Sekali lagi, ramai mengejeknya.
Geliatan penuh gelora dari lingkungan di sekitarnya, gejolak tawa yang membahana dan memekakkan telinga dari mulut-mulut yang ada di sekitarnya, juga dentuman musik yang tak pernah berhenti membisingkan telinganya, sekali lagi mengejeknya.
Dia memang ikut bergeliat penuh gelora, dia juga ikut tertawa, suara musik yang membahana itu memang keluar dari speaker ponselnya, tapi ramai masih mengejeknya. Lagi, dan lagi. Continue reading
“Ayo, Sayang, agak cepat sedikit!” Seorang lelaki berkata sedikit keras sambil menggamit lengan istrinya. Mereka sedang menyeberangi jalanan yang agak ramai dengan lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki.
Perempuan itu mencoba melangkah seirama dengan suaminya. Agak tertatih-tatih memang, karena stiletto setinggi sebelas sentinya bukan alas kaki yang bisa membuat seorang sprinter menjuarai pertandingan atletik.
“Sebentar, dong… Aku, kan, nggak lagi pakai sepatu keds seperti kamu…” Dia merajuk manja.
Suaminya menoleh sambil tersenyum sembari tetap melangkah menyeberangi jalan, dengan posisi melindungi istrinya yang melangkah tergesa-gesa di sampingnya. Continue reading
Thursday, February 25, 2010.
Dear Mbak Piet,
Maybe I’ve never told you how proud I am to be your (not so) little sister. But you should know, that I always prayed, back then when I was much younger than today, that someday, I wanted to grow up and be a woman like you; beautiful, smart, lovable, can cook (and can cook good!)…. exactly just like you.
I know, I will never be a woman like you. But I’m so proud, that I can call you as my Beautiful, Smart, Lovable Sister.
Sudah berkeping-keping doa kurangkum sepanjang umurku, dan kutambahkan pagi ini dengan satu pengharapan khusus di hari ulang tahunmu. Semoga kebahagiaan selalu ada untukmu, di setiap langkahmu…
Love you, Mbak. Forever and ever….
Kiss, kiss.
Hug, hug.
From your (not so) little sister,
Wahyu Sihombhienk (dan memang hanya kamu dan aku aja yang tahu sejarah soal nama ini, ya, Mbak.. hehehe)
***
Kamar, Kamis, 25 Februari 2010, 11.19 Malam
Sejatinya ditulis pukul 6 pagi, tapi lupa dipublish.. hihi!
Keponakan-keponakanku menyambut ketukan pintu pagarku, kemarin malam saat aku bermain ke rumah Mbak Piet, kakak sulungku. Dengan gembira mereka mengulurkan tangan lalu mencium punggung tanganku seperti biasa, secara bergantian. Buru-buru mereka menyeretku ke kamar mereka lalu mengangsurkan sebuah boneka perempuan yang lucu.
“Ini buat Aunty,” kata Q, keponakan sulungku.
Adiknya mengangsurkan satu lagi boneka untukku. Sebuah boneka beruang yang memeluk bantal hati bertuliskan ‘I love you‘. “Ini juga buat Aunty, lho.”
Aku tersenyum. Senang, pasti. Pertama, karena senyum manis mereka yang selalu berhasil merontokkan kesedihan dan gundah gulanaku, dan kedua, tentunya karena boneka-boneka itu memang lucu. Continue reading
Lelaki itu adalah seorang Boss besar. Perusahaannya berjumlah lebih dari jumlah jemari tangannya dan mengalirkan uang yang tak pernah berhenti mengisi pundi-pundinya. Hidupnya bergelimangan uang. Rumahnya mewah. Mobilnya berganti-ganti seperti mengganti celana dalam saja. Kalkulator mungkin menyerah saat menghitung bunga bank untuk depositonya. Dia adalah lelaki yang sangat kaya. Bahkan sebuah gunung pun dibelinya karena ia ingin mengeksploitasi hasil bumi yang terkandung di dalamnya! Continue reading
Pagi ini, aku pergi ke rumah sepupuku yang akan menikah bulan Juni nanti. Dari pagi sampai siang, aku dan keluarga besar berkumpul di rumahnya untuk berangkat bersama-sama ke rumah calon suaminya. Judulnya adalah berkunjung balasan — karena prosesi lamaran sudah dilakukan bulan Desember kemarin.
Jadi pagi tadi, dengan berbatik ria dan make up tebel, aku sampai di rumah sepupuku yang letaknya di Surabaya Coret itu. Tapi saat aku sampai di sana, Melati — sepupuku — masih semedi di dalam kamarnya dan entah melakukan apa. Berhubung Melati dan aku memang sangat dekat, aku langsung saja mengetuk pintu kamarnya dan masuk ke dalam setelah dipersilahkan.
