archives

Ombak

This tag is associated with 1 post

Menakhlukkan Ombak

Aku terdiam di tepi pantai.

Ombak menjilati ujung-ujung kakiku yang sedikit terbenam di atas pasir putih lembut; menggelitik setiap sel-sel syaraf dan mengaliri perasaan tak nyaman setiap pandanganku terlepas jauh ke depan. Menatap ombak, menatap buih-buihnya yang pecah di pantai, menatap gulungannya seolah menciptakan sensasi yang membuatku hampir tak sanggup menghela nafas.

“Apa yang ada di dalam pikiranmu?” Seseorang di sampingku bertanya. Lelaki, badannya tegap, perutnya rata, kulitnya gelap, dan rambutnya terkuncir berantakan. Dia memakai celana bermuda dengan warna yang sudah memudar, bertelanjang dada.

“Kamu kayak dukun. Kayak paranormal aja…” sahutku.

“Tidak butuh menjadi Paranormal untuk tahu kalau kamu sedang banyak pikiran,” katanya. “Tapi aku tak tahu, apa yang sedang kamu pikirkan…”

Aku menghela nafas. “I’m just afraid…”

“Afraid of what?”

“Of the waves…”

“Pada ombak-ombak itu?” tanyanya. “Kenapa, memangnya?”

“Aku takut tenggelam. Aku takut ombak itu bakal menggulungku, menelanku hidup-hidup lalu aku mati kehabisan nafas…”

Lelaki itu menyentuh punggungku. “Kamu tahu, this surf board will pull you up in the surface, akan mengangkatmu ke atas air, sedahsyat apapun ombak menggulungmu. Trust me, I know.”

Kupandangi Lelaki itu. Wajahnya yang teduh dan bersahabat meskipun tulang rahangnya menunjukkan kekuatannya, ketegasannya. Dua biji matanya mengisyaratkan ketulusan dan mengajak hatiku untuk percaya.

“And by the way, no one expects you to be expert on day one,” katanya pelan. “Butuh latihan, butuh jam terbang yang cukup untuk setiap peselancar agar bisa menakhlukkan ombak…”

Hari itu hari pertama.

Dan ombak di depanku, mengejekku.

**

Lelaki itu benar, butuh jam terbang dan latihan keras untuk bisa menakhlukkan ombak.

Hari-hari pertama aku sudah kelelahan sendiri saat menggapai-gapai air untuk sampai ke tengah, mencapai ombak.

Hari-hari berikutnya, aku terbanting-banting ke dalam ombak yang menenggelamkan aku. Ombak yang datang rupanya sangat tinggi, sehingga bukannya meluncur di atasnya, tapi aku tenggelam dalam pusarannya. Aku kehilangan nafas.

Hari-hari setelahnya, aku makin kapok karena ombak tak lagi bisa dikendalikan. Aku hampir tenggelam dan sempat aku memejamkan mata saat berada di dalam air dan memohon maaf dalam hati kepada orang-orang yang aku sayangi karena mungkin aku tak sempat mengucapkan salam perpisahan pada mereka. Aku pikir, aku bakal mati tenggelam!

“Kalau kamu niat bisa berselancar, resiko-resiko seperti itu pasti ada,” kata Lelaki itu ketika kuceritakan padanya tentang ketakutan-ketakutanku.

“Tenggelam tertelan ombak? Mati kehilangan nafas?”

“Kalau kamu tahu caranya, kamu tidak akan tenggelam…”

“How?”

Kemudian dia menceritakan caranya, lalu aku manggut-manggut setelahnya.

**

Sudah hari entah keberapa saat akhirnya aku berani berselancar. Memang, selalu ada jeda sebentar sebelum aku mulai menyentuh air. Jeda untuk berdoa agar selalu bisa selamat, jeda untuk memantra-mantrai diriku sendiri bahwa ombak tidak akan menenggelamkanku, karena aku adalah peselancar yang tangguh.

Perlahan, kuangkat papan selancarku.

Perlahan, aku berlari-lari kecil untuk sampai ke tengah dan mulai mengayuh.

Kayuhan demi kayuhan yang mengantarku sampai ke tengah, mencari ombak.

