Dia bilang, dia mencintai saya. Dengan segenap cinta yang menyesaki dadanya. Dia mengungkapkan semuanya saat kami sedang duduk berdua di sebuah café yang masih sepi, di pukul sebelas siang, saat dia mengajak saya keluar sebentar untuk sekadar menyisip kopi kesukaan kami berdua; cappuccino hangat. Saya memang tak bisa mengelak. Saya adalah sekretarisnya, dia adalah pemilik titah yang harus saya patuhi saat berada di kantor.
Jadi, di siang yang tadi sedang terik-teriknya, kami berdua meluangkan waktu di sebuah café. Letaknya di pinggiran kota. Sambil menyesapi kopi itulah, dia kemudian bilang kalau dia mencintai saya. Dengan segenap cinta yang dia rasakan membuncah di dadanya, belakangan ini. Dengan segenap rasa tak biasa yang dia rasakan meletup-letup di bilik-bilik jantungnya, belakangan ini. Dengan seluruh kesadaran yang dia punya, dia bilang, “Ternyata saya benar-benar jatuh cinta sama kamu.”
Terkaget.
Tentu saja.
Hampir tergelincir cangkir kopi di genggaman jari-jemari saya kalau saya tidak bisa menata perasaan saya, siang tadi. Sungguh, siapa yang menyangka kalau lelaki sehebat dia bakal jatuh cinta dengan perempuan seperti saya? Dia adalah lelaki kaya. Keturunan ketiga dari seorang pengusaha yang kekayaan bisa menghidupi sampai keturunan ketujuh. Dia adalah lelaki tampan, berderet-deret perempuan pernah keluar-masuk di dalam hatinya. Dia adalah lelaki pintar, berlembar-lembar ijasah dan laba perusahaan yang terus meroket adalah buktinya.
Dia adalah lelaki istimewa.
Saya adalah perempuan biasa.
Sebelah mananya dari saya yang bisa membuatnya jatuh cinta?
“I love it when you smile…” Yang selalu saya paksakan meski hati saya digantungi mendung pekat luar biasa?
“I love it when you enter the room and make it brighter…” Yang selalu saya paksakan karena saya ingin melihat semua orang bahagia?
“Saya suka cara tertawa kamu…” Yang terlalu keras, sampai-sampai seluruh lantai di gedung kantor kami bisa tahu kalau saya sedang tertawa?
“Saya suka semuanya yang ada pada kamu. Hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah kamu perhatikan, tapi saya memerhatikannya.”
Lalu dia menyebutkan semua kebiasaan-kebiasaan kecil saya.
Selalu terbatuk-batuk sebelum memulai presentasi.
Selalu meremas-remas jemari saat dipanggil ke dalam ruangannya.
Selalu membetulkan letak kacamata saat saya sedang serius memerhatikannya.
Selalu menyentuh ujung hidung ketika sedang gelisah.
Selalu mengacak-acak rambut saat sedang mengantuk.
Dia menyebutkan hampir semuanya. Membuat saya terkesima. Hebat. Dia memerhatikan saya sampai sedetil itu. Hebat. Hebat sekali.
Saya tersipu.
“Kamu istimewa.”
“Bapak berlebihan.”
“Saya ngomong jujur.”
“Saya juga.”
Lalu dia menyesap cappuccino-nya.
“Saya jatuh cinta sama kamu.”
Di akhir kalimat itu, saya tidak membalasnya. Hati saya dipenuhi berjuta-juta rasa. Jantung saya seperti melonjak-lonjak, ingin mencelat keluar dari rongga dada.
Lagi-lagi dia bilang cinta.
Lelaki sepintar, sekaya, dan setampan dia. Bilang cinta. Pada saya. Yang biasa saja.
Ah!
“Saya boleh mencium kamu?”
Permintaannya adalah titah yang tak boleh ditolak. Tak terbantahkan. Saya, semestinya, harus menyanggupinya. Harus mau. Dia adalah atasan saya.
Tapi ciuman ini? Apakah ini termasuk titah yang harus saya penuhi?
“Boleh?” Dia bertanya lagi. Meski kali ini, tanpa menunggu jawabam saya, dia segera merenggut belakang kepala saya, menyodorkan sampai begitu dekat dengan wajahnya, lalu bibirnya bergerak mencari bibir saya. Mengecup perlahan, di awal. Lalu makin menghebat, setelahnya. Saya sampai terengah-engah. Oksigen saya direnggut paksa bersamaan dengan wajahnya yang begitu lekat dari wajah saya.