Begitu masuk, aku dan Mbak Ira — kakak iparku — langsung terperangah. Astagah! Sudah terlambat satu jam tapi Melati masih belum rapi juga! Rambutnya masih berwujud seperti rambut Megaloman yang megar ke kanan dan ke kiri. Masih bingung pula mau memakai baju yang mana. Wajahnya belum tersentuh bedak sama sekali. Beugh, aku yang nggak ikutan mau kawin aja langsung senewen. Continue reading
Lelaki bermata sipit yang sering kusebut “Taiwan” itu menyalamiku di suatu pagi. Dia mengucapkan ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Papi, seminggu yang lalu. Senyumnya nampak tulus, juga sepasang matanya terlihat tulus sekali. Seolah dia ikut merasakan apa yang aku rasakan. Oh, setidaknya, mencoba untuk put himself in my shoes.
“Are you OK, now?” tanya Taiwan, usai menyalamiku.
“Hm, not that OK. It still feels so hard to let him go…” jawabku.
Lalu dia tersenyum. “Well, Lala. At least, you know where he’s going. At least, you know for sure that your father has gone to someplace.“
“What do you mean?”
“Remember how I’ve told you about my father, don’t you?”
Seketika itu juga, ingatanku melayang ke percakapan kami setahun yang lalu, sehingga aku bisa memaknai kalimat-kalimatnya tadi.
Setidaknya kamu tahu kemana Ayahmu pergi..
Setidaknya kamu tahu dengan pasti kalau Ayahmu telah pergi ke suatu tempat…
Ya.
Aku mungkin lebih beruntung daripada Taiwan yang tidak pernah tahu kemana Ayahnya pergi, bertahun-tahun yang lalu… Continue reading
Rabu.
27 Januari 2010.
Pukul enam sore lewat sedikit.
Sedan hijau Bro melaju perlahan menuju kamar VIP yang memiliki pelataran parkir di depannya sehingga kami bisa langsung masuk ke kamar tanpa harus melewati lorong-lorong rumah sakit yang sepi. Sebelum sampai ke rumah sakit, ponselku berdering pendek. Ada sebuah SMS yang masuk. Dari sahabatku.
Dia menyampaikan kabar baik kalau Papi sudah bisa buang air besar. Pas aku tanya, “Seberapa banyak?”
Dia langsung bilang, “Meneketehe. Tanya ndiri gih, nanti kalau udah nyampe.”
Dan tidak lama kemudian, sedan hijau Bro sudah terparkir rapi di pelataran parkir, persis di depan beranda kamar tempat Papi menginap sejak hari Minggu malam. Aku melihat wajah-wajah orang yang kukenal; Om, Bulik-Bulik, Sepupu-Sepupu, sahabat-sahabat, seorang kakak perempuan, dan seorang Ayah yang sedang terbaring di atas ranjang tanpa banyak bicara. Continue reading
Sore pukul enam, aku membuka sebuah pintu kamar sebuah rumah sakit.
Aku melihat Papi terbaring di atas ranjang. Sepasang matanya terpejam, tangannya dilipat di atas dada, tubuhnya berbungkus selimut sampai ke pinggang, lalu terdengar suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya. Papi terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya.
Mbak Piet, kakak sulungku, bilang, “Tadi Papi sempat bangun sebentar, aku ajak omong sedikit, terus tidur lagi…”
Sepertinya, obat yang diberikan Dokter untuk menghilangkan rasa mual di perut Papi mengandung obat penenang, sehingga usai mengkonsumsinya, Papi langsung mudah mengantuk dan tidur dengan tenang.
Papi memang mual-mual terus belakangan ini. Nafsu makannya turun drastis — bahkan tidak makan sama sekali, selain dua butir anggur! Minuman apapun tidak bisa melewati kerongkongannya karena langsung mual. Walhasil, kondisi Papi semakin drop.
Tidak seperti orang-orang yang bobot tubuhnya cenderung turun serta terlihat kurus bila berhari-hari tidak makan, Papi malah terlihat lebih gemuk. Rupanya karena tidak bisa membuang urine dengan lancar hampir seminggu lamanya, membuat tubuhnya membengkak. Belum lagi Papi tidak bisa pup dengan lancar. Duh, aku jadi semakin merasa ngilu setiap harus berkali-kali ke kamar mandi seharian ini hanya karena minumku yang terlalu banyak.
Papiku berjuang sekuat tenaga untuk bisa pipis, sementara di kantor, aku beser sampai bosen! Betapa ironis. Continue reading
What makes a great daughter?
Pertanyaan itu seperti menghantui alam pikiranku sejak setahun belakangan ini dan semakin mengganggu pikiranku sejak kemarin, sejak seorang Ayah yang kucintai terpaksa menginap di ruang ICU sebuah rumah sakit internasional yang dipilih karena letaknya paling dekat.
Ya.
What makes a great daughter?
Pertanyaan itu membuat pikiranku tidak tenang. Continue reading