Seorang lelaki, memakai setelan jas yang rapi, duduk di belakang sebuah meja, menghadap sebuah laptop yang menyala. Grafik dan angka menyambut sepasang mata yang memandangnya, bunyi aduan ujung jari dan kenop-kenop kecil keyboard berbunyi nyaring membentuk irama yang konstan. Sesekali, ia meluruskan punggungnya yang kencang karena seharian tak beristirahat. Kekakuan tubuhnya ditunjukkan dari bunyi gemeretak engsel-engsel tubuhnya.
Dia memang lelah sekali. Dari pagi menyentuh sampai langit berubah gelap, lelaki itu seperti tupai yang meloncat dari ranting satu ke ranting lainnya. Dari gedung yang satu ke gedung yang lain, dari berjumpa dengan pebisnis yang satu lalu ke pebisnis yang lain, dari janji makan siang dengan Istri sampai pejabat. Semua dilakoninya seperti clockwise. Berjalan, seolah menyatu dengan nafasnya. Dia lelah, tapi dia tak bisa berhenti. Continue reading