Beberapa detik kemudian, dia berhenti mencium saya. Bibirnya basah. Bibir saya lengket oleh ludahnya.
“Your lips taste great. Asli. Tidak tercampur lipstick…”
Saya diam saja.
“Kenyal. Basah. Dan, um…” Dia melirik saya. “Enak.”
Saya diam saja.
Hati saya gelisah.
“I want to kiss you more and more. Every day. Every time.”
“…”
“Because your lips taste amazing…”
“…”
“…better than my wife’s.”
Saya bergetar.
Hati saya, bergetar.
Dia menggamit lengan saya. “Yuk, kita balik ke kantor. Ada janji meeting sama anak-anak Sales, kan?” Dia bangkit dari sofa, berjalan ke kasir, lalu menggandeng saya sampai ke mobil.
“Saya cinta kamu.”
“…”
“…but let it be a secret between us. Ya?”
Dia mengecup saya lagi.
Lelaki tampan, kaya, dan pintar itu mengecup saya lagi.
Oh, ya.
Maksud saya,
Lelaki tampan, kaya, pintar, dan suami dari seorang perempuan lain itu kembali mengecup saya dengan hebatnya di dalam mobil. Membuat hati saya bergetar, luar biasa.
Dia mencintai saya.
Saya juga mencintai dia.
Tapi saya bisa apa?
Selain menyimpan semua ini sebagai rahasia saja?
Tepat di saat itu, ponsel saya berbunyi. Sebuah SMS masuk.
From: Hunny
Nanti malam nggak diajak boss-mu lembur lagi, kan?
Kangen makan malem bareng, Ma.
Bilang boss-mu, ya? *kiss*
Ah, memang sebaiknya semua ini biarlah menjadi rahasia saja…
**
Kamar, Rabu, 26 Oktober 2011, 2.11 Pagi
Sudah empat tahun saya bersamamu.
Saya tahu sekali seperti apa kamu.
Kamu selalu mengelompokkan pakaian-pakaian dalam lemarimu sesuai dengan warna; mulai terang, sampai gelap. Juga jenisnya; kaos oblong, kaos berkerah, sampai kemeja untuk kerja.
Kamu suka sekali dengan warna beige. Kalem, katamu. Bikin teduh apartemen, katamu. Tidak heran, seluruh ruang di apartemenmu didominasi oleh warna-warna beige. Mulai dari cat dinding, bingkai foto, sampai sofa di depan televisi. Semuanya beige. Warna kesukaanmu.
Kamu juga selalu menikmati roti tawar yang bersemir srikaya. Dua lapis roti, dengan srikaya yang kamu semirkan begitu tebal di antaranya. Kamu selalu menikmatinya seolah besok hari kiamat dan itu adalah roti tawar bersemir srikaya-mu yang terakhir.
Meski mengaku lelaki yang sungguh-sungguh lelaki, tapi saya tahu persis kalau kamu suka sekali menonton film Serendipity. Kamu bilang, tidak ada film seromantis ini. Tidak perlu menye-menye untuk membuatnya romantis. Sederhana saja, tapi kamu suka. Kamu memutarnya berulang-ulang sampai terkadang saya bertanya-tanya, “Jangan-jangan kamu suka menonton Kate Beckinsale-nya aja daripada jalan ceritanya…” Dan saya tahu, kamu selalu tertawa, menyentil ujung hidung saya, menciumnya sebentar, lalu menonton lagi.
Empat tahun bersama kamu, membuat saya hafal dengan kebiasaanmu.
Mencuri-curi waktu untuk merokok saat berkencan dengan saya.
Menghabiskan dua cangkir espresso di setiap kencan kamu dan saya.
Selalu kebingungan saat harus memilih dasi yang sempurna untuk kemeja yang ingin kamu pakai.
Suka sekali mengacak-acak rambut saat mulai mengantuk.
Sering sekali lupa mengisi botol air minum di dalam kulkas.
Selalu ngotot membeli buku-buku baru namun ujung-ujungnya selalu teronggok di rak buku dalam kondisi masih berbungkus plastik.
Bahkan hal-hal kecil yang lain seperti kebiasaanmu yang selalu bernyanyi-nyanyi di dalam kamar mandi, meremas jemari saat gelisah, dan memukul dinding saat marah itu saya hafal sekali.
Ya, saya tahu.
