archives

Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.
Lala Purwono has written 830 posts for The Blings of My Life

Kamu Memang Benar-Benar Lelaki

Aku tidak pernah meragukan kelelakianmu.

Rasa bibirmu yang tertinggal saat kita usai berciuman, lenganmu yang memeluk tubuhku hangat dan erat, suaramu yang berat dan menenangkan ketika aku sedang gelisah, adalah sekian dari begitu banyak bukti bahwa kamu memanglah seorang lelaki yang kuinginkan.

Ya, aku semakin tidak meragukan kelelakianmu saat kamu menarik diri dari janji yang pernah kau ucap tergesa di perjamuan makan malam kita, beberapa saat sebelumnya. Waktu itu, di tengah temaramnya lilin yang menyala, kamu memegang tanganku dan mengucap kata-kata itu, “Why wouldn’t we get engaged?” Pertanyaan itu terlontar, seperti bom yang muntah dari bibir meriam yang kupikir sumbunya tak menyala. Kita memang menjalani hari-hari yang penuh cinta, tapi untuk segera menyudahi petualangan gila ini, um.. sanggupkah kita? Continue reading »

Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta

Kalau odol lagi jatuh cinta pada barisan gigi geligi yang dicumbunya setiap pagi dan menjelang tidur, mungkin dia akan melekat kuat di dinding-dinding kekasihnya, melekat terlampau kuat meski gelontoran air mencoba meluruhkan pelukannya.

Mungkin dia akan tergesa keluar dari rumah pembungkusnya, menumpang sebuah sikat gigi, lalu meluncur masuk ke rumah kekasihnya. Untuk mencumbunya, lagi dan lagi, setiap hari.

Mungkin pula dia berharap bisa berwarna merah muda saja. Yang manis, yang terasa seperti permen karet, yang tidak bakal diusir tergesa dari rumah kekasihnya karena kehadirannya terlalu mengusik seluruh penghuninya.

Mungkin pula, meski kuyakini betul, dia bakal dengan sangat hati-hati mengusap tubuh kekasihnya, menjaganya dari sakit, karena takut kekasihnya memilih odol yang lain untuk mengobati sakitnya.

Ya,

seperti itulah, mungkin, kalau odol lagi jatuh cinta pada kekasihnya, si gigi-geligi yang selalu merindu untuk saling bercumbu, merindu untuk saling bertemu. Di setiap pagi, pun di setiap malam, mereka selalu menabung rindu yang bakal bikin ngilu bila tak segera bertemu.

Mungkin memang sepeti itu kalau odol lagi jatuh cinta.

Yang kurang lebih sama sepertiku.

Mencintaimu.

Menginginkanmu untuk membuka hari dan menutup malamku.

Menabung rindu dan ingin segera bertemu.

Menjagamu, utuh.

Sayang, aku adalah odolmu. Kamu adalah gigi-geligiku. Dulu, kamu yang memilihku menjadi odolmu. Please, jangan ganti-ganti dulu. Gimana. Mau?

 **

Kamar, Senin, 23 Januari 2012, 11.56 Malam

Sebagai penebus karena sudah nyumbang judul aneh buat #15HariNgeblogFF -nya @WangiMS dan @MomoDM

Jeda

Tadinya, aku tak tahu kalau cinta adalah serupa permen karet, yang semula manis, lalu terasa hambar pada akhirnya. Kamu yang kemudian membuatku menyadari itu semua; termasuk mengajariku untuk terlalu cepat mengunyahnya. Dalam waktu sebentar saja, cinta itu tak terasa manisnya. Hambar saja, lalu kau buang secepatnya.

