archives

Archive for July 2010

Girls’Talks

Hey, Everyone…

Mungkin aku terlihat nggak aktif menulis, tapi sejatinya, kini aku sedang rajin menulis di blog Girls’ Talks yang baru launching beberapa menit yang lalu.

Yah. Daripada kena sindrom Writers’ Block -guayane pol deh.. Hehehe- mendingan aku nulis di tempat lain dengan gaya penulisan dan tema-tema yang paling nyaman, kan? :)

Di blog ini, aku sengaja membuat tagline: “Share with girls, about the other girls have talked about their lives.”

Jadi jelas, blog ini memang khusus didedikasikan untuk perempuan-perempuan. Tapi buat para lelaki, blog ini juga tidak akan jahat pada kalian. This is the simple way to know about some of us. Tinggal buka internet, baca, dan pahami. Ongkosnya murah, lho.. :)

So everyone,
Visit my other blog ya.. Ditunggu.. :)

Dia, Sahabatku.

Dia sahabatku.

Kukenal dia ketika usia kami sudah beranjak dewasa atau mungkin remaja tanggung. Ada yang menarik pada dirinya. Sosoknya seperti memiliki sulur-sulur tak kentara yang menarikku untuk terus mendekat. Mungkin senyumnya, mungkin caranya tertawa, mungkin tingkah polahnya yang mengundang tawa banyak orang, mungkin juga karena dia selalu ramah menyapa siapa saja.

Banyak sekali alasan untuk jatuh hati pada perempuan berambut tak panjang ini. Hatinya yang sensitif dan mudah tersentuh untuk hal-hal sepele, pribadinya yang tangguh dan tahu bagaimana caranya menenangkan perasaanku untuk terus menapak hari ketika paruhan hatiku sedang terluka. Juga caranya berkata-kata, caranya menyentuh hati, caranya mengambil seluruh perhatian siapapun yang ada di dalam ruangan.

Dia seperti cahaya ketika hari gelap.
Bahkan ketika hatinya sedang redup, tapi ia tak mau terlihat rapuh dan gelap, karena baginya, dunia lebih membutuhkan cahaya daripada rengekan hatinya. Dunia sudah terlalu sedih, ia tak perlu membagi aura kesedihan di setiap sudut ruangan.

Pernah kubilang padanya, “Jangan berpura-pura kalau hatimu sedih, Sahabat.”

Lalu ia memandang wajahku. Pelan, sambil tersenyum, ia menjawab, “Kalau aku sedih, itu artinya aku membuatmu sedih, kan?”

Kuanggukkan kepalaku. “Tentu, karena aku sahabatmu…”

“Dan aku tidak mau membuatmu bersedih…”

Senyumannya meneduhkanku. Genggaman tangannya menguatkanku. Sampai-sampai aku heran, bukankah sekarang bukan aku yang bersedih, tapi kenapa justru aku yang merasa dikuatkan oleh senyum dan ketegarannya?

“You’re such a great actress…” komentarku pada akhirnya.

“Bukankah aku memang mirip Drew Barrymore?”

Lelucon itu membuatku mengakui, kalau tidak ada yang sanggup mengalahkan kepandaiannya dalam menyembunyikan sakit hatinya.

Ia perempuan yang sangat hebat.
Dia adalah sahabatku.

**

Ya,
Dia adalah sahabatku.

Seorang pecinta sejati.

Seorang yang kuat memegang satu cinta sampai ia dipaksa untuk mengendurkan genggamannya. Kesetiaannya, rasa percayanya pada cinta, membuatku iri setiap ia bercerita tentang Kekasihnya.

“Kau bertanya kenapa aku setia?” tanyanya.

“Iya.”

“Karena aku percaya pada Karma; kesetiaan dibalas dengan kesetiaan. Ketidaksetiaan akan dibalas dengan ketidaksetiaan pula.”

“Bagaimana kalau ternyata ia tidak setia?”

“Mudah.”

“Bagaimana?”

“Aku percaya Karma. Kalau ia tidak setia, artinya dia akan menuai ketidaksetiaan itu pada suatu masa kelak.”

“Itu yang membuatmu begitu sederhana menyikapi jarak dan waktu?”

“Itu caraku agar aku tidak mudah terluka…”

**

Tapi, kemudian ia terluka.

Sahabatku, seorang aktris hebat itu, akhirnya terluka.

