archives

Archive for October 2011

Selembar Foto

Selembar foto itu masih kutimang-timang di atas jemariku. Berkali-kali, aku bahkan mengusap-usap permukaan fotonya, seolah mengusap wajah yang ada di sana. Wajah yang dulu pernah berebut oksigen denganku, dua puluh empat jam, setiap harinya. Wajah Manuel.

Sebetulnya, aku tidak pernah berniat untuk melihat kembali potongan-potongan kenangan yang terekam di dalam selembar foto berwarna berukuran post card itu. Melihat kembali foto ini adalah sama saja dengan mencoba membunuh diriku sendiri, perlahan-lahan, tapi tidak segera mati. Tersiksa. Sakit. Continue reading

Rahasia Saja

Dia bilang, dia mencintai saya. Dengan segenap cinta yang menyesaki dadanya. Dia mengungkapkan semuanya saat kami sedang duduk berdua di sebuah café yang masih sepi, di pukul sebelas siang, saat dia mengajak saya keluar sebentar untuk sekadar menyisip kopi kesukaan kami berdua; cappuccino hangat. Saya memang tak bisa mengelak. Saya adalah sekretarisnya, dia adalah pemilik titah yang harus saya patuhi saat berada di kantor.

Jadi, di siang yang tadi sedang terik-teriknya, kami berdua meluangkan waktu di sebuah café. Letaknya di pinggiran kota. Sambil menyesapi kopi itulah, dia kemudian bilang kalau dia mencintai saya. Dengan segenap cinta yang dia rasakan membuncah di dadanya, belakangan ini. Dengan segenap rasa tak biasa yang dia rasakan meletup-letup di bilik-bilik jantungnya, belakangan ini. Dengan seluruh kesadaran yang dia punya, dia bilang, “Ternyata saya benar-benar jatuh cinta sama kamu.”

Terkaget.

Tentu saja.

Hampir tergelincir cangkir kopi di genggaman jari-jemari saya kalau saya tidak bisa menata perasaan saya, siang tadi. Sungguh, siapa yang menyangka kalau lelaki sehebat dia bakal jatuh cinta dengan perempuan seperti saya? Dia adalah lelaki kaya. Keturunan ketiga dari seorang pengusaha yang kekayaan bisa menghidupi sampai keturunan ketujuh. Dia adalah lelaki tampan, berderet-deret perempuan pernah keluar-masuk di dalam hatinya. Dia adalah lelaki pintar, berlembar-lembar ijasah dan laba perusahaan yang terus meroket adalah buktinya.

Dia adalah lelaki istimewa.

Saya adalah perempuan biasa.

Sebelah mananya dari saya yang bisa membuatnya jatuh cinta?

I love it when you smile…” Yang selalu saya paksakan meski hati saya digantungi mendung pekat luar biasa?

I love it when you enter the room and make it brighter…” Yang selalu saya paksakan karena saya ingin melihat semua orang bahagia?

“Saya suka cara tertawa kamu…” Yang terlalu keras, sampai-sampai seluruh lantai di gedung kantor kami bisa tahu kalau saya sedang tertawa?

“Saya suka semuanya yang ada pada kamu. Hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah kamu perhatikan, tapi saya memerhatikannya.”

Lalu dia menyebutkan semua kebiasaan-kebiasaan kecil saya.

Selalu terbatuk-batuk sebelum memulai presentasi.

Selalu meremas-remas jemari saat dipanggil ke dalam ruangannya.

Selalu membetulkan letak kacamata saat saya sedang serius memerhatikannya.

Selalu menyentuh ujung hidung ketika sedang gelisah.

Selalu mengacak-acak rambut saat sedang mengantuk.

Dia menyebutkan hampir semuanya. Membuat saya terkesima. Hebat. Dia memerhatikan saya sampai sedetil itu. Hebat. Hebat sekali.

Saya tersipu.

“Kamu istimewa.”

“Bapak berlebihan.”

“Saya ngomong jujur.”

“Saya juga.”

Lalu dia menyesap cappuccino-nya.

“Saya jatuh cinta sama kamu.”

Di akhir kalimat itu, saya tidak membalasnya. Hati saya dipenuhi berjuta-juta rasa. Jantung saya seperti melonjak-lonjak, ingin mencelat keluar dari rongga dada.

Lagi-lagi dia bilang cinta.