Seringkali, ketika sedang duduk sendiri menikmati roti tawar bersemir srikaya di sebuah pagi, aku mengingat betapa manisnya cinta yang pernah berkuasa di hati kita. Aku mengingat betapa cinta telah mengubah segalanya menjadi merah muda. Kehadiranmu serupa energi yang membakar seluruh gerak tubuhku, sehingga ketika kamu menarik dirimu menjauh, tubuhku terasa lunglai dan melumpuh. Continue reading »

Pada Secangkir Kopi

Pada secangkir kopi, aku pernah bercerita tentang masa-masa ketika cinta itu pernah menggebu. Ketika sepenggal sapamu hadir menjelang pagi hariku lalu menutup hari yang sama dengan ucapan manis yang lainnya. Ketika segalanya serba merah muda. Continue reading »

Masa Lalu

Ada hujan yang tumpah di balik jendela. Seolah memancing rasa yang telah lama mencoba kelam tenggelam di dasar hati. Apakah hujan terbuat dari partikel rindu, yang sontak saja bisa membuat hatiku ngilu karena mengingatmu? Sendu, mengingat masa lalu denganmu? Continue reading »

#Hit32

Hai!

Dalam 6 minggu, insyaAllah umur saya bakal 32 tahun. What a great moment for me.

Untuk membuat ultah saya jadi makin istimewa, saya menantang diri sendiri untuk membuat buku yang diluncurkan persis di hari ultah saya, yang jatuh di Februari, tanggal 12 nanti.

Buku ini jelas sangat istimewa. Selain semuanya serba 32 ~ well, sesuai umur saya gitu :) ~ ada hal lain yang membuat buku kumpulan flash fiction ini begitu istimewa.

Apakah itu? Continue reading »

Mungkin Kita Memang Tidak Ditakdirkan untuk Bersama

Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama.

Hanya diberi sedikit waktu untuk berebut oksigen di tempat yang sama.

Hanya diberi sedikit waktu untuk duduk di depan sofa, menikmati film-film Perancis kesukaanmu.

Hanya diberi sedikit waktu untuk berbagi berondong jagung dan sesekali jemari kita bersentuhan dan menghadirkan getar listrik yang merontokkan nyaliku. Continue reading »

4 Anak Manusia — novel terbaru Lala Purwono

4 Anak Manusia; dan cinta mereka yang salah tempat

 Judul buku: 4 Anak Manusia
Jenis: Novel
Penulis: Lala Purwono
Harga: Rp. 40.000,-
Tebal: 141 Halaman
Ukuran: 11 x 17.5 cm
Dibantu cetak oleh: http://www.nulisbuku.com

 ”Ketika kamu melihat masa depanmu di dalam
kedua biji matanya,
Ketika kamu merasa sempurna hanya dengan berada di sisinya,
Tidakkah kamu ingin tahu apakah dia merasakan hal yang sama?” Continue reading »

Sebelas. Sebelas. Sebelas.

Sebelas.

Sebelas.

Sebelas.

Seharusnya kita menikah, besok. Seperti mimpi-mimpi yang pernah menjelma dalam setiap percakapan tak penting kita, sambil saling berpelukan di atas sofa, di depan televisi, di depan semangkuk kacang rebus dan dua cangkir teh manis hangat. Lima tahun yang lalu, kita bermimpi untuk menikah, besok. Di tanggal unik itu: sebelas November tahun dua ribu sebelas, saya dan kamu, kita, bakal menjadi sepasang kekasih yang abadi. Tidak ada perpisahan, selain mati. Continue reading »

Selembar Foto

Selembar foto itu masih kutimang-timang di atas jemariku. Berkali-kali, aku bahkan mengusap-usap permukaan fotonya, seolah mengusap wajah yang ada di sana. Wajah yang dulu pernah berebut oksigen denganku, dua puluh empat jam, setiap harinya. Wajah Manuel.

Sebetulnya, aku tidak pernah berniat untuk melihat kembali potongan-potongan kenangan yang terekam di dalam selembar foto berwarna berukuran post card itu. Melihat kembali foto ini adalah sama saja dengan mencoba membunuh diriku sendiri, perlahan-lahan, tapi tidak segera mati. Tersiksa. Sakit. Continue reading »

Catatan Harian

May 2013
M T W T F S S
« Sep    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Celotehan Lala Purwono

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 92 other followers