Aku datang padanya ketika kedua biji matanya sembab dan ia begitu ragu mengangkat wajahnya untuk membalas pandanganku.

“Don’t look at me, now. I’m terrible…” katanya sambil berusaha terus menunduk.

“Kamu berhak menangis, Sahabat.”

“Tidak, tidak,” katanya. “Aku tidak boleh menangis.”

“Hey, you’re an actress. Not a robot.”

Dia tersenyum. “Aku tidak dilahirkan untuk menjadi seseorang yang berkubang dalam rasa sedih. Ayahku mengajariku untuk menjadi perempuan yang tangguh…”

“But sometimes, crying is good…”

“No… no way…”

Dia terus mengaduk teh manis panasnya. Kalau pada akhirnya teh itu berasa sedikit asin, aku tahu, darimana rasa itu berasal.

Dari air matanya yang terus berjatuhan dalam setiap adukan…

**

Dia sahabatku.

Ingin kupeluk dia malam ini, ingin kuelus lembut rambutnya malam ini, ingin kusentuh punggung tangannya dan mengalirkan kekuatan di setiap ruas-ruas jarinya.

Tapi dia menolakku.

Tapi dia berkata, “Sudahlah. If I could handle then, I can handle now.”

Dia sahabatku.

Sudah tak terhitung berapa kali ia jatuh cinta, lalu patah hati, lalu jatuh lagi, dan terluka lagi. Entah berapa lelaki yang sudah kuancam agar tidak menyakitinya dan mundur saja kalau mereka memang berniat untuk melukainya. Sungguh, melihatnya terluka adalah satu hal yang tak ingin kulakukan.

Dia sahabatku.

Separuh jiwaku.

Nafasku.

Aku tak bisa bernafas jika sekali lagi aku melihat luka di wajahnya, di kedua biji matanya, di debar jantungnya. Aku tak rela!

“Kamu tahu, kamu perempuan yang hebat.”

“Makasih…”

“You’re such a great friend, good listener, wonderful comedian, faithful girlfriend… Suatu saat kelak, hanya lelaki yang paling beruntunglah yang bakal menjadi Ayah untuk Gabriel dan Talisha…”

“Kamu masih ingat nama anak-anak impianku itu, ya?”

“I remember your dreams, termasuk mimpi-mimpimu dengan lelaki itu…”

“Mimpi yang musti usai…”

“Then start dreaming something new…”

**

Di suatu malam, ketika hening membuat jengkerik terdengar begitu berisik di lapangan rumput sebelah rumah, sebuah dering telepon membangunkanku.

“Kenapa? Malam sekali?”

“Aku nggak bisa tidur. Aku nggak berani tidur.”

“Lho? Kenapa?”

“Kamu pernah bilang kalau aku mustinya start dreaming something new, kan?”

“Iya. Kenapa memangnya?”

“I don’t wanna dream something new… Nope. Not yet…”

Lalu akhirnya ia terisak.
Sama seperti aku, di ujung telepon satunya.

**

Dia adalah sahabatku.

Perempuan manis, berambut pendek, dengan senyum serupa cahaya itu memang sahabatku. Matanya berbinar-binar, wajahnya tetap cerah ceria seperti mentari pagi hari, sekalipun semalaman aku hanya mendengar suara tangisnya di ujung telepon.

“Kamu baik-baik aja?”

Dia tersenyum sambil terus mengaduk teh manis panasnya.

“You sounded so terrible, last night.”

Dia masih tetap tersenyum.

“Don’t hide something, Darling…”

Tak berhenti ia tersenyum sambil terus menyiapkan minuman hangatnya untuk kami habiskan berdua di teras depan.

“Hei… kamu…”

Tiba-tiba dia menoleh.

“Kamu ingin gula berapa sendok? Satu, kan?”

Aku terheran-heran menatap wajahnya.

“You look….”

“… gorgeous. Thank you,” potongnya sambil memasukkan sesendok gula pasir ke dalam cangkirku. “Yuk, bantu aku bawa pisang gorengnya keluar. Kita ngobrol di teras aja, yuk… Eh, by the way, besok jadi nggak, sih, kita janjian ke Bengawan Solo? Aku rindu minum kopi.. Been a very long time…”

Dan dia memang tetaplah sahabatku.