Kebiasaanmu.
Apa yang kamu suka. Apa yang tidak kamu suka.
Karena sudah empat tahun saya bersama kamu. Berebut oksigen bersamamu.
Seperti kamu yang sudah tahu persis bagaimana saya.
Yang selalu marah kalau kamu merokok.
Yang selalu cemburu dengan Kate Beckinsale.
Yang geleng-geleng kepala karena kamu selalu membeli buku-buku yang tak pernah kamu baca.
Yang selalu tertawa saat melihatmu mengunyah roti tawar bersemir srikaya.
Dan satu hal lagi yang kamu tahu persis tentang saya.
Saya yang selalu tak bisa melakukan apa-apa kalau kamu kemudian berkata, “Besok aku pulang ke Jakarta, ya? Kamu baik-baik di sini. Jangan selingkuh…”
Dan kita berdua selalu tahu apa yang terjadi setelah kalimat-kalimat itu.
Saya akan sedih. Saya akan kecewa. Saya akan menangis hebat.
Menangisi kebodohan ini; mencintai lelaki seperti kamu.
Yang punya satu kebiasaan yang tidak pernah saya suka selama empat tahun ini.
Pulang ke anak-istrimu.
Setiap empat minggu.
Selalu.
**
Kamar, 22 Oktober 2011
Hai!
Saya sedang menggarap sebuah buku, judulnya Sekeping Coklat. Waktu saya edit-edit, kok kayaknya bakal lebih seru kalau ada temen-temen penulis yang mau menyumbangkan beberapa karyanya di sini. Yes, biar kepingan coklatnya makin mantep dikunyah, lumer di mulut!
Jadi, malam ini, saya memutuskan untuk memberikan dua slot flash fiction di buku Sekeping Coklat untuk dua teman-teman penulis saya. Seperti apa kriterianya?
1. Cerita super pendek tentang cinta. Mau tragis, sedih, bahagia, mewek nangis darah, ketawa ngakak… pokoknya tentang cinta. Fiksi? Non fiksi? Apapun!
2. Jumlah halaman? Tak lebih dari 2 halaman A4. Huruf arial 11, spasi 1.Cukup banyak ruang untuk merangkai kata, kan?
3. Sudah selesai menulis? Kirim ke email jeunglala@gmail.com ya. Ingat, batas waktu pengiriman naskahnya hanya sehari-semalam. Cukup sampai jam 10 malam, besok! Ahey!
4. Buat yang sudah ngirim naskah, tunggu info berikutnya dari saya, ya? pantengin twitter saya @lalapurwono untuk semua info-info baru.
5. Penulis tamu bakal dapet sesuatu dari saya. Bukan cuman ucapan terimakasih, lho… Nantikan aja hadiahnya, yaah…
Okey. Selamat menulis! makasih udah mau ikutan, yaaa…
Kecup sayang,
Lala Purwono
Kalau kamu menyangka saya desperate karena belum menikah,
mending jangan, deh.
Kalau kamu menyangka saya bakal merasa kesepian karena belum juga menemukan teman tidur setiap malam,
mending jangan, deh.
Kalau kamu menyangka hidup saya itu jauh dari bahagia cuman karena saya nggak seperti kamu; menikah, punya dua anak, pekerjaan bagus,
mending jangan, deh.
Kalau kamu menyangka saya sedang menipu diri sendiri, menyenangkan hati saya sendiri dengan mengatakan kalau saya baik-baik saja meski sendiri,
denger ya, mendingan jangan.
Kenapa?
Sebelum kamu tahu bagaimana rasanya menjadi saya:
Saya punya keluarga yang menyenangkan;
Saya punya sahabat-sahabat yang luar biasa gilanya;
Saya bekerja di kantor dengan rekan-rekan kerja yang sudah seperti keluarga saya sendiri;
Saya sudah perlahan-lahan mencapai apa yang saya inginkan sejak dulu, menjadi penulis;
Dan, ah! banyak sekali yang perlu kamu ketahui tentang saya.
Jadi, sebelum kamu bagaimana menyenangkannya menjadi seorang Lala Purwono alias saya,
mending jangan menghakimi saya dengan ukuran kebahagiaanmu.
A wedding ring won’t justify my happiness.
A bunch of kids won’t justify my happiness.
Saya yang menetapkan apa itu bahagia buat saya sendiri. Saya tidak butuh penggaris orang lain untuk mengetahuinya.
