Learning fromThe Movies Vol. 6
Aku sedang menonton film The Nanny Diaries. Sudah entah untuk yang keberapakalinya aku menonton, tapi kali ini ketika film itu usai, aku seolah mengantungi pesan yang sama sekali berbeda dibandingkan ketika pertama kali menontonnya lewat DVD playerku, beberapa tahun yang lalu.
Seperti yang pernah kubahas di tulisanku, Sebuah ‘Pesan’, bagaimana pesan-pesan yang terserak di seluruh jagat raya ini akan berkonspirasi untuk sampai kepadamu dengan cara-cara yang aneh — lewat lagu, lewat tulisan di billboard pinggir jalan, lewat orang-orang yang bersliweran di hadapan muka. Dan ya, di saat yang berbeda, billboard yang sama mungkin tidak akan memberikan pesan yang sama. Itu karena menurutku — yang kuadopsi dari pendapat kawan baikku, Indah — “The right message will come along to our lives at the perfect time, somehow, someday.”
Ya.
Ada sesuatu dari film ini yang membuatku kemudian berhenti sejenak sesaat setelah film itu usai kutonton. Menghela nafas berkali-kali kemudian mengaktifkan laptop untuk mulai menulis.
Beberapa bagian di film drama yang sederhana ini ternyata mampu membuat otakku bekerja lebih keras — bak menonton film-film sekelas Oscar yang penuh dengan kata-kata njelimet, ide-ide yang luar biasa extraordinary. Sederhana saja, tapi membuat pikiranku penuh dengan pertanyaan.
Dan ini adalah sebagian kecil dari film tersebut yang membuat aku menghela nafas berkali-kali hanya karena aku merasa tersindir, kepepet, sampai ke pojokan!
Continue reading
Suatu kali, saya membaca sebuah buku yang tergeletak di sebuah kursi, di rumah kakak perempuan saya. Saya lupa judulnya, tapi isi ceritanya adalah mengenai prediksi suku Maya tentang hari kiamat yang konon bakal terjadi pada tanggal 21 Desember 2012. Dari buku itu saya tahu kalau dari data-data scientific memang menyebutkan perkiraan mengenai peristiwa alam seperti jilatan lidah api matahari yang akan membakar planet-planet seperti Merkurius dan Venus, dan pada tanggal 21 Desember itu tadi, jilatannya sudah mencapai ke bumi.
Doom’s day.
Judgment day.
Kiamat.
….katanya.
Tidak lama kemudian, saya mendengar kalau bakal muncul film yang berjudul 2012. Wah, tentu saja saya senang bukan kepalang karena penasaran. Saya ingin tahu, bagaimana orang-orang hebat di bidang perfilman akan meramu sebuah cheap gossip tentang kiamat dua tahun lagi itu ke dalam sebuah film yang dibintangi oleh artis-artis Hollywood yang sudah punya nama, contohnya Mr John Cussack yang berperan sebagai supir slash penulis buku Farewell Atlantis yang saya bilang one lucky bastard (karena selamat terus dari awal sampai akhir.. hehe).
Makanya, ketika saya memperoleh tiketnya tanpa perlu susah payah mengantri (padahal, sampai hari ini, antrian tiketnya mirip orang antri sembako gratis!), saya merasa sangat beruntung. Sekalipun jam tayangnya hanya satu jam setelah saya pulang kantor dan letak bioskop yang ada di ujung dunia sana -hehe, lebay-, saya tetap nekat berangkat ke sana. Hujan badai saya terjang deh demi bisa duduk di dalam sebuah bioskop yang ramai — mulai dari usia anak-anak sampai embah-embah pun ada! Dipilih, dipilih, dipilih! hehe.
Dan, voila.
Hari Jumat kemarin saya berhasil duduk di dalam bioskop, deg-degan menanti film yang kabarnya bakal ditarik dari peredaran karena dianggap sebagai film yang haram. Yah, sebelum ditarik dari peredaran, saya ingin menjadi saksi kehebatan film yang membuat banyak manusia betisnya linu-linu karena lama mengantri itu!
Dua jam lebih saya menonton film 2012.
Dua jam lebih saya menyaksikan visual effectnya yang memang luar biasa.
Dua jam lebih saya ikut hanyut dalam jalan ceritanya.
Dan setelah dua jam lebih, saya malah tertawa ketika cerita berakhir.
Kamu tahu apa yang membuat saya tertawa?
Ya.
Saya tertawa karena saya ingat dengan label haram yang ditempelkan di film tentang massive destruction on earth karena force of nature ini.
Yaelaaahh…
Haram dari maneeee?????