Lelaki sepintar, sekaya, dan setampan dia. Bilang cinta. Pada saya. Yang biasa saja.

Ah!

“Saya boleh mencium kamu?”

Permintaannya adalah titah yang tak boleh ditolak. Tak terbantahkan. Saya, semestinya, harus menyanggupinya. Harus mau. Dia adalah atasan saya.

Tapi ciuman ini? Apakah ini termasuk titah yang harus saya penuhi?

“Boleh?” Dia bertanya lagi. Meski kali ini, tanpa menunggu jawabam saya, dia segera merenggut belakang kepala saya, menyodorkan sampai begitu dekat dengan wajahnya, lalu bibirnya bergerak mencari bibir saya. Mengecup perlahan, di awal. Lalu makin menghebat, setelahnya. Saya sampai terengah-engah. Oksigen saya direnggut paksa bersamaan dengan wajahnya yang begitu lekat dari wajah saya.

Beberapa detik kemudian, dia berhenti mencium saya. Bibirnya basah. Bibir saya lengket oleh ludahnya.

Your lips taste great. Asli. Tidak tercampur lipstick…”

Saya diam saja.

“Kenyal. Basah. Dan, um…” Dia melirik saya. “Enak.”

Saya diam saja.

Hati saya gelisah.

I want to kiss you more and more. Every day. Every time.

“…”

Because your lips taste amazing…”

“…”

“…better than my wife’s.

Saya bergetar.

Hati saya, bergetar.

Dia menggamit lengan saya. “Yuk, kita balik ke kantor. Ada janji meeting sama anak-anak Sales, kan?” Dia bangkit dari sofa, berjalan ke kasir, lalu menggandeng saya sampai ke mobil.

“Saya cinta kamu.”

“…”

“…but let it be a secret between us. Ya?”

Dia mengecup saya lagi.

Lelaki tampan, kaya, dan pintar itu mengecup saya lagi.

Oh, ya.

Maksud saya,

Lelaki tampan, kaya, pintar, dan suami dari seorang perempuan lain itu kembali mengecup saya dengan hebatnya di dalam mobil. Membuat hati saya bergetar, luar biasa.

Dia mencintai saya.

Saya juga mencintai dia.

Tapi saya bisa apa?

Selain menyimpan semua ini sebagai rahasia saja?

Tepat di saat itu, ponsel saya berbunyi. Sebuah SMS masuk.

From: Hunny

Nanti malam nggak diajak boss-mu lembur lagi, kan?
Kangen makan malem bareng, Ma.
Bilang boss-mu, ya? *kiss*

Ah, memang sebaiknya semua ini biarlah menjadi rahasia saja…

**

Kamar, Rabu, 26 Oktober 2011, 2.11 Pagi

Kamu. Kebiasaanmu.

Sudah empat tahun saya bersamamu.

Saya tahu sekali seperti apa kamu.

Kamu selalu mengelompokkan pakaian-pakaian dalam lemarimu sesuai dengan warna; mulai terang, sampai gelap. Juga jenisnya; kaos oblong, kaos berkerah, sampai kemeja untuk kerja.

Kamu suka sekali dengan warna beige. Kalem, katamu. Bikin teduh apartemen, katamu. Tidak heran, seluruh ruang di apartemenmu didominasi oleh warna-warna beige. Mulai dari cat dinding, bingkai foto, sampai sofa di depan televisi. Semuanya beige. Warna kesukaanmu.

Kamu juga selalu menikmati roti tawar yang bersemir srikaya. Dua lapis roti, dengan srikaya yang kamu semirkan begitu tebal di antaranya. Kamu selalu menikmatinya seolah besok hari kiamat dan itu adalah roti tawar bersemir srikaya-mu yang terakhir.

Meski mengaku lelaki yang sungguh-sungguh lelaki, tapi  saya tahu persis kalau kamu suka sekali menonton film Serendipity. Kamu bilang, tidak ada film seromantis ini. Tidak perlu menye-menye untuk membuatnya romantis. Sederhana saja, tapi kamu suka. Kamu memutarnya berulang-ulang sampai terkadang saya bertanya-tanya, “Jangan-jangan kamu suka menonton Kate Beckinsale-nya aja daripada jalan ceritanya…” Dan saya tahu, kamu selalu tertawa, menyentil ujung hidung saya, menciumnya sebentar, lalu menonton lagi.