Segala luka hati tidak membuatnya berhenti menjadi perempuan hebat dan tangguh yang pernah kukenal.

Aku tahu dia tengah berjuang menutupi wajahnya sendiri dengan topeng dan aku membiarkannya melakukannya…

“If a mask can make it everything easier to deal with, then put a mask on, Dear Best Friend,” bisikku dalam hati sambil membantunya membawa sepiring pisang goreng itu ke teras.

Dari kursi teras, aku sempat menengoknya sebentar.
Dia mengaduk teh manis panasnya, dengan beruraian air mata…
Argh!

***
Kamar, Minggu, 4 Juli 2010, 00.08

Menakhlukkan Ombak

Aku terdiam di tepi pantai.

Ombak menjilati ujung-ujung kakiku yang sedikit terbenam di atas pasir putih lembut; menggelitik setiap sel-sel syaraf dan mengaliri perasaan tak nyaman setiap pandanganku terlepas jauh ke depan. Menatap ombak, menatap buih-buihnya yang pecah di pantai, menatap gulungannya seolah menciptakan sensasi yang membuatku hampir tak sanggup menghela nafas.

“Apa yang ada di dalam pikiranmu?” Seseorang di sampingku bertanya. Lelaki, badannya tegap, perutnya rata, kulitnya gelap, dan rambutnya terkuncir berantakan. Dia memakai celana bermuda dengan warna yang sudah memudar, bertelanjang dada.

“Kamu kayak dukun. Kayak paranormal aja…” sahutku.

“Tidak butuh menjadi Paranormal untuk tahu kalau kamu sedang banyak pikiran,” katanya. “Tapi aku tak tahu, apa yang sedang kamu pikirkan…”

Aku menghela nafas. “I’m just afraid…”

“Afraid of what?”

“Of the waves…”

“Pada ombak-ombak itu?” tanyanya. “Kenapa, memangnya?”

“Aku takut tenggelam. Aku takut ombak itu bakal menggulungku, menelanku hidup-hidup lalu aku mati kehabisan nafas…”

Lelaki itu menyentuh punggungku. “Kamu tahu, this surf board will pull you up in the surface, akan mengangkatmu ke atas air, sedahsyat apapun ombak menggulungmu. Trust me, I know.”

Kupandangi Lelaki itu. Wajahnya yang teduh dan bersahabat meskipun tulang rahangnya menunjukkan kekuatannya, ketegasannya. Dua biji matanya mengisyaratkan ketulusan dan mengajak hatiku untuk percaya.

“And by the way, no one expects you to be expert on day one,” katanya pelan. “Butuh latihan, butuh jam terbang yang cukup untuk setiap peselancar agar bisa menakhlukkan ombak…”

Hari itu hari pertama.

Dan ombak di depanku, mengejekku.

**

Lelaki itu benar, butuh jam terbang dan latihan keras untuk bisa menakhlukkan ombak.

Hari-hari pertama aku sudah kelelahan sendiri saat menggapai-gapai air untuk sampai ke tengah, mencapai ombak.

Hari-hari berikutnya, aku terbanting-banting ke dalam ombak yang menenggelamkan aku. Ombak yang datang rupanya sangat tinggi, sehingga bukannya meluncur di atasnya, tapi aku tenggelam dalam pusarannya. Aku kehilangan nafas.

Hari-hari setelahnya, aku makin kapok karena ombak tak lagi bisa dikendalikan. Aku hampir tenggelam dan sempat aku memejamkan mata saat berada di dalam air dan memohon maaf dalam hati kepada orang-orang yang aku sayangi karena mungkin aku tak sempat mengucapkan salam perpisahan pada mereka. Aku pikir, aku bakal mati tenggelam!

“Kalau kamu niat bisa berselancar, resiko-resiko seperti itu pasti ada,” kata Lelaki itu ketika kuceritakan padanya tentang ketakutan-ketakutanku.

“Tenggelam tertelan ombak? Mati kehilangan nafas?”

“Kalau kamu tahu caranya, kamu tidak akan tenggelam…”

“How?”

Kemudian dia menceritakan caranya, lalu aku manggut-manggut setelahnya.

**

Sudah hari entah keberapa saat akhirnya aku berani berselancar. Memang, selalu ada jeda sebentar sebelum aku mulai menyentuh air. Jeda untuk berdoa agar selalu bisa selamat, jeda untuk memantra-mantrai diriku sendiri bahwa ombak tidak akan menenggelamkanku, karena aku adalah peselancar yang tangguh.

