Kalau kamu menyangka saya desperate karena belum menikah,
mending jangan, deh.
Kalau kamu menyangka saya bakal merasa kesepian karena belum juga menemukan teman tidur setiap malam,
mending jangan, deh.
Kalau kamu menyangka hidup saya itu jauh dari bahagia cuman karena saya nggak seperti kamu; menikah, punya dua anak, pekerjaan bagus,
mending jangan, deh.
Kalau kamu menyangka saya sedang menipu diri sendiri, menyenangkan hati saya sendiri dengan mengatakan kalau saya baik-baik saja meski sendiri,
denger ya, mendingan jangan.
Kenapa?
Sebelum kamu tahu bagaimana rasanya menjadi saya:
Saya punya keluarga yang menyenangkan;
Saya punya sahabat-sahabat yang luar biasa gilanya;
Saya bekerja di kantor dengan rekan-rekan kerja yang sudah seperti keluarga saya sendiri;
Saya sudah perlahan-lahan mencapai apa yang saya inginkan sejak dulu, menjadi penulis;
Dan, ah! banyak sekali yang perlu kamu ketahui tentang saya.
Jadi, sebelum kamu bagaimana menyenangkannya menjadi seorang Lala Purwono alias saya,
mending jangan menghakimi saya dengan ukuran kebahagiaanmu.
A wedding ring won’t justify my happiness.
A bunch of kids won’t justify my happiness.
Saya yang menetapkan apa itu bahagia buat saya sendiri. Saya tidak butuh penggaris orang lain untuk mengetahuinya.
So, Sekali lagi saya bilang sama kamu: JANGAN mendefinisikan kebahagiaan saya.
You know nothing about me.
Period.
** Kamar Bro, 15 Oktober 2011, 11.19 Malam
setiap orang tau apa yang bisa membahagiakan dirinya sendiri ya…
Posted by arman | October 16, 2011, 12:45 amAgree. Define you own happiness
Posted by duniachie | October 16, 2011, 11:37 amTulisan ini seperti mencoba memberikan pesan terhadap sesuatu, hahaha…
Jadi, bahagia menurut jeung lala itu.
punya keluarga yang menyenangkan;
punya sahabat-sahabat yang luar biasa gilanya;
bekerja di kantor dengan rekan-rekan kerja yang sudah seperti keluarga sendiri;
Menjadi penulis;
Dan banyak sekali….
Bukan cincin kawin dan anak yak…
Piss ah, wehehehe….
Posted by Raffaell | October 17, 2011, 1:06 pm