Empat tahun bersama kamu, membuat saya hafal dengan kebiasaanmu.

Mencuri-curi waktu untuk merokok saat berkencan dengan saya.

Menghabiskan dua cangkir espresso di setiap kencan kamu dan saya.

Selalu kebingungan saat harus memilih dasi yang sempurna untuk kemeja yang ingin kamu pakai.

Suka sekali mengacak-acak rambut saat mulai mengantuk.

Sering sekali lupa mengisi botol air minum di dalam kulkas.

Selalu ngotot membeli buku-buku baru namun ujung-ujungnya selalu teronggok di rak buku dalam kondisi masih berbungkus plastik.

Bahkan hal-hal kecil yang lain seperti kebiasaanmu yang selalu bernyanyi-nyanyi di dalam kamar mandi, meremas jemari saat gelisah, dan memukul dinding saat marah itu saya hafal sekali.

Ya, saya tahu.

Kebiasaanmu.

Apa yang kamu suka. Apa yang tidak kamu suka.

Karena sudah empat tahun saya bersama kamu. Berebut oksigen bersamamu.

Seperti kamu yang sudah tahu persis bagaimana saya.

Yang selalu marah kalau kamu merokok.

Yang selalu cemburu dengan Kate Beckinsale.

Yang geleng-geleng kepala karena kamu selalu membeli buku-buku yang tak pernah kamu baca.

Yang selalu tertawa saat melihatmu mengunyah roti tawar bersemir srikaya.

Dan satu hal lagi yang kamu tahu persis tentang saya.

Saya yang selalu tak bisa melakukan apa-apa kalau kamu kemudian berkata, “Besok aku pulang ke Jakarta, ya? Kamu baik-baik di sini. Jangan selingkuh…”

Dan kita berdua selalu tahu apa yang terjadi setelah kalimat-kalimat itu.

Saya akan sedih. Saya akan kecewa. Saya akan menangis hebat.

Menangisi kebodohan ini; mencintai lelaki seperti kamu.

Yang punya satu kebiasaan yang tidak pernah saya suka selama empat tahun ini.

Pulang ke anak-istrimu.

Setiap empat minggu.

Selalu.

 

**

Kamar, 22 Oktober 2011

 

 

Sekeping Coklat

Hai!

Saya sedang menggarap sebuah buku, judulnya Sekeping Coklat. Waktu saya edit-edit, kok kayaknya bakal lebih seru kalau ada temen-temen penulis yang mau menyumbangkan beberapa karyanya di sini. Yes, biar kepingan coklatnya makin mantep dikunyah, lumer di mulut!

Jadi, malam ini, saya memutuskan untuk memberikan dua slot flash fiction di buku Sekeping Coklat untuk dua teman-teman penulis saya. Seperti apa kriterianya?

1. Cerita super pendek tentang cinta. Mau tragis, sedih, bahagia, mewek nangis darah, ketawa ngakak… pokoknya tentang cinta. Fiksi? Non fiksi? Apapun!

2. Jumlah halaman? Tak lebih dari 2 halaman A4. Huruf arial 11, spasi 1.Cukup banyak ruang untuk merangkai kata, kan?

3. Sudah selesai menulis? Kirim ke email jeunglala@gmail.com ya. Ingat, batas waktu pengiriman naskahnya hanya sehari-semalam. Cukup sampai jam 10 malam, besok! Ahey!

4. Buat yang sudah ngirim naskah, tunggu info berikutnya dari saya, ya? pantengin twitter saya @lalapurwono untuk semua info-info baru.

5. Penulis tamu bakal dapet sesuatu dari saya. Bukan cuman ucapan terimakasih, lho… Nantikan aja hadiahnya, yaah…

Okey. Selamat menulis! makasih udah mau ikutan, yaaa…

 

Kecup sayang,

Lala Purwono

Jangan

Kalau kamu menyangka saya desperate karena belum menikah,
mending jangan, deh.

Kalau kamu menyangka saya bakal merasa kesepian karena belum juga menemukan teman tidur setiap malam,
mending jangan, deh.

Kalau kamu menyangka hidup saya itu jauh dari bahagia cuman karena saya nggak seperti kamu; menikah, punya dua anak, pekerjaan bagus,
mending jangan, deh.

