Dear Angga,
So you say that you’re getting divorced. Pada suatu pertemuan pertama kita setelah tiga tahun berpisah, kamu mengungkapkan proses perceraianmu itu dengan nada suara datar, yang tak bisa kukenali: you were happy, or sad.
Di sela-sela isapan batang rokok, di antara kepulan asap rokok yang mengembara di antara kita berdua, semalam tadi, kamu bilang padaku kalau perceraianmu sudah sampai tahap akhir. Ketukan palu Hakim, besok, akan menyudahi pernikahanmu dengan Elsa, setelah dua tahun lamanya. Setelah tiga tahun aku menahan rasa sedih dan hampa yang luar biasa karena kehilanganmu. Continue reading
Dear Angga,
So I hear that you’re about to get married.
Dengan seorang gadis yang cantik, berkulit putih, feminin, bertuturkata lembut, dan telah menjadi kekasihmu sejak delapan bulan terakhir. Gadis cantik yang merebut hatimu ketika kita baru saja berpisah tiga bulan lamanya. Gadis yang kemudian tak sekadar singgah untuk mengobati sakitmu karena perpisahan kita, tapi menetap selamanya di dalam hatimu itu. Seorang gadis, that soon, will be called as Mrs. Angga Suryateja.
Baru sebelas bulan yang lalu, Angga. Tidak sampai genap setahun sejak pertengkaran terakhir kita di teras rumahku dan tak lama kemudian aku mendengar bunyi raungan mesin motormu meninggalkan rumah, tapi kini kamu sudah memantapkan hatimu dengan gadis itu. That beautiful and wonderful girl that I hardly know., Angga. Serius. Continue reading
Dear Angga,
I love it when you smile.
Senyummu itu lho, seperti senyuman para Dewa. Senyum yang hangat. Sehangat sinar mentari yang bisa melelehkan semangkuk es krim. Dan aku, adalah es krim yang tergeletak pasrah di bawah terik matahari itu. Meleleh karenamu. Oleh senyummu.
Ok, I’m maybe over reacting, but I mean it when I say how gorgeous your smile is. Nobody has that kind of smile. Senyum yang bisa melelehkan hati itu tadi. Senyum spesialmu.
I love it when you sing.
Senandung lirih yang sering kudengar saat kamu sedang mendengarkan iPod-mu. Entah berapa judul lagu yang sudah kamu hafal luar kepala liriknya, karena kamu begitu indahnya melantunkan semua lagu yang berbeda tanpa salah. Ok, again, mungkin aku berlebihan. Aku sendiri tak tahu banyak soal lagu-lagu terbaru yang sedang ramai diputar di radio. Jadi besar kemungkinan kalau aku tak tahu kalau sebenarnya semua lirik yang terlontar keluar dari bibirmu adalah benar adanya. Bisa saja kamu main-main dengan liriknya tanpa aku tahu. Kecuali kamu menyenandungkan lagu-lagu milik Matt Monroe, penyanyi lawas kesukaanku itu. Continue reading