Setelah sekian lama nggak ‘ngebioskop’, akhirnya siang tadi saya terdampar di Studio XXI, Tunjungan Plaza, dengan seorang kawan baik saya, Jazili. Ada beberapa pilihan film yang sempat membuat saya bingung *ya, yang bingung memang cuman saya, karena Jaz bener-bener ngelimpahin semua tanggung jawabnya ke saya. Dasar semprul!*
Continue reading
Tahu, kan, kalau saya adalah pecinta serial Sex and The City dan menjadikan Carrie Bradshaw, tokoh sentralnya, sebagai role model saya? Kehidupan yang saya jalani sampai hari ini seolah ‘imitasi’ dari si cantik yang diperankan Sarah Jessica Parker yang kemudian menjadi fashion icon di negeri Om Obama.
Imitasi? Jadi maksudnya elo, tuh, a famous coloumnist, have a bunch of lovely bestfriends, vulnerable, beautiful, skinny, and married to a dream guy a.k.a Mr Big?
Haha. In my dream, Bebeh…
Continue reading
Have I ever told you about this huge… HUGE dream of mine?
Bahwa saya pernah (atau sampai hari ini, ya?) ingin sekali bekerja di Broadway — satu panggung teater yang di mata saya adalah sangat spektakuler? Pardon me for my limitations, tapi di mata saya, it is the most spectacular stage, ever. Tidak perlu sebagai aktris (emang ada gitu, La, yang mau jadiin lu sebagai aktris? hehe), tapi sebagai penata lampunya, tukang ngepelnya, pekerjaan kasar apapun deh, asal saya bisa melihat pertunjukan teater di panggung itu secara gratis!…ya, syukur-syukur kalau ada sutradara teater yang khilaf mengajak saya untuk bergabung dalam pertunjukannya… Nothing is impossible, right?
Usai menonton film Cintapuccino. Chicklit Indonesia pertama yang kemudian dibuat versi layar lebarnya. Cerita cinta sederhana. Tentang Rahmi yang begitu mencintai Nimo semenjak SMA tanpa pernah memberitahu lelaki itu soal cinta yang ia rasakan. Sampai kemudian, setelah bertahun-tahun terpisah, Nimo menemui Rahmi.. menyatakan cinta.. dan berkata bahwa selama ini ia mencari Rahmi, perempuan yang ia yakini sebagai cinta sejati. Sialnya, Rahmi baru saja bertunangan dengan lelaki baik dan ganteng bernama Raka.
Cerita diakhiri dengan Raka yang memilih untuk menunggu Rahmi benar-benar mencintai dirinya saja dan melepaskan diri dari belenggu obsesi masa lalunya terhadap Nimo. Dan setelah Rahmi mengalami dilema di dalam hatinya, dia pun memilih Nimo.. obsesi cinta terbesarnya selama sepuluh tahun.
Happy end.
Nimo dan Rahmi berpelukan penuh cinta…
..
… lalu, lalu.. Bagaimana dengan Raka?
Tak ada cerita di situ, tentang Raka yang sakit hati.. tentang Raka yang mungkin masih berjuang untuk melupakan mantan tunangan yang begitu dicintainya.. tentang Raka yang masih berharap pada kesetiaan Rahmi… dan mungkin tentang angan-angan tololnya untuk melihat bintang jatuh dan membisikkan keinginannya..
Tidak ada cerita tentang lelaki baik hati itu.
Dan mungkin, tidak ada yang peduli.
Hh…
Entah kenapa, ketika film itu berakhir, kok saya jadi tidak bersimpati dengan kebahagiaan si Rahmi dan Nimo ya? Saya malah berpikir bahwa Rahmi adalah perempuan jahat yang sudah menyakiti hati seorang tunangannya, calon suaminya, yang bulan depan akan menikahinya.
Tapi, tapi…
Soal jahat atau tidak, bukankah itu sangat subjective? Image Rahmi yang jahat belum tentu menempel di benak penonton yang lain. Bisa jadi yang lain menganggap bahwa kisah cinta Rahmi dan Nimo adalah kisah cinta romantis, bahwa mereka memang meant to be together.
Namanya juga isi kepala orang yang berbeda; sah-sah saja untuk menilai sesuatu. As simple as that.
Argh…
Now I’m confused.
Sebetulnya si Rahmi itu jahat atau nggak, ya?
Atau Raka memang sebetulnya tak perlu berdiri di antara cinta sejati Rahmi-Nimo?
Aduh. Pusing.. pusing!
Untung ini nggak terjadi dalam hidup saya… hihihi… (si Karung Beras a.k.a Lala ini nggak mungkin juga direbutin sama banyak lelaki… ups, kecuali kalau lagi krisis sembako kali yee…) Karena kalau ini kejadian *yang nggak mungkin juga, sih! hihi*, sumpah mati bakal ada Cintapuccino the sequel! Haha…
Eh, eh.. btw, yang jadi Nimo, sumpah ganteng banget!
Ps. Iya, iya.. I know… film ini udah rilis setahun kemarin… novelnya pun sudah bikin heboh sejak 2004 lalu… I know that… I do!