I’m getting married. Setelah sekian lama, saya akhirnya menemukan lelaki (khilaf) yang akhirnya mampu melihat kelebihan-kelebihan saya… Ok, selain lemak-lemak yang sering salah tempat itu. Hehe.
Kali ini, saya tidak menjebak kalian dengan cerita-cerita yang saya pelintir sana sini, sehingga di ujung tulisan kalian merasa: “Dem! Kirain Lala kawin beneran…” Because my friends… this time it’s true. I met a guy, he proposed, and we are finally getting married in a few months. Super yey! Continue reading
Taksi, di pagi buta.
Ponsel saya berdering, taksi sudah menunggu di lantai bawah. Siap membawa saya pergi.
Seonggok tas ransel sudah siap di pintu depan; ransel yang sudah terisi penuh oleh pakaian, laptop, dan tumpukan kenangan yang baru saja kita ciptakan dua minggu penuh, sebelum pagi ini. Siap saya bawa pergi lagi, siap saya bawa terbang lagi, menuju kota yang sebenarnya tak ingin saya tinggali. Saya hanya ingin tinggal di kota ini, bersamamu. Tahu? Continue reading
It’s more than just a writing workshop, it’s a SUPER FUN WRITING CAMP with TWIN DESTINATIONS holidays. Yuk, ikutan!
When you hear a word ‘soul mate’, apa yang pertama kali terlintas dalam pikiranmu? Lelaki tampan yang sekarang sedang memelukmu rapat, tidur di sampingmu setelah menciumi buah hati kalian berdua? Lelaki tampan yang baru saja pamit pulang dari teras rumahmu setelah mengantarkanmu pulang dari kantor? Atau lelaki tampan yang entah sedang berada di belahan bumi mana tapi ia sedang mencarimu? Continue reading
Kamu, pecinta kopi susu. Di setiap pagi, siang, dan soremu. Secangkir kopi susu; sesendok kecil kopi, susu, dan dua sendok kecil gula pasir, dilarutkan dalam air panas secangkir. Pas, seperti itu.
Kucoba untuk menakhlukkan hatimu. Menyediakan kopi susu yang kamu mau, untuk pagi, siang, dan soremu. Kuingat persis takaran kopi, susu, dan gula pasirnya. Semua biar pas seperti yang kamu suka. Continue reading
Judul: #LoveLetters
Penulis: @RyuDeka & @lalapurwono
Ukuran: 11×17.5cm
Tebal halaman: 111 halaman
Harga : Rp. 35.000,-
Siapa yang bisa menyangka, ketika cinta mencengkeram terlampau kuat, kamu malah menginginkan untuk berlari darinya?
Sekalipun tentu saja kamu tahu, sejauh apapun kami ingin berlari menjauh, kamu akan tetap kembali padanya…
*
“Wajib dibaca setelah A Million Dollar Question dan sebelum membaca sekuelnya A Million Dollar Answer”
*
Cara pemesanan:
Email ke admin@nulisbuku.com
Subject: #LoveLetters
Tulis: Nama, alamat lengkap, no telpon, berapa eksemplar
Tunggu email balasan dari admin untuk mengetahui proses selanjutnya.
Oh, ya, buat yang belum baca A Million Dollar Question, bisa sekalian pesan, ya. Harga 65rb saja. Lumayan, lho, jadi hemat ongkir
*
Order #LOVELETTERS now. 50 copies only.
Special edition, for special day.
Yuk!
Terasa seperti deja vu, setiap kendaraan yang kupacu melaju di depan kafe tempat kita berpisah dulu. Seolah ada kekuatan tak kentara yang mengajak ingatanku menuju setiap detil kejadian itu.
When you said, “We’re not finished yet.”
When I said, “Oh yes, we are.”
Dan semua jalinan cinta dalam seratus dua puluh hari itu seperti kertas yang terbakar oleh pijar membara; cepat berubah menjadi abu. Yang tertiup terbawa angin, menyelinap masuk ke dalam kelopak mataku, dan membuat air mataku mengalir tanpa henti, mulai setahun yang lalu.
Sudah separuh tahun, rupanya. Berjalan perlahan di permulaan, lalu bergerak semakin cepat, meski aku ternyata tidak juga beranjak. Seperti dua kaki yang terbuka; satu berpijak di masa lalu, satu di masa depan. Capek.
Painful. This has to stop. Sudah separuh tahun, sudah waktunya memantapkan langkah, meninggalkanmu. Sudah separuh tahun, sudah waktunya kutinggalkanmu di masa lalu.
“Pacaran cuman sebentar, tapi traumanya kayak orang cerai setelah kawin belasan tahun itu pathetic, Sayang…” kata sahabatku. “Wasting your time and energy banget. Ayo, deh.. Move on already…”
Tidak sekali. Tidak dua kali. Tapi berkali-kali kalimat serupa aku dengar dari mulut sahabat dan kakak perempuanku.
They asked me to move on, meninggalkan cinta yang masih menggetarkan hati, lalu mulai melanjutkan hidupku kembali.
Okay, pertanyaan berikutnya adalah: how? Bagaimana caranya?
“Buang semua barang-barang pemberiannya. Foto-fotonya. Simpan dalam kardus. Letakkan di gudang. Kunci.”
Done. All those memories are packed in a box. Kept in my garage
….but a piece of your photograph, in my wallet. Ow, shit.Kedua, “Hapus playlist lagu galau di iPod. Bikin list baru. Cari lagu-lagu yang lift up your mood, bukan kebalikannya.”
Done. Semua lagu-lagu yang memiliki potensi untuk mencengkeram langkah-langkahku dari melangkah menuju masa depan itu sudah hilang dari playlistku.
“Stop reading his emails, for God sake. Itu namanya self torture. Masokis, tuh.”
Dan tahukah kamu, menghapus semua emails dan SMSmu tidak hanya sekadar meng-klik atau menekan tombol delete semata? Menghapus itu semua berarti memberangus semua jejak kakimu di dalam ruang hatiku. Mampukah aku?
Dan terakhir, “Find a new guy. You need another object of affection! Butuh laki-laki lain yang bisa bilang kalau mantan lo itu goblok banget karena udah ninggalin lo dan bikin trauma kayak gini.”
Siapa bilang aku trauma? Tidak. Aku bisa saja menemukan lelaki lain yang dengan senang hati menemaniku minum kopi susu di kafe itu, menggantikanmu duduk di depanku sambil bercerita tentang langit yang biru. Aku bisa saja menemukan lelaki yang bisa menjemputku di muka kantor lalu mengajakku makan malam yang jauh dari romantis, di warung-warung pinggir jalan itu. Ya, aku bisa saja menemukan lelaki yang bernyanyi lirih persis di telingaku, menyanyikan lagu-lagu yang aku sukai, lalu setelah itu mengecup ujung hidungku lembut saat menuntaskan kencan kami di malam itu.
Tapi, siapapun lelaki yang bakal menggantikanmu kelak, bukanlah kamu.
You’re still you. Seburuk apapun perlakuanmu dulu, you’re still you. Lelaki yang sudah mencuri hatiku.
Satu bulan pertama, aku mengatakan pada sahabatku, “No, I need more time.”
Bulan berikutnya, “All his gifts are packed in a box. Sudah. Tenang aja.”
Lalu bulan ketiga, “Lo tahu berapa kali gue denger lagu I Will Survive? Sampai mampus gue dengerinnya..”
Dan bulan keempat aku mengaku, “Semua email-emailnya gue simpen di folder khusus.
I don’t have the heart to erase them all, bu I promise I won’t read those emails. Trust me.”
Lalu sampai di bulan kelima, aku bilang, “Biar semuanya wajar-wajar aja, deh. Emang jaman Siti Nurbaya, pake dicomblangin segala?”