So, Sekali lagi saya bilang sama kamu: JANGAN mendefinisikan kebahagiaan saya.
You know nothing about me.
Period.
** Kamar Bro, 15 Oktober 2011, 11.19 Malam
Entah apa formula Tuhan ketika menciptakan lelaki itu.
Lelaki yang, kutebak, bisa jadi ia terbuat dari cahaya. Tengok saja senyumnya; seolah menerangi setiap hati setiap kali melihatnya.
Bisa pula ia terbuat dari serbuk candu. Tengok saja tatapan kedua biji matanya; seolah memerangkap setiap pasang mata yang bertukar pandang dengannya. Terperangkap selamanya, dalam pesonanya.
Ah, mungkin saja ia terbuat dari rindu menggebu. Cium saja aroma tubuhnya; kamu akan merasa ingin menghirup nafasmu kuat-kuat, menyimpan aroma tubuhnya banyak-banyak di paru-parumu. Lalu disimpan baik-baik di situ, bekal untuk mengobati rindu yang menggebu.
Aku tak tahu formula apa yang Tuhan rumuskan saat Ia menciptakan lelaki itu.
Aku tak tahu; cahaya, candu, ataukah rindu yang menggebu.
Tapi yang aku tahu, Tuhan merumuskan formula cinta di dalam hatiku.
Yang kupersembahkan untuk lelaki itu.
Dan membuatku bakal selalu membiarkan lelaki itu singgah di dalam hatiku.
Selalu.
**
Kamar, 8 Oktober 2011, 10.54
Seorang lelaki menungguku di balik pintu. Kamu tahu?
Dia sedang mengetuk pintu itu berkali-kali, menyebutkan namaku, memanggilku. Kamu tahu?
Dia bahkan memaksaku untuk membuka pintu itu, memaksa masuk. Mendesak untuk segera menemuiku. Kamu tahu?
Lelaki itu tak pernah lelah mengetuk pintu. Bahkan ketika aku tetap tak bereaksi, diam saja tak menanggapi, dia tetap sabar menungguku di balik pintu. Kamu tahu?
Sahabatku bertanya, kenapa aku melakukannya. Membiarkan seorang lelaki tampan dan baik hati seperti dia di balik pintu, memaksa bertemu tapi tak pernah kubiarkan ia melakukan itu. Padahal, kata sahabatku, lelaki itu adalah lelaki yang bisa memberikan segalanya yang tak bisa kamu berikan untukku.
Ah!
Harusnya sahabatku itu tahu.
Juga kamu, yang harusnya tahu, kenapa kulakukan itu.
Kubiarkan lelaki itu di balik pintu, tidak kuhiraukan panggilannya, bahkan kutulikan semua pendengaranku untuk permintaannya, karena satu alasan yang pasti: kamu.
Ya. Karena sudah ada kamu di hatiku.
Menempati seluruh ruang di hati.
Menyesakiku sampai aku mati.
Tak ada lelaki lain yang akan mengisi di situ.
Kecuali kamu.
Yang bakal selalu, di hatiku.
Selalu.
**
Kamar, Sabtu, 8 Oktober 2011, 10.36 Malam
Buat kamu, yang bakal selalu di hatiku.
Saya nggak pernah bilang saya bakal mencintai kamu seumur hidup saya.
Yang saya selalu katakan sama kamu, bahwa saya akan berusaha untuk bisa melakukannya, di sepanjang umur saya, bukan umurmu.
Saya nggak pernah bilang saya bakal setia, sehidup semati sama kamu.
Yang saya selalu katakan sama kamu, bahwa saya akan berusaha untuk selalu menempatkanmu menjadi yang terbaik di hati saya. Dan berusaha selalu mengingatkan saya sendiri betapa beruntungnya saya bisa mendapatkanmu.
Saya nggak pernah bilang bakal menjadi kekasih yang sempurna, yang selalu meluangkan waktunya untukmu, denganmu.
Yang saya selalu saya katakan sama kamu, bahwa saya berusaha memberikan seluruh waktu yang tercerai-berai di antara waktu-waktu tersibuk saya untukmu. Saya bahkan akan berusaha memperbanyak waktu untuk bisa memelukmu selagi kamu ingin.
Dan satu hal lagi.
Saya nggak pernah berjanji untuk tidak akan meninggalkanmu.
Tidak, tidak pernah.
