archives

GangGila

This tag is associated with 10 posts

Last Single Gal (behind the scenes)

 

Masih ingat cerita saya tentang Last Single Gal?

Itu lho, cerita nggak penting soal imajinasi urutan pernikahan antara enam member GangGila, yang tercetus di sebuah sore-sore garing, sambil leyeh-leyeh di depan tempat fotokopian?

Ingat, kan, saat saya bilang kalau urutan yang semestinya:

Lala – Lin – Ly – Yun – Els – Tat

Kemudian akhirnya, entah karena apa (oh iya, tentunya karena faktor cowok-cowok khilaf yang rupanya masih belum cukup khilaf untuk ngawinin kami – iye, yang masih tersisa ini!) urutannya menjadi terbalik-lik-lik menjadi:

Tat – Els – Yun – Ly – Lin – Lala

Well, Folks. Ibaratnya sepak bola, ini masih urutan klasemen sementara, karena bisa jadi yang scudetto adalah saya, misalnya? Atau Yun memutuskan untuk menunda pernikahan karena dia lebih memilih  untuk berguru dengan Mama Hengky… eh Mama Loren saja? (Entah kenapa belakangan ini si Yun berubah menjadi Paranormal Gadungan — minus sesajen, menyan, dan asap dupa yang mengepul, pastinya! Idih, serem!)

Anything could happen, you know?

Bisa jadi yang malah kawin duluan adalah Ly, satu-satunya perempuan di GangGila yang mengaku cinta dengan seseorang tapi entah kenapa selalu memandang lembaga perkawinan dengan kedua matanya yang lebar, sok bego, dan sinis, “Kawin, ya?” Dan dia pun berdecak-decak kagum (oh yeah, read it with ironic tone, Guys). “Gue baru akan kawin setelah gue nemu alesan yang tepat buat kawin,” katanya. Alasan macam apa? Heaven knows. “Atau kalau tiba-tiba feeling gue mengatakan, ok Girl, now is the right moment to think about marriage more serious.”

Nah, kalau sampai Ly yang kawin duluan, saya dan Lin akan segera ke dukun untuk minta diruwat! Ya, ya, ya. Artinya: separah itu! :D Continue reading »

a morning chat (and I miss you too)

Early this morning, I chatted with Ly, seorang teman baik saya yang kini terdampar lumba-lumba kali ah pakai acara terdampar segala… hehe… di Hongkong sejak 15 Desember 2006 kemarin. Kami menikmati cela-celaan dan guyonan nggak penting via  Yahoo!Messenger selama tidak lebih dari satu jam. Pastinya, bukan karena saya yang sok sibuk ah, sejak kapan sih, Lala sibuk? Yang ada dia sibuk blogging dan telepon-teleponan.. hehehe… tapi karena koneksi internet yang sangat lambat dan ujung-ujungnya, si Sahabat malah main kabur-kaburan nggak pakai pamit! kata Ly, “Lah, malah nyalahin gue… Salah elo sendiri, Jek… kenapa internet lo soak begonoh!!! “ :D

Meskipun hampir setiap hari saya online, bukan berarti saya mengaktifkan Yahoo!Messenger. Hmm… Bukan karena apa-apa apalagi karena saya takut para fans segera menyapa dan membuat saya nggak bisa kerja seharian padahal saya ini termasuk karyawan teladan… hehehe… kalau pakai acara ceting segala, kadang suka lupa waktu. Apalagi kalau udah ceting sama ibu yang satu ini, yang harus menyediakan cadangan energi buat tertawa-tawa karena usai membaca satu kalimat darinya, bisa dipastikan saya  segera tertawa dan lari ke kamar mandi buat beser halah, La… hiperbolis banget lu… Emang lu pikir, temen lu itu mirip wese apa, jadi setiap ngobrol sama dia, lu jadi terbirit-birit ke kamar mandi??? wekekekeke…. *pis ah, Bu… Elu cantik benel deh.. * :D Jadi biarpun saya online nggak jelas setiap hari, belum tentu saya bisa mengobrol dengan Ly; lagipula Sahabat saya itu memang sibuk beneran, bukannya jejadian kayak saya.. :) Itulah kenapa, ketika saya kebetulan online dan melihat namanya muncul di barisan teman-teman yang online juga pagi ini, segera saya menyapanya. Continue reading »

with love…

Dan semalam elu mengirimi gua sebuah SMS. Pendek saja. Bicara tentang luka hati lu.. sekali lagi.

Dan semalam, dalam hitungan detik, gua langsung menelepon elu, hanya untuk memastikan bahwa elu baik-baik saja, meskipun yang semalam gua dengar, hanya isak tangis elu yang panjang dan kata-kata penyesalan kenapa elu musti jatuh cinta sama lelaki yang seolah membuka pelukannya lebar-lebar untuk menampung cinta elu yang sudah bertahun-tahun tak terbagikan pada siapapun.

Dan di ujung telepon itu, yang musti selesai mendadak karena pulsa mepet *ah penyakit nih!*, elu mengirim SMS ke gua, mengucapkan terima kasih karena sudah menelepon elu, memberikan cerita-cerita yang bisa membuat elu tersenyum lagi, dan mengurangi sedikit beban *oh, bukan beban tubuh elu, pastinya.. haha*

Dan saat itulah, gua ingin sekali membungkus pelangi buat elu. Pakai kertas kado warna pink dan dipermanis dengan pita berwarna soft pink, kesukaan elu.

Saat itulah.. gua ingin sekali membungkus Alessandro Del Piero, gua taruh di dalam kue tar yang bagian atasnya bisa terbuka dan dia bergerak keluar dari dalam sana untuk bilang, “Surprise…” Lalu si Ganteng itu segera menciumi elu habis-habisan dengan noraknya… *ah, lu pasti masih ngimpi soal hal ini, kan?? hehehe*

Saat itu juga… gua ingin sekali membungkus sebuah tongkat ajaib, yang bisa elu pakai untuk mengulang  hari di mana elu bisa membelikan satu ekor ayam goreng Ny Suharti, yang pernah lu janjiin buat Alm Papi, tapi selalu tak sempat waktu sampai akhirnya elu menyesal karena tak pernah bisa memenuhi janji sederhana itu… Continue reading »

Sebuah Cerita Hujan

always_raining_in_my_heart_by_chix0rSurabaya hujan.

Saya melihat tumpahan air hujan itu dari balik jendela, di tempat saya duduk   untuk bekerja (okay, okay, untuk blogging, chatting, dan maen games… Nggak boleh ya, biar Perusahaan nggak keliatan sia-sia harus menggaji saya setiap hari? hihihi). Posisi meja kerja saya memang cukup strategis untuk melihat tumpahan air hujan itu; ruangan di sebelah jendela dan lantai tiga. Saya tidak hanya sekedar bisa melihat peristiwa alam yang sungguh saya cintai itu, tapi saya juga bisa menikmati bunyi angin yang bergelung-gelung ramai dan cukup membuat kuduk berdiri. Suara anginnya begitu bising dan menciptakan efek dramatis, lalu dengan segera membuat saya berhalusinasi tentang film-film horor.

Dan ya.. emang saya ini adalah orang dengan kadar ke-hiperbolis-an (emang ada? hehe) yang cukup tinggi… Tapi saya nggak pernah hiperbolis dengan kecantikan saya ini… (yang ini bukan hiperbolis yang cukup tinggi, tapi kadar narsisnya yang sangat akut dan faktor males ngaku kalau sebenarnya jelek! hehe)

Hujan selalu sanggup membawa kenangan-kenangan masa lalu untuk menghinggapi lagi pikiran saya. Tentang peristiwa kebanjiran yang membuat motor saya mogok di pinggir jalan dan membuat saya menjadi tontonan karena jarang-jarang ada perempuan cantik nongkrong sambil berbasah-basahan (tolong jangan menganggap salah baca karena memang saya menulis kata PEREMPUAN CANTIK barusan.. hehe). Tentang berbagi jas hujan dengan Tat, karena saking kompaknya dan menjunjung tinggi persahabatan, kami harus membagi dua setelan jas hujan milik si Tat; dia kebagian celananya, saya kebagian jaketnya (dan pastinya, kami sama-sama tetap basah!). Juga tentang banjir yang masuk ke dalam kantor karena hujan yang turun sangat, sangat deras semalaman, sehingga saya dan teman-teman yang lain harus menggulung celana panjang dan melepas sepatu saat melewati lantai satu… ^_^

