archives

Flash Fiction

This tag is associated with 2 posts

32 Hours

Hour 32.

You’re home now. In my arms. Senyummu masih terbingkai indah di wajahmu yang putih bersih. Rindu telah menemukan muaranya. Di wajahmu, di tubuhmu, di dalam dirimu.

Hour 31.

Satu jam lagi, Sayang. Satu jam lagi aku bisa menyentuhmu kembali. Menuntaskan semua rindu itu.

Hour 30.

Langit pekat. Di batas langit sana, sebuah pesawat membawamu pulang. Ke pelukku. Akhirnya.

Hour 29.

Akhirnya tiba di airport. Kita akan bertemu.

Hour 28.

It’s a quarter after one, I’m all alone and I need you now. Lady Antebellum mengalun di dalam mobilku. Lagu kesukaanmu.

Hour 27.

Dunia bersatupadu telah mengatur pertemuan semua manusia. Kupikir, kemacetan lalu lintas yang menggila ini sebetulnya juga konspirasinya.

Hour 26.

Memacu pedal gas mobil yang seperti tak ingin melaju. Ah, harusnya dia tahu kalau aku ingin segera bertemu denganmu..

Hour 25.

I didn’t expect life to be kind. I just expected life not to be cruel to me.

Hour 24.

I should have been chasing you. I should have been trying to prove that you were all that mattered to me…

Hour 23.

Pukul 2 siang, di depan meja kerjaku, sebuah ikon YM berkedip. Pesan dari sahabatku. Dia bertanya, “What are you doing? Pulang.”

Hour 22.

Rinduku memekat di dalam darah, sepertinya. Aku, sesak nafas.

Hour 21.

Bisakah rindu itu usai meski kamu sebentar lagi ada di pelukku?

Hour 20.

Kamu menempati setiap jengkal otakku. Kamu memenuhi semua ruang yang ada di hatiku. Aku, merindu.

Hour 19.

Aku memikirkanmu di setiap hela nafasku.

Hour 18.

Aku ingin memelukmu. Rapat-rapat. Membisikkan kalau aku mencintaimu, tepat di telingamu.

Hour 17.

Hari ini, kabarnya suhu udara di sana mencapai 12 derajat celcius. Apakah kamu tidak kedinginan di sana?

Hour 16.

Surabaya. Taiwan. Kita menempuh ribuan kilometer dan kedalaman laut, beberapa jam penerbangan udara, dan musim yang berbeda. Demi kamu, demi cinta.

Hour 15.

“Kenapa harus sedih? Toh kita akan bertemu juga…” Kamu mengucapkannya seminggu yang lalu, di pintu bandara. Aku, melepasmu di sana.

Hour 14.

Ingat pada aroma parfummu. Yang melambai terbawa angin saat kamu berdekatan denganku. Ah!

Hour 13.

Aku tercabik rindu. Menggebu.

Hour 12.

Membaca ulang semua pesan-pesanmu di ponselku. Merasa seperti masokis sejati, melukai diri sendiri.

Hour 11.

Sudah habis bercangkir-cangkir kopi, tapi kafein tetap tak bisa mengalahkan kecanduanku padamu.

Hour 10.

Seperti slide show presentation, ada kamu, senyummu, dan semua hal-hal kecil yang ada di wajah bulatmu. Aku, peserta meeting yang tak ingin rapat segera usai.

Hour 9.

Mendadak rindu pada pipi gembilmu. Ingin mencubitnya pelan lalu menghujaninya dengan kecupan.

Hour 8.

Bibir tipis merah muda. Tempat dua bongkah bibirku menyisipkan cinta.

Hour 7.

Sepasang mata indahmu. Di sepasang mata itu aku telah jatuh cinta.

Hour 6.

Mendadak hati diserbu kupu-kupu, setiap mengingat kenangan akan cinta yang muncul tiba-tiba.

Hour 5.

Kenapa bahagia harus memiliki masa kadaluarsa?

Hour 4.

Aku, tanpamu, adalah rumah tanpa pintu dan jendela. Gelap. Hampa.

Hour 3.

Aku tidak ingin kita menjadi sejarah. Meski tak mungkin lagi menjadi satu masa depan yang sempurna.

Hour 2.

Harusnya aku di situ, bersamamu. Memegang tanganmu.

Hour 1.

She couldn’t make it. She’s gone now. She won’t be here.. She never will be here again…

Hour 0.

Sebuah pesan pendek, “Operasi Bianca nggak sukses, Ngga. I’m deeply sorry. Kami akan pulang ke Surabaya, segera.” Dari Yunita, adik perempuan Bianca, calon istriku.

**

Selembar Foto

Selembar foto itu masih kutimang-timang di atas jemariku. Berkali-kali, aku bahkan mengusap-usap permukaan fotonya, seolah mengusap wajah yang ada di sana. Wajah yang dulu pernah berebut oksigen denganku, dua puluh empat jam, setiap harinya. Wajah Manuel.

Sebetulnya, aku tidak pernah berniat untuk melihat kembali potongan-potongan kenangan yang terekam di dalam selembar foto berwarna berukuran post card itu. Melihat kembali foto ini adalah sama saja dengan mencoba membunuh diriku sendiri, perlahan-lahan, tapi tidak segera mati. Tersiksa. Sakit. Continue reading

Catatan Harian

September 2014
M T W T F S S
« Mar    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Celotehan Lala Purwono

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 107 other followers