Perlahan, kuangkat papan selancarku.

Perlahan, aku berlari-lari kecil untuk sampai ke tengah dan mulai mengayuh.

Kayuhan demi kayuhan yang mengantarku sampai ke tengah, mencari ombak.

Kayuhan demi kayuhan, sampai kutemukan ombak yang tepat.

Dan tepat saat itulah, aku berdiri, mencoba bertanding dengan ombak, mencoba menakhlukkan ombak yang tingginya berkali-kali lebih tinggi daripada tinggi tubuhku.

Bismillah…

Aku mengangkat tubuhku, mulai mencari-cari keseimbangan agar tidak terjatuh, bergerak ke kiri kanan, condong depan belakang agar tetap seimbang, dan dalam beberapa detik, aku berhasil! Ya, ombak itu berhasil kutakhlukkan!

Berdirilah aku dengan tangguhnya, di atas gulungan ombak yang biasanya menggulungku dengan mudahnya, menantang matahari yang menyiram sinarnya ke tubuhku yang kulitnya menggelap. Aku merasa sangat keren.

Tapi sedetik setelah aku merasa sangat hebat, tiba-tiba keseimbanganku hilang. Mungkin karena terlalu fokus pada rasa kebanggaan, akhirnya aku tak berhasil menjaga keseimbangan tubuh. Walhasil, ombak berhasil menenggelamkanku lagi. Kali ini menyeretnya lebih dalam lagi, membuatku kali ini tak hanya merasa sesak nafas, tapi benar-benar terasa seperti akan mati.

Saat itulah aku teringat pada kata-kata si Lelaki, di pinggir pantai, beberapa waktu yang lalu.

“Kalau kamu tergulung ombak, jangan kuatir. Kepanikan justru akan membuatmu semakin sesak nafas dan menghirup banyak air. Jadi, tenangkanlah pikiranmu dulu. Hilangkan ketakutanmu, dan mulai raih tali papan seluncurmu. Tariklah kuat-kuat, cengkeram erat, dan percayalah, kamu akan tertarik otomatis ke atas permukaan air…”

Dan kulakukan itu.

Kutenangkan pikiranku. Kutarik talinya. Kubiarkan tubuhku tertarik ke atas. Tentunya sambil berdoa agar nafasku tak habis di perjalanan menuju ke sana.

Lambat tapi pasti, tubuhku memang tertarik ke atas. Aku kembali berenang di atas permukaan air, beberapa saat kemudian, dengan nafas yang mungkin tersengal, tapi oksigen itu berhasil kuhirup dengan bebas.

I’m still alive!
Yay!

**

“Bagaimana pelajaran surfingnya? Suka?” tanya Lelaki itu, saat kami menikmati sunset berdua.

Aku hanya terdiam sambil memandangi lautan lepas di depan kami. Gulungan ombak yang tinggi lalu pecah di bibir pantai. Terlihat ganas, tapi melembut di tepian.

I know I can’t control the ocean.
I know, the waves can pull me down, or take me high.
But I won’t be scared, because I always know that I have my string to hold on to and take me up to the surface.

Just think everything clearly then I know how to handle my every up and down…

Dan kuelus papan seluncurku itu sambil tersenyum.

***
Kamar, Sabtu, 3 Juli 2010, 2.44 Sore
Terinspirasi dari artikel tentang Seluncur di sebuah tabloid

Catatan Harian

July 2010
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

  • @bayuart sampeyan kok koyok olshop.. sis, sis, tuku klambi, sis.. :)) 20 hours ago
  • @bayuart tukokno po'o, Mas... mosok Mas Ovan terus sing tak jaluki. Sekali2 njaluk koncone, wesss.. hihihi 20 hours ago
  • @netkirei sungguh ide yang cemerlang! dompet'e iku nyumber, Net. masio dijupuki, tetep ae ngisi otomatis. sangar kok. embuh tuku nangdi 20 hours ago
  • @netkirei kalo gitu, aku kekepin dompetku, boleh pake dompetmu aja ya, Net... :) 20 hours ago
  • Semacam punya keinginan menggebu untuk belanja online... haduhhh... *kekepin dompet, jauhkan juga jari dari e-banking 20 hours ago
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 92 other followers