Karena yang saya selalu bilang sama kamu, bahwa saya tidak memiliki umur ini. Tidak memiliki hidup ini. Tapi memiliki keinginan untuk bisa hidup ratusan tahun, jika perlu, untuk membuatmu bahagia.
Ya. Bahagia. Yang, saya nggak janji pula, bakal selamanya bisa membuatmu seperti itu.
Karena bisa jadi, dalam perjalanan hidup nanti, justru kamu malah bahagia kalau tidak bersama saya.
Jadi, simpan saja semua janji-janji muluk itu.
Biarkan saya dan kamu menikmati hari, mencintai apa yang bisa dicintai hari ini.
Semoga esok tiba, dan rasa itu masih sama.
Rasa cinta yang menggebu, buat kamu, utuh.
**
Kamar, 29 September 2011, 9.20 Malam
Buat kamu
Yang berada ratusan kilometer dari hati saya
Pernahkah bertanya, siapa jodohmu?
Siapa lelaki yang tengah melakukan kembaranya, mencarimu?
Pernahkah bertanya, seperti apa rupanya?
Lelaki sederhana dengan kaos berantakan, atau dia yang rapih dengan kemejanya?
Pernahkah bertanya, darimana ia berasal?
Sedang apakah dia sekarang, di malam-malam kamu menyelipkan doa untuk bertemu dengannya?
Pernahkah bertanya, bagaimana kalau dia tersesat dalam kembaranya, dan berharap bisa memberinya alamat menuju hatimu?
Pernahkah sempat marah karena dia tak kunjung datang padamu dan kamu mulai lelah menunggu?
Pernahkah menangis karena merasa sendirian dan bertanya, “Apakah dia juga sedih karena tak kunjung bersamaku?”
Pernahkah kemudian meragu kalau garis jodoh tak pernah terlukis di telapak tanganmu?
Pernahkah kamu ingin mengintip nama yang tertulis di tulang rusukmu, milik siapakah itu?
Pernahkah kamu memimpikan seseorang, yang tak pernah kamu kenal, tapi kamu tahu kalau kamu mencintainya dengan sungguh?
Hey,
Kamu tak sendiri.
Aku pernah membayangkan rupa lelaki yang bakal bersamaku, kelak.
Dia bukan lelaki rapi dan rupawan, tapi aku mencintai kaosnya yang berantakan dan harum tubuh tanpa parfumnya.
Dia bukan lelaki yang romantis, tapi selalu berhasil membuatku merangkai kata-kata romantis yang manis. Untuknya.
Dia bukan lelaki yang kuat, perkasa. Tapi dia akan memelukku hangat, erat. Dan aku merasa sangat aman di dalamnya.
Dia adalah lelaki sederhana, yang membuat setiap hal kecil menjadi istimewa.
Ya,
aku selalu bertanya-tanya, mungkin saja dia kini ada di tengah kembaranya. Kami akan bertemu, di titik yang sama. Nanti.
Jadi, aku tak akan berhenti melangkah. Biar ia tak lelah, lalu berhenti. Biar kami bertemu, tepat saatnya nanti.
Semoga kembara kami akan segera berhenti. Dan kami saling menyapa. Lalu jatuh cinta. Sisanya? Biar sejarah yang akan menulisnya.
Siapapun kamu, Jodohku. Kuselipkan selalu doa untukmu. Jangan lelah mencariku, seperti aku yang tak lelah mencarimu.
Aku percaya, kembara kita akan segera usai.
Segera.
Percayalah.
Apa yang terjadi kalau seorang penulis berkolaborasi dengan pemusik? Pernikahan kedua profesi itu bakal heboh karena akan menghasilkan sebuah lagu kolaborasi yang penuh emosional, dimana keduanya berusaha menerjemahkan apa yang mereka rasakan dengan cara mereka masing-masing.
Aku dan @AndrySuisan telah melakukannya. Berkolaborasi menciptakan lagu yang lirik-liriknya Andry culik dari timeline twitterku di suatu dini hari yang galau (baca kumpulan twitsnya di sini http://jeunglala.wordpress.com/2011/05/04/tahu-bagaimana-rasanya/ ), dan dengan tangan dinginnya, Andry berhasil menciptakan satu lagu dengan musik ala orkestra yang sangat megah dan bikin merinding!
OK, kapan-kapan aku bahas lagi soal lagu ini, yaa.. Sila donlot saja lagunya, nikmati kegalauannya, dan jangan ragu-ragu buat menawari aku project rekaman apaaa gitu biar saingan sama Syahrini. Hihihi!
Ini linknya: http://bit.ly/piaoWR
Ini liriknya:
Tahu Bagaimana Rasanya
Music & Lyrics: Andry & Lala
Tahu bagaimana rasanya mencinta
dia yang takkan pernah mencintaimu
Tahu bagaimana rasanya merindu
dia yang takkan bisa membalas rindumu
Kutahu rasanya, sakitnya karena kau yang tak pernah mau tahu akan cintaku
kutahu rasanya, sampai mengilu karena kau tetap tak bisa pedulikan hatiku
Tahu bagaimana rasanya memanggil
dia seolah tuli tuk teriakmu
tahu bagaimana rasanya menangis
dia yang tak pernah merasa melukaimu
Kutahu rasanya, sakitnya karena kau yang tak pernah mau tahu akan cintaku
kutahu rasanya, sampai mengilu karena kau tetap tak bisa pedulikan hatiku
pedulikan hatiku, oh!
Cobalah kau sedikit mengerti betapa sulitnya menjadi aku
kujatuh terlampau dalam di hatimu
kini kamu tahu; rasaku, inginku, jeritan sakitku
Berhentilah menjadi lelaki itu
Mengertilah sulitnya menjadi aku
Sudah matikah rasamu tuk mengerti sakitku?
Apa karena mati rasamu, kau harus tak peduli?
—-
Enjoy the song, Guys!
Dear Ray,
Hari ini adalah hari ulang tahunmu. Tanggal 4 Juni, di tahun ini, usiamu genap 31. Sebuah kue tar dengan dua lilin menyala di atasnya siap menyambut hadirmu, di kafe ini, tempat aku bekerja sejak masa kuliahku dulu. Kamu, sekali lagi, merayakan ulang tahunmu di sini. Dan aku, sekali lagi, yang mempersiapkan segala sesuatunya untukmu di sini.
Sudah delapan tahun aku mengenalmu, Ray. Delapan tahun adalah waktu yang cukup lama untuk bisa mengetahui siapa kamu, apa yang kamu suka, juga apa yang tidak kamu suka. Aku bahkan hafal dengan kebiasaanmu setiap datang ke kafe ini; memesan es kopi, sepiring nasi goreng teriyaki, lalu kamu akan memesan secangkir kopi susu, memintaku membuang kumpulan abu rokok di asbakmu dan menatanya kembali di atas meja, dan akhirnya kamu merokok terus sampai hendak pulang ditemani secangkir kopi susu yang tidak segera habis karena kamu terlampau banyak merokok.
Delapan tahun kamu setia berkunjung ke kafe ini. Delapan tahun kamu setia memesan menu yang sama. Delapan tahun pula aku setia melayanimu; mencatat pesananmu, membersihkan asbakmu, menemani berbincang-bincang sampai malam menjelang, khususnya bila tak seorang pun duduk di sampingmu.
Pertama kali kita bertemu, aku masih seorang anak kuliahan yang butuh pekerjaan untuk menutupi uang kuliahku, bekerja sebagai pelayan kafe paruh waktu. Dan kamu, Ray, sepertinya kamu sudah seorang pegawai kantoran. Aku menebaknya dari cara berpakaianmu yang rapi; kemeja dan celana yang kemudian berantakan setelah lama duduk di sofa.
Aku menyukaimu sejak pertama kamu membuka pintu kafe itu. Aku suka dengan warna kemejamu; biru langit dan celana khaki. Aku suka dengan aroma parfummu yang maskulin. Aku suka dengan senyum di bibirmu setiap menyudahi percakapan kita. Aku suka momen-momen bisumu yang kamu habiskan dengan batang-batang rokok yang mengepul dengan hebatnya.
Ya, aku jatuh cinta dengan gilanya padamu mulai dari pertama kali aku melihatmu. Gila, Ray. Gila!
Aku mulai merasa gila karena sejak saat itu aku mencoba menghafal kebiasaanmu. Aku mencatat kapan saja kamu akan datang ke kafe. Bahkan aku menunggumu dengan harap-harap cemas, karena takut tak bisa bertemu denganmu.
“This is insane,” kata Emma, sahabatku. “Mau jadi apa kamu di sini? Jadi pelayan seumur hidupmu?”
Ray, waktu itu Emma memang sebal setengah mati denganku saat ia tahu kalau aku tak mau meninggalkan pekerjaan bergaji rendahku di kafe hanya karena takut tak bisa bertemu denganmu lagi.
