archives

Fiktif

This category contains 62 posts

Siapa Bilang Saya Baik-Baik Saja?

Saya tidak pernah merasa baik-baik saja ketika harus meninggalkanmu, pulang kembali ke kotaku.

Saya tidak pernah merasa baik-baik saja ketika harus membuatmu merasa bersedih karena takut saya tidak akan kembali pulang, ke kotamu.

Saya tidak pernah merasa baik-baik saja melihat kamu, perempuan yang saya cintai, sedang meragukan kesetiaan saya hanya karena kamu ingin meladeni ledakan hormonal tiap bulanmu.

Siapa bilang saya baik-baik saja? Continue reading

Kekasih yang Jauh

“Apa artinya kekasih yang tak bisa kamu kecup bibirnya setiap kali kamu mau?”

Aku diam saja.

“Apa artinya kekasih yang tak melihat warna lipstick terbarumu dan mengomentari flat shoes warna kesukaannya saat pertama kali kamu memakainya?”

Masih, aku diam.

“Apa artinya kemana-mana sendiri, dengan jari-jemarimu yang tak terangkum mesra oleh jari-jemari kekasih?”

Aku tak bisa bicara apapun juga.

“Apa artinya kekasih yang tak bisa kamu peluk sewaktu-waktu kamu butuh, karena hanya pelukannya yang mampu menumbuhkan keberanianmu?”

Perlahan, hatiku mulai ngilu. Continue reading

bagaimana kita bisa sampai di sini?

“Bagaimana kita bisa sampai di sini?” tanyamu di suatu malam, saat kamu bebas memeluk dan menciumku di atas sofa empuk, persis di depan televisi, di ruang tengah apartemenku.

Aku makin menyusupkan tubuhku di pelukanmu. Membuatnya semakin hangat dan seolah punya keinginan untuk meleburnya menjadi satu. Lalu menoleh, memandangmu, dan menjawab, “Kamu membeli tiket pulang. Aku mengambil cuti panjang. That’s how we get here.” Continue reading

What’s so special about you?

Andre,

Bulan Oktober habis beberapa minggu kemudian, tapi tidak kenangan-kenangan kita berdua. Aku selalu ingat saat-saat kita berbagi cerita di sepanjang jalan-jalan kecil di Roma, cerita yang kita bagi di atas skutermu, di cafe-cafe pinggir jalan, di satu bar yang menyuguhkan banyak pilihan wine, dan lobby hotel tempat pertemuan kita biasa berakhir. Continue reading

Andre Winata

Andre,

Siang ini aku sedang berada di cafe depan hotel La Pergola, Roma, dengan senja yang membingkai lansekap kota. Di tempat itulah dulu aku mulai menebak-nebak seperti apa wajahmu. Memang, sebentuk wajahmu telah terekam kuat di dalam benakku jauh sebelum aku terbang ke Roma. Menghabiskan berjam-jam di angkasa untuk sampai di sebuah kota paling cantik setelah London. Kita memang harus bertemu, Ndre. Kamu yang akan menjadi pemanduku, saat itu. Continue reading

Mungkin Kita Memang Tidak Ditakdirkan untuk Bersama

Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama.

Hanya diberi sedikit waktu untuk berebut oksigen di tempat yang sama.

Hanya diberi sedikit waktu untuk duduk di depan sofa, menikmati film-film Perancis kesukaanmu.

Hanya diberi sedikit waktu untuk berbagi berondong jagung dan sesekali jemari kita bersentuhan dan menghadirkan getar listrik yang merontokkan nyaliku. Continue reading

Sebelas. Sebelas. Sebelas.

Sebelas.

Sebelas.

Sebelas.

Seharusnya kita menikah, besok. Seperti mimpi-mimpi yang pernah menjelma dalam setiap percakapan tak penting kita, sambil saling berpelukan di atas sofa, di depan televisi, di depan semangkuk kacang rebus dan dua cangkir teh manis hangat. Lima tahun yang lalu, kita bermimpi untuk menikah, besok. Di tanggal unik itu: sebelas November tahun dua ribu sebelas, saya dan kamu, kita, bakal menjadi sepasang kekasih yang abadi. Tidak ada perpisahan, selain mati. Continue reading

Selembar Foto

Selembar foto itu masih kutimang-timang di atas jemariku. Berkali-kali, aku bahkan mengusap-usap permukaan fotonya, seolah mengusap wajah yang ada di sana. Wajah yang dulu pernah berebut oksigen denganku, dua puluh empat jam, setiap harinya. Wajah Manuel.

Sebetulnya, aku tidak pernah berniat untuk melihat kembali potongan-potongan kenangan yang terekam di dalam selembar foto berwarna berukuran post card itu. Melihat kembali foto ini adalah sama saja dengan mencoba membunuh diriku sendiri, perlahan-lahan, tapi tidak segera mati. Tersiksa. Sakit. Continue reading

Kadaluarsa

Aku dan Lelakiku.
Kami punya masa kadaluarsa.

Sama seperti air susu hasil memerah sapi yang sudah dipasteurisasi sedemikian rupa lalu dimasukkan ke dalam karton-karton untuk menyimpannya lebih lama, seperti itulah aku dan Lelakiku.

Kami berdua, punya masa kadaluarsa.
Yang dengan berjalannya waktu, maka kami akan usai. Selesai. Buang, tak boleh dinikmati lagi karena justru akan menyakiti.

Sama seperti air susu itu.
Ketika pertama kali diperah, kemudian diangkut ke pabrik untuk diproses, ia tahu ia memiliki masa kadaluarsa. Akan tiba waktunya dia justru menyakiti, bukan menutrisi. Ia tahu persis soal itu. Ia tahu, ia memiliki masa kadaluarsa sejak pertama ia ada.

Ya.
Seperti aku. Dan Lelakiku.
Ketika KAMI tercipta, saat itulah kami tahu, kami berdua punya masa kadaluarsa. Kami tahu, akan tiba masa kami untuk saling menyakiti hati, jika nekat kami nikmati.

Aku. Lelakiku. Punya masa kadaluarsa. Yang bakal selesai suatu hari nanti. Yang aku tahu pasti, kapan ia akan pergi.

Kami. Punya masa kadaluarsa.
Tak lebih dari seribu hari.

Kami. Punya masa kadaluarsa.
Selesai, tak abadi.

Ya.
KAMI memang punya masa kadaluarsa.
Kebersamaan yang bakal berakhir suatu masa nanti.
Tapi tidak soal cinta yang mulai memekakkan dinding hatiku, sekarang ini.

Karena cinta, tak mengenal masa kadaluarsa.
Setidaknya bukan cinta ini.
Bukan cintaku, buat Lelakiku ini.

Selamanya kurasa.
Selamanya tak mengenal kadaluarsa.

Di Atas Ranjang Rumah Sakit

Sepasang manusia. Lelaki dan perempuan. Usia mereka tidak lagi muda. Yang seorang, duduk di tepi ranjang. Yang seorang lagi, terbaring di atas ranjang.

Ranjang rumah sakit. Yang dingin, dan membuat tubuh kurusnya berteriak ingin sembunyi dalam pelukan selimut tebal yang dibawakan oleh Istrinya, perempuan yang duduk di tepi ranjangnya itu, yang kemudian menggenggam jari-jemari Suaminya, mengusapnya lembut seperti berusaha mengalirkan kehangatan yang tak kasat mata. Continue reading

Catatan Harian

December 2014
M T W T F S S
« Mar    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Celotehan Lala Purwono

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers