archives

Archive for August 2011

Sebuah Lagu dari Hati: “Tahu Bagaimana Rasanya”

Apa yang terjadi kalau seorang penulis berkolaborasi dengan pemusik? Pernikahan kedua profesi itu bakal heboh karena akan menghasilkan sebuah lagu kolaborasi yang penuh emosional, dimana keduanya berusaha menerjemahkan apa yang mereka rasakan dengan cara mereka masing-masing.

Aku dan @AndrySuisan telah melakukannya. Berkolaborasi menciptakan lagu yang lirik-liriknya Andry culik dari timeline twitterku di suatu dini hari yang galau (baca kumpulan twitsnya di sini http://jeunglala.wordpress.com/2011/05/04/tahu-bagaimana-rasanya/ ), dan dengan tangan dinginnya, Andry berhasil menciptakan satu lagu dengan musik ala orkestra yang sangat megah dan bikin merinding!

OK, kapan-kapan aku bahas lagi soal lagu ini, yaa.. Sila donlot saja lagunya, nikmati kegalauannya, dan jangan ragu-ragu buat menawari aku project rekaman apaaa gitu biar saingan sama Syahrini. Hihihi!

Ini linknya: http://bit.ly/piaoWR

Ini liriknya:

Tahu Bagaimana Rasanya
Music & Lyrics: Andry & Lala

Tahu bagaimana rasanya mencinta
dia yang takkan pernah mencintaimu
Tahu bagaimana rasanya merindu
dia yang takkan bisa membalas rindumu

Kutahu rasanya, sakitnya karena kau yang tak pernah mau tahu akan cintaku
kutahu rasanya, sampai mengilu karena kau tetap tak bisa pedulikan hatiku

Tahu bagaimana rasanya memanggil
dia seolah tuli tuk teriakmu
tahu bagaimana rasanya menangis
dia yang tak pernah merasa melukaimu

Kutahu rasanya, sakitnya karena kau yang tak pernah mau tahu akan cintaku
kutahu rasanya, sampai mengilu karena kau tetap tak bisa pedulikan hatiku
pedulikan hatiku, oh!

Cobalah kau sedikit mengerti betapa sulitnya menjadi aku
kujatuh terlampau dalam di hatimu
kini kamu tahu; rasaku, inginku, jeritan sakitku

Berhentilah menjadi lelaki itu
Mengertilah sulitnya menjadi aku

Sudah matikah rasamu tuk mengerti sakitku?
Apa karena mati rasamu, kau harus tak peduli?

—-

Enjoy the song, Guys!

Delapan Tahun

Dear Ray,

Hari ini adalah hari ulang tahunmu. Tanggal 4 Juni, di tahun ini, usiamu genap 31. Sebuah kue tar dengan dua lilin menyala di atasnya siap menyambut hadirmu, di kafe ini, tempat aku bekerja sejak masa kuliahku dulu. Kamu, sekali lagi, merayakan ulang tahunmu di sini. Dan aku, sekali lagi, yang mempersiapkan segala sesuatunya untukmu di sini.

Sudah delapan tahun aku mengenalmu, Ray. Delapan tahun adalah waktu yang cukup lama untuk bisa mengetahui siapa kamu, apa yang kamu suka, juga apa yang tidak kamu suka. Aku bahkan hafal dengan kebiasaanmu setiap datang ke kafe ini; memesan es kopi, sepiring nasi goreng teriyaki, lalu kamu akan memesan secangkir kopi susu, memintaku membuang kumpulan abu rokok di asbakmu dan menatanya kembali di atas meja, dan akhirnya kamu merokok terus sampai hendak pulang ditemani secangkir kopi susu yang tidak segera habis karena kamu terlampau banyak merokok.

Delapan tahun kamu setia berkunjung ke kafe ini. Delapan tahun kamu setia memesan menu yang sama. Delapan tahun pula aku setia melayanimu; mencatat pesananmu, membersihkan asbakmu, menemani berbincang-bincang sampai malam menjelang, khususnya bila tak seorang pun duduk di sampingmu.

Pertama kali kita bertemu, aku masih seorang anak kuliahan yang butuh pekerjaan untuk menutupi uang kuliahku, bekerja sebagai pelayan kafe paruh waktu. Dan kamu, Ray, sepertinya kamu sudah seorang pegawai kantoran. Aku menebaknya dari cara berpakaianmu yang rapi; kemeja dan celana yang kemudian berantakan setelah lama duduk di sofa.

Aku menyukaimu sejak pertama kamu membuka pintu kafe itu. Aku suka dengan warna kemejamu; biru langit dan celana khaki. Aku suka dengan aroma parfummu yang maskulin. Aku suka dengan senyum di bibirmu setiap menyudahi percakapan kita. Aku suka momen-momen bisumu yang kamu habiskan dengan batang-batang rokok yang mengepul dengan hebatnya.

Ya, aku jatuh cinta dengan gilanya padamu mulai dari pertama kali aku melihatmu. Gila, Ray. Gila!