Banyak cerita-cerita lucu yang terjadi ketika hujan dan membuat saya terkikik geli setiap mengingatnya. Tapi ada satu cerita di musim penghujan yang sungguh-sungguh tidak mudah terlupakan sampai sekarang, yang selalu bisa membuat saya ketawa ngakak dan kepingin pipis (apalagi kalau pas mengingatnya, saya memang sedang kebelet pipis! hihi).

Sebuah cerita di musim penghujan, hampir dua tahun kemarin…
Sebuah cerita tentang GangGila, Musim Hujan, dan Hotel Berhantu… Continue reading »

Kenapa saya bisa jatuh hati sama kalian ya?

Ketika saya iseng membuka-buka postingan lama saya dan ketemu dengan judul why do you love him yang bercerita tentang apa alasan saya sehingga begitu jatuh cinta dengan Pacar (okay, sekarang dia sudah menjadi Mantan Pacar, tapi tetap menjadi sahabat saya ^_^ ), naluri iseng saya pun timbul dan mulai beranalisa.

Okay.

Yang tiba-tiba terlintas di dalam pikiran saya adalah tentang rasa cinta saya terhadap GangGila, lima orang sahabat saya, yang kadar kegilaannya sudah tak bisa ditolerir lagi dan sama sekali tidak berniat untuk insyaf dalam waktu dekat (atau bahkan tidak pernah terlintas sedikitpun untuk insyaf! hihihi).

Ya.

Rasa cinta saya buat mereka telah membuat saya tidak bisa berhenti untuk tertawa ketika mengenang kegilaan-kegilaan kami (dan yang terus terjadi sampai sekarang)…

Tidak bisa berhenti untuk merasa terharu, ketika mereka kumat sok melankolis… (ya, terutama elu, Lin! hihi)

Tidak bisa berhenti untuk mengajak bertemu, apalagi ketika sedang sedih, sedang butuh dukungan, atau sekedar ingin ketawa sampai berguling-guling di lantai (sumpah! Meskipun ini kemungkinan besar bisa terjadi, tapi sekarang saya sedang hiperbolis! hihi)…

Rasa cinta yang akhirnya membuat saya kepikiran untuk menganalisa: why oh why do I love them all?

Dengan dibantu oleh Lin di ujung telepon, pukul dua belas kurang tadi, akhirnya saya menemukan jawabannya…. :) Continue reading »

GangGila dan Bioskop

Gara-gara menonton Laskar Pelangi, hari Rabu kemarin, dengan salah satu sahabat GangGila saya, si Lin, saya langsung terkenang kembali dengan kegilaan-kegilaan yang GangGila lakukan pada jaman-jaman kuliah dulu (dan kegilaan yang disangka akan berhenti setelah kami menjadi wanita pekerja itu ternyata tidak pernah berhenti sampai sekarang! DOH!).

Bukan persahabatan si Ikal dan teman-temannya…

Atau ketulusan hati Bu Muslimah ketika mengajar murid-muridnya yang miskin dan minim biaya…

Tapi yang membuat saya dan Lin terkenang kembali dengan masa-masa tahun 1998-2003 adalah keceriwisan sekelompok perempuan muda, yang duduk persis di belakang saya dan Lin, yang cekakak cekikik nggak penting, dan celometan lucu-lucuan sampai membuat saya (yang tadinya risih) ikut ketawa ketiwi nggak jelas. Ya, tiga perempuan itu memang masih tahu diri. Mereka hanya melakukan kegilaan itu di scenes yang tepat. Kalau memang waktunya menangis yaa.. menangis lah. Mereka bisa berubah secepat kilat seperti potongan adegan di layar film!

Saat mereka melakukan kegilaan, saya dan Lin hanya terbengong-bengong, tapi saya tahu, Lin juga memikirkan hal yang sama. “Kayak kita jaman dulu, ya, La…”

Ya.