Kayuhan demi kayuhan, sampai kutemukan ombak yang tepat.

Dan tepat saat itulah, aku berdiri, mencoba bertanding dengan ombak, mencoba menakhlukkan ombak yang tingginya berkali-kali lebih tinggi daripada tinggi tubuhku.

Bismillah…

Aku mengangkat tubuhku, mulai mencari-cari keseimbangan agar tidak terjatuh, bergerak ke kiri kanan, condong depan belakang agar tetap seimbang, dan dalam beberapa detik, aku berhasil! Ya, ombak itu berhasil kutakhlukkan!

Berdirilah aku dengan tangguhnya, di atas gulungan ombak yang biasanya menggulungku dengan mudahnya, menantang matahari yang menyiram sinarnya ke tubuhku yang kulitnya menggelap. Aku merasa sangat keren.

Tapi sedetik setelah aku merasa sangat hebat, tiba-tiba keseimbanganku hilang. Mungkin karena terlalu fokus pada rasa kebanggaan, akhirnya aku tak berhasil menjaga keseimbangan tubuh. Walhasil, ombak berhasil menenggelamkanku lagi. Kali ini menyeretnya lebih dalam lagi, membuatku kali ini tak hanya merasa sesak nafas, tapi benar-benar terasa seperti akan mati.

Saat itulah aku teringat pada kata-kata si Lelaki, di pinggir pantai, beberapa waktu yang lalu.

“Kalau kamu tergulung ombak, jangan kuatir. Kepanikan justru akan membuatmu semakin sesak nafas dan menghirup banyak air. Jadi, tenangkanlah pikiranmu dulu. Hilangkan ketakutanmu, dan mulai raih tali papan seluncurmu. Tariklah kuat-kuat, cengkeram erat, dan percayalah, kamu akan tertarik otomatis ke atas permukaan air…”

Dan kulakukan itu.

Kutenangkan pikiranku. Kutarik talinya. Kubiarkan tubuhku tertarik ke atas. Tentunya sambil berdoa agar nafasku tak habis di perjalanan menuju ke sana.

Lambat tapi pasti, tubuhku memang tertarik ke atas. Aku kembali berenang di atas permukaan air, beberapa saat kemudian, dengan nafas yang mungkin tersengal, tapi oksigen itu berhasil kuhirup dengan bebas.

I’m still alive!
Yay!

**

“Bagaimana pelajaran surfingnya? Suka?” tanya Lelaki itu, saat kami menikmati sunset berdua.

Aku hanya terdiam sambil memandangi lautan lepas di depan kami. Gulungan ombak yang tinggi lalu pecah di bibir pantai. Terlihat ganas, tapi melembut di tepian.

I know I can’t control the ocean.
I know, the waves can pull me down, or take me high.
But I won’t be scared, because I always know that I have my string to hold on to and take me up to the surface.

Just think everything clearly then I know how to handle my every up and down…

Dan kuelus papan seluncurku itu sambil tersenyum.

***
Kamar, Sabtu, 3 Juli 2010, 2.44 Sore
Terinspirasi dari artikel tentang Seluncur di sebuah tabloid

Catatan Harian

May 2013
M T W T F S S
« Sep    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Celotehan Lala Purwono

  • Keren! RT @byotenega: Pagi ini, nulisbuku.com akan syuting iklan untuk Google Innovation. Prepared by Ogilvy. Semoga lancar! 2 hours ago
  • @okaphoto dan dia berhasil punya 1000 gerai kebab, 400 manajemen hebat. Well, he's OK. More than OK, I guess. :) 11 hours ago
  • @okaphoto Iya. Hrs tau mana yg lemah biar bisa diperbaiki atau disikat sekalian. Tp bs jd itu strateginya, biar dianggap responsible, kali. 11 hours ago
  • Sayang, bobo dulu yaa... I love you.. *pura2 lupa kalo ini bukan WA *iya, biar disangka romantis banget. 11 hours ago
  • Eh iya, Mas @okaphoto . He gave up too easily. Without a fight. Aku ngeliatnya jadi gemes. :( 11 hours ago
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 92 other followers