Aku mulai merasa gila karena sejak saat itu aku mencoba menghafal kebiasaanmu. Aku mencatat kapan saja kamu akan datang ke kafe. Bahkan aku menunggumu dengan harap-harap cemas, karena takut tak bisa bertemu denganmu.

“This is insane,” kata Emma, sahabatku. “Mau jadi apa kamu di sini? Jadi pelayan seumur hidupmu?”

Ray, waktu itu Emma memang sebal setengah mati denganku saat ia tahu kalau aku tak mau meninggalkan pekerjaan bergaji rendahku di kafe hanya karena takut tak bisa bertemu denganmu lagi.

Ah, tapi aku bisa apa? Aku sudah kecanduan padamu!

Suatu kali kamu pernah bilang begini, “Hari ini aku ulang tahun, La. Ada yang spesial dari kafe ini buat pelanggan setianya, kan?” Itu kata-katamu tujuh tahun yang lalu. Kamu mencandaiku, memang. Tapi aku menanggapinya dengan serius, karena sejak tujuh tahun yang lalu sampai hari ini, aku dengan rela merepotkan diriku untuk mempersiapkan kue ulang tahunmu.

Ulang tahunmu serupa perayaan paling sakral buatku dalam setahun. Tidak ada hari, sejak tujuh yang lalu, mengalahkan kesakralan hari ulang tahunmu.

Kerepotan menyambut ulang tahunmu adalah waktu-waktu yang paling kutunggu dalam setahun. Kerepotan yang melahirkan percakapan-percakapan mesra dan pelukan terimakasihmu sesudahnya.

I love those moments!

Pagi ini, Ray. Aku melakukannya lagi. Penanggalan di ponselku sudah kutandai tiap empat Juni. Ulang tahunmu, Ray. Hari istimewamu yang menjadi istimewa pula buatku.

Sudah kupesan kue tar kesukaanmu; Opera cake yang legit dengan coklat. Sudah kusiapkan lilin-lilin yang akan bertengger di atas kue tarmu nanti. Kue tar yang bakal hadir di atas mejamu, di sudut kafe ini, sebagai kejutanku buatmu, Ray.

Hari berjalan lambat.
Mungkin karena aku menunggumu dengan kegembiraan yang amat sangat.

Sengaja kupilih giliran sore supaya bisa bertemu denganmu sepulang kantor nanti. Sengaja berdandan cantik dan menyemprotkan parfum banyak-banyak supaya nanti bisa tercium olehmu saat kamu memelukku, mengucapkan terimakasih.

Ray, sungguh, aku tak sabar menunggu.

Tapi, Ray, sampai detik ini, pukul sepuluh malam ini, tak juga kutemui dirimu di sini. Opera cake sudah menantimu, pelukanku sudah menunggumu, tapi tak juga kamu hadir mendatangi kafe ini.

Pukul dua belas saat kafe tutup, kamu tetap tak datang. Opera cake masih teronggok di dalam lemari pendingin, seperti mulai lelah dan mati rasa menunggumu.

“La.. Ray nggak bakal datang,” kata Lisa, rekan kerjaku, sambil menepuk bahuku. Dia menemaniku sampai pukul dua belas malam, di sampingku yang gelisah menunggumu.

Aku diam saja, Ray. Tidak menyahutnya.

“La, kamu tahu kan, kalau Ray nggak bakal datang? Dia nggak bakal datang, La. NEVER.”

Aku diam. Masih diam.

“La.. Please, let him go.. Please..”

Lisa malah menangis di bahuku, Ray.
Aku sendiri tak bisa menangis seperti dia.
Air mataku sudah habis tak bersisa semenjak sebulan yang lalu. Kamu yang mengeringkannya, sampai tak bersisa.

Ya, Ray.
Seluruh air mata itu sudah habis sejak peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawamu, sebulan yang lalu. Aku tak lagi bisa menangis. Tidak pernah bisa lagi.

Aku hanya bisa menunggumu.
Dengan kegilaan yang tak pernah bisa berhenti mengganggu.
Dengan candu bernama cinta yang tak sempat kuungkapkan padamu.

Aku tahu, kamu tak bakal datang di tahun kedelapan ini, sekalipun pagi tadi aku berdoa begitu gilanya, berharap supaya peristiwa itu tidak pernah terjadi dan nanti malam keajaiban itu terjadi.

Ah, Ray. I’m insane!
Aku tahu kamu memang tidak bakal datang ke kafe ini untuk merayakan ulang tahunmu.
Tapi aku tak akan pernah berhenti merayakan ulang tahunmu setiap tanggal 4 Juni.
Karena aku tahu,
Di hari itu,
Kamu menungguku,
Kue tarku,
Kejutanku,
Kehadiranku.

Selamat ulang tahun, Ray!
Kita jumpa lagi 4 Juni tahun depan,
Dan semoga keajaiban itu bisa terjadi,
Bagaimanapun caranya…

**

Meja makan, 1 Agustus 2011, 8.45 malam

Catatan Harian

August 2011
M T W T F S S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Celotehan Lala Purwono

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers