archives

Archive for October 26, 2011

Selembar Foto

Selembar foto itu masih kutimang-timang di atas jemariku. Berkali-kali, aku bahkan mengusap-usap permukaan fotonya, seolah mengusap wajah yang ada di sana. Wajah yang dulu pernah berebut oksigen denganku, dua puluh empat jam, setiap harinya. Wajah Manuel.

Sebetulnya, aku tidak pernah berniat untuk melihat kembali potongan-potongan kenangan yang terekam di dalam selembar foto berwarna berukuran post card itu. Melihat kembali foto ini adalah sama saja dengan mencoba membunuh diriku sendiri, perlahan-lahan, tapi tidak segera mati. Tersiksa. Sakit. Continue reading

Rahasia Saja

Dia bilang, dia mencintai saya. Dengan segenap cinta yang menyesaki dadanya. Dia mengungkapkan semuanya saat kami sedang duduk berdua di sebuah café yang masih sepi, di pukul sebelas siang, saat dia mengajak saya keluar sebentar untuk sekadar menyisip kopi kesukaan kami berdua; cappuccino hangat. Saya memang tak bisa mengelak. Saya adalah sekretarisnya, dia adalah pemilik titah yang harus saya patuhi saat berada di kantor.

Jadi, di siang yang tadi sedang terik-teriknya, kami berdua meluangkan waktu di sebuah café. Letaknya di pinggiran kota. Sambil menyesapi kopi itulah, dia kemudian bilang kalau dia mencintai saya. Dengan segenap cinta yang dia rasakan membuncah di dadanya, belakangan ini. Dengan segenap rasa tak biasa yang dia rasakan meletup-letup di bilik-bilik jantungnya, belakangan ini. Dengan seluruh kesadaran yang dia punya, dia bilang, “Ternyata saya benar-benar jatuh cinta sama kamu.”

Terkaget.

Tentu saja.

Hampir tergelincir cangkir kopi di genggaman jari-jemari saya kalau saya tidak bisa menata perasaan saya, siang tadi. Sungguh, siapa yang menyangka kalau lelaki sehebat dia bakal jatuh cinta dengan perempuan seperti saya? Dia adalah lelaki kaya. Keturunan ketiga dari seorang pengusaha yang kekayaan bisa menghidupi sampai keturunan ketujuh. Dia adalah lelaki tampan, berderet-deret perempuan pernah keluar-masuk di dalam hatinya. Dia adalah lelaki pintar, berlembar-lembar ijasah dan laba perusahaan yang terus meroket adalah buktinya.

Dia adalah lelaki istimewa.

Saya adalah perempuan biasa.

Sebelah mananya dari saya yang bisa membuatnya jatuh cinta?

I love it when you smile…” Yang selalu saya paksakan meski hati saya digantungi mendung pekat luar biasa?

I love it when you enter the room and make it brighter…” Yang selalu saya paksakan karena saya ingin melihat semua orang bahagia?

“Saya suka cara tertawa kamu…” Yang terlalu keras, sampai-sampai seluruh lantai di gedung kantor kami bisa tahu kalau saya sedang tertawa?

“Saya suka semuanya yang ada pada kamu. Hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah kamu perhatikan, tapi saya memerhatikannya.”

Lalu dia menyebutkan semua kebiasaan-kebiasaan kecil saya.

Selalu terbatuk-batuk sebelum memulai presentasi.

Selalu meremas-remas jemari saat dipanggil ke dalam ruangannya.

Selalu membetulkan letak kacamata saat saya sedang serius memerhatikannya.

Selalu menyentuh ujung hidung ketika sedang gelisah.

Selalu mengacak-acak rambut saat sedang mengantuk.

Dia menyebutkan hampir semuanya. Membuat saya terkesima. Hebat. Dia memerhatikan saya sampai sedetil itu. Hebat. Hebat sekali.

Saya tersipu.

“Kamu istimewa.”

“Bapak berlebihan.”

“Saya ngomong jujur.”

“Saya juga.”

Lalu dia menyesap cappuccino-nya.

“Saya jatuh cinta sama kamu.”

Di akhir kalimat itu, saya tidak membalasnya. Hati saya dipenuhi berjuta-juta rasa. Jantung saya seperti melonjak-lonjak, ingin mencelat keluar dari rongga dada.

Lagi-lagi dia bilang cinta.

Lelaki sepintar, sekaya, dan setampan dia. Bilang cinta. Pada saya. Yang biasa saja.

Ah!

“Saya boleh mencium kamu?”

Permintaannya adalah titah yang tak boleh ditolak. Tak terbantahkan. Saya, semestinya, harus menyanggupinya. Harus mau. Dia adalah atasan saya.

Tapi ciuman ini? Apakah ini termasuk titah yang harus saya penuhi?

“Boleh?” Dia bertanya lagi. Meski kali ini, tanpa menunggu jawabam saya, dia segera merenggut belakang kepala saya, menyodorkan sampai begitu dekat dengan wajahnya, lalu bibirnya bergerak mencari bibir saya. Mengecup perlahan, di awal. Lalu makin menghebat, setelahnya. Saya sampai terengah-engah. Oksigen saya direnggut paksa bersamaan dengan wajahnya yang begitu lekat dari wajah saya.

Beberapa detik kemudian, dia berhenti mencium saya. Bibirnya basah. Bibir saya lengket oleh ludahnya.

Your lips taste great. Asli. Tidak tercampur lipstick…”

Saya diam saja.

“Kenyal. Basah. Dan, um…” Dia melirik saya. “Enak.”

Saya diam saja.

Hati saya gelisah.

I want to kiss you more and more. Every day. Every time.

“…”

Because your lips taste amazing…”

“…”

“…better than my wife’s.

Saya bergetar.

Hati saya, bergetar.

Dia menggamit lengan saya. “Yuk, kita balik ke kantor. Ada janji meeting sama anak-anak Sales, kan?” Dia bangkit dari sofa, berjalan ke kasir, lalu menggandeng saya sampai ke mobil.

“Saya cinta kamu.”

“…”

“…but let it be a secret between us. Ya?”

Dia mengecup saya lagi.

Lelaki tampan, kaya, dan pintar itu mengecup saya lagi.

Oh, ya.

Maksud saya,

Lelaki tampan, kaya, pintar, dan suami dari seorang perempuan lain itu kembali mengecup saya dengan hebatnya di dalam mobil. Membuat hati saya bergetar, luar biasa.

Dia mencintai saya.

Saya juga mencintai dia.

Tapi saya bisa apa?

Selain menyimpan semua ini sebagai rahasia saja?

Tepat di saat itu, ponsel saya berbunyi. Sebuah SMS masuk.

From: Hunny

Nanti malam nggak diajak boss-mu lembur lagi, kan?
Kangen makan malem bareng, Ma.
Bilang boss-mu, ya? *kiss*

Ah, memang sebaiknya semua ini biarlah menjadi rahasia saja…

**

Kamar, Rabu, 26 Oktober 2011, 2.11 Pagi

Catatan Harian

October 2011
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 105 other followers