archives

Archive for January 2012

Separuh Tahun Ini

Terasa seperti deja vu, setiap kendaraan yang kupacu melaju di depan kafe tempat kita berpisah dulu. Seolah ada kekuatan tak kentara yang mengajak ingatanku menuju setiap detil kejadian itu.

When you said, “We’re not finished yet.”

When I said, “Oh yes, we are.”

Dan semua jalinan cinta dalam seratus dua puluh hari itu seperti kertas yang terbakar oleh pijar membara; cepat berubah menjadi abu. Yang tertiup terbawa angin, menyelinap masuk ke dalam kelopak mataku, dan membuat air mataku mengalir tanpa henti, mulai setahun yang lalu.

Sudah separuh tahun, rupanya. Berjalan perlahan di permulaan, lalu bergerak semakin cepat, meski aku ternyata tidak juga beranjak. Seperti dua kaki yang terbuka; satu berpijak di masa lalu, satu di masa depan. Capek.

Painful. This has to stop. Sudah separuh tahun, sudah waktunya memantapkan langkah, meninggalkanmu. Sudah separuh tahun, sudah waktunya kutinggalkanmu di masa lalu.

“Pacaran cuman sebentar, tapi traumanya kayak orang cerai setelah kawin belasan tahun itu pathetic, Sayang…” kata sahabatku. “Wasting your time and energy banget. Ayo, deh.. Move on already…”

Tidak sekali. Tidak dua kali. Tapi berkali-kali kalimat serupa aku dengar dari mulut sahabat dan kakak perempuanku.

They asked me to move on, meninggalkan cinta yang masih menggetarkan hati, lalu mulai melanjutkan hidupku kembali.

Okay, pertanyaan berikutnya adalah: how? Bagaimana caranya?

“Buang semua barang-barang pemberiannya. Foto-fotonya. Simpan dalam kardus. Letakkan di gudang. Kunci.”

Done. All those memories are packed in a box. Kept in my garage

….but a piece of your photograph, in my wallet. Ow, shit.Kedua, “Hapus playlist lagu galau di iPod. Bikin list baru. Cari lagu-lagu yang lift up your mood, bukan kebalikannya.”

Done. Semua lagu-lagu yang memiliki potensi untuk mencengkeram langkah-langkahku dari melangkah menuju masa depan itu sudah hilang dari playlistku.

“Stop reading his emails, for God sake. Itu namanya self torture. Masokis, tuh.”

Dan tahukah kamu, menghapus semua emails dan SMSmu tidak hanya sekadar meng-klik atau menekan tombol delete semata? Menghapus itu semua berarti memberangus semua jejak kakimu di dalam ruang hatiku. Mampukah aku?

Dan terakhir, “Find a new guy. You need another object of affection! Butuh laki-laki lain yang bisa bilang kalau mantan lo itu goblok banget karena udah ninggalin lo dan bikin trauma kayak gini.”

Siapa bilang aku trauma? Tidak. Aku bisa saja menemukan lelaki lain yang dengan senang hati menemaniku minum kopi susu di kafe itu, menggantikanmu duduk di depanku sambil bercerita tentang langit yang biru. Aku bisa saja menemukan lelaki yang bisa menjemputku di muka kantor lalu mengajakku makan malam yang jauh dari romantis, di warung-warung pinggir jalan itu. Ya, aku bisa saja menemukan lelaki yang bernyanyi lirih persis di telingaku, menyanyikan lagu-lagu yang aku sukai, lalu setelah itu mengecup ujung hidungku lembut saat menuntaskan kencan kami di malam itu.

Tapi, siapapun lelaki yang bakal menggantikanmu kelak, bukanlah kamu.

You’re still you. Seburuk apapun perlakuanmu dulu, you’re still you. Lelaki yang sudah mencuri hatiku.

Satu bulan pertama, aku mengatakan pada sahabatku, “No, I need more time.”

Bulan berikutnya, “All his gifts are packed in a box. Sudah. Tenang aja.”

Lalu bulan ketiga, “Lo tahu berapa kali gue denger lagu I Will Survive? Sampai mampus gue dengerinnya..”

Dan bulan keempat aku mengaku, “Semua email-emailnya gue simpen di folder khusus.
I don’t have the heart to erase them all, bu I promise I won’t read those emails. Trust me.”

Lalu sampai di bulan kelima, aku bilang, “Biar semuanya wajar-wajar aja, deh. Emang jaman Siti Nurbaya, pake dicomblangin segala?”

Sekarang, persis di separuh tahun sejak kamu mengajakku untuk saling menempatkan jeda itu, akhirnya aku bilang pada sahabatku. Persis setelah satu keping CD itu mendarat di atas meja kerjaku, entah bagaimana caranya, dan mengingatkanku kalau aku tak boleh lagi menunda melupakanmu.

You’re still you.

The guy who stole my heart away and broke it into pieces.

Aku tak punya alasan untuk membolehkanmu merangsek masuk ke dalam hatiku, dan mengoyaknya sekali lagi, di suatu masa nanti.

So, dear you.

Yes, you.

Don’t wait for me.

Karena persis di bulan keenam, aku sudah bilang pada sahabatku, “

You know what? I think I already find a guy…”

Dan lelaki itu bukan kamu,

Dan semoga tidak menjadi lelaki sepertimu..

Do You Remember?

Ruang kerjaku, suatu pagi. Masih pukul tujuh saat itu dan aku datang terlampau awal karena banyak pekerjaan yang sudah menunggu. Menyambar sepotong roti tawar bersemir selai srikaya di meja, memasukkan dua potong lagi di kotak makanku, lalu memacu kendaraan menuju kantor di saat orang lain mungkin masih sibuk bercakap-cakap di depan televisi sambil memegang koran paginya.

Ada deadline yang bakal menciptakan perang dunia ketiga, skala kecil-kecilan saja di kantor yang berpenghuni tak lebih dari dua puluh orang ini, kalau tak segera kupenuhi. Pagi itu, aku musti datang pagi-pagi.

Kupikir pagi itu bakal jadi pagi yang biasa saja. Pagi sibuk, seperti biasa menjelang deadline, seperti bulan-bulan sebelumnya. Tapi, pagi itu berbeda. Saat masuk ke ruang kerja, mengaduk laci, mencari sebungkus latte instan untuk peneman sarapan pagi, aku tak menyangka kalau aku masuk ke dalam time capsule yang sontak bergerak mengajakku kembali ke masa lalu. Continue reading

Someday, We’ll Know

“90 miles outside Chicago
Can’t stop driving
 I don’t know why
So many questions
 I need an answer
 Two years later
You’re still on my mind…”

 

Pernahkah kamu menyempatkan untuk bertanya kenapa kita harus bertemu? Kebaikan atau kesalahan di masa lalu yang mana yang menakdirkan kita akhirnya harus saling bertemu? Kenapa aku harus duduk di depan bar itu, memesan kopi yang ketiga, sampai kemudian kamu datang dan menyapa? Kenapa aku harus berkunjung ke kantormu lalu kita berbagi oksigen di dalam tabung lift yang sama, sampai berkali-kali? Continue reading

Kamu Memang Benar-Benar Lelaki

Aku tidak pernah meragukan kelelakianmu.

Rasa bibirmu yang tertinggal saat kita usai berciuman, lenganmu yang memeluk tubuhku hangat dan erat, suaramu yang berat dan menenangkan ketika aku sedang gelisah, adalah sekian dari begitu banyak bukti bahwa kamu memanglah seorang lelaki yang kuinginkan.

Ya, aku semakin tidak meragukan kelelakianmu saat kamu menarik diri dari janji yang pernah kau ucap tergesa di perjamuan makan malam kita, beberapa saat sebelumnya. Waktu itu, di tengah temaramnya lilin yang menyala, kamu memegang tanganku dan mengucap kata-kata itu, “Why wouldn’t we get engaged?” Pertanyaan itu terlontar, seperti bom yang muntah dari bibir meriam yang kupikir sumbunya tak menyala. Kita memang menjalani hari-hari yang penuh cinta, tapi untuk segera menyudahi petualangan gila ini, um.. sanggupkah kita? Continue reading

Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta

Kalau odol lagi jatuh cinta pada barisan gigi geligi yang dicumbunya setiap pagi dan menjelang tidur, mungkin dia akan melekat kuat di dinding-dinding kekasihnya, melekat terlampau kuat meski gelontoran air mencoba meluruhkan pelukannya.