Ah, tapi aku bisa apa? Aku sudah kecanduan padamu!
Suatu kali kamu pernah bilang begini, “Hari ini aku ulang tahun, La. Ada yang spesial dari kafe ini buat pelanggan setianya, kan?” Itu kata-katamu tujuh tahun yang lalu. Kamu mencandaiku, memang. Tapi aku menanggapinya dengan serius, karena sejak tujuh tahun yang lalu sampai hari ini, aku dengan rela merepotkan diriku untuk mempersiapkan kue ulang tahunmu.
Ulang tahunmu serupa perayaan paling sakral buatku dalam setahun. Tidak ada hari, sejak tujuh yang lalu, mengalahkan kesakralan hari ulang tahunmu.
Kerepotan menyambut ulang tahunmu adalah waktu-waktu yang paling kutunggu dalam setahun. Kerepotan yang melahirkan percakapan-percakapan mesra dan pelukan terimakasihmu sesudahnya.
I love those moments!
Pagi ini, Ray. Aku melakukannya lagi. Penanggalan di ponselku sudah kutandai tiap empat Juni. Ulang tahunmu, Ray. Hari istimewamu yang menjadi istimewa pula buatku.
Sudah kupesan kue tar kesukaanmu; Opera cake yang legit dengan coklat. Sudah kusiapkan lilin-lilin yang akan bertengger di atas kue tarmu nanti. Kue tar yang bakal hadir di atas mejamu, di sudut kafe ini, sebagai kejutanku buatmu, Ray.
Hari berjalan lambat.
Mungkin karena aku menunggumu dengan kegembiraan yang amat sangat.
Sengaja kupilih giliran sore supaya bisa bertemu denganmu sepulang kantor nanti. Sengaja berdandan cantik dan menyemprotkan parfum banyak-banyak supaya nanti bisa tercium olehmu saat kamu memelukku, mengucapkan terimakasih.
Ray, sungguh, aku tak sabar menunggu.
Tapi, Ray, sampai detik ini, pukul sepuluh malam ini, tak juga kutemui dirimu di sini. Opera cake sudah menantimu, pelukanku sudah menunggumu, tapi tak juga kamu hadir mendatangi kafe ini.
Pukul dua belas saat kafe tutup, kamu tetap tak datang. Opera cake masih teronggok di dalam lemari pendingin, seperti mulai lelah dan mati rasa menunggumu.
“La.. Ray nggak bakal datang,” kata Lisa, rekan kerjaku, sambil menepuk bahuku. Dia menemaniku sampai pukul dua belas malam, di sampingku yang gelisah menunggumu.
Aku diam saja, Ray. Tidak menyahutnya.
“La, kamu tahu kan, kalau Ray nggak bakal datang? Dia nggak bakal datang, La. NEVER.”
Aku diam. Masih diam.
“La.. Please, let him go.. Please..”
Lisa malah menangis di bahuku, Ray.
Aku sendiri tak bisa menangis seperti dia.
Air mataku sudah habis tak bersisa semenjak sebulan yang lalu. Kamu yang mengeringkannya, sampai tak bersisa.
Ya, Ray.
Seluruh air mata itu sudah habis sejak peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawamu, sebulan yang lalu. Aku tak lagi bisa menangis. Tidak pernah bisa lagi.
Aku hanya bisa menunggumu.
Dengan kegilaan yang tak pernah bisa berhenti mengganggu.
Dengan candu bernama cinta yang tak sempat kuungkapkan padamu.
Aku tahu, kamu tak bakal datang di tahun kedelapan ini, sekalipun pagi tadi aku berdoa begitu gilanya, berharap supaya peristiwa itu tidak pernah terjadi dan nanti malam keajaiban itu terjadi.
Ah, Ray. I’m insane!
Aku tahu kamu memang tidak bakal datang ke kafe ini untuk merayakan ulang tahunmu.
Tapi aku tak akan pernah berhenti merayakan ulang tahunmu setiap tanggal 4 Juni.
Karena aku tahu,
Di hari itu,
Kamu menungguku,
Kue tarku,
Kejutanku,
Kehadiranku.
Selamat ulang tahun, Ray!
Kita jumpa lagi 4 Juni tahun depan,
Dan semoga keajaiban itu bisa terjadi,
Bagaimanapun caranya…
**
Meja makan, 1 Agustus 2011, 8.45 malam