Mendadak ingin menimang seorang jabang bayi di pelukanku. Menyanyikannya lagu nina bobok untuk mengantarkan tidurnya. Mengusap dahinya, lalu turun ke tengah-tengah alisnya, agar dia cepat terlelap. Menggoyangkannya dengan perlahan, ke kiri, ke kanan, dengan irama teratur, konstan, sampai ia tertidur dengan mulut terbuka. Mulut mungil yang seharian mengoceh tanpa pernah kutahu apa artinya.
Mendadak ingin mencium harum bau khas seorang jabang bayi. Mencium banyak-banyak aroma tubuhnya setelah mandi, yang berbaur minyak telon, minyak kayu putih, dan bedak tabur. Mencium banyak-banyak aroma rambutnya yang bershampoo. Rasanya seperti membaui sebuah Surga sekalipun aku tahu, aku tidak akan pernah tahu seperti apa bau Surga karena aku tak pernah ke sana. Tapi kuanggap, bau seorang bayi adalah aroma terharum yang pernah kucium di sepanjang umurku. Dan, malam ini, mendadak aku ingin mencium aroma itu. Aroma bayi.
Mendadak ingin menyuapi mulut kecil seorang bayi dengan bubur yang kutim berikut dengan hati ayam dan sayuran. Kusuapkan sambil bermain-main dengannya di setiap pagi menjelang. Menggendongnya, lalu menyuapinya sampai dia kenyang. Sampai dia menyembur-nyemburkan isi mulutnya dan mengotori wajahku. Biarlah. Toh dia masih bayi. Biarpun kubentak dan kumarahi, apa yang dia tahu soal kemarahan itu, kan?
Mendadak aku membayangkan diriku menjadi seorang Ibu.
Mengajari anakku bernyanyi.
Mengajari anakku menggambar.
Mendongenginya setiap malam dengan cerita yang kukarang sendiri.
Kawan-kawanku bilang, siapa yang menjadi anak-anakku kelak akan beruntung karena memiliki Ibu seperti aku. Yang bisa bernyanyi, bermain musik, menggambar, dan bercerita.
Tapi mungkinkah akan ada anak-anak yang merasa seberuntung itu kalau sampai kini aku belum lagi menikah?
Duh.
Mendadak aku sedih dengan kenyataan ini.
Kenyataan bahwa aku masih lajang dengan seorang Kekasih yang masih sibuk mencari bekal untuk menikah.
Kenyataan bahwa aku masih lajang dan entah kapan bakal menimang bayiku sendiri, mengajar bernyanyi anakku sendiri, menggambar-gambar bersama anakku sendiri; bukan anak orang lain.
Mendadak aku sedih.
Mendadak aku merindukan kekasihku.
Mendadak aku ingin menangis saja.
Tapi mendadak aku ingat, kalau segala yang indah akan datang tepat pada waktunya.
Hm.
Jadi anggap saja ini bukan (atau belum) waktu yang tepat buat aku.
Mungkin saja aku belum menikah sampai hari ini karena aku masih musti banyak belajar untuk menjadi orang tua yang sempurna untuk anak-anakku kelak.
Bisa jadi seperti itu, kan?
Kini, mendadak saja, aku merasa tegar kembali.
Alhamdulillah…
***
Kamar, Jumat, 26 Maret 2010, 11.01 Malam
I miss you like hell…
iya bener.. semua akan indah pada waktu Nya… bersabar ya La…
Posted by arman | March 26, 2010, 11:50 pmHe eh, Man.
Thanks yaaa… Pengen punya jagoan kayak kamu, nih..
Posted by jeunglala | March 27, 2010, 12:14 pmmendadak jadi inget juga kalo saya harus segera menikah tahun ini,insya Allah
*mikir jangan2 si lala pengen buru2 punya anak gara2 fotonya si jazmir yg saya pasang kemaren lagi??
Posted by didot | March 27, 2010, 12:18 amHehe..
Apa kabar dengan perempuan yang dijodohin sama Ustadz itu, Dot? Mudah-mudahan lancar yaaaa… Amin.
Iya, nih, Dot. Kayaknya ini juga terinspirasi dari postinganmu, nih. Kamu bikin aku pingin punya anak jugaa… huhuhuhu
Posted by jeunglala | March 27, 2010, 12:16 pminsya Allah ,doain aja ya la,lagi tukeran bio data hahaha… ala2 jamaah salaf2 gitu deh jadinya,yang penting dapet yg baik aja
ayo pacarmu itu suruh cepat mempertanggungjawabkan hihihihi
rejeki pasti Allah cukupi ,gak usah takut sama kurang materi,nikah ada sendiri rejekinya,demikian pesan ustad saya la
Posted by didot | March 27, 2010, 11:08 pmTadinya aku mau ikut tukeran biodata sama kamu, Dot… tapi aku nggak termasuk kategori, ya, Dot? hehehehe….
Iya, betul. Nikah ada rejekinya sendiri, nggak usah takut. Tapi dia termasuk orang yang pemikir, yang wellprepared. Jadi yaa.. gitulah, Dot… At the mean time, emang aku harus sabar dulu…
Posted by jeunglala | March 28, 2010, 12:10 amndak usah sedih…
semoga segera tiba waktunya…
Posted by Latree | March 27, 2010, 8:04 amHe eh, Mbak La.
Udah nggak sedih kok. Aku mengamini doamu, yaa..
Posted by jeunglala | March 27, 2010, 12:17 pmsetuju dengan komennya Arman..
bahwa segala sesuatu itu indah pada waktunya.
dan aku yakin Lala orang yang kuat dan tegar.
Posted by anna | March 27, 2010, 8:12 amThanks, Na.
Aku orangnya emang suka larut sama emosi, sih…
Posted by jeunglala | March 27, 2010, 12:28 pmsuatu saat nanti takdir yg ditulis untukmu akan terbaca disaat yg tepat. bersabarlah…
Posted by nDa | March 27, 2010, 10:28 amBersabar menunggu takdir yang belum terbaca itu…
Posted by jeunglala | March 27, 2010, 12:29 pmAku jadi penasaran, udah berapa kali cowok menembak dirimu La?
Posted by Dewa Bantal | March 27, 2010, 11:33 amKenapa musti penasaran ya, Bro?
Kamu nggak penasaran berapa cowok yang sudah bikin aku sakit hati karena ditinggal pergi? Wekekekeke.. jadi curhat begini..
Posted by jeunglala | March 27, 2010, 12:31 pmMaksudku, yang menembakmu setelah cinta terakhirmu dulu, yang kini dirimu mendadak menjadi rindukan cinta gitu….
Posted by Dewa Bantal | March 27, 2010, 10:53 pmBanyak banget, Bro. Sampe repot milih2nya… *jiaaahh.. sok payuuuuu.. padahal mbojok… hahahahaha*
Sama yang ini nggak pake nembak2an, wong aku wis gelem sak durunge ditari, kok… wekekekeke
Posted by jeunglala | March 28, 2010, 12:16 amJadi pengen bayi juga nih
Posted by melly | March 27, 2010, 4:15 pmSegera bikin, gih… hihihihi
Posted by jeunglala | March 28, 2010, 12:20 am