Kalau kamu menyangka saya sedang menipu diri sendiri, menyenangkan hati saya sendiri dengan mengatakan kalau saya baik-baik saja meski sendiri,
denger ya, mendingan jangan.

Kenapa?

Sebelum kamu tahu bagaimana rasanya menjadi saya:
Saya punya keluarga yang menyenangkan;
Saya punya sahabat-sahabat yang luar biasa gilanya;
Saya bekerja di kantor dengan rekan-rekan kerja yang sudah seperti keluarga saya sendiri;
Saya sudah perlahan-lahan mencapai apa yang saya inginkan sejak dulu, menjadi penulis;
Dan, ah! banyak sekali yang perlu kamu ketahui tentang saya.

Jadi, sebelum kamu bagaimana menyenangkannya menjadi seorang Lala Purwono alias saya,
mending jangan menghakimi saya dengan ukuran kebahagiaanmu.

A wedding ring won’t justify my happiness.

A bunch of kids won’t justify my happiness.

Saya yang menetapkan apa itu bahagia buat saya sendiri. Saya tidak butuh penggaris orang lain untuk mengetahuinya.

So, Sekali lagi saya bilang sama kamu: JANGAN mendefinisikan kebahagiaan saya.
You know nothing about me.
Period.

 

** Kamar Bro, 15 Oktober 2011, 11.19 Malam

Formula

Entah apa formula Tuhan ketika menciptakan lelaki itu.

Lelaki yang, kutebak, bisa jadi ia terbuat dari cahaya. Tengok saja senyumnya; seolah menerangi setiap hati setiap kali melihatnya.

Bisa pula ia terbuat dari serbuk candu. Tengok saja tatapan kedua biji matanya; seolah memerangkap setiap pasang mata yang bertukar pandang dengannya. Terperangkap selamanya, dalam pesonanya.

Ah, mungkin saja ia terbuat dari rindu menggebu. Cium saja aroma tubuhnya; kamu  akan merasa ingin menghirup nafasmu kuat-kuat, menyimpan aroma tubuhnya banyak-banyak di paru-parumu. Lalu disimpan baik-baik di situ, bekal untuk mengobati rindu yang menggebu.

Aku tak tahu formula apa yang Tuhan rumuskan saat Ia menciptakan lelaki itu.

Aku tak tahu; cahaya, candu, ataukah rindu yang menggebu.

Tapi yang aku tahu, Tuhan merumuskan formula cinta di dalam hatiku.

Yang kupersembahkan untuk lelaki itu.

Dan membuatku bakal selalu membiarkan lelaki itu singgah di dalam hatiku.

Selalu.

 

**

Kamar, 8 Oktober 2011, 10.54

Selalu, di Hatiku

Seorang lelaki menungguku di balik pintu. Kamu tahu?

Dia sedang mengetuk pintu itu berkali-kali, menyebutkan namaku, memanggilku. Kamu tahu?

Dia bahkan memaksaku untuk membuka pintu itu, memaksa masuk. Mendesak untuk segera menemuiku. Kamu tahu?

Lelaki itu tak pernah lelah mengetuk pintu. Bahkan ketika aku tetap tak bereaksi, diam saja tak menanggapi, dia tetap sabar menungguku di balik pintu. Kamu tahu?

Sahabatku bertanya, kenapa aku melakukannya. Membiarkan seorang lelaki tampan dan baik hati seperti dia di balik pintu, memaksa bertemu tapi tak pernah kubiarkan ia melakukan itu. Padahal, kata sahabatku, lelaki itu adalah lelaki yang bisa memberikan segalanya yang tak bisa kamu berikan untukku.

Ah!

Harusnya sahabatku itu tahu.
Juga kamu, yang harusnya tahu, kenapa kulakukan itu.

Kubiarkan lelaki itu di balik pintu, tidak kuhiraukan panggilannya, bahkan kutulikan semua pendengaranku untuk permintaannya, karena satu alasan yang pasti: kamu.

Ya. Karena sudah ada kamu di hatiku.
Menempati seluruh ruang di hati.
Menyesakiku sampai aku mati.

Tak ada lelaki lain yang akan mengisi di situ.
Kecuali kamu.
Yang bakal selalu, di hatiku.
Selalu.

**

Kamar, Sabtu, 8 Oktober 2011, 10.36 Malam
Buat kamu, yang bakal selalu di hatiku.

Catatan Harian

October 2011
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers