Sebelas.
Sebelas.
Sebelas.
Seharusnya kita menikah, besok. Seperti mimpi-mimpi yang pernah menjelma dalam setiap percakapan tak penting kita, sambil saling berpelukan di atas sofa, di depan televisi, di depan semangkuk kacang rebus dan dua cangkir teh manis hangat. Lima tahun yang lalu, kita bermimpi untuk menikah, besok. Di tanggal unik itu: sebelas November tahun dua ribu sebelas, saya dan kamu, kita, bakal menjadi sepasang kekasih yang abadi. Tidak ada perpisahan, selain mati.
Lalu mimpi-mimpi itu, yang terbuncah di antara canda tawa dan obrolan tak penting kita, akhirnya berubah menjadi rencana. Sebuah rencana. Lebih dari sekadar mimpi.
Dua tahun yang lalu, kita berjanji. Sebelas, sebelas, sebelas. Saya dan kamu, kita, mengikat janji. Sebuah janji yang hanya boleh dikoyakkan oleh Tuhan, bukan sesiapun selain Dia si pemilik nafas.
Ya.
Kita berencana untuk menikah di sebelas, sebelas, sebelas.
Kita berencana untuk menikah di sebuah taman pinggir kota dengan tamu-tamu yang jumlahnya tak lebih dari dua puluh orang.
Kita berencana untuk memakai pakaian yang casual; saya dengan cocktail dress, kamu dengan jeans dan kemeja putih yang lengannya kamu gulung sampai siku.
Kita berencana untuk tampil nyanyi berdua, lagu kesayangan kita: I Finally Found Someone, lalu berdansa untuk pertama kalinya sebagai pasangan yang sehidup dan semati.
Kita berencana untuk merayakan kebahagiaan dan berterimakasih pada semesta yang telah berkonspirasi hebat sehingga bisa mempertemukan kita.
Kita berencana menikah di tanggal sebelas, di bulan sebelas, di tahun dua ribu sebelas.
Itu artinya, besok.
Itu artinya, tinggal lima belas menit lagi menuju sebelas, bulan sebelas, tahun dua ribu sebelas.
Seharusnya,
Kita menikah, besok.
Di tanggal sebelas, bulan sebelas, tahun dua ribu sebelas, kita berencana untuk selalu bersama, sampai maut tiba, sampai saya dan kamu kehabisan daya untuk menghisap oksigen banyak-banyak.
Tapi saya, kini sendirian di atas sofa.
Saya meringkuk sendirian di situ dan bukannya sedang dipingit di malam midodareni, saat bidadari datang menjemput untuk mempercantik wajah saya saat akad nikah, esok.
Saya meringkuk sendirian di atas pelukan sofa sambil menahan air mata agar tidak tumpah, dan bukannya tidur nyenyak karena besok bakal jadi hari terpenting dalam sejarah hidup saya.
Saya sendirian saja.
Di depan semangkuk kacang rebus yang masih penuh, mengepul.
Di depan secangkir teh manis hangat yang malas saya sentuh.
Di depan televisi yang menyala.
Di depan meja kecil.
Tempat sebuah undangan warna merah jambu bertuliskan namamu. Dan nama perempuan itu. Perempuan yang diam-diam menyelinap masuk di dalam hari-harimu, saat kita mulai bertengkar tentang rencana-rencana pernikahan yang terlalu menyita waktu dan energi itu. Perempuan yang diam-diam kemudian mengambil alih semua rencana kita. Mimpi-mimpi kita.
Ah!
Seharusnya kita yang menikah, besok.
Bukan kalian.
Bukan.
Seharusnya…
***
Kamar, Jumat, 11.11.11
ih..cerpen ini bikin hati perihhh :’(
Posted by RuriOnline | November 13, 2011, 7:14 pmowwwwww so sad
Posted by orange float | November 13, 2011, 9:26 pmMbak Lalaaaa….ini kok ya pedih banget!
Posted by ladeva | November 16, 2011, 1:27 pmsemoga nggak ada lagi kisah sedih duabelas duabelas duabelas..
Posted by Badranaya | December 1, 2011, 1:34 pmmiris yah…jadi terharu…
salam kenal..
Posted by Kontraktor | December 5, 2011, 3:53 pmMenarik!
Sebuah karya singkat yang penuh makna, yang menghanyutkan, yang menyentuh.
Suka deh membacanya. You are a such a talented writer !
Posted by Syafiq Basri | December 16, 2011, 4:00 pmwaow sedih sekali mbk bgs sekali
..salam knl ya mbk
Posted by http://ceritacewekatro.blogdetik.com/ | January 9, 2012, 4:24 pmini cerpen ya mbak?
baru mudeng.
Posted by atica | January 26, 2012, 9:51 am