Dan kerinduan saya pada tingkah polah ajaib saat menonton di bioskop (sekarang duduknya jauh lebih tenang, meskipun tetap saja sering uyel-uyelan sama Lin saking empuknya ini perempuan! hihi) membuat saya segera mengajak ngobrol perempuan-perempuan ceriwis di belakang saya itu setelah film usai diputar dan lampu menyala terang. Continue reading »

the last single gal

GangGila adalah satu kelompok perempuan-perempuan aneh, sinting, dan senang berkhayal. Rajin sekali menggubah lagu-lagu populer dan seringkali berimajinasi tentang hal-hal yang nggak penting, sampai lupa dengan esensinya, lalu ngakak-ngakak nggak jelas setelah bermenit-menit kemudian karena kebablasan berkhayal.

Suatu kali, GangGila pernah berimajinasi tentang ini.

Tentang siapakah yang bakal menikah duluan.

Dan siapa pula yang akan menikah paling bontot.

Percakapan-percakapan nggak penting ini terjadi delapan tahun yang lalu, di suatu hari yang terik, dan mengambil tempat di depan sebuah tangga di depan tempat fotokopi.

“Eh, kira-kira, di antara kita, siapa yang bakal menikah duluan, ya?” tanya si iseng Lala. Iya. Saya! :D

Dengan serempak, tanpa sempat mikir, mereka segera berteriak, “Ya elu, lah.. Sapa lagiiii…” Dengan alasan, “Elu kan yang paling rajin pacaran dan super ganjen…”

Dan sayapun tak bisa berkata apa-apa untuk mengelaknya.

Pertama, saya seneng dong dibilang bakal menikah duluan…

Dan kedua… aduh! Emang saya seganjen apa sih, kok sampai dibilang bakal jadi yang pertama?

Tapi okay lah. Aturan tidak tertulis di dalam membership (halah) kami adalah: Tidak boleh sensi apalagi marah.. (ya.. mungkin karena dirasa percuma aja marah-marah sama Orang Gila.. Jelas nggak ada faedahnya sama sekali! hihi!)

“Ya sudah. Gua yang pertama. Terus berikutnya?” Continue reading »

stolen stories

Saya adalah seorang yang paling bisa membuat orang ‘membocorkan rahasianya’.

Ah.

Siapa bilang?

Sahabat blogger saya, si Kakak Kedua di the ‘famous’ (uhui!) Asunaros, EmiChan yang mengatakannya pada saya via chatting tengah malam, beberapa jam yang lalu.

Dan bukan Lala, si Tukang Ngeyel itu :D , kalau tidak mengelaknya dengan beralasan, “Buat bahan cerita, Sis… Kan lumayan jadi bahan untuk menulis…”

Dan si Kakak itu pun langsung bilang, “Dasar!” Dengan emoticon ketawa lebar.

Haha…

Saya lantas ingat dengan sahabat-sahabat Gila saya, Si GangGila. Tidak sekali dua kali mereka bilang sama saya, “Lu musti kasih royalti ke kita, La… Kita kan udah berbaik hati mau-maunya jadi bahan elu nulis…”

Dan saya selalu bilang, “Lah, salah sendiri jadi orang kok banyak banget masalahnya… Ya gimana gua nggak ngiler buat cerita?”

Lalu biasanya, mereka nggak akan segan-segan untuk menjitak saya (ya, kecuali percakapan itu dilakukan di telepon! Teknologi belum secanggih itu, lah! UNTUNG! hihi).

Tapi, tapi, bukankah seperti yang dibilang teman saya, si Daniel Mahendra, bahwa ide untuk menulis bisa didapatkan dari mana saja dan semua hal bisa menjadi bahan tulisan? Jadi sah-sah saja kan, kalau saya terinspirasi dari hal-hal ringan (atau malah berat) yang terjadi di dalam kehidupan orang-orang terdekat saya, lalu mencoba untuk menuangkannya dalam bentuk kata-kata dengan harapan ada sesuatu yang bisa dipelajari dari sana? (aih, aih…)

Dan siapa yang menyangka juga, bahwa ternyata, setelah saya mengulik-ulik isi blog saya ini, ada banyak tulisan yang terinspirasi dari cerita-cerita kehidupan sahabat-sahabat saya ini?

