mei and june (15)

Apartemenmu sudah ready, James,” kata Erica di ujung telepon.

“Oh ya? Hmmm…” kata James.

“Hey, what’s wrong? Kok kamu nggak antusias sih, James? Is everything alright?”

Nope, nope. Everything’s fine, Erica. Bagaimana sponsornya?” James mengalihkan pembicaraan.

“They’re fantastic, James. They’re so excited. Kamu kan tahu kalau mereka sudah menunggu-nunggu maha karyamu setelah bertahun-tahun kamu menghilang di Indonesia, kan? Mereka nggak sabar untuk melihat bagaimana reaksi pecinta seni Eropa nanti, James. Mereka optimis kalau pameranmu kali ini akan jauh lebih sukses daripada pameranmu yang terakhir di Melbourne itu.”

You really think so?”

Yeah… Kenapa? Kamu ragu?” Read the rest of this entry »

mei and june (14)

“Hai haiii… Ngelamun aja, sih, Neenggg…”

Tiba-tiba Mei sudah berdiri di sampingnya dengan senyum cengengesannya seperti biasa. Di sebelah Mei ada kekasihnya, yang kemudian berjalan mendekatinya, mencium keningnya dan menggenggam jemarinya.

Have you reserved the table?” tanya James sambil terus menggenggam dan mengusap-usap jemari June dengan ujung jempol tangannya.

They said we have to wait for another thirty minutes…”

“Hmm… okay. Kamu nggak ingin jalan-jalan dulu? I’ll wait for our table.”
June menoleh pada sahabatnya. Mei yang mendengar kalimat James lalu mengangguk-angguk setuju sekaligus agak terheran-heran juga melihat kefasihan James dalam berbicara bahasa mereka. “Aku maaahhh ngikut aja deh, June…” katanya dengan nada senang. Read the rest of this entry »

mei and june (13)


teeettt…
teeettt…

Suara bel di depan pintu membuat Mei berhenti melamun. Sambil bertanya-tanya dalam hati, dia berjalan ke pintu depan dan mulai berbicara di intercom. Dia mengintip sebentar di lubang intip dan melihat ada satu sosok lelaki gagah yang berdiri tegap dalam balutan jas, hem biru langit, dan washed jean. Rambutnya yang coklat pirang, mata hijau gelap, dan kulit yang putih, Mei yakin, lelaki ganteng ini adalah James, lelaki yang namanya sering disebut-sebut oleh sahabatnya.

Tapi kenapa, ya, James datang ke sini, padahal kan seharusnya dia tahu kalau June berangkat ke kantor?

Mei menekan tombol bicara.

“Yaaaa??”

Hello… Mmmm… this is James. May I come in?” Read the rest of this entry »

mei and june (12)

Mei mematut-matutkan tubuhnya di muka cermin. Hari ini dia terlihat cantik dengan celana denim selutut dan kaos longgar warna putih. Rambutnya yang panjang sebahu, diikatnya asal-asalan dengan karet berwarna hijau yang berbulu-bulu. Dia memakai strappy sandals warna light pink yang jadi andalannya di musim panas kemarin saat masih di San Francisco sana. Tiba-tiba terbayang wajah Matt yang selalu mengkomentari dandanannya hanya dengan perubahan mimik wajah. Kalau Matt menyukai dandanannya, wajahnya berubah ceria. Tapi kalau Matt keberatan dan tidak setuju dengan cara dia berpakaian, wajahnya langsung mengkerut dan menunjukkan ekspresi kurang setuju. Biasanya, Mei langsung terburu-buru untuk menukar bajunya dengan yang lain. Read the rest of this entry »

mei and june (11)

Everytime we say goodbye, I die a little,
Everytime we say goodbye, I wonder why a little,
Why the Gods above me, who must be in the know.
Think so little of me, they allow you to go…

 

Mei di sana.
Dalam belahan bumi yang berbeda, di mana langit tak sama gelap dan matahari tak akan bersinar sama terang. Dunia di mana ia dua belas jam lebih awal, di sanalah seorang perempuan cantik dan lugu itu kini berada.

Apa yang sedang dipikirkannya?

Mungkinkah ada dirinya dalam setiap sentimeter ingatannya? Read the rest of this entry »

mei and june (10)

June kembali dari angan-angannya yang melambung tak terkendali itu. Tentang kata-kata Dessy soal menikah, hubungan yang sudah bertahun-tahun, dan cerita soal lamaran itu… membuat June seperti tersadar kalau hubungannya dengan James memang sesungguhnya adalah hubungan paling serius yang pernah ia jalani.

Dulu memang pernah ada  Nico, pacarnya semasa kuliah yang akhirnya memilih untuk menikah dengan perempuan pilihan Ayahnya, Yasmin. Tapi perasaan June buat James adalah lebih dari segalanya. Nico boleh mencampakkannya dan membuat hatinya terluka, tapi ketika lelaki itu pergi, tak ada cinta yang masih tersisa selain hati yang memerah.

Lain dengan James. Read the rest of this entry »

mei and june (9)

“Kenapa, June?” tanya Mei tiba-tiba setelah sadar kalau June memperhatikannya dari balik pintu kulkas. “Kamu halusinasi, sampai-sampai ngeliat semangka kayak aku?”
June tertawa.

“Haha… elo ini, bisanya ngoceh kalau sama gua aja. Kalau sama yang lain, langsung silent mode deh…” sindir June pada Mei yang hanya bisa cerewet dengan orang-orang terdekatnya, termasuk dirinya sendiri. “Udah, ah. Gua mau ke kantor dulu. Ntar lo minta tolong sekuriti buat cariin taksi aja, ya? Gua tunggu di Hachi Hachi Bistro, Tunjungan Plaza, jam makan siang nanti, okay?”

“Ke Tunjungan Plaza, June? Sendirian?

“Lha iya, lah. Lo mau ngajak sekuriti juga?”
Mei tersenyum.

“Tapi, June… Sendirian??”

“Ah, bawel lo, ah. Lo ada duit rupiah, kan?”

“Nnnggg… Nggak bisa bayar pakai dolar, ya, June?”

“Ya ampun, Meeeiii… Emang lo kata ini San Francisco gang berapa, siiihhhh…” Read the rest of this entry »

mei and june (8)

“Bunda? Ini Mei, Bunda…”
“Oalah Nduk… sudah datang tho kamu…”
“Iya, Bunda. Mei masih di rumah June. InsyaAllah besok lusa Mei pulang ke Jogja sama June. Dia baru bisa ninggal kerjaannya hari Jumat nanti, Bunda.”
“Wis, ora opo-opo. Kamu sehat tho, Nduk?”
“Alhamdulillah, sehat, Bunda. Tapi agak capek. Pantatnya sakit, kebanyakan duduk.”
“Yang penting selamet, ya, Nduk… Biarpun capek, yang penting sampai di tempat… Mm… kamu nyari kerjanya di Jogja aja, Nduk… Bunda kan kangen sama kamu…”
“Bunda, kalau di Jogja, karirnya gitu-gitu aja. Surabaya kan kota besar, Bunda. Mudah-mudahan Mei bisa lebih sukses di sini…”
“Yo wis, lah. Yang penting ndak jauh-jauh di Amerika sana, Bunda tenang kok.”
“Beres, Bunda. Ya sudah, ya? Mei nggak enak sama June kalau teleponnya kelamaan…”
“Iya, Nduk. Salam Bunda buat June, ya?”
“Iya, Bunda… Sampai ketemu yaaa…” Read the rest of this entry »

mei and june (7)

Dalam kebimbangannya, tiba-tiba seorang perempuan muda berteriak lantang dengan nada sangat riang. Perempuan itu memanggil namanya lalu berlari mendekati June.
Itu Mei!
Sahabatnya yang sudah bertahun-tahun tak bersua.

Senyum June mengembang, kemudian mereka berpelukan erat seperti layaknya teman yang lama tak bertemu. Mereka berceloteh ramai soal penampilan, gaya rambut, dan rasa kangen mereka.
Di hati mereka terletup cerita, tapi mereka biarkan saja hari ini rasa kangen yang membuncah.
Di bawah langit Surabaya yang sebentar lagi akan tumpah airnya membasahi daratan di bawahnya, June mengajak Mei masuk ke dalam mobil dan membawanya ke RumahKue, café mungil miliknya. Read the rest of this entry »

mei and june (6)

June berdiri sambil bersandar di pilar tinggi. Mei sudah meneleponnya hampir sepuluh menit yang lalu. Sahabatnya mengabari kalau pesawatnya sudah mendarat dan dia sedang menanti koper-kopernya di tempat baggage claim.

Hampir saja June membakar satu batang Marlboro merahnya, seperti kebiasaannya dulu sebelum jabang bayi berlindung di balik perutnya yang masih datar. Begitu sadar kalau itu akan berakibat buruk buat bayinya, dengan segera June malah membuang seluruh isi kantong rokoknya ke dalam tong sampah, beberapa meter di dekatnya.

Beberapa rekan bisnisnya, terutama anak buahnya di divisi Sales merasa terheran-heran dengan kebiasaan baru Ibu Manager yang membenci asap rokok dan menolak untuk merokok bersama sambil bergosip di smooking room. Memang belum ada yang tahu soal kehamilannya ini. Bapaknya saja tidak tahu menahu, apalagi orang lain. Mungkin Mei yang akan jadi orang pertama yang tahu soal ini. Dan selanjutnya, entah apa yang terjadi. Mei marah, Mei kecewa, atau Mei larut dalam dukanya ini.

Mungkin nanti malam.
Atau esok.
Atau esok lusa.
Sampai akhirnya ia punya keputusan.
Tetap membiarkan bayi ini.
Atau… membunuhnya sebelum lahir…

to be continued

mei and june 7