perempuan melanjutkan kalimatnya. “Kamu takut kita berpisah?”

“Sayang,” kata si Lelaki. “Memangnya kamu mau kemana?”

Perempuan itu menghela nafas. “Aku tidak bicara soal jarak dan waktu.”

“Lantas?”

“Aku bicara soal kamu. Aku bicara soal aku. Aku bicara soal kita selesai. Kamu, aku, selesai.”

“Putus?”

“Berpisah.”

“Aku tidak takut,” ujar Lelaki itu dengan tegas, sambil terus merangkul gadisnya dalam satu rangkulan hangat.

Perempuan menoleh, memandang wajah Kekasihnya. “Karena kita nggak mungkin berpisah?”

Si Lelaki menggeleng.

“Lantas?”

Si Lelaki memandangnya. “Karena aku tahu, ketika jarak masih bisa ditempuh dan waktu masih mau bergulir untuk kita berdua, Tuhan akan mencari cara untuk kita berdua agar bisa saling menemukan lagi, di suatu kepingan masa yang akan datang…”

“Yakin, Tuhan akan mencari cara untuk kita?”

“Tuhan tahu aku mencintaimu. Tuhan tahu, separuh jiwa ini sudah bukan lagi milikku, tapi milikmu. Tuhan tahu, cintaku buat kamu adalah kreasi terindahNya untukku, sehingga Dia akan mengajariku cara-cara untuk menemukanmu lagi, di belantara kehidupan yang entah kapan itu…”

“Jadi kalau kita berpisah, kamu bakal tenang dan tak sedih?”

Si Lelaki makin erat merangkul Perempuannya sambil menghadiahi kecupan sayang di ubun-ubun Kekasihnya. “Selagi bukan kematian yang memisahkan aku denganmu, Sayang, aku tidak akan sedih.”

“Kenapa?”

“Karena hanya kematianlah yang kuanggap sebagai perpisahan yang abadi. Ketika jeda dan jarak tak lagi mampu dijembatani dengan apapun, sudah tak mampu ditempuh dengan apapun, sekuat apapun kita menghabiskan energi untuk saling bertemu kembali…”

“…”

“Saat itu, aku berjanji akan sangat bersedih karena berpisah denganmu.”

Dan malam itu semakin melarut, sementara pelukan itu semakin merapat. Desah nafas mereka masih bersahutan. Dan untuk pertamakalinya, si Perempuan menikmati hembusan nafas yang keluar dari hidung Kekasihnya, suara nafas yang samar terdengar di telinganya, serta gerakan naik turun dadanya.

Karena itu artinya, mereka belum lagi berpisah…

**
Kamar, 30 Juni 2010, 11.34 Malam
Kepada ‘dia’
Terinspirasi dari kisah cinta Habibie-Ainun

Firasat

Ketika seseorang menjemput ajalnya, pernahkah kamu berkata, “Ah, aku sudah berfirasat demikian sebelumnya.”

Dan pula berkata, “Pantas saja waktu kemarin bertemu, dia sempat ‘pamitan’ segala.. Aduh, ternyata firasatku benar…”

Ya. Firasat. Sebuah tanda-tanda yang diberikan oleh orang-orang yang hendak berpulang ke pangkuan Tuhan, yang mungkin terabaikan hanya karena kita lost in translation, tidak pernah menyangka bahwa setiap kalimat yang teruntai, setiap gesture tubuh, telah menyimpan makna. Sebuah makna yang akhirnya baru diketahui setelah segalanya terjadi. Setelah mereka benar-benar telah kembali pulang.

Dan saat itu kita hanya bisa bilang, “Ah, pantas saja saat itu firasatku bilang begitu…”

Entah dengan kamu, tapi biasanya, ketika orang-orang terdekatku akan tutup usia, sebuah firasat meracau di benakku. Kalimat-kalimat yang mengatakan bahwa sebentar lagi aku akan merasa kehilangan yang amat sangat, sebuah perasaan yang tidak bisa kuterjemahkan tapi aku merasakan kalau wajah dan pancaran sepasang mata mereka saat memandangku menyimpan duka yang mendalam dan berusaha untuk berpamitan.  Continue reading

Sebuah Catatan : 27-28 Januari 2010

Rabu.
27 Januari 2010.
Pukul enam sore lewat sedikit.

Sedan hijau Bro melaju perlahan menuju kamar VIP yang memiliki pelataran parkir di depannya sehingga kami bisa langsung masuk ke kamar tanpa harus melewati lorong-lorong rumah sakit yang sepi. Sebelum sampai ke rumah sakit, ponselku berdering pendek. Ada sebuah SMS yang masuk. Dari sahabatku.

Dia menyampaikan kabar baik kalau Papi sudah bisa buang air besar. Pas aku tanya, “Seberapa banyak?”

Dia langsung bilang, “Meneketehe. Tanya ndiri gih, nanti kalau udah nyampe.”

Dan tidak lama kemudian, sedan hijau Bro sudah terparkir rapi di pelataran parkir, persis di depan beranda kamar tempat Papi menginap sejak hari Minggu malam. Aku melihat wajah-wajah orang yang kukenal; Om, Bulik-Bulik, Sepupu-Sepupu, sahabat-sahabat, seorang kakak perempuan, dan seorang Ayah yang sedang terbaring di atas ranjang tanpa banyak bicara. Continue reading

It’s Never Gonna be Easy…

Tujuh tahun yang lalu, Mami meninggal. Ini di luar ekspekstasi karena saya tidak pernah melihat Mami berperang dengan penyakitnya. Langit secerah vanila dan burung-burung terdengar begitu cerewet, tapi tepat pukul dua siang, Mami meninggalkan saya selama-lamanya.

Hampir empat puluh hari sebelumnya, sahabat Mami, yang juga Ibu dari tetangga yang sudah saya anggap sebagai saudara sendiri, meninggal dunia karena kanker Pankreas yang sudah akut.

Saat itu saya membanding-bandingkan perasaan sedih saya dalam kebisuan dan berkata, “Kalau Lia, Atta, Lena, kan sudah tau persis Mami-nya bakal meninggal.. Mereka tau kalau organ tubuh Mami-nya sudah tidak berfungsi sebagai mestinya. Dokter bahkan menyuruh mereka untuk merelakan kepergian tante Fred. Aku yang lebih sedih, aku yang lebih menderita karena kepergiaan yang sangat mendadak!”

Saya memang merasa lebih ‘berhak’ untuk bersedih, meratapi hari-hari tanpa Mami, dengan satu alasan: saya tidak siap. Kalau saja saya tahu Mami sedang menanti ajalnya, mungkin saya akan merasa lebih legawa, lebih siap menghadapinya, tidak terlalu sedih…

Tapi betul, kah?

** Continue reading

Catatan Harian

April 2014
M T W T F S S
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Celotehan Lala Purwono

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 105 other followers