Hmm.. coba perhatikan deh…

Dari seorang LIN, saya bisa menuliskan cerita-cerita ini…

Lin yang lucu!

Lin yang lucu!

running away

when you just can’t picture him in your fantasy

it’s just a freaking name

partner in culinary *yeah, Lin, it’s you ^_^*

oh Gosh!

Dari seorang LY, saya terinspirasi untuk menulis…

Ly, yang ngakunya ga bisa jatuh cinta.. alah!

Ly, yang ngakunya ga bisa jatuh cinta.. alah!

teman yang takut sendirian

yang tak pernah bermimpi

Dari YUN yang dibilang EmiChan sebagai perempuan yang paling keliatan ‘sadis’ dan ‘jangan macem-macem sama saya yah!’ :D , lahirlah cerita-cerita ini…

Yun, si Pemburu Hantu

Yun, si Pemburu Hantu

just believe. period.

kenapa kita selalu mencintai lelaki-lelaki yang salah ya, La?

Seorang TAT yang hebat, telah membuat saya berhasil menuliskan ini…

Tat, our own Miranda Hobbs

Tat, our own Miranda Hobbs

partner in crime

can you really forgive someone?

Si ELS, si mungil yang kecil mirip upil itu (haha), telah membuat saya bisa sekali menuliskan satu cerita tentang hari bahagianya yang berjudul my bestfriend’s wedding.

Els, si mungil kayak upil

Els, si mungil kayak upil

Dan kelima orang hebat tapi gila dan super najiz itu (ah, but I love you, Guys!) juga paling bisa membuat saya bercerita panjang lebar, rada ngomel, tapi penuh kebanggaan saat menceritakan ini semua…

till midnite, at starbucks

sex and the city… WANNABE! ^^

untuk GangGila tersayang

kalau GangGila ngumpul

are you willing to let go or not?

See? Betapa banyak yang bisa saya tulis hanya dengan mendengarkan cerita mereka, mengulik kenangan-kenangan saya dengan mereka-mereka yang sableng tapi pinter dan menggemaskan itu (aduh, fitnah nggak sih kalau saya bilang mereka dalah makhluk yang menggemaskan? hihi). Bermodalkan telepon sampai tengah malam dengan Lin, bergosip dengan Tat saat dia sedang malas menciptakan makanan baru di pabrik tempatnya bekerja, ngobrol sampai larut di Starbucks dengan GangGila (minus Ly), lalu guyonan bak orang sinting via yahoo!messenger dengan Ly di Hongkong… saya bisa mempunyai banyak ide dalam menulis!

Dan benar..

Masih seperti yang dibilang Daniel Mahendra, bahwa segala irama dalam hidup saya adalah materi untuk menulis. Di saat saya sedang menghadapi masalahpun, sebetulnya adalah materi yang bisa ditulis. Katanya, penulis harus bisa mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah yang ada di sekitarnya.

Aha!

Jadi nggak salah kan, kalau saya mencoba untuk mencari berita, dengan cara saya? Yang terkadang, saking kepengennya punya bahan menulis, saya menelepon Lin dan mengajaknya bertemu… Dan selalu saja, first thing that crosses in her mind is… “Lu mau jadiin ini sebagai bahan postingan blog elu ya, La?”

HAHA…

I am sorry Guys…

Saya musti memanfaatkan stolen stories ini…

Terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja…

Dan terlalu najiz untuk tidak dibagi-bagi dengan teman-teman blogger saya… :D

Ah..

I could  never thank you enough, Guys!

(“Bisa kok, La.. pake royalti tiap bulan kalau buku elu sukses!” kata si Lin dengan cengengesan.. hihi)

Hihi.. luv ya all… Kalian akan terkaget-kaget kalau tahu betapa saya merasa sangat beruntung telah menemukan kalian di dunia ini!

PS. Ya.. dan kalian-kalian yang telah menginspirasi tulisan-tulisan saya… (dan memang cuma kamu yang tahu bahwa itu kamu — seringkali anonymous soalnya nggak tega euy! Haha…)

People change… People move on…

Things change.

People change.

People move on.