Mungkin dia akan tergesa keluar dari rumah pembungkusnya, menumpang sebuah sikat gigi, lalu meluncur masuk ke rumah kekasihnya. Untuk mencumbunya, lagi dan lagi, setiap hari.

Mungkin pula dia berharap bisa berwarna merah muda saja. Yang manis, yang terasa seperti permen karet, yang tidak bakal diusir tergesa dari rumah kekasihnya karena kehadirannya terlalu mengusik seluruh penghuninya.

Mungkin pula, meski kuyakini betul, dia bakal dengan sangat hati-hati mengusap tubuh kekasihnya, menjaganya dari sakit, karena takut kekasihnya memilih odol yang lain untuk mengobati sakitnya.

Ya,

seperti itulah, mungkin, kalau odol lagi jatuh cinta pada kekasihnya, si gigi-geligi yang selalu merindu untuk saling bercumbu, merindu untuk saling bertemu. Di setiap pagi, pun di setiap malam, mereka selalu menabung rindu yang bakal bikin ngilu bila tak segera bertemu.

Mungkin memang sepeti itu kalau odol lagi jatuh cinta.

Yang kurang lebih sama sepertiku.

Mencintaimu.

Menginginkanmu untuk membuka hari dan menutup malamku.

Menabung rindu dan ingin segera bertemu.

Menjagamu, utuh.

Sayang, aku adalah odolmu. Kamu adalah gigi-geligiku. Dulu, kamu yang memilihku menjadi odolmu. Please, jangan ganti-ganti dulu. Gimana. Mau?

 **

Kamar, Senin, 23 Januari 2012, 11.56 Malam

Sebagai penebus karena sudah nyumbang judul aneh buat #15HariNgeblogFF -nya @WangiMS dan @MomoDM

Jeda

Tadinya, aku tak tahu kalau cinta adalah serupa permen karet, yang semula manis, lalu terasa hambar pada akhirnya. Kamu yang kemudian membuatku menyadari itu semua; termasuk mengajariku untuk terlalu cepat mengunyahnya. Dalam waktu sebentar saja, cinta itu tak terasa manisnya. Hambar saja, lalu kau buang secepatnya.

Seringkali, ketika sedang duduk sendiri menikmati roti tawar bersemir srikaya di sebuah pagi, aku mengingat betapa manisnya cinta yang pernah berkuasa di hati kita. Aku mengingat betapa cinta telah mengubah segalanya menjadi merah muda. Kehadiranmu serupa energi yang membakar seluruh gerak tubuhku, sehingga ketika kamu menarik dirimu menjauh, tubuhku terasa lunglai dan melumpuh. Continue reading

Pada Secangkir Kopi

Pada secangkir kopi, aku pernah bercerita tentang masa-masa ketika cinta itu pernah menggebu. Ketika sepenggal sapamu hadir menjelang pagi hariku lalu menutup hari yang sama dengan ucapan manis yang lainnya. Ketika segalanya serba merah muda. Continue reading

Masa Lalu

Ada hujan yang tumpah di balik jendela. Seolah memancing rasa yang telah lama mencoba kelam tenggelam di dasar hati. Apakah hujan terbuat dari partikel rindu, yang sontak saja bisa membuat hatiku ngilu karena mengingatmu? Sendu, mengingat masa lalu denganmu? Continue reading

#Hit32

Hai!

Dalam 6 minggu, insyaAllah umur saya bakal 32 tahun. What a great moment for me.

Untuk membuat ultah saya jadi makin istimewa, saya menantang diri sendiri untuk membuat buku yang diluncurkan persis di hari ultah saya, yang jatuh di Februari, tanggal 12 nanti.

Buku ini jelas sangat istimewa. Selain semuanya serba 32 ~ well, sesuai umur saya gitu :) ~ ada hal lain yang membuat buku kumpulan flash fiction ini begitu istimewa.

Apakah itu? Continue reading

Catatan Harian

January 2012
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Celotehan Lala Purwono

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 107 other followers