Sekarang, persis di separuh tahun sejak kamu mengajakku untuk saling menempatkan jeda itu, akhirnya aku bilang pada sahabatku. Persis setelah satu keping CD itu mendarat di atas meja kerjaku, entah bagaimana caranya, dan mengingatkanku kalau aku tak boleh lagi menunda melupakanmu.
You’re still you.
The guy who stole my heart away and broke it into pieces.
Aku tak punya alasan untuk membolehkanmu merangsek masuk ke dalam hatiku, dan mengoyaknya sekali lagi, di suatu masa nanti.
So, dear you.
Yes, you.
Don’t wait for me.
Karena persis di bulan keenam, aku sudah bilang pada sahabatku, “
You know what? I think I already find a guy…”
Dan lelaki itu bukan kamu,
Dan semoga tidak menjadi lelaki sepertimu..
Kalau odol lagi jatuh cinta pada barisan gigi geligi yang dicumbunya setiap pagi dan menjelang tidur, mungkin dia akan melekat kuat di dinding-dinding kekasihnya, melekat terlampau kuat meski gelontoran air mencoba meluruhkan pelukannya.
Mungkin dia akan tergesa keluar dari rumah pembungkusnya, menumpang sebuah sikat gigi, lalu meluncur masuk ke rumah kekasihnya. Untuk mencumbunya, lagi dan lagi, setiap hari.
Mungkin pula dia berharap bisa berwarna merah muda saja. Yang manis, yang terasa seperti permen karet, yang tidak bakal diusir tergesa dari rumah kekasihnya karena kehadirannya terlalu mengusik seluruh penghuninya.
Mungkin pula, meski kuyakini betul, dia bakal dengan sangat hati-hati mengusap tubuh kekasihnya, menjaganya dari sakit, karena takut kekasihnya memilih odol yang lain untuk mengobati sakitnya.
Ya,
seperti itulah, mungkin, kalau odol lagi jatuh cinta pada kekasihnya, si gigi-geligi yang selalu merindu untuk saling bercumbu, merindu untuk saling bertemu. Di setiap pagi, pun di setiap malam, mereka selalu menabung rindu yang bakal bikin ngilu bila tak segera bertemu.
Mungkin memang sepeti itu kalau odol lagi jatuh cinta.
Yang kurang lebih sama sepertiku.
Mencintaimu.
Menginginkanmu untuk membuka hari dan menutup malamku.
Menabung rindu dan ingin segera bertemu.
Menjagamu, utuh.
Sayang, aku adalah odolmu. Kamu adalah gigi-geligiku. Dulu, kamu yang memilihku menjadi odolmu. Please, jangan ganti-ganti dulu. Gimana. Mau?
**
Kamar, Senin, 23 Januari 2012, 11.56 Malam
Sebagai penebus karena sudah nyumbang judul aneh buat #15HariNgeblogFF -nya @WangiMS dan @MomoDM
Hai!
Dalam 6 minggu, insyaAllah umur saya bakal 32 tahun. What a great moment for me.
Untuk membuat ultah saya jadi makin istimewa, saya menantang diri sendiri untuk membuat buku yang diluncurkan persis di hari ultah saya, yang jatuh di Februari, tanggal 12 nanti.
Buku ini jelas sangat istimewa. Selain semuanya serba 32 ~ well, sesuai umur saya gitu
~ ada hal lain yang membuat buku kumpulan flash fiction ini begitu istimewa.
Apakah itu? Continue reading
Judul buku: 4 Anak Manusia
Jenis: Novel
Penulis: Lala Purwono
Harga: Rp. 40.000,-
Tebal: 141 Halaman
Ukuran: 11 x 17.5 cm
Dibantu cetak oleh: http://www.nulisbuku.com
”Ketika kamu melihat masa depanmu di dalam
kedua biji matanya,
Ketika kamu merasa sempurna hanya dengan berada di sisinya,
Tidakkah kamu ingin tahu apakah dia merasakan hal yang sama?” Continue reading