Kalimat ini adalah percakapan Joey dan Dawson, dua karakter utama di serial Dawson’s Creek yang mencetak prestasi hebat, sebelas tahun yang lalu. Kalimat itu diucapkan oleh Joey ketika ia hendak mengambil beasiswa di Perancis, sebuah excuses untuk menjauh dari Capeside, dari himpitan masalah-masalah keluarga di mana kakaknya menikahi lelaki negro dan Ayah yang masuk penjara, juga ketakutannya karena mencintai sahabatnya sendiri, Dawson.

Tapi Joey tidak menyadari, bahwa Dawson pun mengalami ketakutan kalau harus ditinggalkan olehnya.

Dan apa kata Joey?

Things change, Dawson. People change, people move on…”

Ya.

Bahwa waktu akan mengubah semua hal.

Mulai dari ulat, kepompong, lalu menjadi kupu-kupu yang cantik.

Mulai dari luka yang menganga, lalu menjadi kulit yang lengkap.

Mulai dari rambut yang hitam, lalu berubah menjadi putih.

Dan ya…

Mulai dari nobody menjadi somebody.

Hmm…

Lalu saya teringat dengan sahabat-sahabat saya, GangGila, lima orang hebat dalam kemasan yang mungkin nggak banget :)

Dalam suatu percakapan yang agak serius di sebuah coffee shop favorit kami, Starbucks, sahabat saya, si Tat, menyeletuk begini.

“Eh, mungkin orang-orang di kampus kita dulu, nggak menyangka kalau kita semua ini bakalan ‘survive‘ sampai hari ini ya…”

Karena GangGila memang makhluk-makhluk manis (ehm!) yang super bandel di kampus. Meskipun nilainya tidak pas-pasan, tapi perilaku kami memang super annoying. Mahasiswi-mahasiswi yang bandel, yang susah diatur, yang dimana-mana selalu keliatan cuek dan cekakak cekikik dengan volume suara sangat keras dan bisa bikin telinga budek seketika! :D

Para dosen sampai angkat tangan. Aha! Mungkin mereka kesulitan untuk berkata-kata. Mau dimarahin, kok nilainya bagus. Mau nggak dimarahin, kok kebangetan bandelnya. Haha… What a year.. what a year…

Dosen pembimbing tugas akhir saja malah nyuruh saya nyanyi saja kalau sedang bimbingan. Di saat teman-teman yang lain deg-degan menghadapi pertanyaan-pertanyaan si Dosen Pembimbing yang galak, saya malah cengar-cengir. Dan percayalah, sahabat-sahabat saya yang lain pun demikian. Apalagi si Gebleg Lin. Dia itu jagonya! :)

Itulah kenapa, Tat bilang, “Apa mungkin ya, La, pas kita lulus dulu, kampus langsung bikin nasi tumpeng dan bikin syukuran diem-diem?”

Kami pun tertawa. Dan tentunya, masih dengan volume suara yang tidak berkurang seperti masa kami kuliah dulu. Haha. Inget umur, Guys!

“Tapi, tapi.. bener lho, La. Mungkin temen-temen kuliah kita dulu nggak akan menyangka kalau kita bisa seperti sekarang…”

Tat adalah perempuan hebat, sudah berkeluarga, dan memiliki karir cemerlang sebagai Kepala Divisi R&D di sebuah pabrik makanan yang berkonsentrasi ekspor.

Yun adalah akuntan yang canggih, paling encer soal urusan matematika dan pajak (sama sekali nggak nyambung dengan mata kuliah yang kami ambil dulu yaitu Teknologi Pangan dan Gizi!)

Lin adalah marketing di sebuah pabrik yang memproduksi Minyak Kayu Putih/Telon dsb dengan merek yang sudah terkenal di mana-mana..

Els adalah pegawai administrasi dan keuangan di sebuah pabrik sepatu yang berorientasi ekspor ke luar negeri, bersuamikan koki hebat ‘jebolan’ Amerika, dan mereka sedang merintis usaha rumah makan…

Ly adalah perempuan sableng yang kini bekerja di luar negeri, mengais rejeki sebanyak-banyaknya di sana lalu akan pulang membawa duit banyak akhir tahun ini…

Dan saya?

Ah.. kamu tahu lah, saya seperti apa.. :)

Saat masih kuliah dulu, kami sering dianggap sebelah mata. Hanya bisa cekakak-cekikik. Hanya bisa begajulan nggak jelas. Hanya sekelompok manusia tanpa masa depan yang jelas. Enam orang yang hanya Badut-Badut penghibur kelas saja. Ah!

Betapa waktu telah mengubah apa saja.

Betapa waktu berkuasa penuh untuk membuat kami menjadi manusia yang lebih baik.

Dan membuat kami menjadi manusia dengan masa depan, yang setidaknya, tidak terlalu mendung :D

Seperti pemandangan yang saya lihat, beberapa bulan yang lalu, di sebuah mal dekat rumah.

Saya melihat seorang perempuan, cantik, berdiri di depan sebuah restoran, sambil membawa buku menu restoran tersebut dan sibuk menawarkannya pada para manusia-manusia yang lalu lalang di depannya. Saya tahu siapa dia. Siapa perempuan yang cantik itu, si Cantik yang kemudian menunduk ketika matanya menatap mata saya.

Dia adalah salah satu perempuan ‘hebat’ di sekolah saya. Si Cantik yang tergabung dalam Gang Gaul yang selalu terbungkus dengan pakaian trendy dan hanya mau bergaul dengan Si Cantik dan Ganteng saja. Saya adalah pengamat mereka. Saya adalah perempuan yang hanya bisa memandang mereka saja tanpa mimpi untuk bisa bergabung di dalamnya.

Ketika saya melewatinya, sapaan saya ternyata membuat dia rikuh. Entah apa yang ada di dalam isi kepalanya, ketika melihat saya lewat di depannya. Malu? Atau marah? Atau apa? Entahlah. Yang pasti, sejak saat itu, jarang sekali ia berani memandang saya, bahkan menyapa, ketika saya lewat di depannya (ya, mal itu adalah taman bermain saya!).

See?

Things change.

People change, people move on.

Waktu punya kekuasaan penuh untuk mengubah siapa saja. Bahwa segalanya tidak akan berhenti ketika segalanya masih bisa bergerak. Seperti halnya manusia yang bisa berubah, from nobody to somebody, waktu pun bisa sekali mengubah manusia, from somebody to nobody. Sehebat itulah waktu. Ya. Sehebat itu.

Selama nafas masih ada…

Selama itulah kamu akan berubah.

Menjadi apa?

Menjadi apa saja… Apa saja…

Menjadi orang hebat? Menjadi orang biasa-biasa saja? Menjadi orang yang seperti hari ini (tapi dengan keriput-keriput halus di sekitar mata dan bibirmu)?

Yang pasti…

Empat orang GangGila telah berubah…

Dari yang ini…

La, Yun, Lin, Tat (October 2002)

La, Yun, Lin, Tat (October 2002)

Empat orang mahasiswi yang masih sibuk mempersiapkan tugas akhirnya.

Menjadi seperti ini…

Tat, La, Yun, Lin (Agustus 2008)

Tat, La, Yun, Lin (Agustus 2008)

Empat orang perempuan yang sibuk hang out di coffee shop favorit, dengan uang sendiri :)

Ya.

Segala hal berubah.

Tidak terkecuali kita. Kamu dan saya.

Sekarang yang penting adalah: kamu ingin berubah menjadi bagaimana? Somebody? Or nobody?

Hm.

It’s all up to you, Guys..

It’s your decision, eh?

ps. Dari empat manusia itu, siapa yang paling berubah ya?  :)

Dan ya.. posting ini sebetulnya diawali dari saya yang pingin narsis pamer photo masa kuliah dulu! hihi…

Kenapa kita selalu mencintai lelaki-lelaki yang salah ya, La?

Ada satu pertanyaan yang meluncur keluar dari mulut sahabat saya ketika pagi tadi kami bergosip via telepon.

“Kenapa kita selalu mencintai lelaki-lelaki yang salah ya, La?”

Dan pertanyaan itu dengan segera membuat saya kepikiran, bahkan ketika kami menyudahi percakapan 11 menit yang musti selesai karena jumlah pulsa yang tidak mencukupi untuk melanjutkan percakapan.

Dalam 11 menit tadi, akhirnya kami memang tidak banyak bicara soal ‘Lelaki-Lelaki yang Salah’ itu tadi. Percakapan dua sahabat dengan durasi pendek itu akhirnya mengalir ke hal-hal yang lain, seperti membuat janji untuk berkangen-kangenan akhir pekan ini.

Tapi saya ingat, Yun bilang begini:

“Aku juga nggak ngerti, La, kenapa aku selalu ketemu laki-laki yang ternyata sudah beristri lah… Yang nggak se-agama lah… Yang keluarganya reseh lah…” Dan ya, I recall every names she mentioned, lelaki-lelaki yang telah mengacak adut hati sahabat saya itu. “Kenapa sih, La?”

Saat itu saya cuman cengar-cengir dan mulai mengalihkan pembicaraan. Dengan mengetahui persis berapa jumlah pulsa yang tersisa di ponsel saya siang tadi,  saya tak berani melanjutkan pembicaraan ini kemana-mana. We still have this weekend to talk about this, in details. Hm, I bet,  it’s going to be hot!

Usai 11 menit itu, lalu menghabiskan waktu dengan melakukan banyak hal, dan kembali lagi ke depan laptop, di dalam sebuah  ruang kamar yang tak berpenghuni selama lima hari, saya kembali memikirkan pertanyaan itu.

Really, Yun?
Always ‘trapped’ with the wrong guys?
Kamu? Saya? Seriously?

Kalau kata-kata ini benar: Cinta Tak Pernah Salah.
Berarti yang salah cuman saya, juga Yun.
Tapi kenapa kami malah harus bertemu dengan mereka ketika mereka malah membuat kami terluka? Kenapa ketika mereka tak bisa membalas apa yang kami berikan lalu berselingkuh dengan perempuan lain? Atau, ketika mereka mencintai kami, tapi telah berjanji pada hati perempuan lain?

Apa maksudnya?

Somehow, saya selalu percaya bahwa setiap orang yang datang ke dalam hidup saya tidak datang untuk sia-sia. Mereka datang untuk ‘mengajari’ saya. Mereka tidak hanya melukai, tapi mereka memberikan kekuatan pada saya untuk mengunyah luka itu dengan sepenuh hati, sambil perlahan-lahan, dengan berjalannya waktu, saya tahu, dalam setiap kunyahan luka itu saya telah mencicipi sebuah pelajaran.

Tapi… kenapa harus berkali-kali, ya?

Apa saya memang harus bergelar Doktor dulu baru semua ini selesai?

Atau memang… seperti  yang Ties, My Mirror, bilang, bahwa… 

Because we’re challenged people. Only selected people who can deal with this. ‘Normal’ people don’t have that ability to face this. Only us. The challenged ones.”

Jadi maksudnya, saya dan Yun (juga kamu ya, Ties?) adalah orang-orang yang terpilih untuk menjadi ‘pintar’? Begitu?

Hh…

Dalam pergumulan batin yang minus kopi tapi plus perut keroncongan karena belum diisi, saya putuskan untuk melakukan ini.

STOP ASKING A QUESTION THAT WE’LL NEVER FIND OUT WHAT IS THE ANSWER.

Karena kamu hanya akan frustasi.
Karena kamu hanya akan gila sendiri.
Karena kamu hanya akan sinting sendiri.

There.
At this very moment
, saya tepiskan saja pertanyaan Yun tadi, yang sempat meracuni pikiran saya seharian ini.

“Kita nggak mencintai lelaki yang salah, Yun… Mungkin malah mereka yang mencintai perempuan yang salah…”

Karena…

Kalau memang saya mencintai lelaki yang salah, apakah mereka, lelaki-lelaki yang salah itu, yang sampai kini masih sendiri dan bermain-main dengan hati perempuan lain, tidak menganggap Lala, alias saya sendiri, adalah perempuan yang salah juga? Buktinya mereka memutuskan untuk merebut hati perempuan lain karena merasa telah salah memilih saya, kan? :)

Catatan Harian

May 2013
M T W T F S S
« Sep    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Celotehan Lala Purwono

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 92 other followers